Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati

Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati
PULANG BERSAMA


__ADS_3

pov Ardi.


Kami sedang berkumpul untuk makan malam, kebetulan besok aku, firman dan anak-anak akan berencana pulang sehabis solat subuh.


Sebenarnya juga, aku ingin Nissa pulang bersama dengan ku, mengingat begitu kasihan dan tidak tega bila ia harus pulang menggunakan transportasi umum.


Namun setelah kepulangan kita dari pernikahan temannya, aku belum sempat mengobrol kembali dengan nya, sedari sore dia terus saja bersama Asyla, mereka begitu menempel seperti menggunakan perekat.


Aku ingin sekali, dia bisa pulang bersama dengan ku dan anak-anak ke jakarta, aku pun bercerita pada Pak Zaenal ingin mengajak Nissa untuk pulang bersama ke jakarta, Alhamdulillah Pak Zaenal menyetujui dan akan menyuruh Nissa untuk pulang ke jakarta bersama aku dan anak-anak.


Semalam setelah Nissa dan Asyla masuk ke kamar, aku putuskan untuk mengecheek pembangunan Rumah sakit yang akan aku berikan kepada Nissa, di temani oleh Firman ajudanku yang tadi siang sudah duluan mengecheek bersama Mang Tisna, sebagai bentuk tanggung jawab ku mengabulkan apa yang di impiankannya sebelum aku menikahinya.


Walaupun ia tidak pernah membahasnya dan mengakui menerima ku karena itu takdir untuk dirinya, tidak membuat aku lupa untuk mewujudkan apa yang menjadi impiannya itu. Apalagi impian nya itu akan begitu berguna dan bermanfaat untuk masyarakat.


Ternyata pembangunan nya sudah 70 persen, aku tersenyum semoga akan selesai bersamaan dengan waktu kami menikah nanti.


Aku dan Firman kembali ke rumah Pak Zaenal karena sudah larut malam, aku tidur bersama Azka, sebelum tidur aku sempat mengobrol dengan Azka karena saat aku masuk kamar dia masih terjaga.


'' Ka..belum tidur?''


'' Belum pa, tadi siang sudah banyak tidur, jadi belum mengantuk''


'' Kak.. kamu betah di sini?''


'' Betah pa... apalagi Asyla jangan ditanya dia sudah nempel dengan Bunda...papa harus segera menikah dengan Bunda biar Asyla ada temannya''


'' Doakan semuanya kak, Papa juga berpikir begitu, Setelah semua berkas selesai Papa kaan mengajukan Permohonan pernikahan kekantor''


'' Syukurlah kalau begitu, Azka akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Papa dan Bunda''


'' Makasih kak, Ayo sudah malam sekarang kita tidur''


Aku tidur begitu lelap, karena di sini udaranya begitu sejuk dan dingin membuat tidur terasa Nikmat, berbeda seperti di jakarta yang udaranya sudah begitu panas dan terkontaminasi oleh polusi.


Aku bangun saat mendengar Adzan subuh berkumandang, setelah membangunkan Azka aku keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian mengambil air wudhu.


Saat akan kekamar mandi aku berpapasan dengan Nissa, dia sudah membersihkan diri terlihat dari kerudungnya yang basah.


'' Pak Ardi sudah bangun?''

__ADS_1


''Iya...saya tidur lelap sekali, biasanya saya bangun sebelum subuh, tapi disini begitu nyenyak jadi pas Adzan subuh baru terbangun''


'' Tadi Ayah memberitahu, katanya aku pulang ke jakarta bersama Pak Ardi dan anak-anak saja... tapi saya pikir lagi tidak enak.. takutnya merepotkan Bapak.


'' Tidak merepotkan, saya dan anak-anak pasti senang kalau anda bisa pulang bersama kami ke jakarta, jujur saya khawatir kalau anda pulang sendirian''


'' Eumm.. saya gak enak Pak, kita kan belum resmi menikah''


''Kan ada anak-anak dan juga Firman, saya tidak akan macam-macam dengan anda. Apa perlu saya menikahi anda sekarang saja di sini, secara Agama agar anda merasa aman?''


'' Eehh tidak-tidak Pak, bapak sembarangan aja.. Nanti di kirain orang aku Tekdung duluan''


'' Apa? tekdung duluan.. saya tidak mengerti?''


'' Hufff... bapak begitu saja tidak mengerti, saya masuk kamar dulu mau membereskan kan baju yang mau saya bawa ke jakarta''


Aku tersenyum geli, saat dia bilang takut merepotkan dan merasa tidak enak karena kita belum resmi menikah. Perempuan itu pikirannya ada-ada saja pikirku.


Apalagi saat aku tawari dia untuk menikah secara Agama di sini, agar dia merasa aman eeh dia malah bilang nanti di sangka Tekdung duluan.. Aku mengerti namun aku pura-pura tidak mengerti saja akan ketakutan perempuan pintar itu yang sebenarnya tidak masuk akal.


Tidak terasa setelah kita sarapan dan waktu menunjukan pukul 06.30 kami berpamit untuk berangkat ke Jakarta. Kepada orang tua Nissa dan juga Mang Tisna yang baru saja tiba.


