
Ardi menepikan mobilnya di pinggir jalan, tepatnya di bahu jalan yang cukup luas tidak akan menimbulkan kemacetan, sontak membuat Nissa sedikit kaget, takutnya ucapannya tadi telah menginggung Ardi.
'' Ayo bicara saja, apa menurut ada konsekuensi yang memberatkan anda bila menikah dengan saya? Maklum saya seorang duda, sudah berumur dan punya dua anak'' Ucap Ardi setelah mobilnya menepi di pinggir jalan.
Pak Ardi kenapa??? aku kan sudah tau semuanya, kenapa harus bahas lagi ke situ batin Nissa bingung.
'' Kok Bapak jadi bicara ke arah itu sih, maksud saya tadi itu tentang tanggung jawab pekerjaan saja'' Ucap Nissa sedikit gugup, wajah Ardi terlihat begitu tegas, berbeda seperti di studio Photo.
'' Saya tadi tidak salah dengar, anda bicara tentang konsekuensi bila menikah dengan saya yang tidak bisa ada tawar menawarnya, apa saya mau dengar lebih jelas?'' Tanya kembali Pak Ardi semakin tegas, Ardi yang begitu merasa lelah habis melakukan pengamanan ditambah harus menyelesaikan berkas untuk permohonan pernikahan, tak sadar telah membuatnya terbawa emosi. Padahal obrolanya dengan Nissa tadi hanya obrolan biasa saja.
'' Huffff... baiklah Pak Ardi yang terhormat, apa perlu saya jawab sekarang atau kita mencari tempat dulu, tidak enak bila di lihat orang sekitar, kalau mobil Bapak berhenti terlalu lama di bahu jalan'' Seru Nissa, mengingatkan posisi mereka di jalanan yang dimana banyak orang berlalu lalang.
'' Jawab sekarang'' ucap Ardi cepat sembari menjalankan mobilnya kembali ke jalanan.
'' Maksud saya tadi, setiap apapun yang kita akan kerjakan atau kita akan lalui untuk putuskan, itu semua pasti ada konsekuensi yang harus kita terima, seperti saya, Pak Ardi kita mempunyai konsekuensi akan pekerjaan kita, begitu pula dengan saya memutuskan untuk menjalin rumah tangga dengan Bapak yang mohon maaf seseorang yang sudah menikah, berarti saya harus siap dengan kisah masa lalu Bapak dan juga terlebih saya harus bisa menerima anak-anak Bapak seperti anak saya sendiri. Terus Bapak juga seorang Abdi negara berarti saya juga harus siap konsekuensinya dengan tugas-tugas Bapak kedepanya, garis besarnya itu saja, sekali lagi saya bilang sama Bapak, Saat saya merima lamaran Bapak berarti saya juga sudah siap dengan konsekuensinya'' ucap Nissa panjang lebar menjelaskan dengan lembut, tidak mau terbawa emosi dengan ucapan Ardi.
'' Saya lebih suka apapun jelas dan terbuka, saya tidak mau anda memendam rasa tidak nyaman anda atau rasa terpaksa karena menikah dengan saya, Jujur saya sangat membutuhkan orang yang mau membantu saya membesarkan kedua anak saya, namun saya juga tidak mau membebani anda melebihi kapasitas anda'' ucap Ardi sembari fokus menyetir.
'' Baik saya akan membantu Bapak sebisa saya, Dan saya mohon Bapak selalu mengingatkan dan membingbing saya, maklum ini akan jadi pengalaman pertama saya langsung terjun menjadi orang tua, saya butuh tuntunan dari Bapak'' Nissa berusaha menanggapi ucapan Ardi dengan bijak.
'' Maaf kan saya sudah membawa anda pada hubungan ini, mulai sekarang mari kita jalani dengan saling melengkapi, saya mohon lengkapi kekurangan saya dengan kelebihan anda'' Ucap Ardi setelah merasa tenang dari emosinya tadi, dan menyesali telah berpikir berlebihan pada Nissa.
'' Iya Pak'' Jawab Nissa singkat.
'' Saya lapar? kita makan dulu sebentar, sebelum kita kembali ke gedung administratif'' Seru Ardi membelokan mobilnya ke sebuah Restoran di Jakarta Selatan.
''Heemm.. terserah Bapak'' jawab Nissa singkat.
Pantesan si Bapak Baju ijo esmosi, kekurangan gula rupanya... hahahaah'' Batin Nissa tertawa.
Mobil yang di kendarai Ardi tiba di sebuah restoran khas sunda, Ardi keluar terlebih dahulu segera membukakan pintu mobil samping untuk Nissa.
__ADS_1
Nissa hanya bisa tersenyum dalam hati, melihat begitu labilnya Bapak loreng ijo itu, tadi sempat datar dan dingin kini sudah kembali kemode awal.
'' Makasih Pak'' ucap Nissa saat keluar dari mobil.
Mereka berjalan menuju resto yang terlihat sedikit ramai, karena bertepatan dengan waktu makan siang.
Ardi memilih duduk diarea out door, yang memperlihatkan suasana taman dan kolam yang asri.
Tak lama pelayan restoran mendekat memberikan Buku menu, Nissa memilih minta di samakan dengan menu yang di pesan oleh Ardi.
Nissa tidak mau membuang waktu memikirkan menu makanan, karena Nissa juga sudah merasa lapar.
''Konsep Pernikahan seperti apa? yang anda inginkan?'' Pertanyaan Ardi kepada Nissa. setelah pelayan restoran pergi dari meja mereka.
