
Keesokan pagi aku bertekad membuka lembaran baru dan berjanji akan melupakan Syarif. Dia bukan pria yang harus kupertahankan hingga seperti itu. Sialnya, justru secara rutin pria itu berada di depan gerbangku atau sekadar beristirahat di halaman rumah sembari melihat ke jendela kamarku. Aku sampai harus selalu menutup gorden karenanya.
Pria itu tidak tahu malu. Tidak ada kapoknya. Aku pun hendak menegurnya melalui mama. Mama El tengah sibuk membuat sesuatu di dapur.
"Ma."
"Hmm? Kenapa, Sayang?"
"Ma, kenapa Syarif selalu ada di depan rumah?"
"Memangnya kenapa, Sayang?" Dia juga sering bantu-bantu kalau lagi enggak ada kakak kamu."
"Ya, tapi itu annoying, Ma."
"Annoying bagaimana? Dia kan yang udah nyelametin kamu. Dia juga cerita kalau kamu nginep di tempat dia waktu itu."
Aku terkejut bukan main. Rasa takut menyergapku, takut dia bercerita macam-macam pada orang lain. Sungguh aneh karena ekspresi mama begitu biasa mendengar aku bermalam di tempat seorang pria. Aku langsung menyingkir tak ingin memperpanjang.
"Oh, iya, Putri ada teman-teman kamu yang datang."
"Teman-teman?"
Jarang sekali aku kedatangan tamu berupa teman.
"Ini bawa ke depan ya."
Mama menunjuk poci dan cangkir dalam nampan. Ketika aku menuju ruang tamu, ada tiga orang wanita yang menungguku. Aku mengenali salah satunya sebagai Rani, teman SD dan SMAku.
"Rani?" Rani bangkit dari duduknya, dia menggendong bayi dan menitipkannya pada temannya. Kami berpelukan. "Ran, kamu apa kabar?"
"Aku baik. Kamu gimana?
"Aku juga baik. Kamu kenapa enggak pernah nemuin aku sih. Kangen tahu."
"Maaf ya, aku baru bisa dateng sekarang. Aku harap kamu selalu sehat."
__ADS_1
"Kamu sekarang tinggal di mana?"
Mama datang membawa kue dan kudapan. "Silakan dimakan, ya. Tante tinggal dulu."
"Terima kash, Tante."
Aku lalu menyadari kehadiran dua orang lain di sana. Yang satunya perempuan berkerudung, tubuhnya kurus, dan berkaca mata. Yang satunya terlihat lebih berisi dengan tangan digips.
"Oh, ini Abel, Put. Ini Farah."
Kami berjabat tangan, keduanya hanya tersenyum ke arahku. Satu hal lain yang baru kusadari.
"Rani, kamu berkerudung? Sejak kapan?" Rani terlihat ragu-ragu menjawab. "Aku juga enggak ingat kapan kamu nikah. Ini anak kamu?"
Rani langsung terdiam dan tatapannya berubah sedih. Membuatku merasa sudah terlalu lancang dan salah bicara. Rupanya ada hal-hal yang tidak kuketahui tentangnya.
"Ran, maaf. Aku sudah salah bicara ya."
"Putri ambil kuliah jurusan apa?" Itu pertanyaan dari si kaca mata, Abel. Sebuah pengalihan yang bagus. Rani juga mulai berubah biasa.
"Iya bareng sama Kak Farah di kebidanan."
"Wah, kebidanan. Kak Farah, apa kita pernah ketemu sebelumnya?"
Matanya yang indah membola atas pertanyaanku. "Masa?"
"Kakak kenal Kak Farel, kan?"
Aku semakin bingung karena kini Farah berbagi pandang dengan Rani dan Abel.
"I-iya. Kamu lihat di mana?"
"Ah, itu...." Kepalaku mendadak pening. Aku menggeleng-gelengkan kepala, tiba-tiba aku melihat sepeda, Farah berlutut sambil menangis menggapai udara kosong di depannya.
"Ayo, aku tahu tempatnya." Suara bariton siapa itu?
__ADS_1
"Putri, kamu gak apa-apa?"
Aku meyakinkan mereka untuk tidak khawatir, tetapi begitu bangun, tubuhku lemas sekali.
"Putri sudah. Ini minum dulu."
Mama datang juga menanyakan keadaanku mendengar pekikan Rani.
Rani menyodorkan air, aku meminum sedikit. Rasa pening kembali menghantamku.
"Nirmala, bisa enggak bertingkah normal aja."
"Aku kenapa?"
"Putri, ada apa?"
"Aku... siapa yang bertingkah tidak normal?"
"Putri kamu bicara apa?" Mama semakin khawatir.
"Abel. Jus durian," ujarku tanpa sadar.
"Hah?" Keempat orang yang menampakkan wajah khawatir semakin cemas saat aku kembali melantur.
"Kita bawa kamu ke kamar ya."
Aku dibawa kembali ke kamar. Dengan pikiran bertumpuk. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan mereka. Tapi kapan?
Aku meihat melalui jendela ketiganya berjalan pulang. Sejujurnya merasa bersalah karena tidak dapat menemani lebih lama.
Terlihat Syarif datang dari kejauhan, aku hendak menutup gorden sampai aku menyadari hal ganjil. Syarif mendatangi ketiga orang itu dan langsung menggendong bayi Rani sembari tersenyum lebar. Dia tampak menyayangi anak itu.
Aku memegangi dadaku yang terasa panas dan otakku mengatakan hal gila, Rani adalah istrinya dan anak itu adalah anaknya.
Bukankah dengan begini akan semakin tepat kebencianku padanya. Harusnya akan lebih mudah untuk melupakannya. Syarif menoleh ke arah jendela kamarku dengan senyum yang membuatku sakit.
__ADS_1
Tbc....