Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati

Kisah Duda TNI Dan Dokter Baik Hati
LITTLE DIAMOND


__ADS_3

Pov Ardi


Lima hari setelah Aku dan Nissa melakukan Photoshoot untuk melengkapi persyaratan pengajuan permohonan pernikahan, Aku baru saja mendapatkan kabar dari Komandan kompi memberitahu bahwa Sidang pernikahan Aku dan Nissa sudah bisa dilakukan di akhir bulan.


Aku begitu senang mendengar kabar itu, selangkah lagi menuju pelaminan dengan Dokter yang telah menolongku akan segera terwujud.


Aku sudah lima hari tidak bertemu dengannya, kebetulan semenjak melakukan Photoshoot aku mendadak mendapat tugas dari Jendral untuk melakukan pembinaan.


Setiap hari aku selalu mengirim pesan dan meneleponnya, namun kebanyakan balasan pesan darinya begitu datar, masih begitu Formal tidak memperlihatkan bahwa diantara kami ada sebuah hubungan.


Sama seperti hari ini, dihari minggu ini aku ingin mengajaknya pergi ke luar untuk mulai menyicil membeli mas kawin atau mahar pernikahan.


📩Assalamualaikum, saya sebentar lagi menuju mes anda. Anda ada di mes kan?


Cukup lama aku menunggu balasan pesan dari perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istriku, Tingg....notif ponselku terdengar setelah tiga puluh menit aku menunggu.


📩Wa'alaikumussalam, mau apa Bapak ke mes saya?


Aku tersenyum saat membaca pesan, yang begitu datar dan singkat darinya. Aku segera menelepon nomor ponsel orang yang begitu membuatku gemas. Tidak menunggu lama panggilanku langsung di jawabnya.


📞Hallo...Assalamualaikum


📞Iya Wa'alaikumussalam Pak


📞Saya sekarang mau berangkat menuju mes Anda... posisi anda ada di mes kan?


📞Mau apa bapak kesini?


📞Mumpung ada waktu, Saya mau mengajak anda untuk membeli Mas kawin.


📞Mas kawin....saya mah ikut pilihan Bapak saja, jadi saya gak usah ikut Pak.


📞Kenapa tidak mau ikut? itu kan akan di pakai oleh anda, jadi saya ingin anda yang memilihnya sendiri.


📞Iya Pak, tapi Saya mah pasrah sama pilihan Bapak saja, saya akan menerima dengan senang hati pemberian dari Bapak.


📞Saya tetap akan menjemput anda, sekarang saya minta anda untuk segera bersiap.


📞Isshh sebel... Bapak itu udah kebiasan maksa orang terus.


📞Saya bukan maksa, ini semua untuk kebaikan anda juga.


📞Kebaikan apa... ini mah sama aja kaya di jajah.


📞Saya tidak mau menjajah Anda, saya takut nanti cincinnya kebesaran atau kekecilan.Makannya Anda harus ikut saya sekarang untuk membelinya.


📞Kan bisa... Bapak menerka-nerka... Bapak kan sudah tahu ukuran tangan saya.

__ADS_1


📞Saya bukan peramal yang bisa menerka-nerka, saya tahu tangan Anda tapi saya belum pernah memegang jari-jari tangannya untuk mengetahui ukurannya. Ya sudah sekarang saya menuju mes Anda untuk memegang tangan anda dengan seksama, agar saya bisa mengukur ukuran untuk cincinya.


📞Eehhh... gak bisa gitu Pak... kita belum muhrim. Iya.. iya baiklah saya akan ikut Bapak.


📞Bagus... lebih cepat lebih baik, tiga puluh menit saya akan sampai di depan mes Anda. Assalamualaikum


📞Iya Wa'alalikumussalam.


Mobilku tiba di parkiran samping klinik yang berdekatan dengan Mes Nissa, namun belum terlihat ada dia disana, sepertinya dia belum selesai bersiap, aku putuskan untuk menunggu di bangku klinik.


Setelah lima menit berselang, aku tersenyum kagum melihat perempuan yang akan menjadi Bunda sambung anak-anakku berjalan keluar dari mesnya, dia tampak begitu cantik dengan balutan hijab berwarna hijau tosca, di padu gamis berwarna Navy. Dia tampak malu untuk mendekatiku yang kini duduk di bangku Klinik, perempuan pintar itu lebih memilih langsung berjalan menuju mobilku.


Perempuan pintar, dia masih saja malu takut di lihat orang sekitar Bantinku Untung saja mobilku sudah aku buka pintu otomatisnya, membuat dia bisa langsung masuk ke dalam mobilku.


Aku segera berjalan ke mobilku, Dia tampak datar namun langsung menanyakan kabar kesehatanku, ibuku dan anak-anakku. Jangan di tanya aku begitu senang di tanyakan kabar oleh orang yang kini ada di sampingku, empat hari tidak bertemu membuatku merasa rindu kepadanya.


Gimana kabarnya Pak...sehat?


Alhamdulillah...anda sendiri bagaimana?


Alhamdulillah...seperti yang Bapak lihat, eeh gimana kabar Ibu dan anak-anak? Sudah lama aku tidak bertemu.


Alhamdulillah mereka semua baik, Asyla sering menanyakan Anda, Ibu juga katanya ingin bertemu anda kalau ada waktu.


Aku suka berkirim pesan dengan Asyla, Dia menagih untuk battle basket kembali dengan saya. Nanti deh.. aku mau mampir ke tempat ibu dulu, sekalian memeriksa kesehatan beliau.


Syukur deh kalo begitu, jadi sekalian bisa bertemu Asyla.


