
pov Ardi
Aku benar-benar merasa tersentak, saat mendengar ucapan Nissa di sambungan telepon, Niat ku ingin menggodanya malam itu sirna sudah.
Malam itu, Nissa dengan jelas menolak perlakuan yang sudah aku berikan kepadanya, Dari mulai perhatian dan pemberian bunga dari ku, Dia dengan tegas merasa terganggu dan tidak nyaman.
Saat itu aku hanya bisa pasrah, mungkin memang itu salahku, aku terlalu percaya diri merasa perhatian dan perlakuan dari ku akan di terimanya dengan baik.
Ternyata prediksiku salah, justru malah bertolak belakang dengan apa yang sudah aku dambakan.
Keesokan harinya, setelah sambungan telepon malam itu, aku bertekad akan bersikap biasa saja pada nya, aku akan menjadi orang asing yang tidak pernah mengenalnya. Seperti apa yang dia inginkan.
Karena aku yakini, kalau aku di takdirkan berjodoh dengannya tidak akan kemana.
Hari ini, waktunya aku dan semua Anggota, yang akan di pindah dinas kan ke luar kota, akan melakukan General cheek up, untuk mengetahui kesehatan kami sebelum kami berangkat berdinas ke luar kota.
Aku sengaja melakukan general cheek up menuju siang hari, karena di pagi hari masih mengantri, sebelumnya aku juga tidak tahu kalau siang itu, dia ikut berjaga untuk memberikan pelayanan pada para Anggota yang akan melakukan General Cheek up.
Saat aku datang ke klinik, di sana tinggal beberapa orang sedang mengantri, aku juga ikut tertib mengantri dengan yang lain.
Saat bagian ku untuk melakukan General Cheek up, ternyata aku kebagian masuk ke ruangan nya yang baru saja menangani Anggota, Tak ada pilihan lain aku melakukan nya di ruangan dia.
Jujur hatiku senang sekali dengan keadaan ini, tuhan selalu memberikan rencana yang tidak aku duga.
Dia terlihat kaget saat aku ikut mengantri, namun dia langsung bersikap propesional untuk melayani ku melakukan General Cheek up.
Saat aku masuk ruangannya, dia langsung mempersilahkan aku duduk dan memberikan pertanyaan tentang riwayat kesehatan ku, sama seperti kepada Anggota lain.
Aku menjawab pertanyaan nya dengan singakat, padat, dan jelas.
Dia kaget akan perubahan sikap ku padanya, namun dia begitu pintar dan propesional, ia segera memulai memeriksaku dari mulai tensi darah di lanjutkan mengecek frekuensi jantungku.
Aku kagum, dia begitu tenang dan teliti memeriksa ku, aku menyesal sudah begitu cuek saat dia menerangakan tentang hasil Cheek up ku hari itu.
__ADS_1
Setelah selesai ia tanda tangani Lembar GCU ku, dia segera menyerahkan lembaran nya pada ku sembari memberikan nasihat agar aku selalu menjaga kesehatan dan pola hidup sehat.
Heemm... pasti pada semua Anggota, dia memberi nasihat itu, namun jujur hatiku begitu tersipu senang.
Aku langsung keluar dari ruangan nya, setelah aku mengucapkan terima kasih padanya dengan wajah datar dan dingin seperti saat aku memasuki ruangan nya.
Keesokan harinya, sehari sebelum keberangkatan ku berdinas, aku menghadiri kumpulan bersama beberapa rekan Anggota yang akan berangkat berdinas ke kota yang berbeda.
Tepatnya di restoran cukup mewah milik temanku, yakni Fery sesama Anggota di kantor Administratif di AD, kebetulan istrinya menjabat sebagai penanggung jawab di klinik dimana tempat Nissa menjadi tenaga kesehatan.
Tanpa aku duga, Dia datang juga kesana, sepertinya istri fery yakni Fania sengaja mengundangnya.
Aku semula kagum, saat melihatnya, dia begitu cantik dengan baju warna hijau sage di padu rok dan hijab warna hitam.
Namun, saat mengingat kembali ucapannya di sambungan telepon waktu itu, aku kembali memperlihatkan sikap acuh dan dingin ku kepadanya, aku sesekali membuang muka saat ia menatap kearahku.
Saat terdengar dia tersedak, aku begitu khawatir padanya namun apa daya, aku tidak bisa berbuat apa apa.
Aku sesekali menatap kearahnya, karena posisi duduk nya persis berhadapan denganku.
