Kenangan

Kenangan
Flashback 6-Grief


__ADS_3

Aku dan Rani langsung keluar dan mendapati dua orang laki-laki itu tampak tegang.


"Gawat, Ko! Reno.. meninggal!"


Rangga gemetar, wajah sangat pucat seperti warna tahu.


Niko tampak shock. Sedangkan, Rani langsung lemas mendengarnya, aku menyanggahnya agar tak terjatuh.


"Kamu jangan bercanda, Ngga! Gak lucu, tau!"


Aku melihat iris mata hitam Niko membulat, wajahnya serius. Aku belum pernah melihat ekspresinya yang satu itu.


"Gue gak becanda, Ko. Ayo sekarang kita RS. Seseorang nelpon gue, dia bilang pemilik HP ini udah meninggal karena kecelakaan dan overdosis."


Rani terjatuh ke lantai, peganganku tak mampu menopangnya lagi. Kedua anak laki-laki itu menoleh ke arah kami yang sejak awal tak mereka sadari.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ujarnya yg akhirnya berjalan lebih dulu.


"Ngga, izinin gue ikut!" pinta Rani dengan suara parau yang sekarang memegang pergelangan tangan Rangga.


Rangga mengangguk dan membantu Rani berdiri. Kemudian, kami berjalan cepat mengikuti Rangga meski beberapa murid mulai berdatangan karena jam masuk telah berdentang.


Kami berempat menaiki taksi, yang entah sejak kapan telah dipanggil Niko. Setelah sampai, kami tak menurunkan kecepatan berjalan kami, hanya berhenti sebentar untuk bertanya kepada resepsionis dimana letak ruang Jenazah.


Rani terus menangis bahkan selama kami menaiki lift ke lantai dua. Aku merangkul dan mengusap-usap pundaknya.


"Gue gak bisa percaya. Reno gak mungkin ngelakuin hal itu."


"Kita belum tau kebenarannya kan, bisa jadi itu hanya praduga," ujarku menenangkan Rani.


"Tapi kalau benar, gimana?"


"Semua orang bisa berubah, Ran," jawabku realistis.


Tetapi jawabanku justru memuncakkan emosi Niko.


"Eh, kamu itu anak baru. Kamu gak tau apa-apa. Kamu bahkan tidak mengenal Reno. Jangan sok tau, ya!" bentaknya padaku


Langsung membuatku terdiam kelu.


Apa-apaan sih dia?! Rasanya aku ingin menangis atau membentaknya balik. Kak Farel saja tak pernah membentakku begitu. Dia itu... memangnya dia siapa melakukan itu padaku?!


Tetapi, ini bukan waktunya membalas, aku harus mengerti keadaan mental mereka sedang terguncang dan mungkin hanya aku yang masih waras karena tak begitu mengenal Reno.


"Sabar, Ko!" Rangga hendak membelaku yang juga dibalas semprotan dari Niko.


"Ran mending kamu diem aja. Kamu juga, Ngga, kenapa bawa mereka kemari! Bikin ribet aja!"


Rani yang tadi menangis langsung terdiam, dia mungkin juga terkejut dengan perubahan sikap Niko.


Aku pernah membaca, dalam psikologi, seseorang akan cenderung menolak mempercayai hal yang secara tiba-tiba terjadi pada orang terdekat mereka. Dan itu mungkin yang terjadi pada Niko. Meskipun, aku masih tidak mengerti hubungan ketiga orang di sekelilingku dengan Reno, anak yang pernah ketahuan merokok dan sering datang terlambat atau absen itu. Yang aku tahu, mereka hanya sekelas dan tak pernah kulihat ketiga orang ini duduk bercanda atau berdekatan secara tampak dengannya.


Kami telah sampai di ruang jenazah. Ada seorang pria berkacamata, usianya mungkin tiga puluhan. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan sedikit corak, jas hitam, dadanya yamg bidang menampakkan wibawanya. Dengan celana panjang hitam dan sepatu lars yang juga hitam, membuatnya terlihat sepertinya orang penting.


"Permisi. Apa Anda yang menelpon saya tadi?" Konfirmasi Rangga pada pria itu.


Pria tersebut menggelengkan kepalanya.


"Kalian teman-teman anak-anak ini?"

__ADS_1


Rangga hendak mengangguk, namun Niko langsung memotong.


"Anak-anak? Maksud Anda, ada berapa orang yang ditemukan?"


Pria itu tak menjawab. Aku bisa melihat sedikit ada lekukan sinis dan raut curiga dari wajah diamnya.


