
Tanpa alas kaki, aku kembali berlari. Sesekali menoleh ke belakang, tidak berharap dia akan bangun dan mengejarku.
Ini gila! Benar-benar gila!
Tubuhku tak bisa meredam kegugupan yang membuatku sulit melangkah. Wajahku pucat dan aku merasa ternoda.
Dering ponsel yang saat itu membangunkanku. Pesan dari Oma, memintaku untuk pulang dengan selamat. Saat itu baru kusadari tidak berada di kamar sendiri. Lebih mengejutkan saat aku menoleh ke samping. Sosok punggung seorang pria.
Aku bergegas memungut pakaianku yang tercecer dan mengenakannya kembali. Tubuhku menggigil hebat dengan gejolak perasaan bersalah.
Ah, aku mendesah keras. Apa yang sudah kami lakukan? Seharusnya ini tidak terjadi.
Aku menyugar gusar rambutku dan memukul-mukul kepala. Bodoh bodoh bodoh. Mengapa kami melakukan hal itu. Ini tidak benar, tidak benar!
Aku menunggu dengan cemas, taksi atau apa saja yang lewat di tengah malam. Berada di halte tak jauh dari tempat kos Syarif. Aku baru menyadari betapa jauhnya aku pergi dari rumah.
Lenganku ditarik seseorang. Syarif yang tampak acak-acakan. Rambutnya tidak rapi, bajunya koyak dan kancing kemejanya hilang tiga.
Aku merona dan kembali merasa hina.
"Kenapa kamu pergi sendiri?" katanya, sembari membungkuk untuk meletakkan sandal di bawah kakiku.
"Kenapa?" tanyaku tak percaya dia menanyakan hal bodoh. Benar-benar! "Kamu tahu, kamu menghancurkan hidupku! masa depanku! Apa ini yang kamu inginkan dariku? Kamu ****!"
Aku mendorongnya, memukul-mukulnya. Badannya bahkan tidak bergeser sedikit pun. Aku menangis kencang dan berteriak kesetanan.
"Kendalikan diri kamu." Dia memegang tanganku untuk menghentikanku yang kalap. "Putri... kembalilah. Ini sudah malam. Kamu tidak akan mendapat taksi atau kendaraan di jam segini."
"Aku tidak mau! Jangan menyentuhku!" Aku menyentak tanganku segera terlepas.
"Putri."
"Sial! Kenapa aku harus bertemu dengan kamu! Bagaimana ini! Aku bingung!"
"Putri Nirmala, dengar. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Apa yang kita lakukan bukanlah sebuah dosa."
Apa?!
"Kamu gila!" Aku masih berteriak padanya, sampai rasanya tenggorokanku akan putus. "Kamu bilang berzina bukan sebuah dosa? Papaku menangis di dalam kubur akibat perbuatanku hari ini!"
Entah dari mana aku menemukan kata-kata semacam itu, Syarif langsung terdiam. Tampak bingung dan frustrasi. Dia menghela napas dan berjalan mondar-mandir beberapa kali. Sedangkan aku mencoba menenangkan diri.
__ADS_1
"Maaf. Maafkan aku. Aku tahu ini mungkin terlalu cepat dan kamu mungkin belum siap. Tapi aku tidak bermaksud pada awalnya, ini semua...."
Aku tidak ingin mendengar ocehannya dan berlari ke arah sebuah taksi yang lewat dan melaju meninggalkannya yang menepuk jendela mobil, terus memanggil-manggil namaku.
Aku salah. Seharusnya aku mendengarkan Iriana. Ini bukan yang kuinginkan. Tidak, tanpa ikatan pernikahan. Ini jelas salah. Salah besar!
Saat sampai di rumah, aku hanya ingin menenangkan diri. Aku langsung menuju kamarku, tanpa menghiraukan Oma yang sengaja terjaga setelah kedatanganku.
Aku membuka pakaianku, membuangnya ke tempat sampah. Menatap tubuhku di cermin. Banyak bercak merah menghias di bagian leher dan dada. Aku tergugu malu dan sedih. Kakiku lemas. Aku terduduk memeluk lutut.
Semua hancur karena **** itu. Aku tidak menyangka semua akan menjadi sejauh ini. Padahal niatku bukan seperti ini. Lalu aku menyadari bahwa harus ada dua tangan untuk bertepuk dan itu membuatku semakin sedih.
***
Dinginnya lantai baru kusadari saat terjaga dari tidur singkat karena terlalu lelah menangis. Jam menunjukkan pukul dua pagi. Kuseret langkahku menuju kamar mandi. Barulah aku merasakan yang namanya perih di bagian inti saat mencoba pertama kali.
Ini menyakitkan dan perih bukan hanya di sana, namun terasa di hatiku juga. Aku mengguyurkan banyak air, menggosok badanku dengan keras, aku menangis, merasa benar-benar kotor, dan bayang-bayang dia menyentuhku berkelebat dalam bentuk slide.
