Kenangan

Kenangan
Chapter 13-Cara Menjadi Pembunuh


__ADS_3

Aku tidak percaya kakiku melangkah ke tempat ini. Tidak terlalu sulit menemukannya melalui web, bahkan beberapa dengan jelas memberikan alamat.


Aborsi, terdengar menakutkan. Membayangkanya saja membuatku merinding. Tetapi, egoku menolak, aku harus melakukannya. Jika, seandainya kupertahankan. Apa yang akan terjadi nanti?


Keluargaku akan memutuskan hubungan, begitu pun Syarif mungkin akan meninggalkanku sendirian, atau tidak. Dan aku akan menjadi istri keduanya. Aku tidak bisa membayangkan reaksi istrinya saat mengetahui hal itu.


Menikah pun rasanya aku belum siap. Aku tidak yakin Syarif benar mencintaiku. Yang kutahu hanya aku yang mencintainya. Aku bahkan bertanya pada Kak Farel pekan lalu. Di saat aku benar-benar ketakutan. Aku hanya mengandalkan asumsi bahwa tiada yang tahu tentang hal ini selain aku, jadi dengan gugup aku menanyakannya.


"Menurut Kak Farel, menikah itu bagaimana?"


"Menikah?" Dia menaikkan alis, mungkin heran dengan pertanyaanku yang tiba-tiba.


"Maksudku, apa Kak Farel tidak berniat menikah? Aku meralat dengan panik, syukurlah dia tidak curiga.


Kak Farel terdiam terlihat berpikir.


"Kenapa bertanya hal itu?"


"Enggak apa-apa sih. Tapi, ah Kak Farel kan belum nikah, masa aku tanya-tanya hal itu. Bego nih aku."


Kak Farel terlihat hendak menyangkal, namun tak ada satu pun kata yang keluar sebagai


tanggapannya. Dia malah bertanya, apa ada seseorang yang melamarku.


"Kalau iya, bagaimana?"


"Jangan diterima."


Bahkan tanpa berpikir lama Kak Farel mengatakannya dengan tegas.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Pokoknya jangan diterima."


"Maksud Kakak, aku tidak akan pernah boleh menikah?"


"Bukan begitu, Nirmala. Tapi...."


Percakapan kami terhenti karena pembantu rumah tangga berteriak kalau Oma terjatuh dan pingsan.


Oma dilarikan ke RS. Mbok bilang, Oma terkejut karena sebuah telepon dari MaMon. Kesehatan Oma semakin memburuk, tetapi tiga hari kemudian, Oma kembali sehat seolah tidak ada yang terjadi.


Yang mengejutkan adalah karena Anna akan segera menikah dengan seorang pria akibat accident.


Tubuhku gemetar hebat setelah hari itu, hingga keputusanku berakhir di sini. Di depan dokter yang katanya memiliki lisensi untuk aborsi secara aman.


Aku berperang batin, hingga seorang menyenggolku dengan kasar. Wajahnya merengut dan menatapku tajam. Prempuan itu bahkan tidak meminta maaf.


"Ngapain kamu di sini?" Aku mengernyitkan kening. Wanita itu bicara padaku? "Sekarang kamu pura-pura enggak kenal?"


"Maaf, apa kita pernah bertemu?"


"Apa? Kamu bercanda?"


"Maaf, tapi saya benar-benar tidak ingat."


"Kamu masih ngecengin Kak Niko? Hebat. Aku enggak nyangka, dia mau aja ngebelain anak cupi kayak kamu!"


"Niko? Siapa Niko?"

__ADS_1


Dia melihatku aneh.


"Kamu pura-pura bodoh? Karena kamu aku berakhir seperti ini!"


Aku terkejut, perempuan itu tampak sangat membenciku. Aku sekilas membaca nametagnya, Nesya. Aku tidak memiliki gambaran apa pun tentang wanita ini.


"Saya benar-benar tidak mengingat kamu." Sekali lagi aku meyakinkan.


Matanya membeliak, warna merah mukanya berangsur-angsur kembali normal.


"Putri, jadi, kamu tidak mengenalku?"


"Kamu siapa?"


Wajahnya yang sinis langsung berubah. Matanya seolah mencari tahu apa aku membohonginya atau tidak. Entah bagaimana dia kemudian berubah ramah.


"Kamu ingat, aku Nesya. Kita teman sekelas sewaktu SMA." Aku manggut-manggut sembari mempertanyakan ingatanku yang tidak mampu membentuk wajah atau pun mengenalinya. Atau mungkin karena kami tidak terlalu dekat, jadi aku melupakannya begitu mudah?


Lagipula, tadi dia tampak membenciku. Atau dia justru musuhku?


"Maaf, tapi apa aku melakukan kesalahan sama kamu?"


"Ah, bukan bukan, aku hanya bermaksud menyapa dengan cara unik. Itu bukan sungguh-sungguh. Cuma bercanda. Kita sering bercanda semacam itu sewaktu dulu."


Aku langsung mempercayainya. Dia menanyakan apa yang kulakukan di sini.


"Aku ingin menggugurkan kandunganku."


Nesya terkesiap, dan seulas senyum berkembang di bibirnya.

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2