
Ardi tiba di sebuah parkiran Mall besar, dimana putrinya tengah berada di dalam nya.
Setelah selesai memarkiran mobilnya, Ardi berjalan ke dalam Mall, Ia langsung menuju lantai tiga dimana putrinya tengah bermain di Arena bermain di sana.
Tiba di Arena bermain, Ardi terkejut sekaligus tersenyum, betapa tidak, kini Ardi sedang melihat putrinya sedang bersama dengan seorang perempuan yang begitu di kenalnya.
pov Ardi
Aku benar-benar merasa bosan, dan juga sedikit kesal di pagi ini, Niatku memberikan surprise Bucket bunga untuk Nissa, namun sama sekali tidak di responnya.
Yah mungkin aku sedikit berlebihan dengan ungkapan ku di note bunga itu, namun aku tak kuasa kalau terus memendam rasa ketertarikanku terhadapnya.
Aku seperti tak akan rela, bila Nissa nantinya di miliki oleh orang lain.
Pagi ini juga pesan dan panggilan ku di abaikannya, entah dia sibuk atau pun tidak aku tidak tahu.
Niatku sederhana, aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ku terhadapnya saja.
Jujur aku begitu merasa tidak tenang, apabila dia merasa kesusahan, apalagi saat melihat dia menumpangi ojek online tempo hari.
Sekarang aku juga tidak sanggup lagi untuk membohongi perasaan ku.
Aku akui perasaan dan hatiku kini sudah tertambat pada dokter cantik itu.
Namun ya Sudahlah... aku akan pasrahkan semuanya pada yang maha kuasa.
Siang ini aku menyusul ke sebuah Mall, aku berniat menemui putriku yang tengah makan siang dan bermain di sana.
Aku langsung berjalan kelantai Tiga untuk menemui putri ku, dia sudah mengabari ku sebelumnya, kalau dia menungguku di Arena bermain di sana.
Saat tiba di Arena bermain, aku dibuat terkejut sekaligus merasa senang dengan apa yang aku lihat di depanku.
Asyla putriku terlihat begitu bahagia, ia tengah bermain dengan orang yang begitu aku kenal, Dokter Nissa ternyata orang yang di anggap teman oleh putri ku.
Aku terus memperhatikan mereka dari jarak yang begitu dekat, namun tidak di sadari oleh mereka yang sedang asyik bermain, aku lihat mereka tengah melakukan Battle basket.
__ADS_1
Aku juga mendengar obrolan mereka, ternyata Asyla memanggil Nissa dengan sebutan kakak. Akrab sekali mereka pikir ku.
Aku sesaat merasa bingung, bertanya-tanya kapan mereka saling mengenal dan sekarang bisa sedekat itu. Berbeda jauh dengan aku yang terlebih dulu mengenalnya, namun aku malah semakin jauh tidak pernah berbincang dengannya.
Sekilas aku merasa iri dengan kedekatan putriku dengannya, wanita yang begitu aku kagumi semenjak mengenalnya, apalagi ia yang sudah menolongku waktu kecelakaan itu.
------🌻🌻🌻🌻🌻🌻-----
'' Ehhh.. papa sejak kapan sampai?'' teriak Asyla saa sadar akan kehadiran sang papa di dekatnya. Membuat Nissa di sebelahnya ikut menengok ke arah Asyla.
Ardi dengan baju dinasnya, berjalan menghampiri mereka, membuat Nissa sesaat merasa tidak menapak di bumi.
'' Baru saja sayang'' jawab Ardi tersenyum.
Nissa begitu kaget sekaligus bingung, melihat Ardi di depannya dan di panggil papa oleh Asyla.
''Astagfirullah..... ternyata Asyla anaknya pak Ardi '' batin Nissa, masih tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya.
'' Kak.. kenalkan ini papa ku'' suara Asyla membuyarkan lamunan Nissa.
'' Eehh iya Syla..'' ucap Nissa sedikit menunduk, ingin menghindari pandangan Ardi terhadapnya. Nissa pun hanya membalas dengan tankupan kedua tangan di dadanya.
