Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati

Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati
AKHIRNYA MENGHUBUNGI dan ADA YANG BAHAGIA


__ADS_3

Nisa yang sebelumnya ragu untuk menghubungi Ardi, namun setelah Nisa mempertimbangkan lagi, Akhirnya Nisa putuskan untuk menelpon Ardi secara langsung dari pada melalui chat pesan, Nisa berpikir itu tidak sopan apalagi untuk mengucapkan terima kasih.


Nisa segera menekan nomor ponsel Ardi, nomor yang sudah di kirimkan oleh mang Tisna mahgrib tadi.


Di rumah Ardi


Ardi sedang bersenda gurau bercanda bersama kedua anaknya di ruang keluarga, Azka dan Asyla terlihat begitu tertawa lepas mendengar obrolan lucu sang papa.


Sebelumnya mereka baru saja selesai melaksanakan solat berjamaah di mushola rumah mereka. Yang letaknya dekat dengan ruang keluarga.


Saat Asyik bercanda, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Ardi yang Ardi simpan di meja dekat Televisi.


Ardi segera berjalan meraih ponsel nya, Sesaat pandangan Ardi terpaku menatap layar ponselnya, betapa tidak di layar ponselnya tertulis nama penelpon yakni Nisa beserta foto candid Nisa yang Ardi ambil sewaktu di kampung, kini memenuhi layar ponselnya.


Ternyata sewaktu Ardi mendapatakan nomor Nisa dari mang Tisna, Ardi langsung mengsave nomor Nisa di tambah foto candid yang di ambilnya di kontak ponselnya.


'' Heemm... Dokter Nisa... '' Batin Ardi tersorak, tersenyum lebar dalam hati, Ardi Bagaikan mimpi, kini di telpon langsung oleh orang yang sudah menolong nya.


Hingga suara Asyla menyadarkan Ardi yang intens menatap layar ponselnya.


'' Pah.. kok gak di angkat sihh?... malah di diemin aja'' Asyla bersuara karena terganggu dengan suara dering ponsel sang papa.


'' Eehhh... iya sayang, ini mau papa angkat dulu'' Jawab Ardi sembari berjalan ke arah kamar nya yang berada tak jauh dari ruang keluarga. Sedangkan kamar kedua anaknya berada di lantai dua rumah Ardi.


Asyla dan sang kakak Azka sesaat saling tatap, karena tak biasanya sang papa mengangkat telpon menjauh dari mereka.

__ADS_1


'' Kak... gak biasanya papa begitu?'' tanya Asyla bersuara pada sang kakak akan sikap berbeda sang papa, Azka yang tak ambil pusing hanya membalas menggelengkan kepalanya.


Setelah tiba di kamarnya, Ardi kembali terpaku sesaat kembali memastikan orang yang menghubunginya dan tak lama segera menekan gambar telpon warna hijau untuk menjawab telponya.


Akhirnya telpon mereka bersambung, Nisa yang menyadari langsung bersuara.


'' Hallo...Assalamualaikum'' Nisa dengan rasa nervousnya, karena ini kali pertama Nisa menghubungi pria terlebih dahulu.


''Iya wa'alaikum salam... maaf ini dengan siapa'' Ardi sengaja beralasan, pura-pura tidak mengenali suara Nisa, padahal sudah jelas-jelas ada nama Nisa beserta foto yang sudah di save olehnya.


''Mohon maaf sebelumnya, bila saya mengganggu waktu istirahat bapak, Ini saya Nisa pak Ardi, maaf sebelumnya saya mendapatkan nomor ponsel pak Ardi dari Mang Tisna'' ucap Nisa memberitahu Ardi darimana mendapatkan nomornya.


''oh.. dokter nisa...sama sekali tidak mengganggu dokter, masih sore saya belum beristirahat... ada yang bisa saya bantu dok'' tanya Ardi begitu bersikap ramah dan soapn pada dokter di seberang telponnya.


'' syukur kalau tidak mengganggu pak Ardi, Nisa mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kebaikan pak Ardi'' Nisa terjeda nafasnya begitu tidak stabil bercengkerama dengan lawan jenis walaupun lewat telepon.


'' Itu pak...atas barang-barang untuk keperluan klinik saya dan juga mobil Ambulans yang sudah bapak berikan untuk fasilitas klinik...saya mengucapkan terima kasih banyak pada pak Ardi '' Nisa mengutarakan di balik ucapan terima kasih nya.


