
Bagaiman bisa kak Farel berkata begitu, sedangkan dia sendiri memilih pergi?
Ini semua salahku. Kenapa harus orang lain juga yang menanggungnya?
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Seharusnya aku takpernah mendorongnya melakukan hal itu. Seharusnya aku tak ikut campur sejak awal.
Seharusnya.
Tapi semua sudah terjadi.
Kak Farel ternyata benar. Masalahnya tidak sesederhana memperjuangkan. Harus ada salah satu yang dikorbankan
Mengusap sisa tangisku. Ada seseorang yang lebih membutuhkanku sekarang.
Kulihat Mama yang tersedu di lantai setelah dijerat paksa Oma agar tak mengejar kakak tadi. Beliau memelukku. Menangis keras di pundakku. Aku menemaninya sampai puas dan tertidur.
Niatku mengurung diri dicegat juga. Oma memarahiku karena melanggar janji untuk tidak naik sepeda lagi dan terluka.
Aku membiarkan.Terlalu lelah untuk menanggapi.Toh, aku memang pantas dimarahi.
Luka-lukaku diobati. Gurat kesedihan tampak jelas di wajahnya yang senja.
Aku tahu, wanita tua ini dilema, diantara mempercayai atau memaafkan. Tidak ada maksud bertindak keras. Wanita tua ini hanya mempertahankan sesuatu yang dianggapnya benar.
Oma merasa kehilangan, karena itu beliau memilih untuk membenci daripada mempercayai, alih-alih memaafkan.
Aku berharap memiliki kesempatan menghapus keresahannya. Oma layak untuk bahagia, juga terlepas dari kungkungan masa lalunya.
Papa datang tak lama setelah kegaduhan mereda. Wajahnya murka, meski tak ada kata yang keluar dari bibirnya.
Papa jelas menahannya. Dia mencintai anak istrinya, namun pantang baginya mengeraskan suara pada Ibunya.
Aku selalu kagum dengan kebijaksanaan Papa. Selalu menghormati orang tua, juga selalu tau apa yang harus dilakukan untuk mendamaikan perang nantinya.
Akumemilih mengurung diri. Lelah memikirkan semua yang terjadi. Membenci diriku yang ini, lemah dan tak berdaya.
Papa berdiri di balik pintu dengan senyum menenangkan. Matanya menyiratkan tanya, meski tak ada kata.
"Aku cuma ingin datang ke pameran itu sama teman-teman yang lain juga,"jawabku.
"Bukan karena dia?" selidik papa. Suaranya tenang tak menghakimi.
Aku menggeleng. Memilih setengah berbohong padanya.
Kak Farel benar, kebohongan seperti candu, membuat orang mengulang lagi dan lagi.
Aku memang akan mengatakan sejujurnya, tapi nanti, karena ini belum waktunya berakhir.
Papa mengelus suraiku dengan sayang. Hatiku menghangat.Aku mengerti beliau juga lelah, tapi selalu sedia untuk kami. Aku bermanja, merasakan kehangatan dekapannya sampai terlelap.
Sebangun dari tidur. Tubuhku baru menunjukkan reaksi. Pegal-pegal kayak habis di keroyok massa setelah ketahuan mencuri.
Merenggangkan tubuhku. Aku memutuskan tetap pergi ke sekolah hari ini.
***
Sudah tiga hari semenjak Niko mengirim surat izin sakit.
Gelisah. Aku tak bisa berhenti memikirkannya.
Dia gak apa-apa?
Apa sakitnya parah? Bahkan fokusku terenggut karenanya.
Kekhawatiranku semakin menjadi ketika tak sengaja mendengar percakapan wahyu.
"Iko, dah gak masuk beberapa hari."
"Katanya, dia kena DB sama tifus bukan sih? Musim hujan emang rentannya orang sakit."
Aku tak berpikir dua kali untuk berlari ke kelas Rani.
"Rani, kita harus jenguk Niko, dia sakit parah."
__ADS_1
Alih-alih terkejut, Rani mengernyitkan dahi.
"Kemarin Rangga bilang cuma demam biasa kok."
"Bener, tadi aku denger dari temen."
"Tenang, Putri. Gak usah berlebihan gitu juga."
"Tapi--."
"Tenang. Ini aku WA Rangga. Dia lagi ada di ruang lab komputer."
Rani mengetik ponselnya. Menunggu dengan cemas, satu kerlipan notifikasi di HP Rani membuat jantungku bekerja ekstra.
"Nah kan. Bukan Niko, Put. Tapi Iko, anak IPS yang pernah ikut lomba matematika Internasional itu loh."
Aku menghembus napas lega. Menggeleng tak tahu siapa orang yang Rani maksud.
Rani menggendikkan bahu. "Kamu kalau suka Niko gak segitunya
juga kali, Put."
