Kenangan

Kenangan
Flashback 13-Kidnapped


__ADS_3

Angin berhembus sedikit tertahan dari arah belakang. Ada yang mengikutiku? Aku menoleh ke belakang, tak ada siapa pun yang terlihat. Firasatku mulai tak enak saat aku tertinggal cukup jauh dari Niko.


Aku mengayuh semakin cepat, karena rasa takut mulai menguasaiku. Jalan itu sepi bukan main. Goyangan beberapa pohon kersen jadi tampak menakutkan di tempat ini.


Ban sepedaku tersendat, dihentikan dua orang berwajah sangar secara tiba-tiba. Aku jatuh terjengkang ke pinggir jalan.


Mereka menarikku bangkit, membawaku dengan paksa. Aku meronta, tapi kekuatanku tidak apa-apanya.


"Lepaskan! Lepaskan aku!"


Mereka melemparku ke sebuah gudang tua berdebu. Aku tak jatuh, mencoba menyeimbangkan badan, menatap dua orang di hadapanku. Mereka sama-sama berkumis lebat, yang membedakan adalah perawakan mereka, yang satu tinggi dan sedikit tambun, yang satu tidak terlalu gemuk, dan terlihat lebih muda.


"Siapa kalian?! Mau apa kalian sebenarnya?!"


Mereka saling berpandangan, kemudian mengepungku dua arah. Si gendut dengan lancang merogoh HP yang menyembul dari kantong belakang. Aku tersentak merasakan remasan di sana. Kurang ajar!


Aku bertahan dengan sisa tenaga yang kupunya, akibat rasa shock dan panik yang menguras emosi, untuk menghindari keduanya.


Salah satu dari mereka keluar. Aku harus mencari cara keluar dari sini. Pria itu masih memandangku dengan tatapan mesum dan menelanjangi. Seolah teringat sesuatu, dia menggeleng. Aku merasa sangat takut, entah apakah ini akhir dari hidupku. Dengan gesit pria itu menjebak, merengkuh pinggangku, menjambak rambutku, lalu, menciumi tengkukku.


Setan kurang ajar!


Aku terus meronta, sampai aku terpental jatuh ke bawah. Gawat! Dia bisa bertindak lebih jauh lagi. Dia tak mendekat, tapi mengambil sesuatu di pojok, seutas tali, dan mengeluarkan benda mengkilat, terpantul cahaya siang ventilasi kecil.


Pisau tajam itu menciutkan kepercayaan diriku.


Menyeretku kembali kepada ingatan hari itu, ketika kepala itu jatuh ditebas ketajamannya.


Rasa merinding menyergapku. Aku tak bisa lari. Mataku terpaku ngeri. Aku merasakan sakit, sekalipun benda itu belum menyentuhku.


"Jangan takut, Anak Manis. Saya cuma mau ngikat kamu biar lebih dramatis."


Semua penjelasan pria itu seolah terpental jauh dari pendengaranku. Benda yang digenggamnya seolah menjadi magnet, yang menarikku ke dalam cengkraman kegelapan. Meneriakkan kematian. Bertambah panjang dan panjang, runcing dan menyilaukan.


Aku takut, sungguh teramat takut. Tanpa sadar, aku terus beringsut mundur, hingga dinding menyadarkanku, bahwa aku tak kan bisa lari lagi.


Kepalaku berdenyut nyeri, mataku berkedut, menumpahkan cairan hangat yang tanpa terasa mengalir semain deras.


Pria itu telah berubah menjadi sosok gelap dengan tawa mengerikan.


Tolong! Siapa pun tolong!

__ADS_1


Bruakkk! Hingga bunyi menggelegar berbarengan siluet terang menelusup. Aku melihat sesosok berpakaian putih, yang tak juga mampu meredam rasa takutku, hanya membuat kegundahan yang lebih pekat. Tentang, akan ada yang tersakiti selain aku. Karenaku.


Kumohon jangan mendekat!


"Jangan berani coba menyentuhnya!"


Pria itu tersungkur ke lantai kayu. Sedikit kelegaan menguak kepompong hitam rasa takut yang membalutku. Aku mulai menyadari kenyataan, pria itu tak memakai hoodie.


Tak bertahan lama, ia kembali bangkit.


"Wow, siapa ini? Pahlawan kesiangan, huh? Pacar kamu sudah datang ternyata, Anak Manis," ejeknya dengan nada sinis.


Pergulatan, adu tonjok, belum juga berakhir. Kedua kubu bertahan sama kuatnya.


Mataku menatap kosong ke arah mereka. Aku takut. Sangat takut.


"Pergi, Nirmala!"


Apa?


"Cepat keluar!"