'' Sayang.. sejak kapan kamu mengenal dokter Nissa? '' tanya Ardi pada sang putri, untuk mencairkan suasana. Karena Ardi tahu Nissa pasti syok melihat dirinya ada di depannya.
'' Papa... sudah mengenal dokter Khairunissa?'' tanya Asyla bingung, mengapa sang papa mengetahui nama pembimbing prakteknya itu.
'' Iya sayang... tanya saja pada dokter Nissa '' jawab Ardi melihat ke arah Nissa, Nissa terlihat salah tingkah di tatapnya.
'' Bener..kakak sudah mengenal papaku?'' Tanya Asyla pada Nissa, Nissa langsung mengangguk dan bersuara.
'' Iya Syla... Papanya syla, pak Ardi adalah atasan di area klinik tempat kakak bekerja'' Jawab Nissa pelan, membuat Asyla tersenyum penuh arti.
'' Hah... dunia terasa sempit sekali yah..ternyata papa dan kakak saling mengenal '' seru Asyla begitu senang.
Nissa terlihat kikuk merasa tidak nyaman, berada di antara papa dan anak itu di sampingnya.
__ADS_1
'' Papa..kakak.. aku mau beli ice cream dulu yah...'' Pamit Asyla ingin meninggalkan mereka berdua. Namun tak jadi karena Nissa langsung ikut mengikutinya.
'' Tunggu syla.. kakak juga mau'' Nissa langsung mengikuti langkah Asyla. Membuat Ardi juga mengikuti langkah kedua gadis yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Di sebuah Foodcourt yang menjual makanan cepat saji, Asyla memesan beberapa makanan ringan dan juga ice cream untuk dirinya dan Nisa juga papanya.
Ardi memilih duduk di salah satu meja kosong di Foodcourt itu, sembari menunggu dan menyaksikan Kedua gadis yang begitu sibuk, sedang memesan makanan di meja kasir di depannya.
'' Andaikan...meraka jadi ibu dan anak...aku adalah orang yang begitu bahagia dunia ini'' Khayal Ardi melihat begitu serasinya mereka.
Nissa dan Asyla sempat mengobrol sembari menunggu pesanan yang sedang di siapkan.
'' Syl....habis ini kakak mau pamit pulang duluan yah... gak enak sama papanya Syla'' ucap Nissa yang ingin segera pulang tidak mau terus berhadapan dengan Ardi.
'' Bareng aja kak.. abis makan ice cream kita pulang... papa gak masalah kok... apalagi udah kenal sama kakak'' Asyla mengajak Nissa untuk pulang bersama. Nissa pasrah tak tega menolaknya.
Nissa mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya pelan.
'' Tenangg Nissaa...Sekarang kamu harus bersikap seperti biasa saja'' Batin Nissa setelah merasakan sedikit tenang.
Pesanan makanan yang mereka pesan sudah selesai, Asyla dan Nissa berjalan menuju meja di mana Ardi duduk.
'' Ini buat kakak, ini buat papa dan ini buat aku'' ucap Syla menyerahkan makanan yang sudah di pesannya.
'' Terimakasih sayang'' seru Ardi tersenyum senang.
'' Terima kasih Asyla'' Nissa dengan mimik wajah yang sudah tak menentu, karena begitu merasa tidak nyaman.
Mereka makan bersama dalam satu meja, Pandangan Ardi tidak lepas, terus saja memandang ke arah Nissa. Membuat Asyla tersenyum melihat pemandangan sang papa di depannya.
Canda tawa terus terdengar dari papa dan anak itu, Nissa hanya menjadi pendengar saja, sesekali Ardi menyapa ingin berbincang dengan Nissa, namun Nissa hanya membalas dengan pendek saja.
Selesai makan bersama, mereka akhirnya berjalan menuju parkiran, Sampai di parkiran Asyla tidak lupa meminta bucket bunga nya di mobil yang di tumpangi Nissa.
Ardi pun menatap bingung, Bucket bunga yang di berikannya pada Nissa malah di ambil oleh putrinya.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Bersambung dulu yaaa