Dia menepuk lenganku main-main berikut seringai jahil di wajahnya. Lama-lama dia mirip Rangga.
Wajahku bersemu. "Apaan? Aku gak suka Niko kok."
"Mulut kamu aja yang ngomong begitu, dalam hati kegirangan. Kayak aku gak tau aja minggu kemarin kalian jalan bareng."
Aku berkilah, mengambil beberapa inti dari cerita kami untuk meyakinkannya. Terlalu semangat, sampai membuatnya lebih gencar menggodaku. Aku memilih lari dengan alasan di tunggu Abel di kantin, padahal tadi aku menolak dan langsung meluncur ke kelas Rani.
Batinku masih merasa tak puas sebelum mendengar suaranya, juga memastikannya baik-baik saja. Diam-diam aku melakukan aksi nekat mencuri nomor Niko dari Rangga.
I am madly need hear his voice. Aku tak bisa menunggu lebih lama.
Di malam harinya, setelah bergulat dengan hati dan logika, aku memutuskan menelponnya. Sambungan di angkat pada dering ketiga. Badanku panas dingin menantinya berbicara.
"Halo."
Suara alto yang terdengarnserak menghentikan napasku sejenak. I missed him so much.
"Ni-Niko?"
Suara kesiap dari seberang. Dia mungkin mengenali suaraku.
Lalu,
Tut Tut Tut
Aku melihat layar HPku menunjukkan sambungan diputus. Ada apa sih? Ah, mungkin ke
pencet. Aku menelpon lagi. Tak diangkat.
Ini yang terakhir. Menunggu dengan cemas. Tersambung pada dering kelima.
Fiuuuh....
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," balasnya. "Kamu tau nomorku dari Rangga? Ada apa?" tanyanya.
Mendadak kelu. Basa-basi yang ku siapkan hangus entah kemana. Hanya perasaan excited dan tak percaya bisa
mendengar suaranya.
"Mmm i-iya. A-aku... aku... aku cuma mau memastikan kamu baik-baik aja kan. Aku ngerasa bersalah karena bikin kamu hujan-hujanan dan jatuh sakit. Aku... minta maaf, Niko."
"Bukan salah kamu."
"Iya, tapi kan--"
"Udah, enggak perlu dibahas lagi. Kamu juga gak apa-apa kan? Maaf gak bisa nganterin kamu sampai rumah."
Perasaanku menghangat. Bukannya memikirkan dirinya yang sakit, dia malah memikirkan orang lain.
"Iam fine. Jangan ragukan ketahanan tubuh gorila betina ini loh."
__ADS_1
Dia terkekeh di sebrang. Pundakku terasa ringan, seolah semua bebanku terangkat mendengar tawanya.
Ah, aku pasti sudah gila!
"Niko. Kamu kapan masuk lagi?"
"Besok, kalau kompressku sudah dilepas."
"Poor you. Mau aku nyanyikan lagu biar kamu
merasa lebih baik?."
"Hah?. Its silly. No way! Yang ada aku makin tambah sakit nantinya. Kamu dengerin aku aja, mau?"
Aku tertawa atas pernyataannya. "Iya sih, enggak sebagus Siti Nurhalizah. Bolehlah."
Dia berdehem dan mulai berkisah.
"Bulan si anak malam.
Matahari si anak pagi.
Langit tempat mereka bermain.
Bulan tak pernah akur kepada matahari.
Maka langit memberi jarak agar bencana tak datang.
Pada zaman azali, bulan dan matahari diberi misi dan visi yang sama, menerangi.
Mereka berada di rumpun yang sama.
Matahari sang digdaya, menyinari tanpa henti.
Menjaga bulan sepenuh hati.
Seberapapun jauhnya, matahari memastikan bulan dapat menerangi malam dengan keanggunannya.
Matahari menunjukkan ekspresi,
Langit membiru ketika ia rindu.
Langit mendung ketika ia bersedih.
Langit berpetir ketika ia marah.
Langit penghujan ketika dia menangis.
Semua isyarat untuk bulan.
Bulan diam-diam mengagumi, meski tak tahu maksud matahari.
Langit berpelangi jawaban matahari.
Bulan mengerti, tapi hanya dapat mengagumi.
Cinta mereka terhalang janji mutlak yang harus dipenuhi.
Demi keselamatan bumi dan jagad raya.
Bulan dan matahari hanya dapat saling mengagumi.
Seandainya waktu mau mengulang, bulan matahari akan
sudi berbagi--"
Tut tut tut.
Sambungan terputus. Dan ketika mencoba lagi hanya ada suara operator yang mengingatkan "Pulsa
Anda tidak mencukupi... bla bla bla."
Double sick!
***
__ADS_1
Sambung lagi...