
Sudah dua hari setelah kepulangan Ardi ke jakarta, Nisa yang semula merasa kehilangan kini sudah kembali ceria di sela-sela aktivitasnya.
Seperti siang ini Nisa begitu sibuk di kliniknya, karena ada beberapa pasien dari tetangga di desanya yang akan berobat.
Siang itu Nisa hanya bertugas berdua bersama Sinta, sedangkan Dandra sedang bertugas di klinik di kota.
Nisa yang sibuk di ruang pemeriksaan pasien, tiba-tiba di kejutkan dengan suara Sinta yang memanggil nya dari luar ruangan.
'' Teh... teh..teh Nisa.. '' Sinta sedikit berteriak memanggil Nisa yang sedang memeriksa pasien di ruang pemeriksaan. Untung berbarengan dengan pasien yang sudah selesai di periksa dan akan keluar ruangan.
'' eehhh..kenapa Sin?... jangan teriak-teriak atuh'' tanya Nisa saat Sinta masuk ke ruangan.
''Itu teh... itu ada yang anter barang-barang buat klinik...katanya atas nama teh Nisa... itu teh Nisa yang membelinya yah?'' cerocos Sinta yang senang begitu banyak barang yang di kirim dari toko di kota.
'' Barang apa Sin? aku gak merasa beli apa-apa'' Nisa bingung dengan yang di maksud Sinta.
'' Yah udah.. teh Nisa aja lihat sendiri... itu atas nama Teh Nisa'' Sinta mengajaka Nisa keluar untuk memastikan. Nisa pun yang ikut penasaran mengikuti Sinta untuk keluar.
Sinta kembali masuk untuk mengambil alih pemeriksaan karena masih ada beberapa pasien menunggu untuk di periksa.
Nisa saat tiba di depan klinik di buat kaget, karena begitu banyak barang yang di antar hingga dua mobil truk dari kota.
'' Masya Allah...banyak pisan...'' Nisa begitu kaget melihat barang yang ada di mobil didepan klinik nya.
Nisa yang penasaran langsung menanyakan pada orang yang mengantar barang-barang tersebut, Nisa juga ingin memastikan, takutnya mereka salah alamat untuk mengantar.
__ADS_1
'' Pak...ini barang-barang siapa yang pesan? takutnya bapak salah alamat, soalnya saya di sini tidak merasa memesan pak'' Nisa menanyakan pada supir yang mengantar sebelum mereka akan menurunkan barang-barang nya dari truk.
'' Ini neng.. nota pembeliannya dan alamat jelasnya, ini benarkan klinik Khairunissa Azahra, saya sudah nanya sama orang, katanya gak ada klinik lain selain klinik ini'' Supir truk menjelaskan sembari menyerahkan nota pembelian, Nisa segera meraihnya karena begitu penasaran siapa yang sudah belanja barang keperluan klinik.
Di nota tersebut tertulis alamat lengkap pengiriman yakni klinik milik Nisa dan juga tertulis nama Ardiyansah sebagai orang yang Membeli barang-barang tersebut.
Sesaat Nisa begitu syok dan kaget, ternyata orang yang sempat Nisa tolong yang sudah membelikan barang-barang tersebut.
'' Masya Allah...ternyata pak Ardi'' Nisa bergumam pelan.
'' Jadi gimana neng... ini benarkan alamatnya?'' tanya Supir truk tersebut.
Nisa pun langsung mengiyakan dan akhirnya semua barang mulai di turunkan oleh supir dan kenek truk di bantu juga orang-orang sekitar.
Nisa langsung masuk keruangannya, hatinya yang sudah lupa sosok Ardi kini teringat kembali di benaknya.
Setelah tiga puluh menit di ruangan, Nisa kembali keluar karena Sinta memberitahu semua barang sudah selesai di turunkan.
Nisa keluar sekalian memberi uang tips untuk supir dan kenek yang mengantar barang-barang tersebut.
Kekagetan Nisa sepertinya belum usai. Saat Nisa sedang menata barang-barang ke dalam klinik, karena harus mengeluarkan barang yang sudah rusak di balter dengan barang yang baru datang agar muat dan rapi.
'' Teh.. Pak Ardi baik sekali ya'' Seru Sinta saat mereka asyik menata barang di dalam klinik.
'' Iya...kebangetan baiknya... aku jadi gak enak'' Nisa menjawab pujian Sinta akan kebaikan Ardi.
__ADS_1
Tak lama, Ada sebuah mobil ambulans parkir di depan kliniknya, Nisa dan Sinta yang semula berpikir itu orang yang akan berobat langsung mendekati ke arah Ambulans untuk membantu.
Namun ternyata tidak ada pasien di dalamnya, Supir ambulans pun keluar Menyapa Nisa ingin menyerahkan beberapa lembar kertas pembelian dan surat-surat kendaraan. Nisa begitu bingung saat menerima lembar surat kendaraan tersebut.
'' Permisi... Saya mau bertemu pemilik klinik ini? '' Tanya supir yang mengemudi Ambulans itu, saat turun dari Ambulans.
''Iya saya sendiri..'' Nisa menjawab supir ambulans tersebut masih sedikit bingung karena tidak ada pasien yang berada di dalam mobil.
'' ini bu Nisa.. saya mau menyerahkan surat-surat kendaraan Ambulans atas nama Ibu Nisa beserta truk pembeliannya'' Seru Supir itu menjelaskan. Membuat Nisa bingung saat menerima nya.
'' Memang siapa yang membeli Mobil Ambulans ini atas nama saya pak? saya sama sekali tidak merasa membelinya'' Tanya Nisa masih dengan kebingungan nya.
'' Ini nota jual belinya bu.. Atas nama Ardiyansya'' Jawab Supir itu dengan memperlihatkan nota jual beli dari sakunya.
'' Ya Ampun..... pak Ardi'' gumam Nisa yang begitu kaget, lagi lagi Nama Ardi tertulis di nota jual beli itu.
'' Siapa teh... Pak Ardi lagi yang membelikan Ambulans ini untuk klinik'' Sinta bersuara karena Nisa hanya diam terpaku menatap nota yang di pegangnya. Nisa menganggukan kepalanya.
'' Masya Allah...pak Ardi baik pisan... orang nya sudah pulang... tau-tau datang barang kiriman nya.... '' Sinta kembali memuji kabaikan Ardi. Sedangkan Nisa masih terpaku dengan kekagetannya yang sekaligus bahagia akhirnya klinik kecilnya mempunyai Ambulans sendiri.
Setelah orang yang mengantar Ambulans pergi, Nisa langsung terduduk bingung, bagaimana caranya untuk mengucapkan berterima kasih nya kepada ARDI.
Semua pemberian Ardi adalah impian Nisa untuk klinik yang belum terwujud, apalagi mobil Ambulans Nisa begitu bermimpi sedari dulu Klinik kecilnya mempunyai Ambulans yang semuanya terwujud berkat pemberian Ardi. Sebenarnya keluarga Nisa mampu membelikannya namun Nisa bersikukuh ingin membeli dari hasil jerih payahnya.
Tak terasa waktu sudah sore. Nisa bergegas pulang ke rumah, sudah tidak sabar rasanya ingin mengabari orang tua nya akan kekagetannya hari ini.
__ADS_1
(Bersambung dulu yah.... maafkan author jarang Buat update story... soalnya lagi sibuk bangettt)
...See you...