
" Mbak, tuh pak Muhammad sudah nungguin di depan " goda Arum sore ini padaku karena dia tahu aku akan pergi keluar dengan Edward.
" Iya, aku udah tahu whleee . . . " sahutku dengan membalas menggoda Arum.
" Aduh yang mau kencan yaa . . . baunya harum cantik lagi " goda Arum kemudian saat melihatku keluar dari kamarku.
" Sudah siap . . . ??? " tanya Edward Lee padaku.
" Sudah " sahutku mantap
" Arum, jangan lupa ya nanti kalau kamu pulang . . . " belum selesai aku berbicara pada Arum dia malah mendorongku lembut untuk segera berangkat
" iya . . . tuan putri, saya tidak akan lupa, selamat bersenang senang yaa . . . "
Beberapa kali kami berjalan - jalan, bersama Edward sudah tidak pernah membawa sopirnya untuk mengemudikan mobilnya, dia lebih memilih mengemudikan mobilnya sendiri, karna dia ingin kami lebih akrab lagi katanya.
" Aku ingin membawamu ke rumah Papi dan Mami, kita berkunjung untuk membicarakan rencana kita kedepannya " Edward mulai membuka pembicaraan saat mobil yang dikemudikan melaju santai di jalanan kota Pati ini.
" Kenapa terburu - buru, aku juga belum bilang kalau aku mau sama kamu " jawabku sok jual mahal
" Aku tahu, tidak bilang pun aku tahu kamu mau memulai hidup baru denganku. aku yakin itu " sahutnya dengan percaya diri.
__ADS_1
" Sok tahu kamu " jawabku dengan tersenyum malu.
" Tuh buktinya, pipi kamu merona merah, makannya aku bilang apa ??? kamu pasti mau sama Aku " jawabnya kemudian dengan mantap
" jadi kamu masih mencintaiku kan ??? " tanyanya dengan setengah berbisik saat kami makan malam di sebuah Caffe yang sangat romantis ini.
"Eeeem . . . kasih tau gak yaa " jawabku setengah bercanda, sebab jantungku berdebar kencang saat ini.
" jawab dong . . . " sahutnya dengan tidak sabar.
" Iya . . . " sahutku malu malu.
Telah lama ku fikirkan, kalau memang kami sebenarnya berjodoh buat apa lagi aku untuk menghindarinya.
" Maukah kamu menikah denganku ??? " tanyanya kemudian dengan mantab
seketika ku angkat wajahku, kupandangi lekat wajah lelaki di hadapanku ini.
benarkah ucapan itu keluar tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam???
Seriuskah dia dengan apa yang di ucapkan ya ???
__ADS_1
Ku pandangi kedua bola matanya nya yang berwarna cerah itu, tidak kutemukan sedikitpun kebohongan atau kesan main - main disana.
Kemudian dengan mantab aku pun menjawab.
" Aku bersedia menikah denganmu "
" Alhamdulillah . . . " ujarnya dengan girang dan kumudian dia meraih tanganku, dengan reflek di pun melepaskannya seperti dia tersengat aliran listrik saja saat melepaskan tanganku.
" Maaf . . . maaf . . . kita belum muhrim " kilahnya dengan masih tersenyum bahagia
" Kapan kamu bisa ada waktu untuk berkunjung ke Jakarta ??? Aku tidak ingin berlama - lama lagi untuk menghallalkan hubungan kita " tanyanya kemudian saat kami selesai makan malam.
" Terserah tapi aku ingin kita bicara dengan Satrio juga. bagaimana pun dia satu + satunya keluarga dan wali nikahku " jawabku
" Iya dong, kita ajak dia juga nanti ke Jakarta " sahutnya kemudian.
Kami pun melanjutkan cerita cerita masa lalu, cerita tentang kepergian ibuku hingga cerita tentang kepergian Bimo anak kami.
" aku ingin berkunjung lagi ke makam Ibu dan makam anak kita. Kita ziarah dulu kesana sebelum ke Jakarta, karena sejalan kan " ungkapnya lagi saat kami mulai perjalanan pulang.
Jam sudah menunjukkan jam 10 malam.
__ADS_1
" Boleh, aku juga sudah lama tidak ziarah kemakam ibu dan anak kita " sahutku saat kami dalam perjalanan pulang.
" Sekar, Terimakasih ya kamu sudah memaafkan semua kehilafanku dulu dan Terimakasih sekali kamu masih mencintai aku dari dulu sampai saat ini. Terimakasih sekali Sekar " ucap Edward dengan sungguh - sungguh dan ku balas dengan senyum paling indah yang kumiliki