
Hari Sabtu ini sangat cerah sekali, aku dan Edward Lee datang ke Surabaya untuk menjemput Satrio dan akan menuju Jakarta bersama sama.
Saat tiba di rumah Santi, kami di sambut dengan suka cita.
" Ibu kangen padamu nduk" sahut ibu Santi pemelukku erat seperti putrinya sendiri.
" Saya juga kangen sama ibu, maaf Bu karena dulu saya pergi dengan membohongi ibu, bukan maksud saya seperti itu Bu " ucapku kemudian saat kami saling melepaskan pelukan.
" Sudah nduk, jangan di bahas lagi. ibu sudah tidak mempermasalahkannya.
yang penting sekarang kamu sudah bahagia denga lelaki pujaan hatimu " sahut beliau dengan sangat bijaksana.
" Apa kabar kamu nduk " sapa ayah Santi padaku
" Alhamdulillah baik pak. " sahutku dengan mencium tangan beliau
" Syukurlah nduk . . . " sahut beliau kemudian dengan tersenyum
Ahirnya kami pun berbincang - bincang dan bercanda canda dengan santai di dalam ruang tamu rumah Santi.
Sampai tidak ku sangka Juan Lee, mas Yusuf dan hafiz pun ikut bergabung dengan kami siang ini.
" Waduh ada calon pengantin ini " sapa mas Yusuf dengan gaya candaanya. aku pun hanya tersenyum, senyum yang lebih ke serba salah sih
__ADS_1
" Assalamualaikum mas Brow " sapa Edward saat menjabat tangan mas Yusuf.
kemudian Juan pun menjabat tanganku dengan menanyakan kabarku dan kemudian kami pun berbincang bincang,sangat ramai sekali ruangan ini.
Kami melepas rindu masing - masing hingga tak terasa hari sudah sore, sampai kami belum makan siang.
" Ayo . . . ayo yang wanita bantu ibu masak hari ini kita masak besar yaa " ajak ibu Santi dengan berjalan menuju dapur.
aku dan Santi pun mengekor ibu dari belakang.
Masih terdengar suara tawa para pria - pria itu di ruang tamu rumah Santi sampi ke dapur.
sungguh ceria sekali mereka
" iya nduk, ibu ikut bahagia sekali " sahut ibu Santi ikut menimpali ucapan bahagia Santi tadi
" Terimakasih ibu, terimakasih Santi. ini semua berkat Do'a ibu dan Santi "
" Kapan rencananya kalian akan menikah ??? " tanya ibu Santi kemudian
" Mas Edward sih bilang kalau bisa dalam bulan ini di segerakan Bu " sahutku mengutib kata kata Edward tempo hari
" Cie . . . udah panggil Mas Nih sekarang " ledek Santi
__ADS_1
" Apaan sih ??? " jawabku sambil mencubit pinggang Santi.
Santi pun menjerit jerit lebay
Tiba - tiba mas Yusuf masuk kedalam dapur ikut kami berbincang - bincang dia duduk di kursi dapur.
" Waaah kalah selangkah ya aku sama pak Edward Lee " ucapnya dengan menggaruk garuk kepalanya
" Kenapa mas banyak kutu ya di rambut " sahut Santi dengan nada bercandanya
" Iya nih, sejak di tinggal Sekar aku jadi banyak kutunya " sahutnya lagi dengan bercanda.
" Maafkan aku ya mas Yusuf atas kejadian lalu " sahut ku meminta maaf pada mas Yusuf dengan sangat tulus.
" Iya kami minta Yusuf, ini semuanya tanpa kami sengaja, karena ini takdir Tuhan " tiba - tiba Edward juga ikutan masuk dalam dapur ini, saat mendengar pernyataan Edward, mas Yusuf pun berdiri terkejut seakan akan tidak menyangka Edward akan mengikutinya ke dapur.
" Sudah lah, saya juga menyadarinya pak.
saya juga sudah ikhlas kalau Sekar ahirnya menikah dengan Pak Edward. mungkin memang ini jodoh kalian berdua " sahut mas yusuf kemudian dengan Arif dan bijaksana.
syukurlah aku dan Edward pun sangat lega sekali mendengarnya.
Setelah memasak untuk makan malam, kami pun menyantapnya bersama - sama, dan setelah selesai bersantan malam ahirnya kami, aku , Edward dan Satrio pun undur diri untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Jakarta dengan menaiki pesawat terbang pada malam ini juga.
__ADS_1