
Pov Nissa
Aku pamit pada Pak Ardi untuk ketoilet sebentar, duduk berdua dengan Pak Ardi lama-lama membuat aku sedikit tidak nyaman, Pak Ardi terus saja memandang ke arahku, Seperti tidak ada lagi yang harus di pandang di depannya.
jurur saja, melihat tampilan Pak Ardi hari ini, membuat aku tersadar, ternyata umur Pak Ardi begitu jauh berbeda dengan tampilan nya, tampilan Pak Ardi yang tidak menggunakan baju Dinasnya begitu terlihat berbeda jauh dari usianya, ia tampak masih muda malah seperti adik dan kakak dengan Azka.
Apalagi, saat Pak Ardi menggulung tangan baju kemejanya sampai ke siku, membuat aku sesaat terhipnotis untuk memandang ke arahnya, aku sampai merasa aneh sesaat, karena dulupun aku sering melihat teman-temanku sewaktu kuliah, namun tidak terpana seperti melihat Pak Ardi sekarang.
Saat aku datang dari toilet, terlihat Asyla dan Azka sudah kembali duduk di Food court bersama Pak Ardi, mereka tampak Asyik bercanda, aku merasa bahagia melihat keharmonisan papa dan anak tersebut.
'' Bun.. aku pamit pulang duluan yah'' Seru Asyla kepadaku, saat aku tiba duduk di sampingnya. Aku sesaat bingung mendengar panggilan Asyla kepadaku.
'' Bundaa.. Kok gak jawab sihhj'' seru Asyla lagi, yang akhirnya menyadarkan ku.
'' Eehh... iya kenapa Syl?'' jawab ku bingung, seperti linglung tersadar dari mimpi.
'' Mulai sekarang... Syla panggil kakak Bundaa, boleh yaah?'' ucap Asyla, aku tersenyum getir.
'' Iya kak...Azka setuju dengan Asyla, untuk memanggil kakak dengan sebutan Bunda, karena untuk sebutan mama hanya untuk Alm mama Berliana'' Sambung Azka menimpali ucapan Asyla.
Ya ampun... menikahnya juga belum..ini kok udah sibuk manggil Bundaaa... aaahh batin ku.
'' Ehh.. iiiyaaa...terserah kalian saja, kakak ikut saja...yang penting kalian nyaman'' ucapku dengan hati yang entah tak menentu.
'' Okkk Bunda... kalau begitu aku dan kak Azka pamit pulang duluan yahh?'' Ucap Asyla pamit memeluk dan mencium pipiku.
'' Eehh... tunggu... bareng kakak juga mau pulang '' ucapku pada Asyla dan Azka.
'' Eitttss... bunda biar diantar papa saja... aku biar sama kak Azka'' ucap Asyla berlalu mengikuti langkah Azka yang sudah duluan akan keluar dari area food court.
'' Iya papa kasian gak ada temannya..wkwkw'' Azka tertawa kembali menimpali ucapan adiknya. Sampai orang-orang di sana melihat kearah ku.
issttt anak-anak kurang kerjaaan...ternyata sedari aku ke toilet...mereka sudah merencanakan biar aku pulang sama papanya...batinku gemas dengan tingkah mereka.
Sekarang, tinggalah aku dan Pak Ardi di meja Food court. Azka dan Asyla sudah berlalu menuju Lift menuju mobil Azka di parkiran Mall.
'' Mau pulang sekarang? apa masih ingin berkeliling '' Tanya Pak Ardi melihat aku belum kembali duduk di meja Food court.
__ADS_1
'' Saya mau pulang saja Pak, sekalian mau pesan ojek online di Lobby Mall'' ucapku sambil membereskan Tasku di kursi.
'' Anda pulang bersama saya, tidak perlu pesan kendaraan Online'' ucap Pak Ardi bangkit dari duduknya.
'' Tidak perlu Pak..terima kasih, saya tidak mau merepotkan Bapak, bapak pasti lelah baru pulang dari kantor '' ucapku ingin pulang sendiri saja.
'' Tidak ada penolakan..anda pulang bersama saya, Anak-anak sudah menyuruh saya untuk mengantar Bundanya pulang'' Ucap Pak Ardi dengan senyum meledeknya.
Issstt aku akhirnya pasrah, ikut akan perintahnya. Alasan karena anak-anak membuat aku tidak mau berdebat lagi dengan Pak Ardi.
'' Kenapa anda malu? tidak mau berjalan berbareng sama saya'' tanya Pak Ardi Saat melihat aku masih berjalan di pelan di belakang nya.
'' Tidak Pak, Saya menjaga jarak saja, karena takut di kira orang yang melihat, Bapak sedang jalan dengan anaknya, kalau berbarengan sama saya'' ucapku santai, sikap militer Pak Ardi harus ada hiburan nya.
'' Anda meledek saya, karena saya lebih tua dari Anda?'' Tanya Pak Ardi mendekat ke arahku. Membuat kita jadi berjalan sejajar.
