
Hampir dua Minggu sudah Edwrad Lee di rawat di sebuah rumah sakit kelas internasional terbesar se Surabaya ini.
Aku tidak pernah mendengar kabarnya bagaimana, sebab selama 2 Minggu ini mas Yusuf tidak pernah menjemputku bekerja lagi, Dia dimintai tolong Juan Lee untuk mengantar jemput Juan, Karena Juan lah yang menunggui Edward di rumah sakit tersebut untuk opname
" Sekar, apa kabar kamu ?? sapa Juan saat kami kebetulan bertemu dengannya di dalam kantornya pagi ini.
" Baik pak " jawabku singkat
" Oh iya, apa saat kejadian itu kamu melihat siapa yang membuat Edward seperti itu ??? " tanyanya penasaran dengan sebelumnya dia mengizinkan aku untuk di ajaknya ngobrol sejenak.
" Entahlah . . . aku tidak yakin, tapi aku sekilas melihat Soraya " jawabku, sambil aku berusaha mengingat - ingat kejadian saat itu.
" Sudah ku duga !!! " jawab Juan kemudian
" kenapa Juan ??? " tanyaku sedikit penasaran juga
" kamu tahu, keadaan Edward parah sekali.
Tulang rusuknya patah beberapa, hidungnya juga patah, di sekujur tangan dan kakinya di temukan banyak pecahan kaca yang menancap dan bekas - bekasnya, belum lagi muka dan sekitar tubuhnya banyak lebam lebam sampai membiru " jawab Juan dengan emosi.
Astaga . . .
__ADS_1
Sehari setelah kejadian itu, aku membersihkan kantor Edward memang sangat berantakan.
pecahan gelas dan Vas bunga banyak berceceran di mana - mana, kertas berkas - berkas juga berhamburan di mana - mana dan juga aku menemukan sebuah pipa besi berukuran diameter yang sedang dengan panjang sekitar setengah meteran.
Ya Ampun, apakah Soraya itu seorang preman ???
kok menyiksa Edward Lee sedasyat itu.
" Oh iya Sekar, nanti pulang kerja kamu mau kan ikut menjenguk Edward ??? " Ucap Juan kemudian membuyarkan lamunanku.
lama aku tidak menjawabnya, apa perlunya aku menjenguk Edward Lee, aduh . . . bagaimna ini.
" Baiklah, aku ikut " ahirnya aku pun mengiyakannya
Tak berapa lama, kamipun memasuki ruangan VVIP tempat Edward berbaring.
" Hallo Bos, apa kabar " sapa mas Yusuf pada Edward Lee
diapun hanya membalas sapaan mas Yusuf dengan senyum saja.
kulihat Edward Lee terbaring sangat lemah, hidungnya benar - benar patah, di dadanya terdapat balutan perban yang terlihat baru, mungkin saja perban tersebut baru saja di gantikan, di kedua tangan dan kakinya juga terdapat bekas luka - luka seperti sayatan.di lehernya pun terdapat penyangga leher dan ada sebuah selang oksigen melingkar di hidungnya yang patah.
__ADS_1
ih . . . ngeri sekali melihatnya.
" Apa kabar Pak " tanyaku sedikit kelihatan polos sekali, karena bukankah tadi mas Yusuf sudah menanyakan tadi.
Aku tidak tahu harus menyapanya apa dan bagaimana, jadi yang keluar dari mulutku pun ya hanya pertanyaan itu saja.
sedangkan dari tadi Edward hanya memandangiku dengan matanya yang sayu.
" Aku baik " jawabnya pelan dengan suara yang sangat berat, sepertinya dia menahan sakit di dadanya saat harus mengucapkan satu kata saja.
BRAK . . .
Tiba - tiba pintu ruangan VVIP ini terbuka dengan kasar, dan masuklah seorang wanita anggun.
yaa . . . itu memang Soraya, istri Edward Lee.
" jadi sembunyi di sini kamu ??? " tanyanya kemudian dengan kasarnya, bahkan dia terlihat sangat tidak perduli dengan kondisi Edward saat ini.
" Mau apa kamu kesini??? " sahut Juan tak kalah kasarnya.
" Tidak usah ikut - ikutan deh kamu " ejek Soraya pada Juan
__ADS_1
Juan pun tersulut emosinya dan ingin menghajar Soraya, dengan sigap mas Yusuf pun menghadang serangan Juan saat itu juga