Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati

Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati
CANGGUNG DAN KAKU


__ADS_3

Pov Nissa


Hari ini aku sedang bertugas di Klinik pusat, Klinik besar yang menjadi pusat kesehatan untuk Anggota TNI.


Sudah dua hari aku ikut membantu di Klinik itu, karena kekurangan Nakes mengharuskan aku untuk ikut andil membantu, kebetulan di klinik Gedung Administratif sedang sepi dan tidak banyak pelayanan.


Di Saat aku tengah membantu pelayanan di Klinik Pusat, Ting... terdengar notif pesan di ponselku, aku lihat ternyata pesan dari Bapak Baju ijo..isi pesannya memerintah aku untuk datang ke ruangan. Heeem tidak ada salam atau apa gitu yah, maen memerintah saja.


Ternyata Bapak baju ijo sudah kembali masuk ke kantornya, kebetulan setahu aku Pak Ardi sedang melakukan pengamanan jadi sudah tidak masuk ke kantornya selama sepekan.


Aku segera membalas pesan Pak Ardi, balasanku memberitahu Pak Ardi bahwa aku sedang tidak di klinik gedung, melainkan sedang bertugas di Klinik Pusat.


Tidak lama, Ponselku kembali berdering menandakan ada panggilan, ternyata Bapak baju ijo langsung menelpon setelah membaca pesanku.


Aku segera menjawab telepon Pak Ardi, terdengar Pak Ardi membalas salamku dan langsung menanyakan untuk apa keberadanku di Klinik pusat, aku langsung menjawab Sedang bertugaslah, masa mau nongkrong di Klinik ada ada aja Pak Ardi menanyakan seperti itu.


Pak Ardi juga terdengar sedikit kesal karena aku tidak meminta ijinnya dan tidak mengabari tau tau aku bertugas di Klinik Pusat, Aku akui aku memang salah karena tidak sempat memberitahu Pak Ardi. Aku langsung meminta maaf dan membujuk Pak Ardi agar tidak marah kepadaku.


Ternyata niatan Pak Ardi menyuruh aku keruangannya, yakni untuk mengajakku untuk melakukan pemotret untuk Pas Photo yang belum sempat kami buat untuk melengkapi Berkas permohonan pernikahan.


Astagfirullah...aku langsung bingung mengingat Baju Persit yang Pak Ardi akan berikan padaku belum aku terima, Namun Pak Ardi menenangkan aku katanya semua sudah siap, tinggal aku bersiap karena Pak Ardi akan menjemput aku ke Klinik Pusat sekarang. Pak Ardi juga bilang akan menyuruh Ibu Fania untuk menyiapkan Nakes pengganti aku di Klinik Pusat.


Setelah mendapat perintah itu, aku segera bersiap untuk keluar dari Klinik, sebelumnya aku melakukan ijin sesuai prosedur di Klinik kepada pengawas di sana.


Aku menunggu di Lobby Klinik sembari duduk di bangku yang tersedia, setelah lima menit menunggu terdengar suara klakson mobil dan ternyata itu suara klakson milik mobil Pak Ardi, aku segera berjalan dan masuk ke dalam mobil.


Pak Ardi bersuara meminta maaf atas keterlambatan nya, aku jawab tidak masalah kebetulan aku belum lama baru keluar dari klinik, malah kalau Pak Ardi datang sedari tadi bisa di bayangkan Pak Ardi akan menungguku cukup lama.


Aku yang begitu merasakan lelah, akhirnya memilih memejamkan mataku yang sudah lima wat untuk terlelap sejenak, aku sudah tidak menghirukan ucapan Pak Ardi kepadaku, duduk nyaman di mobil di tambah sejuknya AC mobil Pak Ardi seperti mendukungku untuk menuju alam mimpi.


Aku cukup lama tidur, hingga aku terbangun karena kaget saat ponselku berdering mendapatkan panggilan.


Aku bingung saat sudah tersadar dan melihat orang yang menelpon ternyata Bapak Baju ijo, itukan Nomor ponsel Pak Ardi.


