
Singkatnya, kami sampai dalam 15 menit. Tak ada jawaban saat aku menggedor pintu. Pak Rudi mendobrak masuk dan kami mendapati Rani di bawah tangga, meringkuk memegangi perut dan bercak darah merembes di sekitarnya. Barang-barang pecah berserakan di lantai. Aku asumsikan karena usaha Rani mencari pegangan untuk berdiri.
"Ya Allah, Rani!"
Aku menghambur ke arahnya yang sudah setengah sadar. Tubuhnya memar dan basah dengan peluh, dia menggigil hebat. Pak Rudi dengan sigap membopong Rani yang sudah tidak sadarkan diri. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat.
Rasanya, baru kemarin aku mendengar Rani berencana akan berhenti sekolah setelah usia kandungannya menginjak lima bulan, hari ini ia harus kehilangan baby. Dokter mengatakan keharusan adanya curetase karena baby sudah tidak tertolong lagi.
Rani menangis semalaman, terus menyalahkan dirinya yang teledor dan bisa-bisanya jatuh dari tangga. Aku yang begitu lelah mencuri waktu tidur ketika operasi berjalan. Pak Rudi tetap bersamaku menjadi wali untuk setiap tindakan yang diajukan rumah sakit.Bahkan setelah operasi curetase selesai dilakukan, kesedihan Rani belum juga surut. Sampai akhirnya aku mengabari Reno yang mungkin bisa sedikit menghiburnya.
Tepat seperti dugaanku, kehadiran Reno memberi sedikit ketenangan untuk Rani. Rani mulai lebih relaks dan bicara, bahkan tertawa. Reno memintaku memberitahu Rangga pada hari minggunya. Aku memang lupa dari kalutnya situasi.
"Ga, cepetan ke RS! Aku ada di ruang bersalin nih sekarang."
"Lah, siapa yang ngelahirin, Put?"
"Aduh, cepetan ke sini! Reno keguguran," balasku sembari mengunyah sarapan.
"Hah? Reno kapan hamilnya, Put? Kamu jangan ngada-ngada deh. Reno itu cowok tulen!"
Reno tertawa geli mendengar jawaban Rangga yang tampak histeris di ujung sana.
Eh, aku yang salah bicara ternyata. "Aduh, kok jadi Reno. Maksud aku--"
Tut tut tut.
Lah? Dan sambungan diputus. Aku tak menghubungi lagi setelah sambungan terputus di tengah-tengah, kurasa mereka juga sudah paham. Reno berpamitan setelahnya karena harus bekerja, bahkan di hari minggu. Keuletan Reno benar-benar patut diapresiasi.
"Mmm... Ran, kamu ngerasa gak kalau Abel sama Reno... kayak ada sesuatu?"
Rani malah tertawa ketika aku mengatakan rasa penasaranku.
__ADS_1
"Sesuatu? Ternyata Putri bisa kepo juga ya."
Aku nyengir. "Ngg... ya gitu...."
Rani emang paling up to date kalau soal bergosip dan bikin penasaran.
"Kamu pasti mikir, kok Abel kayak ngehindarin Reno kan?" Aku mengangguk, membenarkan. "Jadi, dulu itu diem-diem Reno pernah jadi bartender di sebuah bar gitu deh, karena kepepet biaya berobat tante Nisa. Dia dimasukin temennya, padahal usia Reno kan masih 15 tahun. Emang dasarnya bongsor jadi dikira lebih dewasa. Dari situ, Reno ketemu sama Abel--" Dan wajahku langsung syok.
"Abel yang pake kerudung dan kacamata itu clubbing?"
"Yaelah, Putri main potong aja. Memang bener, tapi Abel pake kerudung and kacamata juga belum sampai setahun ini. Dulu dia itu primadona, kamu masih minum susu dia udah negak wine. Secara, orangtuanya itu pemilik bar tempat Reno kerja." Seriusan, aku syok.
"Nah, terus yang bikin mereka jauh karena--."
"Bukan. Dengerin ceritaku sampai selesai, oke! Jadi, ternyata Reno akhirnya ketahuan Niko. Niko marah besar dan nyuruh Reno berhenti kerja. Karena percuma kerja tapi gak berkah karena jual barang haram. Padahal selain kerja di sana, Reno sebenarnya diem-diem jagain Abel. Nah pas hari terakhir Reno kerja, itu terjadi. Abel...," Rani menjeda bikin penasaran. "kasih tau gak ya?"
"Ah Raniii!"
Dia tertawa melihat wajah penasaranku.
Aku melongo. Double syok.
"Hah? Apa kamu bilang, Ran?"
"Nyiram? Nyinyir? Nyikat."
Dia terbahak lagi.
"Raniii!" Setidaknya aku jadi tahu alasan mereka. Maybe Abel adalah firat crushnya Reno, sehingga apa yang kulihat hari itu kini terbukti dengan sendirinya.
"Udah, ah. Btw, aku udah bilang loh ke Rangga tentang Nesya."
__ADS_1
"APA?!"
"Kira-kira reaksi Niko gimana ya kalau dia tahu?"
Rani mengandai-andai. Bukan hal yang ingin kudengar.
"Menurutku, manusia kaktus kayak dia mana bisa bergerak, yang ada, durinya terus nyakitin orang-orang di dekatnya."
"Huss. Niko itu baik meski ogah ngurusin masalah cewek. Dia itu selalu ngebelain orang-orang yang lemah lagi."
"Udah deh, Niko sama Rangga itu beda."
Dan muka Rani pun berubah pemirsa, pasti gara-gara diingetin sama Rangga. Rani terdiam sebentar, kemudian menghela napas.
"Kamu tau, Put, kenapa aku sama Rangga bisa putus? Itu karena dia gak pernah mau pegang-pegang aku. Aku bego karena ngerasa dia gak serius. padahal dia cuma pingin ngelindungin aku. Aku bego, Put. Kalo seandainya aku gak bego, gak mungkin ada kejadian baby, gak mungkin aku bakal ngerasa kehilangan gini."
Aku kehilangan kata-kata. Aku sepertinya sudah salah bicara. Suara Rani bergetar dan wajahnya menyiratkan luka.
"Udah, Ran. Ini semua udah takdir."
Tanpa dinaya, aku melihat sosok Rangga berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka.
"Ran..." bisikku mencoba menghentikan perkataan Rani yang memejamkan matanya tak mendengarku.
"Kamu tau, Put. Pas Niko bilang begitu, aku berharap kalau itu dia, tapi dia punya pikiran berbeda. Atau dia udah ngerasa aku gak berharga?"
"Ran!" panggilku lebih keras.
"Salah nomor kamarnya ya, Ga?"
Suara renyah Niko menjadi pengalih perhatian kami. Rani membekap mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Itu Rangga."
Tbc....