
...Seperti hari Minggu biasanya kedua orang kakaknya mas Syarif dan mbak Fara yang sudah berkeluarga dan tinggal di rumah mereka masing - masing berkumpul di rumah orang tuanya . Zahra si bungsu dari tiga bersaudara masih tinggal di rumah orang tuanya . Zahra baru saja lulus SMU . Dia ingin melanjutkan pendidikannya untuk mendaftar kuliah, namun ayahnya yang kolot tidak mengizinkan dia untuk kuliah . Menurut ayahnya buat apa menyekolahkan tinggi - tinggi kalau hanya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga saja . Zahra berniat untuk bekerja agar dapat membiayai sekolahnya sendiri . Namun ayahnya melarangnya juga sehingga hampir satu tahun ini dia hanya jadi kaum rebahan di rumah .Dia tidak bisa lagi pergi ke rumah temannya karena teman - temannya banyak yang kuliah atau bekerja . Setiap hari bagi Zahra sangat membosankan kecuali hari Minggu . Karena di hari Minggu itu dia bisa bermain dengan para keponakannya yang berkunjung ke rumah orang tuanya . Saat itu Zahra sedang bermain dengan para keponakannya ketika mbak Fara tiba - tiba memanggilnya . ...
" Zahra.. Sini cepat "
Zahra yang mendengar namanya di panggil segera menolehkan kepalanya ke arah mbak Fara.
" Ada apa mbak?"
" Sini cepetan " seru mbak Fara dengan tidak sabar sambil mengayunkan tangannya .
Zahra segera berdiri dan berjalan kearah mbak Fara yang berdiri di ujung tangga.
" Ada apa sih mbak ? "
__ADS_1
Bukannya menjawab mbak Fara malah langsung bergegas menarik tangannya menuruni tangga menuju ke dapur , Zahra yang bingung hanya mengikuti langkah mbak Fara yang menarik tangannya menuju dapur. Di dapur nampak ibu , mas Syarif , mbak Lia (istri mas Syarif ) dan mas Arif (suami mbak Fara) duduk di depan meja makan . Zahra semakin bingung dan bertanya - tanya didalam hatinya.
" Ada apa sih ini kenapa pada ngumpul di sini mau rapat keluarga ?"
Dan sekali lagi bukannya menjawab mbak Fara malah menyodorkan nampan yang diatasnya telah diletakkan gelas minuman dan toples kue yang baru saja di ambilnya dari atas meja makan . Zahra mengernyitkan dahinya sambil memandang kearah ibu dan saudaranya dengan tatapan bingung . Mbak Fara yang melihatnya masih terdiam segera menegurnya .
" Sudah sana cepetan bawah ke depan, kasihan tamunya sudah menunggu lama "
" Loh kenapa kok nyuruh Zahra, biasanya kan yu Jum yang di suruh mengantar minuman?" tanyanya masih belum beranjak dari tempatnya berdirisambil menunjuk kearah yu Jum yang sedang memasak di dapur .
Ucapan mbak Fara membuat Zahra segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. Bayangan ayahnya yang marah - marah membuatnya tidak lagi banyak bertanya dan segera melakukan perintah mbak Fara . Di ruang tamu nampak ayah sedang berbincang dengan dua orang laki-laki . Ketika Zahra datang mendekat mereka menghentikan perbincangan mereka . Zahra agak bingung karena biasanya kalau ada tamu apa lagi jika tamunya laki - laki ayah tidak mungkin menyuruh putrinya untuk menyajikan hidangan kapada tamunya . Berbagai pertanyaan muncul di benak Zahra . Dengan segera Zahra meletakkan gelas minuman dan toples kue ke atas meja untuk segera menuju ke arah dapur untuk meminta kejelasan dari berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya itu . Setelah sampai di dapur Zahra meletakkan nampan di atas meja makan lalu didekatinya ibunya dan diluapkannya pertanyaan yang sedari tadi memenuhi benaknya.
