
Awal mantra bekerja. Miawww
________________________________
Keesokan harinya, aku malah dicegat Nita yang curhat dan meminta bantuanku mengirim surat pada doi-nya di kelas IPS yang salah paham. Membuat rencanaku mengembalikan hadiah Ira ke Niko harus tertunda.
Setelah selesai, buru-buru aku memasuki kelas Rani. Rani tak ada ke kantin kata temannya.
Yang kudapati Rani duduk di meja sendiri, sedangkan Rangga tampak memunggunginya.
"Ran, dicariin, juga."
"Sorry, Putri. Kamu bawa apaan itu?"
"Ini? Aku mau kembalikan barang."
"Emang isinya apaan?"
"Ada deh."
"Hmmm, ya deh rahasia."
Aku hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Kamu ngeliat Niko nggak?"
"Enggak tuh, kenapa memangnya? Oh, coba tanya saja sama orang di belakang yang lagi nguping tuh?"
Yang Rani maksud Si Rangga.
"Gue gak nguping kali. Kalian aja yang ngomongnya gede. Emangnya gue budek sampai gak bisa denger," balas Rangga sangsi.
Sepertinya terjadi kesenjangan di antara dua orang mantan ini.
"Udah udah, emang Niko di mana?" tanyaku to the point, sekaligus menetralkan suasana.
"Ini kan hari senin buat anak alim kaya dia yang pasti dia lagi puasa jadi dia gak mungkin kemari. Mungkin di masjid, kelas, perpustakaan, atau di lapangan lagi molor sekarang."
Aku langsung beranjak, mesi Rani mencegahku, sebenarnya aku juga ingin menghindari perseteruan keduanya.
Sebelum istirahat selesai,aku harus sudah memberikannya kepada Niko.
Tempat pertama yang kudatangi adalah Masjid. Dan ternyata tak ada yang melihat Niko di sana. Di kelas juga sudah kuperiksa tadi. Perpustakaan juga tak ada. Terakhir, di lapangan. Beberapa lapangan aku datangi dan perkiraanku dia tak mungkin kan tidur di lapangan yang panas, pasti yang di dalam gedung. Lapangan basket!
Tepat, pemuda itu tertidur di deretan paling belakang atribun. Aku menaiki tangga dan sampai di depannya, tepatnya di atas ubun kepalanya yang tertidur.
__ADS_1
"Niko. Niko."
Dia masih bergeming. Aku melihat matanya yang tertutup sempurna, melihatnya tertidur sangat menenangkan. Timbul niat jahil dari pikiranku, namun entah kenapa urung kulakukan.
Aneh sekali. Kenapa aku jadi berdebar gini, ya.
Masih di pinggir tangga, aku mendekatkan kepalaku melihat bulu lentiknya yang cukup lebat, alasan kenapa matanya jadi sipit ketika tertawa.
Mata itu tiba-tiba terbuka. Kepalanya bangun menerjang bagian bibir dan rahangku.
"Aduh!" pekikku.
Aku menutup bibirku yang ngilu. Rasanya sedikit malu bercampur sakit bercampur... jangan deh entar jadi es campur.
"Ngapain sih kamu?!"
Aku menundukkan wajah, masih menutup bibirku. "Maaf, Niko."
Dia mengembus napas keras. "Itu bahaya," katanya lagi, kali ini lebih kalem.
"A-aku cuma mau mengembalikan hadiah yang diberikan Ira tempo hari."
Aku berbicara sambil mengatupkan bibirku yg mungkin sudah terluka dan aku tak ingin dia tahu. niatku setelah memberikannya aku akan langsung pergi.
Ini orang kenapa lagi yak? Ketus amat!
"Masalahnya kan aku gak tau dia itu siapa," jawabku, masih meringis menahan bibirku.
"Kalau kamu gak tau kenapa kamu terima hadiah dari dia?"
jawabnya dengan nada yg mulai sedikit tinggi.
"Dia yg maksa. Jangan nyalahin aku dong!"
Dia terperanjat karena aku mulai meninggikan suara.
"Gak bisa. Dia sudah pulang."
"Pulang? Pulang kemana?"
"Kamu ambil aja, dia pasti gak butuh barang itu. Dia memang sering kasih hadiah ke orang lain kalau barangnya gak dia sukai lagi. Udah sana, jangan menggangguku lagi."
"Kamu kenapa sih! Ya udah kalau dia datang lagi tolong kasih tau aku!"
Aku mulai berteriak dan tak menghiraukan sakit di rahangku, tapi dia malah mengibaskan tangannya seolah aku ini burung atau serangga pengganggu tidurnya.
__ADS_1
Meskipun benar sih, tapi aku bukan serangga, oke.
Aku tak mempermasalahkannya dan berlari cepat menuruni tangga meski beberapa pasang mata memperhatikan kami tadi.
Aku berjalan lunglai ke toilet. bibirku jadi sakit karna terbentur tadi, gusiku juga berdarah. Aku berkumur-kumur dan membasuh muka.
Kenapa dia marah lagi? Dasar ingeuno!
Jantungku kembali berdebar lebih kencang, mengingat wajah tertidurnya.
Diam diam aku tersenyum kecil.
Lalu menggeleng-geleng sendiri. Aku kenapa sih? Oh plis, ini cuma muka tidur. Gak ada spesialnya juga.
Pintu toilet terbuka, Rani masuk membawa handuk olahraga.
"Kamu di sini, Put. Lo bibir kamu kenapa?"
Rani histeris dan menyuruhku segera ke UKS. Tetapi kemudian dia menutup mulutnya dan berlari ke WC. Rani muntah-muntah dengan hebat. Aku menghampiri dan menepuk-nepuk punggungnya supaya lebuh nyaman.
"Ran, kamu gak apa-apa kan?" tanyaku, khawatir, setelah dia keluar.
Rani berkumur-kumur dan membasuh muka. Wajahnya jadi pucat.
"Yang perlu ke UKS kayanya kamu deh."
"Aku gak apa-apa, Put. Mungkin cuma masuk angin atau salah makan."
Dia tersenyum untuk menenangkanku.
"Kamu gak mengidap bulimia nervosa, kan?"
"Haha, enggaklah."
Lalu kami mendengar suara ribut di toilet sebelah. Karena ini toilet dalam, toilet pria dan wanita bersebelahan. Kalau yang di luar ujung bertemu ujung.
Terdengar suara pintu di gedor dengan keras. aku dan Rani lantas keluar dan mendapati Rangga yang pucat pasi dan Niko yang baru keluar dari toilet sebelah kami. Suasana di sana cukup sepi, mungkin karena ini masih masuk jam istirahat.
"Gawat, Ko! Reno... meninggal!"
***
Nb: *Bulimia adalah penyakit yang diakibatkan oleh psikologi pasien, yang mengakibatkan kelainan makan. Bulimia merupakan keadaan dimana seorang pasien makan secara berlebihan secara berulang-ulang (binge) dan kemudian kembali mengeluarkannya. Mengeluarkan makanan yang dimakan ini bisa melalui muntah yang biasanya diinduksi dengan obat pencahar, selain itu juga dengan mengeluarkannya lewat kencing dengan menggunakan obat diuretik
Tbc....
__ADS_1