
" Santi, apa kamu ada waktu?? aku ingin ngobrol sedikit sama kamu " sapaku pada santik saat kami selesai makan malam dan barengan mencuci piring
" Ok, malam ini aku tidak ada kesibukan kok " sahutnya
" begini Santi, kemaren Dokter Yusuf menyatakan suka sama aku, aku bingung mau bilang apa " aku pun mulai pembicaraan yang serius, setelah kami memilih kamar tidur buat kami mengobrol
" Waw " jerit Santi seketika setelah mendengar sedikit ceritaku, sejurus kemudian tanganku pun sudah membungkam mulut Santi, supaya dia tidak menjerit dengan keras lagi.
kemudian dia memberi isyarat agar aku melepaskan tanganku dari mulutnya dengan dia berjanji untuk tidak menjerit dengan tiba - tiba lagi.
" terus, kamu jawab apa ???" tanyanya antusias
" aku belum menjawabnya, aku bingung mau bilang apa ?? " jawabku sambil ku garuk - garuk kepalaku yang aslinya tidak gatal
" kenapa memangnya, kamu sebenarnya suka apa tidak sih sama Mas Yusuf ???" sahutnya kemudian
" entah lah, aku masih belum punya perasaan apa - apa padanya, aku masih trauma dengan laki - laki " jawabku sambil mata dan fikiranku menerawang jauh.
jauh kebelakang
jauh ke masa laluku yang kelam, saat bersama Edward Lee, hingga aku harus kehilangan orang - orang yang kucintai.
__ADS_1
sunggu . . . kejadian itu terasa mengoyak segala rasa yang ada di dalam kehidupanku.
" apa kah kamu masih teringat pada Edward Lee ??? " tanya Santi menyadarkanku dari lamunanku
" jujur ya San, aku masih trauma dengan perlakuannya padaku. aku berfikir, mungkinkah semua laki - laki yang ku kenal akan seperti dia, yang hanya menginginkan tubuhku saja ??? " expresiku mulai berubah, seiring aku mulai mengingat masa laluku.
tanpa ku sadar, sahabatku itu memelukku dengan berucap " aku yakin, mas Yusuf lebih baik dari pada Edward Lee. kamu pun harus punya keyakinan itu Sekar "
ku balas pelukan hangat sahabatku itu, sambil ku bisikkan kata " Terimakasih ya San."
pagi ini rasanya lain dari pagi biasanya,
tubuhku terasa segar dan ringan sekali rasanya.
tapi pagi ini lain kok rasanya
tubuhku terasa segar dan ringan sejak bangun tidur tadi.
segala aktifitas pagi ini lancar sekali, bahkan aku menikmatinya setiap pekerjaan yang aku janani, meski biasanya pun setiap pagi juga ini pekerjaan yang aku kerjakan setiap hari.
cuman yang menjadi beda, ada tambahan 1 pekerjaan lagi, yaitu membuat bekal makan siang untuk Dokter Yusuf ðŸ¤.
__ADS_1
sebenarnya aku malu juga membuatkannya bekal makan siang.
tapi mau bagaimana lagi, setiap harinya dia selalu " MERAMPAS " bekal makan siangku
kalau tidak begitu dia pasti menguntit di belakangku pas aku makan siang sambil merengek - rengek minta di bikinkan bekal makan siang buat hari esok.
Huuuuuuuf 😣😤
Ahirnya . . .
Bosan juga aku mendengar rengekannya itu
dan yang paling penting aku malu melihat orang - orang memandangiku saat melihat dokter Yusuf mulai merajuk minta di bikinkan bekal makan siang kepadaku.
ahirnya ku lulusan permintaannya itu mulai hari ini.
" Sekar, Satrio ini ada nak Yusuf jemput kalian " suara ibu santi memanggilku dan Satrio
"iya Bu " sahutku dan Satrio hampir berbarengan sambil kami berjalan menuju ruang tamu
" sudah siap ??? " sapa dokter Yusuf menyapa kami saat kami sudah berdiri di hadapannya
__ADS_1
" Bu, kami berangkat dulu " pamitku dan Satrio kepada ibu dan bapak Santi, tak lupa kami mencimun telapak tangan Beliau berdua
dokter Yusuf pun ikut berpamitan