
Genap 1 bulan lamanya Edward Lee berada di rumah sakit dan hari ini dia sudah boleh pulang karena semua luka - lukanya sudah mulai membaik, tapi Memang dia harus banyak istirahat dan sering kontrol untuk luka dalamnya.
Dia ikut tinggal dengan Juan Lee di rumah keluarga mereka yang dulu.
urusan perceraiannya juga sudah dalam proses Ahir, tinggal keputusan saja kata Juan Lee suatu saat bercerita kepadaku.
Aku tidak ambil perduli dengan cerita Juan tentang Edward kakaknya,
Apa peduliku ????
Apa urusanku juga ???
Aku anggap Juan hanya bercerita saja kepadaku, tanpa maksud apa - apa juga sih ???
Sedangkan mas Yusuf, dia tidak berubah sedikitpun sejak aku menyatakan tetap menolaknya.
dia masih tetap seperti dulu sejak mengenalku.
Tapi aku merasa tidak enak sekali padanya, ada sedikit rasa bersalah padanya.
mau bagaimna lagi, kalau aku menerima mas Yusuf, tidakkah aku malah menyiksanya dengan cara aku tidak mencintainya.
Sekarang . . . saat ku tolak, aku pun merasa bersalah, aku telah mengecewakannya.
Beberapa hari berikutnya, Juan mengundang kami untuk datang kerumahnya.
__ADS_1
katanya dia dan Edward ingin mengundang kami untuk makan - makan sebagai rasa Terimakasih mereka karena kami semuanya sudah menolong dan membantu Edward selama di Rumah Sakit.
kami pun datang bersama sama, Aku, mas Yusuf, Santi dan Hafiz.
" syukurlah kalian sudah mau datang ke tempatku malam ini " sambut Juan di depan pintu Masuk rumah mereka.
kami bersalaman masing - masing sebelum memasuki rumah yang sangat aku kenal tersebut.
Interior Rumah Ini Masih sama dengan 7 tahun yang lalu terakhir kali aku berkunjung.
masih sangat terawat juga kebersihannya karena memang Juan yang meninggali rumah ini dan kadang - kadang pemilik rumah ini yang lain juga sering menginap di sini.
" Sekar kamu juga datang " sapa Edward saat melihatku, sejenak aku membalas sapaannya dengan senyuman.
rumah ini menyimpan banyak kenangan antara Aku dengan Edward dulu saat kami masih kecil.
" Ayo silahkan kalian menikmati kue - kue ini dulu, sebab hidangan beratnya masih belum kelar di persiapkan oleh asisten rumah tangga kami " Juan mempersilahkan kami untuk segera menikmati hidangan pembuka terlebih dahulu.
" Apa Bapak dan Ibu Lee tidak hadir di sini juga " tanyaku pada Juan yang tiba - tiba duduk di sebelahku
" Enggak, papi dan mami masih belum tahu atas kejadian ini. kakak memintaku untuk merahasiakannya dulu. " sahutnya sambil menyodorkan aku kacang asin.
dia masih ingat jajan kesukaanku dulu.
Ya aku suka sekali dengan kacang asin, dulu Juan selalu menggodaku dan sering merampas kacang asin ku, tapi Edward selalu merampasnya kembali dan memberikannya balik kepadaku.
__ADS_1
" Tahu saja jajan kesukaanku " sahutku sambil menggoda Juan
" jangan banyak - banyak entar jerawat kamu keluar lho " ledeknya kemudian.
" Eh . . . Sekar itu kalau jerawatan pasti lagi kangen sama Aku lho . . . " mas Yusuf ikut menggodaku
" Apaan sih " jawabku dengan wajah tersipu malu.
di sambut dengan tawa mereka yang ada di ruangan ini hampir bersamaan, hanya Edward saja yang terdiam seribu bahasa sejak tadi.
sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
" Tuan muda, hidangannya sudah siap " salah seorang Asisten rumah tangga mereka memberi tahu kami semua untuk segera menyantap makan yang memang sudah mereka persiapkan.
" Ayo . . . ayo, silahkan kalian nikmati makan malamnya, ini sebagai rasa terimakasih kami, karena kalian semua sudah banyak membantuku dan kakakku selama ini " Ungkap Juan.
Apa sebenarnya tujuan mereka mengundang kami semuanya ke rumahnya ini.
" Iya . . . ayo silahkan jangan kawatir, hidangan ini seribu persen halal kok tidak mengandung **** " jelas Edward saat kami menuju rumah makan.
kami pun menyantap hidangan yang sudah di sediakan ini dengan lahap sekali.
sesekali kamipun ngobrol dan bercanda pula di sana.
malam ini terasa begitu panjaaaaaang
__ADS_1