
Tidak terasa, hari ini Hari yang kami tunggu tunggu.
Hari pernikahanku dengan Edward Lee.
Mami dan Papi sudah menyiapkan hotel untuk ijab Qobul, resepsi kecil - kecilan pernikahan, buat si pengantin menginap, saudara - saudara kami dan juga untuk Mami Papi sendiri.
sebelum acara ijab qobul aku tidak di pertemukan dengan Edward Lee Alias di PINGIT,
" SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA SEKAR DEWI BINTI ALMARHUM GUNAWAN DENGAN MASKAWIN UANG SEJUMLAH TERSEBUT DI ATAS DI BAYAR TUNAI " ikrar janji Edward Lee lantang dan mantab berkumandang seantero ruangan BOLL ROOM hotel ini yang membuatku merinding dan sekaligus terharu.
Ahirnya cinta kami sejak kecil terikat janji suci yang tidak akan terpisahkan sampai maut menjemput kami.
Serentak para hadirin yang dengan semangat ikut berucap " SAH . . . Alhamdulillah hirobbilAllamin "
Dan Ahirnya tiba waktuku untuk keluar dari tempatku di pingit tadi , dengan di jemput dan di tuntun oleh Satrio Adikku selaku wali nikahku tadi.
" Kak, Ahirnya kakak menikah dengan orang yang paling kakak cintai, selamat ya kak, semoga pernikahan ini langgeng, Aamiin " bisik adekku yang membuatku tak bisa membendung air mataku lagi.
" Terimakasih ya dik, " sahutku dengan menghapus air mataku
__ADS_1
" Jangan menangis lhak kak, ini kan hari bahagia yang kakak nanti nantikan " sahut adikku lagi ikut menghapus air mataku.
Ku peluk tangan adekku dengan eratnya sebagai ucapan syukurku.
" Sayang, hari ini kamu cantik sekali " bisik lembut Edward Lee suamiku di telingaku.
aku pun bagai melayang di pujinya.
" Kamu juga mas, kamu makin tampan saja hari ini " balasku.
Kemudian aku mencium tangan kanannya dan di balasnya dengan mencium keningku.
prosesi selanjutnya kami pun sungkem pada kedua orang tua Edward Lee, meski mereka tidak seiman dengan kami, tapi kami punya keyakinan sendiri dengan acara sungkeman ini.
Tak ayal, kedua orang tua tersebut tak menyangka kami akan sengkem kepada beliau, Papi dan Mami pun tak dapat membendung air mata mereka, merekapun juga memeluk dan menciumi kami berdua.
" Jaga dan bahagiakan Sekar, semampumu Edward " pesan Papi pada mas Edward kemudian
" Iya Pi " sahut Edward Lee
__ADS_1
Kami pun mendatangi Satrio yang duduk di sebelah Papi dan Mami,
" Kak, aku titipkan kak Sekar pada kakak yaa, jangan sakiti dia lagi " ucap Satrio saat menjabat tangan Edward, suaranya sangat berat karena menahan tangis.
" Jangan kawatir dik " sahut Edward dengan memeluk Satrio.
sedangkan saat bersalaman denganku, kami pun tak dapat membendung haru.
Tanpa kata - kata kami pun hanya berpelukan, karna hati kami lah masing -
masing yang berbicara.
Setelah menghapus air mataku, kami pun mulai menyalami satu persatu tamu yang hadir di sini.
Juan Lee, Santi dan keluarganya, mas Yusuf, hafiz dan keluarganya, Saudara Mami dan Papi dari Korea dan yang lainnya.
sampai tiba waktunya kami untuk makan bersama - sama.
" Sekar, hari ini aku bahagia sekali. kamu cinta pertamaku, ahirnya kita bisa menikah " bisik Edward Lee dengan nada bahagia
__ADS_1
" Aku juga mas, Syukurlah hari ini kita sudah sah menjadi suami istri." Balasku dengan menggenggam tangannya serta tersungging senyum bahagia di sudut bibirku.
Hingga ahirnya kamipun lama saling berpandangan dan tersenyum Bahagia