Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati

Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati
IKUT MENYUSUL


__ADS_3

Pov Nissa


hari ini aku pulang menuju kampung halaman ku, aku berangkat pagi sekali menuju terminal.


Alhamdulillah perjalanan menuju Sumedang lancar tidak mengalami kemacetan.


Tiba di terminal Sumedang, aku tersenyum melihat mobil ayah, sudah terparkir di area parkiran.


Mang Tisna segera menjalankan mobil menuju kampung kelahiranku. Di jalan Mang Tisna menceritakan kesiapan acara pernikahan Sinta, aku bersyukur bisa pulang untuk menghadiri Pernikahan temanku Sinta, yang sudah aku anggap seperti adiku.


Tiba di depan rumah, mang Tisna segera membereskan barang bawaanku. Saat aku menyapa ayah dan ibu, terdengar ponselku berdering. Ternyata Pak Ardi yang menelepon, aku segera menjawab telepon Pak Ardi sembari pamit pada ayah dan ibu untuk masuk kedalam kamarku.


Ternyata Pak Ardi menanyakan keberadaan ku, karena ajudannya seperti biasa mau mengirim makan siang untukku, namun aku tidak ada di ruanganku.


Dia seperti kesal, saat aku bilang sudah berada di kampung, mengingat dia ingin sekali mengantarkan aku pulang. Pak Ardi merasa tidak terima aku pulang ke kampung sendirian, seharusnya aku pulang bersama dia.


Dia langsung mengajakku berdebat, namun aku yang merasakan lelah setelah melakukan perjalanan, memilih untuk mengakhiri Sambungan telepon dengan Pak Ardi.


Saat aku rebahan di tempat tidur meluruskan tubuh lelahku. Tingg... tinggg terdengar Notif pesan di ponselku yang aku simpan di nakas tempat tidur.


Saat aku lihat ternyata pesan dari Bapak Abdi Negara berbaju hijau, yang belum lama tadi menelponku.


Ngomong-ngomong baju hijau, aku jadi ingat sewaktu aku dan teman-temanku melakukan KKN di salah satu daerah, dimana dekat dengan kantor Dinas TNI, disana kami sering sekali betemu dengan Abdi negara Berbaju hijau, Mereka menjadi pusat perhatian para mahasiswa perempuan, betapa tidak para abdi negara itu mempunyai postur tubuh tinggi dan kekar di tambah wajahnya yang berkharisma, Namun sayang teman-temanku lebih sering memanggil mereka dengan istilah sebutan Kacang hijau.


'' Sutt..sut....ada cang ijo '' ucap teman kuliah ku, kalau ada Anggota yang berbaju hijau.


Aku yang bingung dan tidak mengerti, hanya bisa diam mendengar teman-temanku, membicarakan para Anggota berbaju hijau.


Dasarr lemottt aku...baru ngehh setelah temanku memberitahu istilah itu, teman-teman luknut ucapku, saat mengetahui istilah itu. Memberikan istilah nama yang tidak pantas untuk abdi negara Indonesia.


Eehh sekarang aku dilamar sama Abdi negara berbaju hijau. Memang benar Jodoh, takdir, dan maut itu sudah rahasia Allah. Kita sebagai seorang mahluk hanya tinggal menjalankan dan menerima takdir yang sudah digariskan saja.


Saat Membaca pesan dari Pak Ardi, ternyata isi pesannya adalah perintah Untuk mempersiapkan berkas untuk kebutuhan permohonan pernikahan.


Banyak juga pikirku, apalagi ada tambahan harus mempersiapkan Pas Foto menggunakan baju Persit, haa..hh di tambah harus Foto gandeng dengan Pak Ardi, sesaat aku terdiam ternyata tidak gampang mempersiapkan pernikahan dengan seorang Abdi Negara, rumit sekali dan banyak yang harus di siapkan.


Dia bertanya juga tentang ukuran baju yang digunakan oleh ku, sebagai ukuran baju Persit yang akan di persiapkan nanti untuk melakukan Foto untuk melengkapi persyaratan permohonan pernikahan.


Lelah setelah perjalanan di tambah lelah setelah memikirkan tentang berkas yang harus di siapkan, aku akhirnya ketiduran setelah melakukan solat dzuhur.


Aku terbangun pukul 16.00 Sore, setelah mendengar suara ibu membangunkanku untuk melakukan solat ashar.