Aku tak dapat mendengar lagi. Mereka masih bergulat. Sosok itu dalam keadaan terdesak. Benda itu mengacung padanya. Tinggal beberapa senti bersiap mengoyak kulitnya.


"Nirmala pergi cepetan, begooo!"


Dia berbicara padaku?


Sekejap, ketika lengah, musuh kembali menghunus ke arahnya. Dia menahan tangan itu menyentuhnya. Tebasan melintang merobek kain putih itu di dada. Goresan lain mengenai lengannya. Kain putih tadi telah berubah warnanya.


Merah. Darah.


Kepalaku semakin berputar.


Aku merasa tak dapat melihat apa pun. Semua gelap. Lalu cahaya menghampiri. Aku melihatnya. Entah bagaimana dia selamat, sosok putih tadi ada di hadapanku.


"Ayo, kita harus pergi!"


Suaranya begitu menenangkan. Dia mencengkram pergelangan tanganku. Tubuhku yang masih bergetar tertarik naik. Lantai itu mulai terlihat nyata. Dia menarikku keluar, di bawah ada tanah dan rumput-rumput terinjak.


Aku tak bisa mengalihkan mataku dari arah bawah.

__ADS_1


Yang kutahu tubuhku sudah diliputi sebuah jas biru kedodoran, sampai menenggelamkan jari-jariku. Sebuah beban di gendongkan ke kedua pundakku. Sampai suara teriakan orang lain menginterupsi.


"Hey, kembali kalian!"


Dan dadaku kembali bergemuruh, berdebar sakit. Cahaya putih, bergerak cepat, menarik tanganku menyentuh pundaknya, dan aku berdiri di atas undakan entah apa. Tau-tau semilir angin menyentuh lembut wajahku.


Aku ingin memejamkan mata, namun dia mencegahku. "Jangan tutup mata! Nanti kamu bisa jatuh. Pegangan yang kuat!"


Efek tak terduga dari keterkejutanku, kugenggam apa pun itu dengan kuat. Aku masih bisa mendengar suara ringisan seseorang, meski kini hanya suara deru angin yang memenuhi inderaku. Rambutku berumbai-umbai, menari tergerai angin sejuk, yang baru kutahu ikatannya terlepas tadi.


Aku merasakan basah pada tempatku berpegangan. Apa sosok putih terkena siram? atau kelelahan?


Tubuhku terguncang keras di medan terjal, lalu menurun ke jalan yang lebih halus.


Dalam saat begini, suara berdesibel kecil sekalipun masih dapat terdengar olehku. Suara deru kendaraan bermotor melaju kencang, semakin dekat, semakin jelas.


Aku merasa angin tak lagi mengalun. Sebuah tangan menarikku, hampir jatuh, tiba-tiba...


Aku dapat melihatnya, sepeda yang jatuh di tengah jalan beraspal.


BRAKKK!


Hembusan angin cepat lewat bersamaan dengan sepeda tadi terpental, hancur, dan patah.


Aku menjerit kaget. Jika terlambat, kami mungkin akan bernasib seperti itu tadi.


Tak lama, tangan itu kembali menarikku. Kali ini lebih kencang. Dia menggenggam telapak tangan tertutupi jas, dan kehangatan menjalar sampai ke dada.


Siapa dia? Kenapa dia terus menarikku?


Aku menarik tanganku balik, meronta, tapi nyatanya, dia lebih kuat dariku. "Lepaskan! Siapa kamu?!"


"Oh ayolah, kita tak punya cukup waktu, untuk ini," serunya, tetap menarikku berlari.


Aku meronta lagi. Dia berhenti. Cahaya putih itu tepat berada tak jauh dari wajahku. Aroma lemon terhidu inderaku. Lekukan wajah cahaya putih semakin tampak, layaknya gambar blur, tak dapat terlihat jelas.


"Aku mohon, kita harus berlari ke simpang depan kalau ingin semuanya berakhir." Perkataannya, bagaikan guyuran es di tengah gurun. Melegakan. Semua akan berakhir. Sebentar lagi. "Kamu harus percaya padaku, Nirmala!" tambahnya, meyakinkanku.


Dia menarikku kembali. Aku percaya. Kurelakan diriku untuk dibawa, pasrah, seringan bulu di tiup angin. Rasa khawatir menguap entah kemana. Aku merasa aman dan nyaman berada dalam genggamannya.


Benarkah semua akan berakhir?

__ADS_1


Suara deru motor terdengar kembali. Kami berlari lebih cepat. Adrenalinku berpacu ganas, cahaya putih perlahan menghilang, dan aku kembali kepada kenyataan.


Tbc....


__ADS_2