" Bu siapa tamu didepan itu Bu ? , kenapa Zahra yang disuruh untuk membawa minuman itu ke depan , padahal tamunya cowok ? " Zahra menjeda pertanyaannya saat ibu menarik tangannya untuk duduk di kursi sebelahnya . Namun sebelum dia duduk di atas kursi Zahra menarik tangannya dari genggaman tangan ibu dan membungkam mulutnya dengan mata melotot tak percaya dengan apa yang baru saja terlintas dalam pikirannya sambil menggelengkan kepalanya .
__ADS_1
"Jangan .. jangan bilang kalau ayah mau menjodohkan Zahra dengan salah satu cowok di depan itu . Zahra belum mau nikah Bu . Zahra ingin kuliah, Zahra ingin mengejar cita - cita Zahra ,kenapa sih tidak boleh ? sekarang malah dijodohkan di suruh nikah dengan orang yang tidak Zahra kenal , jahat banget sih ayah sama Zahra ".
Mata Zahra mulai berkaca - kaca mengeluarkan air mata dan tanpa menunggu penjelasan dari ibu Zahra segera berlari kearah tangga menuju ke kamarnya . Ibu hanya bisa menatap sendu kearah Zahra . Mbak Fara yang ada di samping ibu hanya bisa mengelus punggung ibu . Dia bisa merasakan kebimbangan hati ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa jika ayahnya sudah membuat keputusan . Dia seolah ditarik kembali ke masa lalu ketika dia juga mengalami persoalan yang sama dengan yang dialami oleh Zahra .
Memang ayah adalah seorang yang masih berfikiran kolot di mana menurut pemikirannya perempuan hanyalah sebagai ibu rumah tangga sehingga tidak perlu pendidikan yang tinggi . Sedangkan laki - laki sebagai kepala rumah tangga yang mencari nafkah membutuhkan ilmu pengetahuan yang luas untuk menghidupi keluarganya . Itulah sebabnya ayah menyekolahkan mas Syarif hingga perguruan tinggi meskipun mas Syarif tidak memintanya . Sedangkan mbak Fara dan Zahra meskipun mereka berprestasi tapi tetap tidak mengubah pemikiran ayah untuk menyekolahkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi .
Mbak Fara bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Zahra saat ini, karena itu ia bertekad untuk membantu Zahra keluar dari perjodohan yang dilakukan oleh ayahnya itu kepada Zahra .
Mbak Fara melangkahkan kakinya ke arah ruang keluarga . Dia ingin melihat seperti apa sosok lelaki yang akan dijodohkan dengan adiknya itu . Kebetulan antara ruang tamu dengan ruang keluarga hanya dibatasi dengan partisi , sehingga dia bisa melihat keruang tamu dari celah - celah partisi . Selain itu dia juga ingin mencuri dengar pembicaraan ayahnya dengan kedua lelaki itu . Belum lama dia berada di ruang keluarga ibu , mas Syarif , mbak Lia dan mas Arif ikut menuju ke ruang keluarga . Mereka juga penasaran dengan orang yang akan dijodohkan dengan anak dan saudara kesayangan mereka itu.
Mbak Lia menepuk mbak Fara yang ada di depannya agar bergeser karena dia juga ingin melihat orang yang akan dijodohkan dengan adik kesayangan mereka itu . Mbak Fara yang sedang fokus melihat dari celah - celah partisi terjingkat kaget sambil memegangi dadanya .
"Astaghfirullah ngagetin orang aja".
__ADS_1
Cicit mbak Fara sambil menepuk tangan mbak Lia . Mbak Lia hanya bisa cekikikan sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, karena mendapat pelototan tajam dari mas Syarif karena telah membuat keributan. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak dan menantunya itu . Nampak ayah dan kedua orang laki-laki itu menatap kearah partisi ketika terdengar sedikit keributan itu , lalu mereka melanjutkan pembicaraan mereka