Saat aku bangkit dari tempat tidur, ting..terdengar notif pesan di ponsel ku. Eehh ternyata Bapak kacang hijau kembali mengirim pesan. Dia memberitahu akan menyusul aku ke kampung bersama kedua anaknya.


''.. aaaappa'' ucapku sedikit kencang sampai ibu masuk ke dalam kamarku.

__ADS_1


'' Kenapa...neng?'' tanya ibu kepada ku.


'' Bu.. besok Pak Ardi sama anak-anaknya, mau menyusul Nissa ke sini'' jawab ku masih keget setelah membaca pesan dari Pak Ardi.


Aku segera membalas pesan dari Pak Ardi, Aku bilang ngapain Pak Ardi dan anak-anak mau menyusul, bukannya tidak boleh, tapi aku belum bicara kepada orang tuaku, mengenai lamaran Pak Ardi kepadaku, di tambah lagi aku harus membantu di pernikahan Sinta besok.


Tak lama Pak Ardi langsung membalas pesan ku, Aduhhh isi pesannya bikim aku kesal sekali. Betapa tidak kesal, Pak Ardi bilang di mau menyusul bukan untuk bertemu aku melainkan ingin bertemu mertua, ehh tambah lagi anak-anaknya mau bertemu Nenek dan Kakeknya. Ada lagi dia bilang silahkan saja kalau besok aku mau membantu di acara Pernikahan temanku, itu tidak masalah baginya.


Dasar orang aneh batinku kesal, aku langsung menekan nomor ponselnya, Aku harus memastikan akan kedatangan nya jadi atau tidak. Tanpa ku duga, dia yang belum lama membalas pesanku namum tidak menerima telepon dariku.


Iiihh bikin sebeell... awas yahh batinku dongkol karena teleponku diabaikan oleh nya.


--------🌹🌹🌹----


pov Ardi


Malam ini, sekitar pukul 22.00 malam, aku mengabari Firman ajudan ku, untuk bersiap menemani ku dan anak-anak menuju kampung halaman Nissa.


Menunggu besok aku sudah tidak sabar, apalagi Azka dan Asyla saat mengetahui perjalanan yang di tempuh kurang lebih enam jam, membuat mereka memilih melakukan perjalanan malam hari ini saja, agar besok pagi sudah sampai.


Aku dan anak-anak bersiap, dari mulai membawa baju ganti dan juga persediaan makanan untuk di perjalanan.


Setelah semua siap, aku langsung menjemput Firman di kostannya di daerah Jakarta barat pukul 24.00 dini hari.


Setelah Firman naik, aku kembali menjalankan mobilku kembali, aku menyuruh Firman untuk beristirahat dulu, agar nanti bisa bergantian menyetir denganku.


Saat terdengar kumandang Adzan subuh, kami memilih berhenti untuk melaksanakan solat subuh di mesjid. Selesai solat dan menyempatkan beristirahat sebentar, kami kembali melanjutkan perjalanan yang tingga sedikit lagi sampai.


Kita melewati jalur dimana aku beberapa bulan lalu mengalami kecelakaan, yang dimana Nissa telah menolongku.


Asyla sempat menangis saat mendengar cerita ku dan begitu berterima kasih pada Bundanya yang telah menolong ku.


Azka juga aku lihat matanya berkaca-kaca mendengar ceritaku, Dia mengucap syukur aku bisa selamat dari kecelakaan itu, ditambah dia juga begitu bangga kepada calon Bundanya, yang sudah mau menolong papanya.


Tidak terasa, Mobil pajero sport ku tiba di depan rumah Nissa, aku mencoba menghubungi Nissa untuk memberitahunya, bahwa kami telah sampai di depan rumahnya.


Sudah dua kali aku melakukan panggilan ke ponselnya namun tidak ada jawaban, Aku putuskan untuk turun dari mobil, di ikuti Firman, Azka dan Asyla yang sudah tidak kuat merasakan panas di pinggul mereka karena begitu lamanya duduk di perjalanan.


''Assalamualaikum'' Sapa ku di depan rumah Nissa, Tak lama terdengar suara Pak Zaenal keluar dari dalam rumah.


'' Ma sya Allah...wa'alaikumussalam'' jawab Pak Zaenal sumbringah melihat kedatangan kami. Dia langsung memeluk ku dan beralih menyapa Firman dan kedua anakku.


'' Ya Allah.. ini nak Firman yang waktu itu menjemput Nak Ardi yah?'' Tanya Pak Zaenal kepada Firman. Firman tersenyum mengangguk masih di kenali oleh Pak Zaenal.