Kami di bawakan oleh-oleh cukup banyak oleh Ibu Inayah dan tidak lupa kelengkapan Berkas dari Pak Zaenal selaku orang tua Nissa untuk melengkapi berkas untuk permohonan pernikahan aku dan Putrinya.


Selama di perjalanan, sesekali aku menatap ke arah Nissa, dia tidak membalas menatapku, aku lama lama gemas dengan perempuan yang selalu saja memenuhi pikiranku itu.


'' Ini... minuman dan makanan..takutnya anda merasa lapar'' ucapku menyerahkan minuman dan makanan ringan kepadanya.


'' Terima kasih banyak Pak, saya belum lapar...tapi taruh disini saja nanti untuk Asyla dan Azka'' Perempuan itu meraih makanan dan minuman dariku untuk anak-anak ku.


Perempuan aneh pikirku, Dia begitu perhatian kepada anak-anak ku namun tidak kepadaku.


Setelah separuh perjalanan kami tempuh, aku menyuruh Firman untuk berhenti di sebuah rumah makan yang begitu Khas menyediakan makanan Sunda.


Jujur semenjak bertemu keluarga Nissa, aku jadi begitu menyukai makan sunda yang begitu khas dengan lalapan segar dan sambal pedas yang begitu menggugah selera makan.


Kami semuanya turun dari mobil kecuali Firman yang memilih duduk menunggu di sebuah warung, Dia mengirim pesan kalau dia tidak mau mengganggu acara makan keluarga bahagia.


Aku tersenyum Ajudanku begitu mengerti dan tidak mau mengganggu kami. Akhirnya aku, Nissa dan anak-anak berjalan menuju ke dalam rumah makan khas sunda. Aku memilih duduk secara lesehan di rumah makan itu, rasanya begitu nikmat bila makan sembari duduk lesehan, cocok sekali untuk acara bersama keluarga pikirku.

__ADS_1


Aku memesan banyak makanan di sana, perempuan itu ternyata punya selera sendiri, dia juga ikut bersuara kepada ku.


'' Pak jangan lupa aku mau pesan Belut goreng'' ucapnya memberitahuku untuk memesan belut goreng kesukaannya. Aku tersenyum sekaligus merasa aneh mengetahui makanan kesukaannya, berbeda dengan Anak-anak seperti biasa memesan Ayam bakar dan goreng. Tidak lupa aku memesankan makanan untuk Firman juga dan pelayan rumah makan langsung mengantar ke tempat dimana Firman berada.


Anak-anak duluan selesai makannya dan berjalan menuju mobil, aku sengaja menahan Nissa untuk tidak ikut duluan bersama anak-anak. Dia seperti terpaksa akhirnya menunggu dan menemaniku menghabiskan makanan di piringku.


'' Bapak kok lama makannya? biasanya kan seorang prajurit melakukan apapun secara cepat''


'' Prajurit memang sudah biasa melakukan apapun secara cepat anda benar, namun berbeda dengan saat ini, prajurit nya sedikit memperlambat agar bisa duduk dekat dengan calon istrinya jadi itu perbedaannya.''


'' Bapak bisa saja, ayo buruan dihabiskan, kasihan anak-anak menunggu''


'' Biarkan saja, mereka itu sengaja menuju mobil duluan agar kita bisa mengobrol kamu gak paham''


'' Huufff.. bapak sama anak sama saja''


'' Kenapa kamu suka Belut goreng?''


'' Kenapa? memang masalah untuk Bapak?''


'' Sama sekali tidak, hanya aneh saja buat saya, belutkan.. bentuknya tidak jauh beda seperti ular''


'' Asal Bapak tahu saja, Belut itu Mengandung banyak Vitamin hampir setara dengan ikan gabus lohh''


''Aku sedari kecil suka makan belut, makanya aku jadi pintar dan menjadi Dokter''


''Hahaha anda bisa saja, ya kalau tidak di barengi belajar mana bisa pintar''


Setelah obrolan tentang belut itu, aku selesai mencuci tangan langsung membayar bill dimeja kasir.


Perempuan itu langsung berjalan nyelonong menuju mobil, Dia tampak duduk di belakang tempat aku duduk, Dan Asyla duduk di belakang bangku supir.


Aku mengambil kunci mobil dari Firman, dan segera masuk duduk di bangku mengemudi, perempuan itu langsung mendelik saat sadar aku tetap akan bisa leluasa melihatnya.


Aku memberinya bantal leher agar dia bisa istirahat bersandar di bantal leherku, Dia yang sudah lelah dan mengantuk pasrah menerima bantal leher dariku.


Selama melanjutkan perjalanan aku tak henti sesekali menatap kearahnya, dia tampak tidur lelap dengan menggunakan masker untuk menutupi Mulut dan hidungnya sembari pahanya menahan kepala putriku yang begitu juga nyenyak tidur di pangkuan calon Bundanya.


Berbeda dengan Azka dia banyak menanyakan tentang daerah yang kami lewati, maklum perjalanan kemarin menuju ke kampung Nissa di tempuh saat malam hari jadi di habiskan Azka untuk tidur. Berbeda dengan sekarang di siang hari membuat Azka antusias ingin mengetahui jalanan yang sudah di lewati.

__ADS_1


Bersambung dulu


Jangan lupa coment


__ADS_2