Kenangan

Kenangan
Flashback 26-Gadis Florist Tunanetra


__ADS_3

Minggu sore, aku sudah bertolak ke Surabaya. Tentunya diiringi dengan tangisan lebay MaMon.


Perasaanku masih sejengkel sejak kemarin. Bisa-bisanya memperlakukanku bak tahanan. Pakai alat penyadap segala. Aku yakin ini pasti kerjaan Oma atau enggak Mama El.


Tiba-tiba saja semua menjadi jelas mengenai keanehan keduanya hari kemarin. Tetapi, apa maksudnya? Sepertinya aku harus mengkonfrontasi langsung.


Kereta akhirnya sampai di stasiun. Mobil sedan hitam dan Pak Rudi sudah menanti. Aku meminta pak Rudi berhenti di kantor pos karena ingin mengirimkan surat pada teman penaku di Bogor, melepas jaketku karena cuacanya berkebalikan dengan kota tempat Anna tinggal.


Aku memilih menikmati perjalanan dibandingkan memusingkan hal yang belum jelas, menepi dan membuka kaca mobil. Angin sejuk menampar-nampar wajahku. Aku bisa melihat orang-orang berjualan, berbincang, naik sepeda.


"Kamu harus pulang, Nirmala. Orangtua kamu pasti sangat cemas mencari kamu saat ini."


Aku tersentak dan pusinga karena kembali mendengar suara tanpa rupa. Apa mungkin aku diganggu setan?


Aku bergidik ngeri dan hendak menutup jendela, saat inderaku menangkap sosok tak asing.

__ADS_1


"Pak Rudi, berhenti!" Teriakanku membuat Pak Rudi mengerem mendadak.


"Kenapa, Non? Ada yang ketinggalan?"


Aku menggeleng. Bukan karena ada sesuatu yang tertinggal, tetapi karena aku tak sengaja melihat sosok mirip Kak Farel di jalan ini.


Aku memutar otak mencari alasan untuk bisa turun tanpa alasan dan Pak Rudi tidak akan tahu. Di seberang jaln, terlihat toserba yang buka dengan banyak pembeli.


"Saya pingin dawet ayu, Pak Rudi. Bisa belikan bahannya di situ," kataku, menunjuk toko tadi.


"Suwun, Non. Kenapa tidak suruh Mbok saja nanti."


"Suwun, Non. Bahannya apa saja?"


"Ih Pak Rudi, enggak update banget sih. Cari aja di internet, sekarang kan udah gampang cari resep. Ada aplikasi apa itu namanya, Masakpad kan."

__ADS_1


Pria tua itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, keluar dari mobil sembari mengutak atik ponsel, menuju ke toko tadi.


Aku keluar, berjalan cepat ke arah persimpangan di mana aku seolah melihat Kak Farel. Aku harus memastikannya dulu.


Dari kejauhan, Aku mendapati Kak Farel bersandar disamping moge(motor gede)nya memandang ke sebrang sambil sesekali tersenyum melihat ke arah seorang perempuan florist tunanetra. Lalu, pura-pura memainkan handphonenya ketika ada orang lewat atau pembeli yang membeli bunga. Aku tahu gadis itu tunanetra karena gadis tersebut berjalan menggunakan tongkat.


Ini beneran kak Farel,kan?


Aku mengucek mata berkali-kali, tetapi sosok itu memang benar Kak Farel.


Kak Farel masih di sana. Menatap lagi ke arah wanita tadi, persis seperti penguntit kurang kerjaan. Dan wanita itu tentu tak melihat, hanya saja dia terlihat gelisah, mungkin merasakan pandangan kak Farel? Atau merasa diawasi? Biasanya orang akan peka jika diawasi.


Aku bertanya-tanya siapa perempuan itu sebenarnya, yang bahkan bisa membuat Kak Farel bertingkah aneh, tentu seorang yang istimewa. Atau jangan-jangan dia calonnya?


Aku mencoba untuk melihat lebih dekat, bersembunyi di balik pohon mangga tak jauh dari sana. Perempuan itu setelah melayani seorang pembeli, kemudian mendekati Kak Farel yang terlihat panik. Aku tak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Kak Farel terlihat geli dan terbahak. Bahkan dari jauh pun aku bisa melihat keduanya diliputi kasmaran. HPku berdering, panggilan masuk dari Oma. Sekaligus mengingatkanku untuk kembali, takut ketahuan Pak Rudi.

__ADS_1


Pikiranku berkecamuk bahkan hingga kembali ke mobil dan Pak Rudi sudah selesai dengan belanjaannya. Aku tak percaya Kak Farel bisa bertingkag gila hanya karena wanita. Mungkin harus kucari tahu kebenarannya juga.


Tbc...


__ADS_2