Kenangan

Kenangan
Flashback 42-Patah Hati Pertamaku


__ADS_3

Keesokannya Niko sudah kembali bersekolah. Aku merasa canggung bertemu dengannya, tapi kuberanikan diri untuk menyapanya. Dia tampak terkejut dengan kehadiranku.


"Niko, maaf semalam aku kehabisan pulsa. Kamu ada bicara hal lainkah? Cerita kamu bagus deh, kamu mau ikutin lomba?"


Dia menggaruk pelipisnya. " Eee... mungkin. Aku duluan, mau ke Perpus."


Dia berjalan meninggalkanku yang terpaku. Apa aku salah bicara?


Di hari-hari berikutnya, Niko seperti menjauhiku. Aku tau dia pasti marah. Kami seperti kembali asal. Asing, tak saling kenal. Kembali Niko membuatku merana, menangis setiap malam.


Aku merasa kehilangan, tak punya teman berbagi. Semua seperti tak cukup dengan hanya Rani. Aku butuh Niko.


***


Berdamai dengan Oma itu, sama seperti mencabut bulu hidung Hulk yang sedang marah. Adegan berbahaya, jangan pernah coba di rumah!


Sesulit itu memang.


Setelah kepergian kak Farel, Oma jadi lebih sensitif pada segala hal. Tak terkecuali memarahiku untuk suatu kesalahan kecil. Hampir hilang kesabaranku kalau bukan mengingat perkataan kak Farel yang harus diragukan, mengenai Oma yang katanya tau mana yang terbaik untukku.


Belum lagi satu masalah selesai, datang masalah susulan dari kelakuan Niko yang enggak


bisa ditebak.


Aku yang merasa hampa setelah kepergian kak Farel, di tengah-tengah Mama yang terus menyalahkan dirinya, dan Papa yang menenggelamkan diri larut pada pekerjaan. Semakin merasa di abaikan, sendiri dan tak punya harapan.


Mata bengkak dan sakit, juga bantal yang selalu basah menjadi rutinitasku kembali.


Demi Tuhan, aku harus melepasnya! Tetapi bagaimana caranya?


***


Perpustakaan sekolah mendapat kiriman buku-buku dengan kurikulum terbaru pagi ini. Niko sudah menghilang sejak istirahat pertama tadi.


Kurasa aku tau dia di mana.

__ADS_1


Di perpustakaan, tampak kesibukan lima orang di dalamnya. tiga orang yang tampak mata, dua orang terhalang bilik rak.


Niko bersama seorang anak perempuan tengah menomori buku baru dan menginput data ke laptop. Itu Ranti.


Aku ikut nimbrung tanpa aba-aba, sontak membuat kedua manusia remaja itu memandang ke arahku.


Ranti menyambut dengan wajah semringah, sedangkan dia tetap sedatar papan setrika.


Ranti menunjukkanku pekerjaan yang harus dilakukan, dan dia akan mengecek sesuatu di bilik rak yang lain. Hanya tersisa aku, Niko dan Pak Novali di sana. Hening dengan pekerjaan masing-masing.


Pak Novali yang mengecek sesuatu di komputer, lalu tersenyum sekilas ke arahku, kemudian berbicara kepada Niko.


"Niko, bisa minta tolong ambilkan 2 kardus yang kita simpan di gudang kemarin. Kamu masih ingetkan tempatnya?"


Niko mengangguk dan bangkit dari posisi lesehannya. Aku juga bangkit setelah dengan cepat dia keluar.


"Pak, saya bantu juga, ya."


Pak Novali hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari komputer. Aku bergegas mengekorinya. Dia terkejut melihatku menyejajari langkah, tapi tak berkomentar apa-apa.


Niko membuka pintu gudang yang sudah korosi. Lalu mengangkut dua kardus yang di maksud.


"Aku yang ini," kataku, merujuk pada kardus yang paling kecil.


Niko membiarkan, sekali lagi no comment.


Aku sudah tak tahan lagi dengan keterdiamannya. "Niko. Kamu masih marah ya sama aku?"


Niko menutup gudang kembali sebelum menjawab, "Enggak."


"Tapi kamu keliatan menjauh. Please jangan marah! Kalau aku punya salah aku minta maaf."


"Aku enggak marah atau pun menjauh. Kamu juga gak salah apa-apa."


"Tapi aku merasa begitu, dan itu... menggangguku."

__ADS_1


Apa kata-kataku terdengar ganjil, sampai dia menghentikan langkahnya dan menatapku.


Yes, dia bereaksi!


"Bukannya tugas KTI sudah selesai?" tatapan tajam Niko ia tunjukkan. "Kita ini sudah kelas dua belas. Harus pinter membagi waktu. Jadwal kegiatan semakin padat. Ujian juga semakin dekat. Sudah waktunya kita fokus menghadapi ujian, dan menyingkirkan pemikiran tak perlu. Kuharap kamu gak salah memahami."


Jlebbb!


Dia berlalu meninggalkanku yang membeku.


Perkataannya begitu mengena. Secara implisit mengatakan penolakan secara halus.


Napasku terasa ditarik paksa.  Jantungku seperti diremas-remas sebelum di gantung di kawat cucian.


Sakit. Patah hati dan merasa *****.


Perkataan kak Farel waktu itu terngiang kembali di benakku.


Aku berharap kak Farel yang benar. Bahwa dia punya maksud mendekatiku, bahwa dia jugamembalas perasaanku.


Aku salah. Kenyataannya berbeda.


Jangan salah paham, Nirmala! Dia mau berteman denganmu karena membutuhkanku hanya sebagai mitra lomba.


Lebih tepatnya, jangan berharap!


Tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Amburadul.


Tidak, tidak, aku tak ingin menangis saat ini. itu hanya akan membuatku terlihat semakin menyedihkan.


Aku sudah gelisah menunggu lima belas menit sebelum pergantian jam masuk yang terasa lama. Pekerjaanku kacau.


Aku memilih izin hendak ke toilet dan baru bisa bernapas lega karena bisa menangis sepuasnya.


***

__ADS_1


__ADS_2