
Hampir 3 bulan lamanya kami memulai untuk membangun kembali rumah loundri yang sudah aku beli ini, hampir selesai konstruksinya.
bangunan tipe minimalis sengaja kami pilih untuk rumah cantik kami dengan adanya kios loundri di depannya, yang berfungsi juga sebagai garasi mobil saat malam tiba.
" Syukurlah, tinggal finishing saja ya " komentar mas Edward saat melihat lihat rumah kami ini.
" Iya syukurlah berjalan lancar dan cepat sekali ya mas " sahutku dan edward pun hanya mengangguk saja dengan rasa syukur kami.
" Tapi . . . mengapa kamu belum juga hamil sih, rumah kita sudah hampir jadi lho ??? " tanyanya dengan mimik cemberut sambil mengelus elus perut rataku.
" Kita masih di beri kesempatan untuk berpacaran dulu mungkin " sahutku menghiburnya.
" Iya . . . sih. tapi aku sudah ingin sekali punya anak dari kamu sayang " sahutnya lagi dengan mencolek hidungku.
" InsyaAllah, kalau Tuhan mengizinkan pasti anak itu akan hadir dalam rumah tangga kita sayang " ujarku sambil melingkarkan kedua tanganku di lehernya.
Dan tidak menunggu lama, rumah kami pun sudah jadi.
Kami menunggu Minggu depan untuk menempatinya dengan melaksanakan tasyakuran kecil - kecilan dengan mengundang tetangga sekitar tentunya.
" Pak, maaf tadi ibu Soraya datang lagi. nanti katanya mau datang lagi ke sini " sapa pak Sugeng saat kami mau memasuki mes dalam pabrik Edward.
__ADS_1
" aAa apa lagi dia kemari ??? " sahut Edward setengah jengkel.
" Saya tadi mencoba tanya apa maunya, dia tidak bilang apa - apa pak, pokoknya dia bilang dia akan datang lagi nanti. begitu pak " sahut pak Sugeng lagi.
" Seharusnya kamu temui saja dia, tanya apa keinginannya mencarimu, mas ??? " ucapku pada mas Edward saat kami berjalan menuju mes.
" Baik, nanti aku akan menemuinya " sahut Edward dengan berpesan pada pak Sugeng
Benar saja, setelah kami selesai menunaikan shalat Isya terdengan suara pak Sugeng memanggil mas Edward dengan mengetuk ngetik pintu mes kami.
bergegas aku pun membukakan pintu untuk pak Sugeng.
" Ada apa pak" sahutku
memang sangat jelas terdengar suara seorang wanita yang sedang berteriak memanggil nama Edward .
Edward pun keluar dari dalam kamar dan langsung menuju ke luar pintu gerbang perusahaan ini dengan santai.
" Mas, jangan terbawa emosi ya. " pesanku pada suamiku itu,
Dia hanya menganggukkan kepalanya dengan berjalan menggenggam tanganku.
__ADS_1
" Ooooh mau keluar juga kamu ya ??? " sapa Soraya denga sangat kasar saat bertemu dengan mas Edward.
" Apa mau mu ??? " tanya ma Edward santai. sengaja kueratka genggeaman tanganku padanya pertanda agar dia untuk menahan emosinya.
" Aku ingin uang " sahut Soraya lantang
" UANG . . . ??? uang apa yang kamu minta padaku ??? aku tidak punya hutang apa apa pada kamu " jawab Edward kemudian.
" Kamu banyak hutang padaku. buktinya perusahaan ini masih jadi milikmu, bukannya dulu kamu sudah menjualnya dan ternyata papimu sendiri yang membelinya dan sekarang dia mengembalikan ya padamu kan, berarti ini masih hak ku juga dong " sahut Soraya kemudian dengan kalap.
" Mimpi kamu, bukannya aku sudah memberikan harta Gono gini padamu waktu itu sesuai keinginanmu.
bahkan kamu mengambil rumah beserta isinya, dan juga mobil yang aku beli sendiri dengan hasil jerih payahku sebelum aku bertemu denganmu.
Sekarang kamu malah meminta lebih banyak lagi, memangnya kamu siapa ku " jawab mas Edward tersulut emosi.
" Mas . . . " ucapku lirih, aku sangat takut sekali saat ini.
" Pak Sugeng, tolong panggil polisi kemari, biar diseret wanita ini ke penjara " perintah Edward pada pak Sugeng dan pak Sugeng pun masuk ke ruangannya dan mulai menelfon polisi.
Saat tahu pak Sugeng mulai menelfon polisi Soraya pun lari menjauhi perusahaan ini.
__ADS_1
" awas kamu Edward Lee, aku akan datang lagi untuk membalas dendamku padamu " teriaknya dengan berlari kencang.