
Wajah bingung Syarif yang kutemui saat pintu terbuka. Aku menunduk, menyembunyikan tangisku.
Saat ini aku begitu hancur. Aku tak menyangka kaki ini akan membawaku padanya dan menunjukkan kelemahanku. Belakangan hidupku rasanya seperti mimpi dan aku tidak dapat menjalankannya dengan baik. Dari mulai aku mengetahui kematian papa, kenyataan Syarif yang sudah menikah, sampai dengan teganya mereka mngisolasiku dari teman-temanku.
Aku lelah. Sangat lelah.
"Putri...."
Hanya itu yang aku dengar. Tangannya mengambang hendak memegang pundakku, namun terhenti seolah ia memberi jarak antar kami.
"Aku... aku...." Lidahku mendadak kelu berkata-kata. Aku menangis di depannya
"Ada apa? Apa yang terjadi? Masuklah. Kamu basah kuyup. Di luar juga sangat dingin."
Dengan ragu aku mempertimbangkan tawarannya. Aku mendongak menatapnya, dia mengangguk untuk meyakinkanku.
Suara debam pintu ditutup. Aku benar-benar memasuki ruang paling privasi milik Syarif. Dia lantas mengambilkan handuk kering dan mencarikanku pakaian yang bisa kupakai.
"Sebentar, aku punya kaos longgar. Mungkin kamu bisa berganti pakaian. Sambil lalu, aku akan membuat teh, setelah itu kamu bisa bercerita."
Dia memberiku kaus dan celana training berwarna biru muda dan menyuruhku berganti di kamar mandi.
Dia menunjukkan bungkus teh dan bercerita baru saja mendapatkannya dari temannya yang datang dari Korea. Dia terlihat sangat santai menghadapiku.
Syarif tinggal di kosan yang tak terlalu kecil. Ada dapur juga kamar mandi dalam. Sedikit berantakan khas laki-laki yang hidup sendiri.
Aku jadi bertanya-tanya mengapa ia memilih kos dibandingkan rumah bersama anak istrinya. Semua itu membuatku penasaran, tetapi berusaha menahannya.
Ketika aku keluar kamar mandi, Syarif baru saja, menuangkan teh dan membuka toples kudapannya. Dia tersenyum melihatku. Aku duduk di hadapannya. Menghembus napas lega. Entah mengapa aku menjadi lebih tenang setelah melihatnya.
Rambutku masih sedikit basah, kugerai supaya cepat kering. Gigil tubuhku sudah hilang sepenuhnya.
"Jadi, kamu mau bercerita?"
Aku masih diam menatapnya, sesekali melihat uap teh yang masih mengepul. Aku pun mulai bercerita saat merasa dadaku tiba-tiba penuh dan membutuhkan wadah tampung.
__ADS_1
"Oma sama mama kamu pasti memiliki alasan yang tepat untuk melakukannya."
"Tapi mereka tidak mau memberitahuku sejak awal."
"Di saat yang tepat mereka pasti akan memberitahu."
Aku pun menceritakan bagaimana keluargaku mengisolasiku dari pergaulan bersama beberapa pria, termasuk Syarif yang lain.
"Saranku kamu jangan lantas menyimpulkan. Apa yang dilakukan Oma kamu tentu demi kebaikan kamu juga."
Ya, tanpa kukataka bahwa semua yang kulakukan karena berniat mencari penggantinya. Pria ini tidak akan peka meski aku mengatakannya dengan jelas.
Aku juga menceritakan sedang dekat dengan seseorang dan tentang Syarif yang mengatakan dengan jelas ketertarikannya padaku.
Syarif di hadapanku bisa berubah menjadi seorang psikolog atau saudara yang peduli dengan saudarinya. Dia kadang bisa membuatku tenang dengan kata-katanya, tetapi kali ini berbeda.
"Pria yang waktu itu kamu labrak di perpustakaan?"
Syarif tampak tak nyaman membicarakannya. Aku entah mengapa merasa sedikit senang dengan hal itu.
"Apa kamu menyukainya?"
Dia meneguk tehnya dengan cepat. Aku mengikutinya. Diam-diam aku tersenyum senang.
"Oma menolaknya. Apa yang harus kulakukan?"
Syarif terbatuk-batuk.
"Kamu gak apa-apa?" kataku khawatir.
"Tidak apa-apa. Cuma, apa benar kamu merasa begitu. Maksudku pernikahan. Kamu... apa perasaan itu seperti... ya, kamu ingin menikah dengannya?"
"Mmm. Mungkin," jawabku, yang membuat Syarif tercengang. "Mmm, kamu juga sudah menikah, 'kan?"
Aku seolah melempar bom molotof tepat di depan matanya. Dia sangat-sangat terkejut.
__ADS_1
"Kamu... tau dari mana?"
"Dompet."
"Kamu melihatnya?"
"Tentu. Istri kamu pasti cantik."
Dia menatapku lekat. Dan seolah mencari-cari kebenarannya. Aku yang merasa risih dengan tatapannya, segera mengalihkan dengan menandaskan tehku.
Aku bisa melihat dia sedikit tersenyum. Lalau berkata, "Mmm. Menurutku, kamu harus menuruti Oma kamu, karena itu pasti yang terbaik."
Hah? Jawaban macam apa itu!
Aku berdiri dan menatapnya marah. Saat itu tiba-tiba aku merasakan semuanya berputar.
Tubuhku hampir lmbung kalau bukan syarif yang menangkapku. Aku mendorongnya jatuh, mukaku memerah seketika.
"Brengsek!" umpatku. Aku menangis lagi. Entah kenapa aku terus-terus begini.
"Nirmala." Dia bangun dan memutar tubuhku, menatapnya.
"Apa kamu jatuh cinta dengan saya?"
Jantungku seketika menderu bak mobil balap. Aku menatapnya tak berkedip.
"Aku marah!" sentakku melepaskan pegangannya. "Kamu pembohong! Semua membohongi aku. Kenapa?!"
Dan aku mulai melantur bak orang mabuk. "Ya! Aku jatuh cinta sama kamu, apa kamu puas mempermainkanku! Aku benci harus menjauh. Aku gak bisa! Aku sekarat, Syarif."
Lututku mendadak lemas dan aku jatuh terduduk, menutup wajahku dengan kedua tangan dan menangis kencang.
Dia memanggilku dengan nama itu lagi. Aku tak tahu tapi rasanya sangat panas di dalam.
"Nirmala, dengar," dia menarik tanganku dan menatapku dengan perasaan. "I love you too," ujarnya, melambungkan perasaanku hingga ke langit tertinggi.
__ADS_1
Syarif mendekat lalu memiringkan kepala dan kembali memangkas jarak di antara wajah kami. Napasnya kian dekat. Aku hanya menunggunya sembari memejamkan mata saat kedua bibir kami bertemu dan sebuah hasrat primitif dalam diriku berlompatan menginginkan lebih, aku sudah tak mengingat apa pun lagi.
Tbc....