Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati

Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati
couple KONDANGAN


__ADS_3

Nissa kini tengah bersiap di kamarnya, karena satu jam lagi acara akad Nikah Sinta temannya, akan segera di langsungkan.


Nissa akan di tugaskan sebagai pengiring pengantin perempuan.


Terlihat Azka dan Asyla kini tengah beristirahat di kamar tamu, kebetulan di rumah Pak Zaenal terdapat Lima kamar yang cukup besar. Mereka berdua beristirahat, setelah melakukan sarapan bersama. Firman tengah berkeliling ke tempat dimana tengah di bangun rumah sakit atas perintah Ardi bersama Mang Tisna yang menemani.


Berbeda dengan Ardi kini ia tengah khusu berbincang dengan Pak Zaenal di teras rumah. Entah apa yang mereka perbincangkan, mereka tampak serius sekali.


Tak lama, Nissa selesai bersiap keluar dari kamarnya, Bu Inayah tersenyum melihat putrinya begitu cantik setelah bersiap menggunakan baju dress warna khaki di padu Cardigan berbahan brukat berwarna senada. Bajunya terlihat begitu pas di tubuh mungil Nissa.


Saat berjalan keluar, Nissa merasa malu karena Ardi terus saja melihat ke arahnya. Sebelumnya Nissa kira Ardi tengah beristirahat di kamar.


''Aku kira.. Pak Ardi sedang di kamar beristirahat '' Batin Nissa.


''Neng.. berangkat bareng Nak Ardi sekalian'' Seru Pak Zaenal pada Putrinya agar berangkat bersama Ardi.


'' Tidak usah Pak, saya tidak enak... kalau tidak di undang'' Ucap Ardi merasa tidak enak, bila datang ke tempat acara yang tidak mengundangnya.


'' Nak Ardi di undang kok, itu ada undangannya'' ucap Pak Zaenal mencari undang ke dalam rumahnya, setelah ketemu memperlihatkan undangannya kepada Ardi.


'' Yah.. itumah kartu undangan buat aku'' Ucap Nissa Saat melihat namanya di depan kartu undangan.


'' Iya punya neng, tapi coba di liat kembali ada nama Khairunissa dan pasangan...berarti sama saja tertulis undangannya untuk Nak Ardi juga, kan Pasangannya neng sekarang Nak Ardi'' Ucap Pak Zaenal menjelaskan, Nissa hanya bisa diam, mengingat yang di ucapkan ayahnya benar adanya.


Ardi tersenyum melihat Ekspresi Nissa, Ia juga begitu bangga pada Pak Zaenal calon mertuanya yang begitu mendukung nya untuk semakin dekat dengan putrinya.


--------🍀🍀🍀-----


Pov Ardi


Aku berbincang banyak hal dengan Pak Zaenal di teras rumah, Ternyata Nissa sudah memberitahu orang tua nya mengenai lamaranku yang sudah di terimanya.


Aku tersenyum bahagia, mendengar Pak Zaenal akan segera mempersiapkan berkas yang akan di butuhkan untuk persyaratan Permohonan pernikahan kami, Agar segera aku bawa ke jakarta, untuk aku serahkan pada Komandan kompi sesuai prosedur kedinasanku.

__ADS_1


Setelah kami sarapan pagi bersama, Azka dan Asyla lanjut istirahat karena merasa lelah, mereka beristirahat di kamar tamu yang sudah di sediakan Orang tua Nissa. Sedangkan Firman aku suruh untuk memantau pembangunan rumah sakit di temani Mang Tisna yang sudah menjadi teman barunya.


Aku begitu terpana dan terpukau, Saat melihat Nissa keluar dari dalam rumah, ia sudah tampil begitu cantik, untuk bersiap menuju acara pernikahan temannya.


Semula dia terlihat kaget, tidak menyadari keberadaan ku di pojok teras tengah berbincang dengan ayahnya. Namun kini dia tersadar saat mendengar suara ayahnya menyapa kepada nya.


Pak Zaenal langsung bersuara pada Nissa, untuk pergi ke acara itu bersama dengan ku.


Aku segera menolak untuk ikut dengan Nissa, mengingat aku tidak diundang oleh teman Nissa. Kenal juga tidak pikirku, jadi aku merasa tidak enak untuk ikut bersama Nissa. Perempuan itu juga tidak mengajakku untuk menemaninya.


Namun Calon mertua ku itu segera memperlihatkan kartu Undangan atas nama Nissa dan pasangan, Pak Zaenal begitu menjelaskan kalau begitu berarti undangan nya tertulis untuk Nissa dan juga Aku, karena aku adalah pasangannya Nissa ucap calon mertuaku dengan jelas.


Aku tersenyum senang, akan sikap Pak Zaenal yang ingin membuat aku dan Nissa semakin dekat, termasuk mengingatkan ku untuk ikut pergi dengan Nissa ke acara pernikahan teman Nisaa.


Tapi apaaa.... perempuan itu sama sekali tidak ada niatan untuk mengajak aku untuk menemaninya, padahal sudah jelas di kartu Undangan tertulis juga untuk pasangannya, yahh memang bukan tertulis atas nama ku, tapi aku kan sekarang pasangannya, malah kita akan segera mempersiapkannya untuk pernikahan juga.


Perempuan didepanku malah terlihat menahan malu, dia menutupi wajanya dengan tas mungil miliknya. Membuat aku tersenyum dalam hati.