Eehh tau-taunya orang yang menelponku sedang asyik memperhatikan aku. Saat aku tanya kenapa menelpon.. Pak Ardi menjawab karena bingung bagaimana cara membangunkanku dari tidur lelahku.

__ADS_1


Yaa Ampunn emang aku tidur kaya kerbau apa yahhh... aku langsung merapihkan kerudung dan bersiap untuk turun. Aku salut Pak Ardi begitu menjaga tidak mau menyentuh untuk membangunkan aku.


Eummm ternyata sudah sampai tempat tujuan... lama sekali aku tidur batinku saat kita sudah berdiri di depan Studio photo.


Pak Ardi mengajak aku masuk kedalam studio photo, kami langsung di sambut oleh Photografer yang sudah membuat janji dengan Pak Ardi.


Kami masuk lalu berbincang dengan Photografer, setelah itu Pak Ardi menyerahkan baju persit di dalam paperbag.


Aku meraihnya dan sempat menanyakan bagaimana ukuran nya, bisa dibayangkan kalau ukurannya kebesaran atau kekecilan, yang ada bisa gagal acara pemotretannya.


Namun kembali lagi Pak Ardi dengan bijak memberitahu kalau bajunya pasti akan pas untuk ukuran badanku. Aku segera masuk keruangan yang tersedia untuk mengganti baju seragam Klinik dengan baju Persit.


Aku tersenyum yang di ucapkan Pak Ardi benar, ukuran bajunya begitu pas di badanku, begitu juga dengan kerudung bergonya yang begitu pas tidak kebesaran atau kekecilan.


Eummm kok bisa yah...baju persitnya begitu pas di badanku batinku bertanya-tanya.


Aku segera memoles wajah lelahku dengan sedikit Make up tipis agar terlihat segar, untung saja aku selalu membawa Pouch berisi Make up harian untuk Touch up kalau sehabis Solat.


Eumm ada gunanya selalu membawa pouch make up... maklum tidak ada persiapan sebelumnya untuk melakukan pemotretan.


Setelah semua siap aku segera keluar dari ruangan itu, terlihat Pak Ardi sudah menungguku duduk di sofa yang tersedia di sana.


" Sudah siap... mari kita mulai, silahkan Pak Ardi dan ibu, kita keruangan untuk melakukan pemotretan"


Aku dan Pak Ardi mengikuti perintah sang Fotografer, Pak Ardi mempersilahkan aku terlebih dahulu di photo sendiri oleh fotografer untuk pas photoku.


Aku kembali dilanda canggung dan kaku, karena Pak Ardi selalu saja menatap memperhatikanku. Setelah selesai aku di photo, sekarang waktunya untuk mengambil Photo gandeng bersama Pak Ardi.


Kami Photo sejajar, Fotografer terlihat sedikit bingung saat mengambil photo, karena begitu tidak seimbangnya antara tinggi badanku dan Pak Ardi. Pak Ardi menyadari itu ia segera mencari properti untuk menyeimbangkan tinggi badannya dan badanku.


Pak Ardi berbincang menanyakan adanya bangku kecil untuk aku pijak, agar tinggi badanku bisa seimbang tidak terlalu pendek dengan Pak Ardi.


Akhirnya selesai juga photo sejajar kami berdua dengan kaki ku berpijak di bangku kecil, menjadikan hasil photonya sejajar dan rapi tidak tinggi sebelah.... hahaha ada ada saja... begini nih nasib jadi orang pendek, jadi menyusahkan orang.


Belum selesai, ternyata masih ada sesi photo lagi, aku sempat bingung mau photo apa lagi, bukannya untuk pas photo yang dibutuhkan hanya pas photo pribadi aku dan pak Ardi di tambah photo gandeng.

__ADS_1


" Dim... tolong ambil beberapa photo kami lagi untuk kenang-kenangan, kebetulan kami belum punya photo berdua selain photo gandeng tadi" ucap Pak Ardi pada fotografer, aku hanya bisa tersenyum dalam hati, mengingat memang betul dengan apa yang di ucapkan Pak Ardi.


