
"Apa maksud kamu, Ko?" heran Rangga.
Rani memotong. "Reno masih hidup? Tapi itu gak mungkin. Aku sudah memikirkannya, kita mungkin hanya terlalu bersedih dan tak dapat menerimanya karena kejadian ini memang begitu tiba-tiba. Tapi, coba lihat kalau kita masih terus mengharapkan hal yang gak mungkin, Reno pasti gak akan tenang di sana."
"Jadi, kalian gak percaya?"
"Setidaknya beri kami satu bukti untuk membuktikan ucapan kamu itu," tantang Rangga.
Niko menghela napas panjang.
"Kalian adalah saksinya. Aku tahu, Rani, kamu juga ada di sana hari itu."
"Hari itu?"
"Ya, hari di mana Ayahnya yang gila itu menempelkan besi panas di punggungnya. Hari aku menelpon polisi untuk menangkap pria itu. Hari di mana aku dan Rangga membawa Reno ke Rumah sakit. Kalian saksinya. Lukanya gak semudah itu sembuh tanpa meninggalkan beka. Dan aku yakin betul, aku... enggak menemukannya di kedua jasad itu."
Aku dan kedua orang lainnya tertegun di buatnya. Rani menunduk, air matanya jatuh lagi mengingat kejadian na'as itu terjadi.
Aku benar-benar tak menyangka. Anak itu mengalami kekerasan fisik juga dari Ayahnya.
Rangga menatap Niko tak percaya.
"Lantas milik siapa kedua jasad itu?"
"Aku sudah mengambil sampel rambut keduanya untuk berjaga-jaga. Jawabannya bisa kita temukan hari senin di sekolah nanti."
Sekali lagi aku bergidik ngeri. Anak ini berani sekali mengambil sampel rambut dua jasad busuk yang bahkan tak sanggup kami lihat jelas.
"Hari senin? Gimana bisa polisi salah mengidentifikasi korban? Ini gak masuk akal!" Rangga masih ragu dan belum puas.
"Ini sebuah konspirasi. Ada tangan di baliknya. Jika ini benar, itu artinya Reno masih hidup dan dia sedang dalam bahaya sekarang."
Luar biasa. Kemampuan analitisnya cakap. Entah sejak kapan anak ini jadi begitu mengagumkan.
Sekali lagi kami tak henti-hentinya ternganga dengan hal yang semakin melebar kini.
Ada sesuatu yang besar di baliknya. Kami tak mengira akan ada kejanggalan seperti ini. Ini di luar rencana. Hal yang hanya tiga orang ini yang tahu, dan ibunya, apakah tak merasakannya?
"Apa mereka ingin merusak nama baik Reno? Tapi untuk apa? Apa untungnya?"
"Kita gak tahu apa tujuan mereka. Yang harus kita lakukan adalah mencari tahu kebenarannya."
Kami tak punya pilihan lain. Meski, sulit untuk percaya.
"Kita akan menyimpan ini sendiri sampai semua terbukti. Terima kasih sudah mau mendengarnya teman-teman. Sebaiknya kita akhiri segera perbincangan ini. Sampai jumpa hari Senin."
Pemuda itu bangkit berdiri dan melangkah pergi. Diikuti Rangga di sampingnya.
Rani masih shock dengan apa yg terjadi. Dia memintaku untuk bermalam di rumahnya. Aku tahu dia membutuhkan seseorang sekarang. Di rumahnya tak ada siapapun, rumahnya memang selalu sepi karena orang tuanya sering bepergian. Aku menelpon ke rumah dan memberitahu akan menginap di rumah Rani.
Kami berbincang banyak dan saling menghangatkan. Baru kali ini aku merasa benar-benar dekat dengannya.
Meski ingatan itu masih kental di pikiran kami. Tapi semoga dari kejadian ini dapat dipetik sebuah hikmah di dalamnya.
***
"Woy Put!"
"Rani, kamu kok gak di kelas?"
"Iya, aku cuma mau nyampaikan kalau kita akan ketemuan lagi bareng cowok-cowok di jam istirahat kedua. Aku ke kelas dulu ya, Put."
"Ok."
Lagi?
Rani terlihat menyedihkan sejujurnya. Kantung mata Rani yang bertumpuk karena kurang tidur ia samarkan hanya dengan mengulas foundation, gestur tubuh malasnya berjalan ke arah luar. Aku memperhatikan dengan sedih. Berharap bisa membantu banyak. Mungkin, aku harus bertanya pada Niko nanti.
Bell masuk di perang pena pertama kami. Aku terus menengok lintingan panjang jarum jam bergerak teramat lama, atau hanya aku yang merasakan begitu?
Melihat teman-teman sudah menunjukkan raut frustasi menggigiti ujung batang bolpoint sampai kertas ujian itu sendiri karena jawaban yang belum terisi sepenuhnya, dan hanya tersisa 15 menit lagi sebelum bel berdering.
Aku bisa mati penasaran tentang apa yang ingin dikatakan Niko.
Sayangnya, aku justru harus menelan pil pahit karena penyampai pesannya sendiri diberi tugas lain, yang otomatis memaksa mereka mengundurnya di jam pulang sekolah.