'' Nak Ardi segera bersiap, biar bapak siapkan baju batik untuk digunakan nak Ardi''ucap Pak Zaenal segera masuk ke dalam rumah.


'' Kenapa? Anda tidak berniat mengajak pasangan anda? kalau sebelumnya anda bilang kalo saya di undang, saya pasti akan mempersiapkan baju dari rumah, jadi tidak merepotkan orang tua anda'' ucapku pada perempuan cantik yang kini terlihat gugup bercampur malu di hadapanku.


'' Saya tidak bermaksud begitu kok Pak...Saya kira Bapak akan sibuk di kantor, tidak akan sempat ikut ke sini, jadi saya berpikir untuk tidak memberitahu Bapak soal undangan itu'' ucapnya pelan, tidak berani menatap ke arahku.


'' Itu hanya alasan anda saja kan? sudah jelas-jelas..saya berniat akan mengantar untuk pulang kemarin, mungkin anda yang sengaja tidak ingin bersama saya ke acara itu'' ucapku membuat dia semakin merasa malu.


'' Iiisstt.. terserah Bapak Ardi yang terhormat saja...saya no coment akan Statment bapak, kali ini saya tidak mau berdebat dengan bapak...sekarang saya minta Bapak Ardi yang terhormat untuk segera bersiap..kalau mau ikut menemani saya, karena acaranya akan segera di mulai'' ucapnya lantang, Sekarang dia berani menatap ke arahku, wajah cantiknya begitu terlihat jelas. Mambuat aku merasa bangga bisa memiliki perempuan Muda, cantik dan pintar di depanku itu.


'' Baiklah...Nyonya Ardiyansah Argadinata....saya akan segera bersiap sekarang, saya tidak akan membiarkan anda pergi tanpa saya'' ucapku tersenyum kepadanya, sontak membuat perempuan di depanku itu merasa kesal terlihat dari tatapannya.


Jujur saja, aku tidak akan rela bila dia berangkat ke acara tersebut tanpa aku, bisa dibayangkan nanti akan banyak yang menatap kearahnya dan mengira dia masih single. Aku tidak akan biarkan itu terjadi, dia adalah milikku sampai kapanpun.


Aku segera masuk ke dalam rumah, berbarengan dengan Ibu Inayah yang akan memberikan Baju batik untuk aku pakai.

__ADS_1


Aku segera membersihkan diri secara kilat, dan langsung bersiap menggunakan baju Batik yang sudah di persiapkan oleh orang tua Nissa.


Aku tersenyum saat melihat cermin di depanku, Baju batik kawung klasik yang aku gunakan begitu pas di badanku.


Aku merasa ketampananku bertambah saat memakai baju Batik itu. Walaupun umur ku sudah tidak muda lagi...Hahaa aku tersenyum akan kepercayaan diriku.


Tidak menunggu lama aku segera keluar dari kamar, saat tiba keluar rumah aku melihat perempuan cantik itu, sedang kesusahan memakai Sepatu pesta yang akan di gunakannya.


Aku segera berjongkok untuk membantunya memasangkan tali agar bisa mengait ke belakang kakinya. Perempuan itu sempat kaget akan tindakan ku.


'' Tidak perlu Pak, saya bisa sendiri'' ucapnya ingin menolak di bantu oleh ku.


'' Biar saya bantu, anda kesusahan untuk memasangnya, katanya mau segera berangkat'' Jawabku sembari memasangkan sepatu yang satunya lagi. Dia mengucapkan terima kasih kepada ku.


Aku kagum, dia tidak lepas menggunakan kaos kaki di kakinya, dia begitu berusaha untuk selalu menutup auratnya dengan sangat baik. Sekarang dia tampak tenang, mungkin karena aku tidak langsung memegang kakinya yang sudah memakai kaos kaki yang warnanya hampir sama dengan warna kulitnya.


Tidak menunggu lama, aku segera menyalakan mobilku, untuk kami berangkat ke acara pernikahan temannya itu.


Dia tampak membawa kado cukup besar, tidak mungkin kalau kami menggunakan motor untuk kesana.


Aku dan dia pamit kepada orang tuanya, sekalian aku menitipkan Kedua anakku yang masih istirahat.


Terdengar dia membertahu orang tuanya, agar mengajak Asyla dan Azka ke acara pernikahan temannya bila nanti sudah terbangun.


Perempuan aneh, sama anak-anakku dia mengajak ke acara itu, tapi kepadaku dia sama sekali tidak ada niatan.


Kami berangkat menuju tempat acara pernikahan temannya. Ternyata posisinya melewati tempat, dimana tengah di bangun Rumah sakit yanga akan aku berikan kepadanya.


Dia sepertinya belum mengetahui itu, dia tampak berbicara pada dirinya sendiri, merasa bingung mengapa sedang ada pembangunan baru di kampungnya tanpa sepengetahuannya. Aku sengaja pura-pura tak mendengar apa yang di ucapkannya.


Tak lama kami sampai di tempat acara pernikahan temannya, dia segera turun dari mobil setelah aku membukakan pintu otomatis nya. Ternyata acaranya di selenggarakan di Aula kantor kepala desa.


Aku ikut keluar dari mobil, dia semula akan masuk duluan, namum ia kembali berbalik melihat kepadaku dan akhirnya kita berjalan bersama memasuki Aula yang di gunakan untuk acara pernikahan temannya.

__ADS_1


Bersambung dulu...


__ADS_2