Sepanjang perjalanan kami mengobrol, tidak terasa akhirnya mobilku tiba di sebuah Mall dia jakarta selatan, aku segera memarkirkan mobilku, Dia langsung keluar saat sadar pintu otomatisnua sudah terbuka.


Aku dengan Nissa berjalan menyusuri Mall, aku membawanya berjalan menuju Toko yang berjejer menjual Mas dan berlian. jangan ditanya kami berjalan sejajar namun dia masih saja begitu berjarak dengan ku. Pasti orang yang melihat mengira aku dengannya adalah ayah dan anak. Tubuhnya yang mungil berbeda jauh dengan tubuh tegapku.


Disan ada toko yang begitu aku sering datangi untuk membelikan perhiasan untuk Alm Berliana istriku.


Aku putuskan untuk mengajak Nissa masuk ke Toko itu, disana begitu banyak di pajang mas dan berlian dengan model terbaru.


"Mba... tolong carikan satu set perhiasan berlian" ucapku pada karyawan Toko perhiasan.


"Di sebelah sini Pak, ini satu set perhiasan diamond dengan design terbaru" ucap karyawan Toko itu, aku mengajak Nissa untuk memilih.


Karyawan Toko sudah menyiapkan beberapa Set Design terbaru untuk di lihat.


" Ayo pilihlah yang anda suka"


" Saya jadi bingung banyak begini... Bapak bantu carikan dong.


"Anda tidak punya selera apa yah.. biasanya perempuan begitu senang dan punya Fashion untuk memilih perhiasan"

__ADS_1


" Saya mah berbeda Pak, sedari kecil tidak terlalu suka dengan Perhiasan. Paling pake Anting saja untuk menandakan bahwa saya perempuan heheheh"


" Sekarang berbeda, anda sebentar lagi akan menjadi seorang istri, itu adalah bentuk kasih sayang saya untuk mempercantik anda bidadari saya"


Blussshhh pipinya langsung terlihat memerah, saat aku menyebutnya bidadari... aahh memang dia pantas aku sebut bidadari, dia begitu berbeda dengan perempuan lain di luaran sana.


" Terserah Bapak kalau begitu, saya ikut saja"


Cukup lama saya memilih, Dia malah duduk di sofa yang tersedia disana, tidak ada antusias seperti perempuan lain yang membeli perhiasan di Toko itu, Ini terbalik malah saya laki-laki yang sibuk memilih perhiasan.


" Lihat... mau yang ini atau yang ini" Tanyaku memperlihatkan dua pilihan set perhiasan. Dua design yang berbeda, yang satu design nya dengan banyaknya berlian dan akurannya cukup besar dan satu lagi designnya simple namun tampak elegan.


" Eumm... aku pilih yang ini saja Pak" Ucapnya cukup jelas memilih Perhiasan dengan Design Simple, membuat orang di sekitar melihat ke arah kita, Sudah dipastikan orang menyangka aku Ayahnya dibandingkan pasangannya. Betapa tidak kami tidak terlihat seperti pasangan pada umumnya.


Aku langsung meminta karyawan menyiapkan satu set pilihan Nissa, Karyawan juga mengecheek jari tangan Nissa agar bisa muat pada Cincinnya.


Setelah semuanya siap, aku segera membayarnya dan karyawan segera membungkus satu Set pilihan Nissa.


Dia tampak kaget mendengar nominal yang aku bayarkan, namun menurut ku itu tidak sebanding dengan dia yang sudah bersedia menjadi pasangan pelengkap hidupku dan anak-anak.


Setelah selesai, kami keluar dari toko perhiasan itu.


" Ayo..kita sekalian membeli barang kebutuhan anda untuk barang seserahan" ajakku kepadanya.


" Udah Pak gak usah, ini saja tadi mahal sekali harganya, udah kita mending pulang saja sekarang" Jawabnya malah mengajak aku pulang.


" Belanja dulu, saya nanti bingung membelikannya kalau tidak bersama anda" Ajakku kembali padanya.


" Tidak perlu Pak, saya tidak mau memberatkan Bapak, ini saja harganya tadi sampai ratusan juta" Jawabnya yang tidak mau memberatkan aku.


" Sudah ayo.. kita cari sepatu dan tas yang anda suka, kurangnya biar aku dan ibu yang mencari" Ucapku tetap ingin mengajaknya mencari beberapa barang yang aku ingin itu pilihannya sendiri, agar bisa perpakai dan bermanfaat di kemudian hari.


" Sudah ya...Bapak Ardiyansah yang terhormat, mending kita pulang saja, kalau masalah sepatu saya akan beritahu nomor ukuran sepatu saya, terus kalau masalah barang seserahan yang lain saya mah pasrah akan menerima semua pemberian Bapak" Ucapnya keukeuh ingin pulang tidak mau membeli barang untuk seserahan.


" kalau nanti anda tidak suka bagaimana?" Tanyaku padanya


" In sya Allah aku suka Pak, aku akan bersyukur apapun pilihan Bapak dan keluarga Bapak" jawabnya singkat dan padat.


Dia benar benar perempuan langka, kalau perempuan lain pasti akan berjingkrak senang kalau di tawari berbelanja Batinku tersenyum kagum pada perempuan di sampingku.


Akhirnya kami putuskan untuk pulang, memaksanya untuk berbelanja malah membuat kami jadi berdebat akan hal yang tidak perlu di perdebatkan.


Di ajak berbelanja tidak mau, di tawari makan dulu pun dia tidak mau, aku putuskan untuk langsung menjalankan mobilku menuju rumah ibuku yang masih berada satu Komplek dengan perumahan ku.


Bersambung....


tong hilap Coment, vote dan like readers😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2