Tetapi saat aku menemui Om Syafiq di kantor, beliau malah menyuruhku menemui Rangga untuk memberitahu ibunya masuk rumah sakit.
Aku justru bertemu Niko.
"Rangga lagi latihan di lapangan. Kamu bawa mobil atau mobilku?"
"Aku bawa sopir. Pakai mobilku aja."
__ADS_1
Dia tak banyak bicara dan kami menuju lapangan. Niko tampak sedih selama perjalanan. Rangga terlihat terkejut ketika memasuki mobilku.
"Loh, Putri?"
"Iya, Ga. Ini mobilku. Aku turut prihatin, ya."
"Terima kasih, Putri."
Tetapi sampai di RS Niko justru mencegahku masuk. Alasannya sungguh tak masuk akal.
"Kamu mau menarik perhatian ibunya Rangga?"
"Hah? Apaan sih! Aku akan cuma mau menjenguk."
Aku memaksa masuk, tapi anak itu menarik tasku sehingga aku tak bisa berjalan.
"Pulang saja. Kehadiran kamu tidak terlalu diperlukan. Dan... terima kasih."
Dia meninggalkanku sendiri.
Sigh! Apa sih maksud perlakuannya itu?!
Aku tadinya memilih akan pulang, tapi aku justru memikirkan cara membantu anak itu. Aku mungkin bisa mendapat sedikit petunjuk untuk membantu.
***
Aku benar-benar menyusuri TKP. Dan aku menemukan sesuatu.
Kenapa anak itu juga ada di sini?
Aku hendak melewatkannya. Naasnya,dia menuju tempat yang sama. Dan apa yang hendak kami ambil pun adalah hal yang sama.
Niko menenangkan Tante Nisa dan menjanjikan membawa Reno kembali. Beliau tampak bahagia diiringi isakan tangis. Kami berdua akhirnya keluar dengan membawa yang kami perlukan.
Ya, kami memang mengunjungi rumah Reno untuk mengambil beberapa bukti.
Niko yang masih mengenakan seragam almamaternya, hanya diam saat kami berjumpa. Aku memulai sendiri dengan mengatakan bahwa Rani belakangan ini merasa kurang enak badan dan terua mengikutinya.
Anak itu hanya terus mengutak-atik bukti di depanku. Handphone Reno tak memberi lebih banyak petunjuk. Hanya satu pesan singkat yang aneh katanya. Tetapi, dia tak memperlihatkan apa pun padaku.
Aku cemberut, tapi senantiasa ada di sampingnya.
Kami sudah masuk ke dalam bus menuju salah satu TKP mayat-mayat itu ditemukan.
"Kenapa kamu ikut masuk?" Pada akhirnya Niko bicara.
"Aku bisa melakukannya sendiri. Kamu pulanglah!"
"Baiklah, baiklah. Aku tak ingin mencari masalah dengan seorang Polyglot(*) berIQ tinggi yang tak butuh bantuan orang lain seperti kamu."
Aku
"IQku tidak lebih tinggi dari milik kamu."
"Benarkah? kalau begitu biarkan aku ikut!"
"TI-DAK," lugas Niko tanpa bisa ditolerir.
Baiklah, sepertinya anak ini hendak adu kerasa kepala. Aku tetap mengekorikunya, bahkan hingga turun dari bus.
"Apa maumu, Nirmala?"
"Biarkan aku ikut. Aku sepertinya menemukan tempat yang ingin kamu tuju."
Dia mengerutkan kening.
"Baik. Katakan dan kamu boleh ikut."
Aku tersenyum dan berjalan mendahuluinya melewati beberapa gang kecil. Lalu, masuk ke sebuah toko swalayan tanpa berkata apapun. Toko itu tampak sepi dan mungkin kurang laku.
Aku hendak mengambil camilan, namun berpikir cepat dan mengambil pembalut.
"Hey. Cepat beritahu! Jangan berputar-putar!"
"Apa sih berisik amat. Sabar dong."
Kami tiba di tempat kasir dan mendapati seorang Pria berbadan besar dan tinggi, berkumis lebat dan panjang menatap dengan tajam. Sepertinya aku tau kenapa toko ini kurang laku. Ups.
Pria itu berkata dengan suara berat setelah berdehem. Well, sebenarnya pria itu berbisik hanya saja masih terdengar nyaring.
"Di sini juga menjual ** dan obat kuat."
Aku beradu pandang dengan Niko, benar saja orang ini berbicara kepada... kami?
__ADS_1
Kali ini dia mendekatkan wajahnya ke Niko yang sudah teramat kesal.
"Sayang sekali di cuaca cerah ini justru cewekmu sedang PMS."
Aku meringis karena dengan vulgarnya pria itu mengatakan hal tabu, dan aku tak menyangka bahwa keputusanku masuk tidak sepenuhnya salah.
Aku bahkan harus mencegah Niko yang seolah hendak memukul pria besar itu. Dia cari mati!
"Ah, maaf. Jadi kalian bukan salah satu anak dari kelompok anak-anak itu? Anak-anak itu sering kali membelinya," tanyanya terheran.
