Kenangan

Kenangan
Flashback 43-Patah Hati Gelombang Kedua


__ADS_3

Pada senin yang disepakati, hari ini pengumuman lomba KTI.


Aku berangkat bersama Om Syafiq. Niko sudah meminta izin akan datang terlambat dan


langsung menuju tempat.


Nihilnya kehadirannya justru membuatku lega. Perkataannya tempo hari, sukses menyempitkan kepercayaan diriku.


Tak tau lagi dimana harus meletakkan muka. Apa aku sebegitu mudahnya terbaca?.


Dia memintaku tak salah paham. Apa maksudnya, kalau bukan dia bisa membaca perasaanku.


Meski begitu, tak lantas perasaanku pudar begitu saja. Aku masih kadang merindukan saat-saat kami bersama.


Seperti saat ini, perasaan gelisah, marah, lesal, kecewa bergumul di benakku. Nama sekolah kami terpanggil sebagai juara pertama. Padahal, aku sangat berharap kami bisa berfoto bersamanya. Tetapi bahkan sampai di penghujung acara, Niko tak nampak batang hidungnya.


Nama kami dipanggil untuk naik ke atas panggung. Saat itulah aku melihat dia. kuembus napas lega.


Tetapi kenapa dia tak beranjak dari tempatnya?


Niko jelas tidak terlambat. Atau mungkin dia berbohong. Tetapi kenapa?


Om Syafiq merangkul bahuku, wajahnya begitu cerah. Aku ikut tersenyum ke kamera.


Setelahnya, aku memberitahu kehadiran Niko, tanpa menjejalkan asumsiku tentunya. Om Syafiq memanggilnya dan kami digiring ke restauran seafood untuk traktiran.


"Kenapa pula kau terlambat? Ayo ini pegang piala kau punya! Senyuum!"


Niko berpose dengan kaku.

__ADS_1


Aku hampir saja tertawa kalau bukan karena saat ini mulutku sedang dipenuhi udang pedas kesukaan "kami".


Niko tak memesan apapun, dia bilang tak bisa berlama-lama. Sedangkan aku, memesan dua porsi, ini dapat mengurangi tingkatan frustasiku, apalagi ketika berdekatan dengannya.


"Senyumlah, Ko. Santai dikit, jangan kayak orang mau ketemu mertua begitu."


"Senyum dong! Gigi kamu gak bakal kering cuma untuk sekali senyum."


Aku menyemangati, tanpa mencari tau ekspresinya. Aku masih malu sejujurnya.


Om Syafiq tertawa. Lalu membidik beberapa kali.


Ketika aku melihat, Niko sudah tersenyum santai ke arah kamera. Om Syafiq sibuk sekali memotreti piala kami dan memainkan laptopnya, sampai memilih meja lain agar lebih leluasa.Dasar katro!


Aku beralih pada Niko yang duduk di sampingku. Berbisik-bisik mengklarifikasi dugaanku tadi.


"Kamu gak telat, kan? Aku tadi lihat kamu sudah ada di sana. Kenapa enggak jujur aja?"


menjawab, malah mengangkat bokongnya ke posisi berdiri.


"Pak,saya pamit. Ini udah ditunggu di bandara. Sekalian saya juga minta izin enggak masuk beberapa hari."


"Ada acara keluarga? Ya sudah nanti saya izinkan ke wali kelas."


Dia menyalami Om Syafiq dan pergi bahkan tanpa melihatku atau hanya sekedar pamit.


Selera makanku langsung lenyap.


Aku menyuruh pelayan membungkus sisanya dan meminta Om Syafiq mengantarku pulang.

__ADS_1


Sampai di depan rumah, Om Syafiq menolak untuk masuk karena harus kembali ke sekolah.


Aku meminta kameranya untuk melihat hasil dan mencucinya.


Sebelum keluar dari mobil Om Syafiq mencegatku, "Om minta maaf sudah jodoh-jodohin kamu sama Niko. Om sudah tau semuanya dari Mama kamu. Yang sabar aja ngadepin Oma kamu."


Aku mengangguk dan tersenyum meski tak paham maksud beliau.


Sampai di kamar, aku menumpahkan semua tangisku. Sedikitnya mengurangi rasa sesakku.


Setelah puas, aku membersihkan diri dan kembali mengamati hasil jepretan Om Syafiq.


Aku tertegun pada salah satunya. Niko menatap ke arahku yang tengah mencomot udang. Dia tersenyum dan menatapku dengan cara berbeda. Bukan ketika Reno memandang Rani, tapi bagaimana tatapan Rangga memandang Rani.


Aku merasa terharu.


Pada akhirnya aku tahu alasan Niko menjauh. Dia tak membenciku. Dia merasakan hal yang sama. Sesuatu yang dalam prinsipnya terlarang untuk saat ini. Begitukah?


Asumsiku masih terasa benar beberapa menit yang lalu sebelum dering Beat it dari MJ dengan tampilan layar Rani is calling, menjadi mimpi buruk tak terencana.


"Putriii, udah tahu? Tadi Rangga nelepon aku, dia bilang Niko bakal tunangan segera...."


Jedddar!


Guntur di siang bolong, dan awan yang mendadak mendung menjadi latar.


Kelanjutan perkataan Rani tak dapat kudengar. Cahaya meredam. Mati lampu. Dan semua menggelap.


Sambung lagi....

__ADS_1


 


 


__ADS_2