'' Ini siapa? anak cantik dan gagah?'' tanya Pak Zaenal pada Azka dan Asyla.

__ADS_1


'' Perkenalkan kan Pak, ini Azka putra pertama saya dan ini Asyla putri kedua saya'' ucapku memberitahu, Asyla dan Azka langsung menyalami Pak Zaenal.


'' Asyla kek'' ucap Asyla tersenyum manis.


'' Saya Azka kek'' Azka menyalami Pak Zaenal serta memeluknya.


'' Anak sholeh dan sholehah...Panggil kakek Zaenal yah'' Ucap Pak Zaenal senang, ikut memperkenalkan dirinya sebagai kakek pada Asyla dan Azka.


'' Berangkat jam berapa dari jakarta nak Ardi? jam segini sudah sampai sini'' tanya Pak Zaenal kepadaku.


'' Pukul Satu dini hari kita mulai jalan Pak, kebetulan anak-anak sudah tidak sabar ingin main ke sini.


Tak lama muncul orang, yang sedari tadi mengabaikan telepon ku.


Dia terlihat kaget akan kedatangan ku, Aku sesaat terpana melihatnya, Dia begitu terlihat sederhana masih memakai setelan baju tidur dipadu hijab bergo simple. Seperti perempuan rumahan berbeda sekali kalau dia memakai baju dokter kebesarannya.


'' Ma sya Allah...Alhamdulillah Akhirnya Asyla dan Azka sampai ke rumah kakak'' ucapnya langsung menyapa Azka dan memeluk Asyla. Dia sama sekali cuek tidak menyapa ku.


'' Ayo masuk ke dalam..di sinimah dingin...ayoo'' Ajaknya pada Azka dan Asyla, aku kembali di abaikan olehnya, Aku memilih duduk diluar setelah menyalami Ibu Inayah,terlihat Pak Zaenal berbincang dengan Firman di dekat mobil.


Asyla dan Azka asyik berbincang dengan Ibu Inayah di dalam rumah, aku tersenyum melihat kedua anakku langsung akrab dengan orang tua Nisaa.


'' Mau minum kopi atau teh?'' Tanya Nissa menghampiri ku. Aku tersenyum akhirnya aku di sapa juga oleh perempuan yang kini sudah memenuhi ruang hatiku.


'' Terserah anda saja, saya pasti akan meminumnya'' jawabku pada nya, wajahnya seperti memerah, entah kesal atau malu terhadapku. Dia tidak menjawab memilih masuk kedalam rumah.


Tidak lama dia datang membawa satu cangkir kopi dan juga teh hangat beserta cemilan.


'' Ini di minum Pak... saya bingung jadi sekalian dibuatin dua-duanya'' Ucapnya menyimpan gelas kopi dan teh di meja.


'' Terima kasih..Calon bundanya Anak-anak'' jawabku menatap intens kearahnya.


'' Kenapa bapak tidak mengabari kalau pagi ini sampai, aku kira pagi ini baru berangkat dari jakarta, aku pikir sore baru sampai...eeh tau-taunya udah sampai gak mengabari''ucapnya sedikit memanyunkan bibirnya.


'' Saya sudah beberapa kali menelpon ke ponsel anda saat posisi sudah dekat, namun tidak ada jawaban'' ucapku, mengingat aku sudah memberitahu sebelumnya.


'' Aku gak lihat ponsel sedari semalam, karena aku kira Bapak bercanda'' ucapnya sembari menatap ke arah lain.


'' Siapa yang bercanda, saya sungguh-sungguh akan datang kesini bersama anak-anak'' ucapku tegas.


'' Habis Bapak tidak menjawab teleponku waktu kemarin, jadi aku anggap Bapak hanya bercanda'' Ucapnya masih cemberut dan tidak berani bertatap muka dengan ku.


'' Maafkan saya, kemarin saya langsung membersihkan diri, jadi tidak sempat menerima telepon dari anda'' ucapku beralasan, tidak mungkin aku memberitahu dia kalau aku ingin mengerjai dirinya.


Tak lama Firman dan Pak Zaenal merapat duduk di teras bersama Ardi, Obrolan aku dengan Nissa terhenti, Nissa memilih langsung pamit masuk kedalam rumah, setelah menyapa Firman.

__ADS_1


Bersambung dulu


__ADS_2