Apakah tampang kami tersirat wajah nakal? Bagaimana bisa orang ini menfasilitasi hal "itu" pada anak-anak yang jelas di bawah umur?
Tunggu dulu.
Siapa anak-anak yang dimaksud?
Setelah membayar, orang tersebut buru-buru mengusir kami dengan dalih akan segera tutup tanpa memberitahu info lain.
Niko masih marah, jadi aku memberitahunya bahwa aku menemukan gatungan kunci yang diberikan Rani untuk Reno, yang kebetulan saat itu dia membelinya bersamaku.
"Aku menemukannya di dekat sini. Aku curiga dia mungkin masih di sekitar sini."
"Trus ngapain kamu masuk ke toko semacam itu?"
"Aku kan cuma pingin ngorek informasi." Aku menggendikkan bahu.
Dia tiba-tiba terdiam dan terus mengamati benda dalam genggamannnya.
Hari semakin gelap, sepertinya sudah hampir pukul delapan malam. Di sekitar sana hawanya lumayan seram. Hanya ada lampu jalan yang tak cukup menerangi setiap petak jalanan kecil beraspal di hadapan kami.
"Aku ingin tau apa hubungan kamu dengan Reno?" cetusku tiba-tiba. Aku benar-bemar tak bisa menahannya.
Aku tak yakin dia akan menceritakan yang sebenarnya, tetapi lalu perkataan darinya menarik perhatianku.
"Dulu aku ketemu dengan Reno di panti asuhan. Dia teman baikku di sana."
Aku terkejut. Panti asuhan?
"Kamu dan Reno... jadi... orang tua kalian bukan...."
"Reno tidak. Dia punya orang tua kandung. Waktu itu usiaku sekitar 12 tahun. Aku lari dari tempat yang kusebut rumah hingga sampai ke sana."
"Kenapa Reno bisa tinggal di panti?" Sebenarnya aku ingin bertanya alasannya lari dari rumah, tapi mulutkan mengatakan sebaliknya.
"Ayahnya Reno orang yang keras. Pria itu seorang pelaut yang jarang pulang. Ibunya tidak mampu mencukupi kebutuhan Reno. Sejak usia delapan tahun dia sudah dititipkan di sana. Sampai Reno mampu bekerja sendiri, dia kembali kepada orang tuanya. Meski kehidupannya juga tak lebih baik dari sebelumnya."
"Kenapa kamu lari dari rumah?" Ah, aku mengatakannya. Semkga dia tidak tersinggung.
"Aku ... Aku lari setelah tau mereka bukan orang tua kandungku," jawabnya lirih
Astaga! Ternyata, Niko....
Ini mungkin sangat dirahasiakan, tapi anak ini malah memberitahuku. Padahal satu sekolah tidak ada yang tahu akan kenyataan yang sebenarnya.
"Trus Kak Ira itu... siapa?"
"Dia anak kandung orang tuaku. Kami saudara sepersusuan. Keluarga itu mengambilku ketika aku masih bayi. Mamaku bilang, aku ditemukan selamat setelah kecelakaan dalam bus. Ibuku meninggal di tempat. Mereka juga mencari keluargaku, namun hasilnya nihil. Ayahku juga diketahui telah lama meninggal." Dia memberi jeda dan menghela napas panjang, sembari matanya memandang langit berbintang.
"Aku bersyukur. Mereka adalah keluarga yang sangat baik. Mereka tak punya kewajiban menafkahi ataupun mewarisi apa pun. Tapi mereka bahkan memberikan semua fasilitas dan kemewahan ketika mengangkatku sebagai anak. Itu kenapa aku selalu mencoba mandiri sejak kecil. Aku harap dapat membalas semua kebaikan dalam keluarga orangtua angkatku"
Kenapa Niko? Kenapa kamu memberitahuku?
I can't bear it anymore. Aku merasa sangat kasihan sekaligus sedih. Tapi juga bahagia karena dia dibesarkan oleh keluarga itu. Jika tidak, aku mungkin tak akan bisa bertemu dengannya.
Aku mengusap tangisku dengan sapu tangan miliknya.
"Apa aku yang pertama?"
"Mmm. Sepertinya begitu."
"Kenapa memberitahuku?"
"Tidak tahu." Dia menggendikkan bahu.
"Kamu tidak malu? Tidak takut aku olok-olok?"
"Aku tidak berpikir kamu gadis semacam itu."
"Baiklah. Aku berjanji akan menjaganya sebagai rahasia hanya di antara kita."
"Terima kasih." Dia menoleh ke arahku. "Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik. Aku jadi merasa bisa mencari fakta baru sekarang."
Aku tersipu. Tapi kemudian kami bertengkar lagi tentang detektif fiksi kesukaan kami. Aku merasa dia sangat manis dan lucu. Mataku jadi terbuka tentangnya yang tak sesempurna yang terlihat. Dan satu hal pasti Niko sudah mulai terbuka dan percaya padaku. Satu langkah awal pertemanan kami.
__ADS_1
***
Tbc...