'' Sama sekali tidak Pak, maksud saya itu.. Bapak itu kan tinggi sedangakan saya pendek,mana mungkin saya berani meledek atasan, nanti yang ada.. saya bisa di pecat oleh bapak'' Ucapku seraya tanganku membuat tanda Piss.
'' Saya pecat kamu dari klinik agar langsung beralih menjadi Istri saya '' ucapnya gamlang, aku langsung menyesali telah iseng meledek Pak Ardi. Ujung-ujungnya aku di skak mat juga.
Aku langsung ikut masuk ke dalam mobil, setelah di bukakan pintu mobilnya oleh Pak Ardi.
Saat di perjalanan Pak Ardi kembali bersuara, Padahal aku begitu malas, kalau harus kembali berbincang dengannya.
'' Anda tidak keberatan kan... Asyla memanggil anda Bunda?'' tanya Pak Ardi menatap kearahku sesaat.
'' Tidak sama sekali, kenapa harus keberatan? aku senang mendengarnya''tanya ku kembali.
'' Baguslah kalau begitu'' Pak Ardi tersenyum.
'' Apa.. alasan Anda bersedia menerima lamaran saya, saya lupa belum sempat bertanya?'' Tanya Pak Ardi sembari membuka topi hitamnya menaruhnya di dashboard mobil. Potongan rambut Buzz cut Pak Ardi terlihat kembali saat tidur memakai topi.
''Eumm... apa yah... alasannya cukup banyak Pak, nanti lama kalau di ceritakan'' ucapku sembari menatap jalanan ibu kota.
'' Cerita saja, saya ingin mendengar nya'' jawabnya dengan cepat.
'' Eummm baiklah... ada beberapa alasan yang membuat saya yakin menerima lamaran dari bapak, Pertama saya merasa yakin setelah melakukan beberapa kali solat Istikharah, saya terus bermimpi melihat bapak dan anak-anak bapak, bapak tampak kesusahan mengurus kedua anak bapak sendirian, jujur saat mimpi iti datang, saya merasakan sesak merasa tak tega melihat nya.
__ADS_1
Kedua saya merasa yakin saat ibu Pak Ardi bercerita akan kekhawatiran nya melihat cucu-cucunya apalagi Asyla, Asyla begitu menginginkan sosok seorang ibu, membuat saya terguhah untuk ikut melengkapi hidup anak piatu itu.
Dan yang terakhir, saya sebagai seorang muslim begitu sangat meyakini akan takdir Allah pada umatnya. Untuk menolak lamaran Pak Ardi saya tidak mempunyai alasan yang jelas, Jadi saya lebih memilih mengikuti jalan hidup dan takdir saya saja yang sudah di takdir oleh Allah. Saya yakin apa yang di takdirkan dan di persiapkan oleh Allah itu sudah yang terbaik untuk saya.
Aku dengar Pak Ardi menghela nafas setelah mendengar cerita ku.
'' Maafkan saya sudah membawa anda pada hubungan ini, saya yakin seiring kita saling mengenal nanti kita akan terbiasa, anggap saja kita bertaaruf sembari menjalankan pernikahan kita nanti'' Ucapnya menyikapi hubungan kita yang begitu singkat.
'' Eummm aneh sekali yah... orang lain Ta'aruf dulu baru menikah, eehh kita malah menikah dulu baru melakukan ta'aruff wkwkkk'' ucapku
tertawa akan statment pak Ardi.
**Anehhhh sekali orang ini... Taaruf tapi menikahh batinku
'' Kenapa tidak, kalau anda tidak mau seperti itu, maka kita bisa sekarang Taarufnya... agar nanti setelah menikah, kita bisa langsung praktek saja seperti pasangan suami dan istri pada umumnya'' ucapnya sembari menatap kearahku dengan tatapan genitnya.
'' Eehhh.. enggakk-enggakk pakk... ia kita taarufnya nanti saja setelah menikah... bapak jangan sampai lupa dengan tiga point syarat dari saya'' ucapku cepat, bayangan langsung berhubungan fisik suami dan istri dengan Pak Ardi, benar-benar membuat saya ketakutan.
Tak terasa asik berbincang, akhirnya kita sampai di depan mesku di Area klinik. Pak Ardi segera turun untuk membuka pintu mobil dimana aku duduk, Pak Ardi sengaja belum membuka pintu otomatis nya jadi membuat aku tidak bisa membuka untuk keluar dari mobil.
Sebenarnya, aku ingin meminta untuk turun di depan gedung tidak di depan Mes, karena area klinik masih ada orang yang bertugas.
'' Terima kasih pak.. saya pamit '' ucapku keluar dari mobil yang dibukakan Pak Ardi. Aku segera berjalan menuju mesku, beruntung di area mes dan Klinik keadaannya sedang sepi.
'' Sama-sama.. segera istirahat'' ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam mobil.
Aku langsung masuk ke dalam mes, mobil Pak Ardi akhirnya putar balik ke luar gedung.
Sampai di dalam mes, aku langsung menjatuhkan tubuh lelahku di ranjang mungil di mesku.
Terlintas kembali, keseharian ku bersama Pak Ardi dan kedua anaknya.
Bersambung
jangan lupa komen dan sarannya
haturnuhun
__ADS_1