Menjijikkan bahwa aku berpikir telah terbuai dan justru menikmatinya juga.
Ya Tuhan, ampuni aku. Aku pasti sudah gila.
***
"Nirmala sayang, kamu gak apa-apa? Tolong buka pintunya. Mama minta maaf, Nak."
Bukan Mama yang harusnya minta maaf. Ini salahku.
"Mama... maafin Nirmala. Aku gak bisa jaga diri, Ma. Maafin aku."
"Sayang, buka pintunya. Mama tahu sudah bersalah sama kamu, Nak."
Aku mengalah saat Mama tak kunjung beranjak pergi. Beliau memelukku dan aku tergugu dalam pelukan hangatnya.
"Maafin aku, Ma. Maaf."
"Kamu gak salah apa-apa. Ini kesalahan Mama."
Mama tidak mengerti apa yang kumaksud. Aku mempertimbangkan untuk melaporkan hal ini sebagai kejahatan, tetapi aku kembali tersadar, bahwa itu tidaklah benar.
Aku sudah lebih tenang dan mampu berpikir jernih setelah seminggu mengurung diri di rumah.
__ADS_1
Aku berpikir, mungkin ini tidak apa-apa. Kami hanya melakukannya sekali. Itu akan terlupakan dengan segera.
Lagi pula di jaman seperti ini bukankah itu hal biasa? Ya, kebiasaan yang buruk. Dan aku baru menyadari bahwa Syarif mungkin bagian dari masyarakat modern yang berpikiran terbelakang kalau hal-hal suci seperti berhubungan bisa dilakukan sebelum pernikahan terjadi.
Shit. Aku kembali mengumpat. Lagi-lagi perasaan malu dan sedih bermunculan di benakku.
Aku sudah mulai berangkat ke kampus lagi. Bertemu Iriana dan semua seolah tidak ada yang terjadi. Syukurnya karena aku tidak perlu mendapati batang hidup pria itu di mana pun. Itu melegakan.
Namun kelegaan itu juga tak bertahan lama. Saat aku membuka kamar dan ada Syarif duduk tenang di ranjangku!
"Apa yang kamu lakukan di sini?! Apa lagi mau kamu?!" Aku mendesis karena menahan suaraku supaya tak meneriakinya dan semua orang akan tahu apa yang terjadi.
Dia bangkit dari posisinya, mencoba mendekatiku. Aku melakukan langkah defensif dengan memegang lampu duduk. Aku bisa saja melempar ini ke wajahnya.
Syarif hendak menenangkanku. "Putri, kamu salah paham."
"Aku? Salah? Dan kamu benar?"
"Bukan begitu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," sangkalnya. Benar-benar keras kepala.
"Apa begini kelakuan kamu?! Kamu menggaet gadis polos, mengencaninya, menidurinya sekali, lalu mempengaruhinya, lalu, kamu pergi kembali pada istri kamu yang cantik dan menganggap semua baik-baik saja" Oh, jangan menyangka dia akan tersadar, karena pria itu justru tersenyum kecil. Sial! "Jangan menertawaiku!" Dia langsung mengubah wajahnya menjadi datar. "Kamu mungkin berpikir aku berlebihan, tapi aku tidak seperti perempuan murahan yang selama ini kamu kenal. Aku sangat menjaga kesucian sebelum pernikahan. Jadi pandangan kamu dan aku itu berkebalikan! Aku mohon padamu segera tinggalkan kamarku atau aku akan berteriak!"
"Nirmala, Kamu... ah, kamu membuatku merasa seperti... seperti orang berengsek."
"Itu benar! Kamu memang **** berengsek yang sudah merenggut masa depanku!"
Aku tidak percaya, dia masih saja menyangkalnya. Dia mengusap wajahnya frustrasi. Aku masih mengacungkan lampu ke arahnya.
"Baiklah, Putri Nirmala. Terserah bagaimana kamu menganggapnya. Aku tidak akan meminta kamu memaafkanku, jika memang apa yang kulakukan tidak termaafkan." Ya, itu memang tidak termaafkan. Karena maaf darinya bahka tidak membuat semua kembali semula. "Tapi aku akan bertanggung jawab, jadi tolong ketika sesuatu terjadi, kamu harus mengatakannya padaku, mengerti?"
"Sesuatu?"
"Mmm, seperti... kamu terlambat datang bulan."
"Itu tidak akan terjadi! Jadi sebaiknya sekarang kamu pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Anggap saja apa yang terjadi tidak pernah terjadi. Aku akan melupakannya dan kamu juga. Dan semua berakhir."
Dia memandangku dengan sendu. Aku tidak akan tertipu lagi dengan wajah itu!
"Aku tidak bisa. Aku tidak akan melupakannya." Pria itu mendekati jendela, membukanya dan melompat setelah mengatakannya.
Aku tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Tbc...