"Lebih baik kalian masuk saja dan lihat sendiri. Ini tas dan barang-barang milik teman kalian."


Pria itu memberikan tas milik Reno. Kami tak mengkonfirmasi lebih jauh dan masuk. Rani yang paling depan masuk, tapi ia tak melakukan apapun di dalam, dia diam terpaku layaknya patung lilin.


Gundukan menonjol tergeletak di salah satu ranjang tertutup kain putih bersih. Kami masih bisa mencium bau busuk berbaur dengan pewangi ruangan khas rumah sakit yang mendominasi ruangan itu.


Niko tanpa ragu membuka penutup putih tersebut.


Rani memalingkan wajahnya dan menelungkupkannya di pundakku, tak kuasa untuk melihat lebih lama. Rangga juga begitu, anak itu memukuli tembok seolah mereka bersalah.


Sebenarnya, aku juga ngeri. Bagaimana tidak, sesosok jasad yang berantakan, mulai membiru dengan lebam di mana-mana. Wajahnya rusak dan tak dapat dikenali lagi. Seluruh tubuhnya bengkak, tengkoraknya hancur sebagian. Banyak bercak warna merah yang telah mengering di pakaiannya. Aku menyangka kejadiannya mungkin telah berjam-jam yang lalu atau bahkan sehari yang lalu.


Tidak ada orang yang akan betah menontoni hal begini. Apalagi, orang itu adalah yang kita kenal.


Akan tetapi, berbeda dengan Niko. Aku tak tau jelas apa yg tengah dia perbuat, dia mundur selangkah ke belakang hampir menabrakku, dan bergerak cepat keluar melalui arah samping.


Aku begitu penasaran dengan apa yang ditemukannya. Kulihat dia menghampiri dua orang suami istri yang menangis di sebelah jasad lain. Dan pria berkacamata tadi berdiri juga di sana.


Mau apa dia, ya?


Niko menyapa dan mungkin memperkenalkan dirinya, barulah kulihat pria itu menyingkir dari sana, dan Niko mendekati jasad tadi.


Aku melihatnya melakukan hal yang sama, dan dia pamit meninggalkan kedua orang itu, kembali menghampiri kami.


"Ayo teman-teman kita harus pulang," perintah Niko, membuat kami tercengang.


"Bukannya kita harus memberitahu yang lain dan Ibunya," potongnya cepat.


Aku curiga.


"Biar gue yang nungguin di sini," tekad Rani.


"Jangan. Sudah ada Om tadi yang menjaga. Sebaiknya kita pergi. Kamu juga gak akan kuat terus di sini Ran," Niko memberi pengertian dan membuat Rani menurutinya.


Membuatku tak habis pikir. Aku sangat penasaran dengan perubahan sikapnya ini.


Dari kami tak ada yang membantah. Kami cukup tahu diri kalau kami tak sekuat itu, namun ketiba-tibaannya itu sangat misterius. Padahal, sejak awal dia begitu sedih hingga emosinya tak terkendali, tapi lihat sekarang, dia akan meninggalkan jasad temannya yang sudah dia temukan?


Kami berjalan kembali setelah Niko memberitahu paman tadi.


Di perjalanan, Niko kembali bersua.


"Reno anak yang baik, kalau dia berubah,dia akan berubah menjadi lebih baik, bukan seperti ini. Apa kalian tak merasa kalau itu bukan Reno?"


Aku tahu pikiran mereka kacau, tapi realitas dan bukti ada di depan mata, mengapa masih mereka sangkal juga?


Kulihat yang lain menatap kosong ke depan. Rani menghentikan tangisnya seperti mengharapkan probabilitas itu benar.


"Ah, sepertinya aku melupakan sesuatu. Kalian jalan duluan saja, ku akan segera kembali."


Anak itu berlari ke arah tadi, dari keduanya tak ada yang berniat mencegahnya, terlarut dengan pikiran masing-masing.


"Sebaiknya kita berhenti di sini dulu sambil menunggu Niko kembali. Aku akan membeli minuman dulu," usul Rangga.

__ADS_1


Anak itu berjalan ke arah lemari pendingin di dekat warung tersebut dan mengambil beberapa minuman.


Aku masih penasaran apa yg dilakukan Niko di sana, sampai sekitar 15 menit kami menunggu dengan hening, akhirnya anak itu muncul juga.


Tak ada yang protes dengan keterlambatannya. Mereka seperti ingin lebih lama lagi di tempat ini.


"Maaf, teman-teman, jadi lama nunggunya. Tadi aku sempet nyasar,"alasannya.