Aku berinisiatif, membukakan pintu penumpang untuk nya, tanpa di duga Fania istri Fery menutupnya, beralih membuka pintu depan agar dia duduk berdampingan dengan ku.
Aku tersenyum dalam hati, sepertinya Fery tempat ku curhat sudah memberitahu istrinya mengenai problemku dengan Nissa, menjadikan mereka begitu mendukung kedekatan ku dengan Nissa.
Akhirnya dia mau masuk ke dalam mobil ku, dan bersedia duduk bersebelahan dengan ku. Selama di perjalanan kita tidak ada yang bersuara, kami berdua benar-benar gengsi umur memulai pembicaraan.
Di tengah perjalanan, aku ingat kalau putriku meminta di bawakan makanan. Aku belokan mobilku di sebuah restoran siap saji, aku langsung bersuara meminta ijin pada nya.
Saat sampai di restoran siap saji, aku turun dan berjalan ke samping mobil ku untuk membukakan pintu untuk nya, aku tidak tega bila harus membuat dia menunggu di mobil.
Dia akhirnya turun, ia mengikuti berjalan di belakang ku, aku sudah berjalan pelan agat bisa berbarengan beriringan dengannya, namum sepertinya dia tidak mau, dia tetap berjalan dipelan di belakangku.
Aku segera membukakan pintu restoran, agar dia bisa masuk, aku langsung memesan sedangkan dia memilih duduk di kursi yang tersedia.
__ADS_1
Sembari menunggu pesanan selesai, aku tak henti terus menatap ke arahnya, ia terlihat fokus memainkan ponsel, dia betul-betul terlihat polos, cantik dan menawan, memakai pakaian biasa ia tidak terlihat sebagai seorang dokter, malah kini ia terlihat seperti anak kuliahan, aku sungguh tak tega terus bersikap dingin kepadanya.
Tak lama pesanan pun selesai, aku langsung menyerahkan satu paper bag berisi makanan yang ku pesan untuknya, kebetulan aku memesan dua bag pesanan untuk Asyla dan juga dia, Aku senang dia menerima makanan itu dan mengucapkan terima kasih kepada ku, membuat aku semakin gemas dengan nya, kami berjalan keluar restoran, dengan dia tetap mengikuti di belakang ku.
Aku bingung, dia benar-benar tak mau berbareng jalan dengan ku. Sampai di mobil aku membukakan pintu untuk nya.
Dia langsung masuk ke dalam mobil, di ikuti aku masul duduk di balik kemudi. Kami melanjutkan perjalanan kami.
Tak kuduga saat di perjalanan, dia mengungkapkan permintaan maaf kepadaku, ia beralasan sudah tidak sopan dan berlebihan atas ucapan nya, sewaktu di sambungan telepon waktu itu.
Aku yang gemas, langsung menjawab dengan tegas unek-uneku kepadanya.
Dia langsung terlihat diam, tak berani bersuara lagi. Sebetulnya aku tak tega, tapi mau bagaimanapun itu adalah konsekuensi ucapannya yang sedang aku lakukan sekarang, diam dan dingin kepadanya.
Tak terasa kita sampai di Gedung Administrasi dan klinik pusat kesehatan AD, aku langsung masuk ke dalam setelah mendapat akses dari penjaga, aku berhenti tepat di depan klinik di dekat mesnya.
Saat mobil ku sudah berhenti, aku tersenyum menatap gadis di sampingku yang tak bergeming, ia belum menyadari sudah sampai di depan mesnya.
Aku begitu gemas dan langsung bersuara, akan mengajaknya ke rumah ku saja, kalau dia tidak mau turun di mesnya, tak lama dia langsung kaget dan menjawab akan turun di mes saja.
Sontak membuat ku tersenyum dalam hati, ia membereskan tas dan paper bag yang aku berikan, ia tak lupa juga mengucapkan terima kasih kembali pada ku, kemudian dia pamit dan keluar dari mobilku.
Dia langsung berlari kecil menuju mesnya, aku yang begitu bahagia langsung memarkirkan mobilku untuk keluar dari area itu, menuju pulang ke rumah.
Sampai rumah, aku kembali mengingat kegiatanku tadi dengannya, aku merasa tak akan tenang, akan meninggalkan dia yang belum jadi milikku, selama aku berdinas selama tiga bulan di luar kota.
Doaku...semoga tuhan menjaga dia di sini, untuk diriku.
💙
Bersambung dulu...
tetep dukung author...
__ADS_1
like,vote dan coment yah jangan lupa