
"Tolong! Tolong!"
Perlahan genggamannya terlepas. Lututku lemas. Aku jatuh bersimpuh di atas rerumputan. Hijau. Aku sudah kembali. Aku tersadar sekarang.
Aku selamat.
Suara pangeran putih penyelamatku, masih terdengar. Suara itu terdengar familier jika ditilik lebih jelas.
"Tolong, Pak. Kami dikejar penculik. Iya di sana, pake sepeda motor hitam."
Lalu, suara pentungan katrol, juga orang-orang berlarian bersusulan. Aku melihat sepasang sepatu hitam kini berada tepat di hadapanku. Aku mengusap bulir-bulir yang berjatuhan melewati pipi.
"Kamu gak apa-apa?" tanyanya.
"Kamu siapa?" tanyaku. Aku malu bahkan untuk mengangkat kepalaku.
Dia menghela napas. "Aku Niko, Nirmala. Kamu sudah sadar sekarang?"
Aku mendongak tak percaya. Pangeran putih dalam alam bawah sadarku adalah Niko? Yang bahkan hampir merenggang nyawa karena ketololanku?
Aku melihatnya. Lega, dia tak apa-apa. Menatap wajah khawatir itu, ada sesuatu yang bergetar di dalam dadaku. Dia menyuruhku bangkit, aku mencoba bangkit.
Aku terharu. Aku ingin memeluknya. Dorongan itu membuat tubuhku bergerak tanpa komando untuk membenamkan diri, menghirup lekat-lekat pakaian basah berbau lemon dan keringat.
"Terima kasih," ujarku, di sela-sela isakan.
Aku tak begitu paham posisi kami saat ini. Yang kutahu, dia hampir terjengkang, kalau bukan karena kakinya yang panjang menghujam tanah lebih dalam. Sedangkan aku, melingkarkan lenganku di pinggangnya.
Dia terdiam sebentar, terkejut mungkin, sebelum menarikku sedikit keras untuk melepaskan diri.
"Nirmala, kita gak boleh pelukan. Kita bukan mahrom," serunya nyaring.
Aku melongo dengan tampang bodoh. Mahrom itu, apa?
Aku tak bertanya, rasa maluku sudah menggumpal layaknya dodol. Nirmala dodol! Apa sih yang kupikirkan?
Awalnya aku merasa kehilangan, tetapi begitu dia mengatakannya, aku jadi mengerti. Dia punya alasan dan respect it!
"Ok. Sorry, tadi aku pegang tangan kamu. Sungguh, itu terpaksa, karena kamu kayak orang linglung sejak tadi. Aku gak tau ternyata kamu bisa sampai kehilangan orientasi kalau merasa takut."
Aku tercengang juga. Rasa malu menghimpitku kembali. Dadaku berdebur mendengar kata memegang, kutekan lagi, jangan di sini, detak jantung tolol!
Apa jantungku tak bisa melihat keadaan. Pertama, aku sudah terlalu lancang, tampak seperti cewek kacangan. Kedua, dia menolakku! Ketiga, dia terpaksa!
Aku mengekspresikan sakit hatiku dengan tangisan.
"Ma-maaf." Aku tertunduk teramat malu. Lagi, tangisku pecah. Kami bahkan tak menyadari suara ribut karena para begundal telah tertangkap.
Anak itu berdecak kesal. "Berhenti nangis, please!" Mohon Niko.
Tangisanku tak berhenti, aku justru semakin tergugu. Anak itu memberiku sebuah minuman, sampai aku menyadari, mataku membulat lagi, dan hampir saja aku menerjang batasan lagi.
Niko tampak merintih.
Dia luka di bagian pundaknya. Aku mengingat perkelahian tadi. Dia berdarah. Karenaku.
"Aku gak apa-apa," katanya, member isyarat oke, menyadari ringisannya terdengar olehku.
"Gak apa-apa, apanya?! Lihat, darahnya makin banyak keluar kan!" Luka itu memang telah dibalut dengan sapu tangan seadanya, tapi darah masih belum berhenti merembes. Perasaan malu sudah bermetamorfosa menjadi kepanikan. "Ini harus segera diobati. Kita harus ke rumah sakit!"
Aku memperhatikan sekeliling. Tak ada kendaraan berlalu lalang. Hanya ada satu, terlihat dari kejauhan menuju kemari.
Aku segera mencegat sebuah truck pick up buah yang kosong untuk meminta bantuan.
Awalnya orang itu bingung karena dicegat, sampai aku menjelaskan kronologinya.
"Bapak bisa tolong antar kami. Teman saya terluka."
__ADS_1
Orang itu memperhatikan Niko. Kemudian, mengangguk.
"Tapi maaf, saya gak bisa taruh di depan."
Di dalam, tampak tiga orang anak yang tertidur bersama seorang wanita menggendong balita yang tersenyum ke arahku.
"Iya, Gak apa-apa, Pak. Terima kasih."
Orang itu membuka penutup belakang agar kami dapat duduk. Niko masih terdiam di tempat. Menghela napas, lalu dengan gontai ia beranjak naik. Aku mengekor di belakangnya.
Kami sudah berada di atas mobil yang berjalan. Dia bersandar punggung, merilekskan kembali otot-otot kaki yang sakit. Dia memberi jarak satu meter dariku. Aku menatapnya dengan tatapan sendu meskipun ia acuh tak acuh.
"Niko." Suaraku mulai bergetar.
Tak ada respon.
"Maafin aku. Seandainya, aku sadar lebih awal, mungkin kamu gak akan terluka. Maaf, aku... merasa masih trauma. Ingatan itu sangat jelas. Aku cuma... merasa takut tadi."
"Hmm. Aku tahu," jawabnya singkat, sesingkat SMS.