Masih tak ada suara, semua bibir seolah terlem dengan kebisuan, hingga akhirnya kami kembali menaiki taksi.


Rani diturunkan di rumahnya. Kemungkinan semua orang di sekolah sudah pulang, karena kami telah keluar selama hampir dua jam. Tas kami akan dibawa Rangga. Aku juga ikut turun di rumah Rani untuk menemaninya. Sedangkan kedua pria itu akan ke sekolah, melihat apakah masih ada guru yag tinggal, juga ke rumah Reno memberitahu kabar duka kepada Ibunya, lalu kmi akan bertemu lagi di pemakaman nantinya.


Rani bercerita padaku bahwa sebenarnya dia dan Reno adalah sahabat sejak kecil. Sedangkan Rangga adalah temannya sejak SMP. Dia juga tak tahu hubungan apa yang terjadi antara Niko dan Reno. Sekarang aku jadi laham kenapa mereka begitu dekat.


Semua ini seperti putaran film di kepalaku, tingkah misterius Niko dan bentakannya, rahasia hubungan ketiganya, jasad Reno yang hancur. Membuatku bergidik ngeri.


Kenapa harus terjadi hal seperti ini di saat pelaksanakan ujian telah dekat?


Rani mengedarkan broadcast ke seluruh teman-teman sekolah pada semua sosial media miliknya atas kabar duka ini.


Rangga juga menginformasikan melalui pesan singkat bahwa pemakaman akan di laksanakan nanti pukul empat sore.


Aku tidak pulang ke rumah dan meminjam pakaian Rani. kami menaiki skuter dan melaju ke rumah duka lebih awal, Rani yg memaksanya.


Tudung-tudung hitam menyelimuti rumah duka. Tak ada suara burung gagak bertengger di atap rumah, hanya suara tangis ngilu hati seorang ibu bersama bendera kuning bertengger di pagar rumah sederhana yang tampak asri.


Wanita paruh baya, Ibu Reno, brambut belang putih-hitam tak beraturan yang masih nampak di sela tudung selempangnya, wajahnya tampak kuyu, tonjolan tulang pipinya tampak jelas membentuk buratan-buratan keriput, dan tubuhnya hanya bagaikan tulang berbungkus kulit. Matanya sembab, memerah dan bengkak bekas tangis beberapa jam yang lalu.


"Ibu Mar."


Rani menangis dalam dekapan wanita itu. Rani pastinya sangat mengenal ibunya Reno.


"Ibu yang sabar."


"Sudahlah, Nak. Ini mungkin sudah takdir Reno seperti ini. Ibu hanya kecewa, kenapa dia mempermalukan dirinya seperti ini."


Rani tampak terpukul mendengar pernyataan wanita itu. Satu persatu para pelayat mulai berdatangan memeluk, menangis bersama atau hanya sekedar menyalami wanita itu.


Rani memilih duduk di sampingku.


"Kasihan Ibunya. Reno tidak pernah menyusahkannya, apalagi mengecewakan beliau. Itu kenapa kami tak bisa percaya bahwa Reno terlibat hal seperti ini. Dia itu punya harga diri yang tinggi dan selalu bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tidak suka dikasihani, juga pekerja keras," tutur Rani, merincikan karakter dan sifat seseorang yang begitu dekat dengannya.


Tak berapa lama, rombongan anak kelas IPA datang. Kulihat Rangga dan Niko termasuk di dalamnya. Kami menghampiri teman-teman untuk menyilakan.


Rangga langsung berbisik ke telinga Rani, sedang Niko mengalihkan pandangannya dan memilih tetap berdiri di tempatnya.


Rani mendekatiku dan mengajakku membantu di belakang. Ia mengatakan bahwa Niko ingin membicarakan sesuatu yang penting pulang nanti. Aku masih heran dengan sikap misteriusnya itu, apa lagi sekarang?.


Prosesi pemakaman dilangsungkan. sang Ustadz membacakan Do'a dan mengimami sholat jenazah bersama beberapa orang.


Ibunya hanya dapat menatap lirih keranda bertudung hijau itu di angkut beberapa pria, menghantarkan kepergian Jasad itu untuk selamanya. Tangis langsung menggema kembali.


Kami telah berkumpul sesuai janji yg ditetapkan. Niko tampak gusar, ada apa dengannya?


Dan dengan nada sendu suara beratnya mulai berkata.


"Apakah kalian akan percaya kalau aku katakan bahwa... Reno masih hidup?"


***

__ADS_1


Sambung lagi..


__ADS_2