'' Saya orang nya tidak mau ribet Pak, apa adanya saja'' ucap Nissa yang lebih suka simple tidak banyak drama seperti calon pengantin pada umumnya.
'' Anda tidak punya Wedding dreams atau konsep pernikahan apa gitu seperti perempuan-perempuan pada umumnya?'' Tanya Ardi lagi menatap intens ke arah Nissa yang duduk berhadapan dengannya.
'' Saya orangnya simple Pak, mungkin orang lain mempunyai pernikahan impian atau apa gitu, tapi kalau saya mah, mau apapun konsepnya yang penting sah dan setelah pernikahan kita tidak terbebani oleh apapun dan tidak merepotkan siapapun'' Ucap Nissa jelas, Ardi tersenyum perempuan didepannya begitu berbeda dengan perempuan lain.
"Terus anda ingin dimana? Jakarta apa Sumedang tempat untuk kita menikah?'' Tanya Ardi semakin serius menatap Nissa.
'' Iya aamiin Pak... saya ikut Bapak saja masalah konsep pernikahan, namun kalau untuk tempat sudah jelas harus dikampung halaman saya Pak'' ucap Nissa jelas, Ardi kembali mengulum senyum mendengar jawaban Nissa.
Kalau masalah tempat dia punya pilihan rupanya...saya kira akan terserah saya, saya semula ingin adakan di Aula gedung, agar semua teman Anggota bisa menghadiri..Batin Ardi.
'' Baik masalah tempat saya ikut anda, sekarang saya tanya Anda ingin mahar pernikahan apa dari saya? saya akan persiapkan dari sekarang'' Ucap Ardi kembali memberikan pertanyaan pada Nissa.
'' Eummm... apa saja Pak, yang penting tidak memberatkan Bapak'' Jawab Nissa singkat, berbarengan dengan pelayan mengantar pesanan untuk mereka.
Mereka makan terlebih dahulu, Ardi memesan dua Nasi dengan lauk ayam bakar plus tahu, tempe, sayur asem dan lalapan beserta sambal, di tambah dua air jeruk hangat.
__ADS_1
Mereka makan dengan lahap, mungkin faktor lelah berdebat jadinya terasa begitu lapar.
Selesai makan, mereka kembali berbincang, Ardi masih ingin memastikan apa mahar yang di inginkan oleh Nissa.
'' Saya tidak merasa di beratkan, malah saya senang kalau Anda memberitahu apa yang anda inginkan, saya akan berusaha mengabulkannya'' ucap Ardi kembali membahas soal mahar pernikahan.
'' Semampu Bapak saja, saya yakin Bapak yang sudah berpengalaman akan mengetahui mahar apa yang pantas dan bermanfaat untuk calon istri Bapak'' Jawab Nissa dengan jawaban yang lagi lagi membuat Ardi semakin tersenyum bangga akan kepribadian Nissa.
Perempuan langka batin Ardi tersenyum sembari terus menatap perempuan di depannya.
Selesai membayar, mereka berjalan keluar restoran menuju mobil, Ardi lagi lagi membukakan pintu mobil terlebih dahulu untuk Nissa masuk, kemudian ia mengitari mobil duduk dibalik kemudi.
" Duuh... ngantuk bangettt" Ucap Nissa setelah Ardi mulai menjalankan mobilnya ke jalanan.
" Ya sudah, anda langsung ke mes saja tidak perlu ke klinik gedung administratif dulu, biar saya beritahu Fania nanti" ucap Ardi yang merasa kasihan melihat Nissa kelelahan.
" Enggak perlu Pak, saya ada kerjaan sedikit di klinik, hanya mengecheek persedian obat untuk bulan depan" sanggah Nissa yang akan tetap berniat masuk ke klinik dimana dia bekerja.
" Saya harap nanti setelah kita resmi menikah, anda segera mengundurkan diri dari Klinik, saya tidak mau melihat anda kelelahan seperti ini" ucap Ardi menginginkan Nissa untuk berhenti bekerja di klinik.
" Saya akan segera pertimbangkan Pak, karena kalau saya sudah resmi menjadi istri Bapak, semua yang saya akan lakukan pasti dengan persetujuan dari Bapak" ucap Nissa bijak menjawab keinginan Ardi.
" Baguslah kalau begitu, saya ingin anda lebih banyak waktu dirumah dan selalu bisa menemani saya bila bertugas" ucap Ardi menatap Nissa, tak terasa mereka sampai di Area gedung administratif.
" Saya akan lakukan semua sesuai persetujuan Bapak, namun Bapak juga harus mengizinkan saya sesekali untuk ikut membantu di klinik bersama ibu Fania, saya ingin tetap produktif walaupun sudah menjadi istri Bapak " Ucap Nissa membereskan tasnya bersiap untuk turun.
" Good girls... tentu saya akan mendukung apalagi hal yang bermanfaat" balas Ardi yang ikut juga turun dari mobil, karena akan kembali ke dalam gedung untuk menyerahkan Pas photo untuk melengkapi persyaratan pengajuan permohonan pernikahan mereka.
"Mari Pak, terima kasih atas semuanya, saya pamit masuk ke Klinik" Pamit Nissa membawa Baju Persit di dalam paper bag.
..." Iyaa... jangan terlalu cape, beristirahat lah kalau lelah" balas Ardi ikut berjalan ke arah gedung....
__ADS_1
Mereka berpisah di parkiran, Nissa langsung masuk ke dalam klinik sedangkan Ardi ke dalam Gedung administratif di seberang Klinik.
Bersambung