'' Ohh... itu dok... saya sengaja ingin memberikan itu semua untuk menunjang klinik dokter, semoga semuanya bermanfaat untuk warga yang membutuhkan...dokter tidak perlu berterima kasih... itu berhak untuk klinik dokter.''Ardi berusaha bijak, walaupun niat sebenarnya karena ingin membalas budi akan kebaikan Nisa dan keluarga nya.


'' Tentu pak Ardi, itu semua akan sangat bermanfaat untuk warga di sini, saya sungguh bersyukur atas kebaikan pak Ardi mau berdedikasi untuk klinik saya, semoga Alloh membalas dan melipat gandakan amal kebaikan pak Ardi, serta selalu di limpahkan lagi rejeki pak Ardi lebih berlimpah ruah dan berkah'' Nisa begitu tulus memanjatkan doa, mendokan kesejahteraan untuk Ardi. Ardi di buat tersenyum bahagia doa baik dan tulus terucap dari bibir Nisa.


'' Masya Allah... Aamiin ya robbalalamiin... terima kasih banyak dokter nisa untuk doanya, semoga dokter nisa dan keluarga selalu di berikan kesehatan di tambah kliniknya semakin berkah dan berkembang'' Ardi membalas mendoakan orang yang entah kapan selalu Ardi rindukan.


''Terima kasih kembali pak Ardi, kalau begitu saya sudahi dulu sambungnya, takutnya mengganggu pak Ardi '' Nisa mulai tak nyaman sudah cukup lama mereka mengobrol. Nisa sunggt tidak biasa mengobrol dengan lawan jenis.

__ADS_1


'' Ehh... tunggu sebentar dokter, ada yang saya tanyakan, bagaimana kabar keluarga dokter, semoga semua nya sehat walafiat?'' tanya Ardi tak malu, terang-terangan secara halus masih belum mau menyudahi sambungan nya. sedangkan Nisa di seberang sana sudah mulai panas dingin tak nyaman.


''Alhamdulillah kabar ibu sama ayah baik... mereka juga bersyukur dan berterimakasih atas kebaikan pak Ardi ''Nisa Akhirnya mau tak mau terbawa obrolan Ardi kembali.


'' Syukur alhamdulillah...saya titip salam kepada keluarga dokter, saya begitu sangat bersyukur bisa kenal dan di tolong oleh dokter dan keluarga...semoga Allah membalas kebaikan Dokter dan keluarga '' Ardi kembali mengingat kebaikan Nisa dan keluarganya. Entah apa yang akan terjadi bila Nisa tidak menolongnya.


''Iya pak Ardi itu sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong, nanti Nisa sampaikan pada ayah dan ibu..mereka pasti senang...kalau begitu saya pamit...ini sudah malam yah pak, takutnya pak Ardi mau beristirahat, assalamualaikum '' Ucap Nisa sembari menahan senyumnya.


'' Baiklah dokter saya sangat sangat bersyukur pada Allah sudah mempertemukan saya dengan dokter.. '' seru Ardi namun Nisa yang tak nyaman diam saja tidak menanggapi.'' wa'alaikum salam...selamat malam" akhirnya dengan berat hati Ardi menjawab salam Nisa. Nisa langsung menekan lambang telepon merah untuk memutuskan sambungannya, Nisa akhirnya bisa bernafas lega. Sambungan telepon mereka akhirnya berakhir.


Ardi menatap lekat foto Nisa di galeri ponselnya, Ardi benar-benar begitu bahagia di hubungi oleh Nisa walaupun hanya lewat telepon.


Ardi menyadari rasa ketertarikan pada lawan jenis yang sudah lama Ardi rasakan setelah sepeninggal istrinya Berliana, kini Ardi kembali merasakan rasa itu setelah bertemu Dokter muda dan baik hati yakni Nisa.


Tak berbeda jauh dengan Ardi, Nisa juga langsung menggulingkan badannya mengingat begitu malunya dirinya sudah menelepon Ardi terlebih dahulu, di tambah ucapan-ucapan Ardi tadi yang Nisa juga tahu arah ucapan Ardi terhadapnya.


'' Arggghhh malu bangett.... Udah Nisa jangan ambil pusingg.... toh pak Ardi bukan siapa-siapa terus jauh tidak akan bertemu lagi...jadi tidak perlu di pikirkan... sudahh Ambill nafasss... eeemmm... lalu buangg uuuuuhhhh'' Gumam Nisa menenangkan pikirannya sendiri yang mulai berpikir ke arah yang tidak seharusnya.


...( Bersambung dulu.... nanti kita lanjut) ...


See you again


stay safe and healhty


''

__ADS_1


''


__ADS_2