"Kamu marah? Niko, maafin aku, gara-gara aku kamu jadi terluka, huhuhu. Maafin aku."
Aku menangis lagi. Dia kembali berdecak.
"Udah, jangan nangis!"
"Tapi ini salah aku."
"Iya, aku tau emang ini salah kamu. Tapi aku gak suka liat perempuan nangis."
"Maafin aku hiks."
"Diem, Nirmala! Berisik tau."
Aku terbungkam sejenak, lalu kembali tangisku tak dapat ditahan. "Apa siiih, kamu kok gitu?! Huwaaa!"
Hah? Sotoy bleduk. Gak nyambung.
"Aku tahu," jawabku mengalah saja dan langsung menghentikan tangis.
"Berhenti bertingkah seperti itu. Itu menyebalkan. Kamu itu sama kayak anak cewek cengeng yang suka nangis minta dihibur sama cowok."
Rasa bersalahku berubah menjadi dongkol. Anak ini pintar sekali menyulut emosi orang.
"Itu gak bener. Kamu nyebelin, Niko!" Aku menggeram tak habis pikir.
"Buktinya kamu tetep nangis. Bukannya aku udah bilang aku gak suka. Kamu tu yang nyebelin."
"Huuh, aku gak ngerti, kenapa juga kamu nolongin aku, buat apa? Kenapa gak biarin aku mati aja sekalian."
Dia menekuk wajah tak suka, lalu menoleh melempar tatapan tajam padaku. Aku meringis lagi, keberanianku menyusut statis.
"Kenapa sih, kamu selalu aja cari masalah?!" Dia kembali membentakku. "Bisa gak kamu berhenti membuat orang khawatir, berhenti menyusahkan orang lain, berhenti bertingkah bodoh dan keras kepala, Nirmala. Dan jangan suka ngebantah!"
Skak. Aku tercekat. Aku selalu menyusahkan itu benar. Bertingkah bodoh dan keras kepala itu juga benar. Tapi kenapa dia yang khawatir?
"Kenapa juga kamu yang harus khawatir?"
"Ya karena--" Dia menjeda kalimat, menggaruk pelipisnya yang penuh peluh. "Karena... karena kamu temanku juga."
Teman. Niko menganggapnya teman?
"Kita temenan? Sejak kapan?"
"Sejak... sejak hari ini."
"Hari ini? Kamu mau jadi temenku?"
__ADS_1
"Hmm."
"Eh kamu kan memang temanku?"
"Mmm, mungkin."
"Kok mungkin?"
"Cerewet."
"Dasar ambigu! Kamu kejem juga ya kalau ngomong."
"Lebih kejem kamu."
Ingin membalas, tapi urung kulakukan. Lebih mudah mengerjakan soal limit daripada bicara dengannya, pusingnya berkali lipat.
Kami terdiam cukup lama.
Aku masih dapat mendengarnya mengatur napas, sesekali meliriknya yang menutup mata. Aku ikut menutup mataku yang pedih sehabis menangis, lega, tapi kepalaku jadi sakit.
"Begini lebih baik."
Dia kembali bersuara. Spontan aku membuka mata. Ah, aku mengerti. Jadi, dia tengah mencoba menghiburku dengan caranya--membuatku jengkel setengah mati.
Aku tersenyum samar, rasa hangat kembali menyapa.
Aku merengkuh angin, dan kehangatan jas biru dengan bau khasnya, menambah gairah hidup.
Tunggu dulu. Jas biru?
"Ini punya kamu?" tanyaku.
Dia mengangguk tanpa membalas.
Aku buru-buru hendak melepaskannya.
"Jangan di lepas. Baju kamu robek tadi."
Aku teringat. Wajahku merona. Tak cukupkah rasa malu membombardirku hari ini? Untung saja, aku selalu mengenakan kaus dalaman, hingga rasa maluku masih dalam tahap level mid.
"Maaf, bikin baju kamu bau," sesalku.
"Bukan salah kamu."
Aku menengadah ke arah langit. Inikah makhluk baik yang kujauhi belakangan ini? Aku menyesal telah berburuk sangka padanya.
"Terima kasih, Niko." Aku menatapnya yang masih terpejam. "Kalau enggak ada kamu, aku pasti udah gak ada lagi. Sejujurnya, aku malu terlihat cengeng, penakut, dan lemah di depan kamu. Aku gak bisa setegar Rani, sekuat Reno, seriang Rangga, atau seberani dan sedewasa kamu. Aku malu terlihat labil di antara kalian yang berfikir dewasa," keluhku frustrasi.
"Terlihat labil, bukan kesalahan, Nirmala. Jangan anggap cuma kamu yang labil. Sudah sewajarnya, karena kita memang remaja." Itu melegakan. "Je Connais, tu es une fille courageuse.Aku tahu kamu gadis yang pemberani," gumamnya lagi.
Senyumku merekah, ini pujian terbaik dibandingkan dari godaan Fey tadi.
"Mau kuberi tau sesuatu?" Niko berucap misterius. Matanya memicing. Aku mengangguk.
"Rani menolakku. Aku kasih tau kamu, biar kamu gak salah kira, dan jangan ungkit masalah itu di depan Rangga. Itu bikin dia sedih, ngerti."
Aku tertegun. Heran. Rani menolak? Mustahil! Dia bahkan tak pernah mengatakan apa pun padaku. Aku kembali mengangguk.
"Rangga masih suka Rani, ya?" tanyaku memastikan.
"Mmm, mungkin," jawabnya ragu-ragu. Tapi aku tahu, itu benar.
Aku tersenyum. Tanpa kusadari, senyumku terulas terlalu lebar.
Je suis content.(Aku senang).
Tbc....
__ADS_1