" Baik Pak....sepertinya Pak Ardi dan ibu sangat sibuk sekali yah, sampai- sampai tidak sempat photo berdua hehehe" balas Dimas sang fotografer tersenyum geli mendengar ucapan Pak Ardi. Aku dan Pak Ardi hanya saling tatap melihat respon Dimas si fotografer. Aneh mungkin pikirnya di jaman sekarang pacaran tapi belum pernah berfoto berdua.


Belum tahu dia, kami ini mau menikah dadakan, bukan seperti orang-orang pada umumnya.


Kami kembali bersiap, Dimas mengarahkan kami untuk berdiri rapat saling berhadapan aku begitu kaku, karena aku belum mau berphoto bersentuhan dengan Pak Ardi. Tanpa kuduga Pak Ardi langsung bersuara mengingatkan Dimas.


" Dim... buat photo sopan tanpa bersentuhan saja, calon istri saya belum mau berphoto intim sebelum resmi menikah" ucap Pak Ardi tegas.


" Masya Allah mohon maaf kalau begitu,pantas saja Pak Ardi dan ibu belum pernah berphoto bersama" jawab Dimas mengangkukan kepala tanda mengerti perintah Pak Ardi.


Sesi photo di lanjut, aku dan Pak Ardi berdiri berhadapan namun berjarak sembari saling menatap satu sama lain.


Dan lagi, kami berphoto kembali dengan Pak Ardi berdiri tegak sedangkan aku duduk di kursi di sampingnya.


Masih ada lagi, kami berphoto setelah aku mengganti baju persitku dengan baju Seragam Klinik, Dimas sang fotografer menyarankan kami kembali mengambil photo kembali dengan aku memakai baju seragam Klinik untuk kenang-kenangan.


Jangan ditanya Pak Ardi begitu bersemangat untuk kembali berphoto, kalau akumah udah lelah olahraga jiwa dan raga sedari tadi merasakan nervous, canggung dan kaku, maklum ini adalah pertama kalinya aku berphoto formal dengan lawan jenis hanya berdua saja, biasanya sewaktu kuliah aku berphoto bersama berkelompok.


Jadilah, kami kembali berphoto gandeng dengan aku kembali berpijak di bangku agar tinggi kami sejajar.


Tidak menunggu waktu lama, foto kami segera di proses dan bisa diambil hari itu juga. Setelah melakukan pembayaran Aku dan Pak Ardi pamit untuk pulang.


Di perjalanan, aku kembali merasakan kantuk, namun belum juga aku memejamkan mata, Pak Ardi langsung bersuara.


" Sepertinya, sedari tadi anda begitu kelelahan sekali, apa pekerjaan di Klinik pusat begitu berat?" Tanya Pak Ardi bernada serius, aku jadi tidak jadi memejamkan mataku.


" Eumm...lumayan Pak sedang banyak Anggota yang melakukan pemeriksaan di Klinik pusat, berbeda sekali kalau di klinik gedung Administratif pekerjaan begitu santai" Jawab ku Sembari membenarkan posisi dudukku.


" Kenapa juga anda menyanggupi bertugas di Klinik pusat, kalau sebelumnya anda mengabari saya, saya tidak akan ijinkan anda bertugas disana" Ucap Pak Ardi tegas, terlihat sekali kalau beliau tidak suka mendengar aku bertugas di sana hingga kelelahan.


" Pak Ardi, saya itu berusaha profesional dalam melakukan pekerjaan saya, mau dimanapun saya di tempatkan saya harus siap dengan konsekuensi pekerjaan saya, sama juga seperti saya menerima lamaran Bapak, saya harus bisa menerima konsekuensinya juga tanpa bisa tawar menawar" ucapku menjelaskan konsekuensi pekerjaan ku dan merembet ke arah hubungan kami.


" Kenapa membahas itu, apa ada yang membuat anda keberatan dengan konsekuensi bila menikah dengan saya, karena saya seorang Duda beranak dua?" Tanya Pak Ardi serius, seperti Pak Ardi sedang dalam mode sensitif, sampai ia memberhentikan mobil ke pinggir jalan.

__ADS_1


Alamakkkk apa aku salah bicaraa... sampai Pak Ardi seperti tersinggung dengan apa yang aku ucapkan.


Bersambung


__ADS_2