
" Sudah, panggil Edward saja lha seperti dulu " pinta Edward saat aku memanggilnya bapak dari kemaren saat kami makan malam bersama.
" Ayo segera di makan dan minum obatnya nanti, biar tidak sakit luka lukanya " sahutku kemudian.
" Yusuf saja kamu panggil MAS, masak panggil aku BAPAK sih " protesnya kemudian saat aku tidak menghiraukan kata katanya
" Cepat makan, keburu dingin. kalau dingin tidak enak di makannya " sahutku tetap mengalihkan perhatian.
" Iya kan, kamu menghindari ku lagi Sekar " sahut Edward kemudian dengan nada kesal.
" Aku heran dengan kalian berdua, kalau memang masih suka, masih cinta, sudah sana segera jadian lagi " komentar Satrio membuatku dan Edward salah tingkah.
" Kalau kalian masih saja berbicara saat makan aku akan pergi tidur ya " sahutku mengancam mereka berdua ahirnya.
kamipun beristirahat ke kamar masing masing, setelah sebelumnya kami menunaikan ibadah shalat Isya bersama sama. Aku tidur di kamarku sendiri, sedangkan Satrio dan Edward tidur disamping kamarku seranjang berdua.
Sebelum aku terlelap dalam tidurku, aku masih mendengar mereka berdua saling bercakap cakap pelan sekali, hampir aku tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan saat ini.
sampai aku pun terlelap dalam tidurku.
Hawa malam ini sangat dingin sekali, rasanya aku tidak tahan untuk menahan pipisku.
ahirnya aku pun pergi ke kamar mandi, saat melewati kamar yang di tempati Satrio dan Edward aku mendengar orang sedang berbicara, Lamat - Lamat ku dengarkan dia seperti berbicara sendiri.
__ADS_1
" Aduh sudah ngak tahan lagi aku " aku pun berlari ke kamar mandi untuk pipis
" aaaaakh lega rasanya " gumaku
kemudian saat ku melewati kamar di sebelah kamarku aku mendengar seseorang berucap
" Terimakasih Tuhan, engkau sudah mempertemukan kami lagi, beri kesempatan yang terakhir kali buatku, untuk menjadikannya istriku dan aku berjanji akan membahagiakan di sisa umur kami, Aamiin " aku yakin itu suara Edward Lee, kenapa dia BerDo'a begitu.
siapa yang dia harapkan untuk menjadi istrinya, Aku kah ???
tak terasa air mataku jatuh begitu saja karena Haru mendengar permohonanya itu kepada sang Khalik.
Tuhan, aku juga menginginkannya, tapi apakah pantas aku mendampinginya ???
tidak bisa kutahan membendung air mata haru ini, aku pun berlari kedalam kamarku dengan menangis sejadi jadinya di sana.
ku benamkan wajahku ke dalam bantal dengan se dalam dalamnya.
ingin rasanya aku menjerit sekeras kerasnya dalam bantal tersebut.
Ibu . . . ayah . . . dosakah aku untuk mencintainya lagi ????
Bimo anakku dosakah bundhamu ini karna ingin bersama sama dengan ayahmu untuk menghabiskan masa tua kami ???
__ADS_1
Tuhaaaaaaaan . . . adakah kesempatan untuk kami bahagia kelak di dunia ini ????
Ya Tuhan tolong . . .
Tolong jangan permainkan takdir kami lagi . . .
Aku sudah capek harus melarikan diri, berpindah pindah tempat untuk menghindarinya, hingga ujung ujungnya kami masih bisa bertemu lagi.
kalau memang berjodoh, tolong persatuan kami, apa pun kondisi kami Tuhan.
Aku sangat mencintainy sampai detik ini.
Aku sangat berharap cukup dia saja yang memiliki tubuhku ini meski awalnya sangat pahit sekali.
Aku sangat berharap dia menjadi IMAMku
IMAM anak anak kami kelak.
Aku sangat berharap dia jodoh Dunia Akhirat ku
Aku sangat berharap Kau Kabulkan Do'a suciku ini Tuhan.
Aamiin.
__ADS_1