
Ayah PoV
Sudah beberapa hari ini aku kebingungan mencari cara yang tepat bagaimana untuk bisa berbicara dengan Zahra agar dia mau menerima perjodohan ini. Aku ingin Zahra bisa menerima perjodohan ini dengan tangan terbuka tanpa ada rasa keterpaksaan di hati nya. Zahra berbeda dengan kakak - kakaknya yang menurutku sangat penurut , Zahra memiliki tabiat yang keras kepala dan suka membantah seperti ku. Aku takut jika aku terlalu memaksanya nanti dia malah akan bertindak nekat .
Pikiranku saat ini seakan buntu untuk mencari cara bagaimana caranya agar Zahra mau menerima perjodohan ini. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan kepada istriku Amira untuk membujuk Zahra agar mau menerima perjodohan ini. Aku berencana untuk mengajaknya bicara ketika malam hari nanti waktu kami akan tidur . Selain waktunya lebih luang untuk kami berbicara juga tidak akan ada yang akan menggangu ataupun mendengarkan pembicaraan kami.
" Bu tolong bantu ayah dong bu , untuk membujuk Zahra agar mau menerima Adi sebagai calon suaminya ." kataku memulai pembicaraan dengan Amira istriku sambil menyandarkan tubuhku di sandaran ranjang. Amira yang sudah merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam di sebelahku seketika membuka matanya dan kemudian bangun dan ikut menyandarkan tubuhku di sandaran ranjang di sebelahku .
" Memangnya ayah sudah yakin dengan pilihan ayah ? Sudah sholat istikharah? "
Aku memutar bola mataku jengah mendengar perkataan Amira yang seolah meremehkan ku sambil berdecak.
" ckk ..ibu ini kayak nggak tau ayah aja sih , kalau ayah sudah serius seperti ini tentu saja ayah sudah sholat istikharah. Tidak hanya itu saja , ayah juga sudah mencari tahu tentang seluk beluk keluarganya juga."
__ADS_1
" Weiss.. hebat ya ayah ya .. langsung gerak cepat.. biar Zahra cepat - cepat dapat jodoh. Memangnya ayah sudah nggak sayang lagi sama Zahra ..hingga ayah terkesan buru - buru untuk menjodohkan Zahra ? Atau karena ayah merasa terbebani dengan tanggung jawab ayah untuk membiayai sekolah Zahra.. sehingga ayah buru-buru untuk menikahkan Zahra?."tanyanya yang lebih seperti cibiran buat ku dengan tatapan tajamnya yang seakan-akan ingin menghunusku. Aku yang melihat sikapnya dan mendengar perkataannya itu seketika itu juga tersulut emosi sehingga aku pun meluapkan semua pikiran yang ada didalam benak ku itu pada nya.
" Astaghfirullah hal adzim ibu... Picik sekali ya pikiran ibu tentang ayah ya..... Apa karena ayah lebih memilih menjodohkan Zahra dari pada menyekolahkannya sehingga ibu bisa berpikiran buruk seperti itu kepada ayah. Ibu tentunya tahu kenapa ayah tidak mengizinkan Zahra untuk melanjutkan pendidikannya. Bukan karena merasa terbebani dengan biaya sekolahnya bukan. Ayah tidak merasa terbebani dengan tanggung jawab ayah untuk menyekolahkan Zahra , hanya saja ayah merasa percuma jika kita menyekolahkannya tinggi - tinggi jika pada akhirnya nanti dia hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga saja."
Aku menjeda perkataanku sebentar sebelum melanjutkan perkataanku kembali.
"Ayah sering mencibir perempuan yang setelah lulus kuliah mereka lebih memilih untuk mengejar impian mereka dengan bekerja sehingga mereka menjadi malas untuk berkeluarga. Ataupun jika mereka mau berkeluarga mereka memilih untuk menunda untuk memiliki seorang anak demi karier nya.
Dan kalaupun mereka memiliki anak mereka lebih memilih menitipkan anak - anak mereka pada penitipan anak atau pada pembantu rumah tangga mereka agar mereka masih tetap bisa bekerja. Masak setelah mencibir mereka ayah malah membiarkan putri ayah untuk kuliah. Itu sama saja dengan ayah menjilat ludah ayah sendiri bu . Karena itu ayah tidak mengizinkan putri ayah untuk melanjutkan pendidikannya karena ayah tidak ingin putri ayah bekerja nanti nya. Ayah ingin putri ayah menjadi ibu rumah tangga yang baik yang bisa menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi keluarganya kelak."
Aku menghela nafasku panjang untuk meredam amarah di hati ku. Bagaimana pun juga aku masih membutuhkan bantuannya untuk membujuk Zahra agar mau di jodohkan dengan Adi lelaki pilihanku itu. Ku coba untuk mengambil hatinya agar dia ridho membantuku.
" Memangnya kenapa sih ibu sepertinya tidak suka dengan keputusan ayah untuk menjodohkan Zahra dengan Adi."
__ADS_1
Amira yang sedari tadi terdiam menatap kosong ke arah depan kemudian menolehkan kepalanya ke arah ku dan menatap mata ku . Lama kami saling pandang dalam keheningan hingga perkataannya memecahkan kesunyian yang sempat terjadi di antara kami.
" Zahra pemikirannya masih seperti anak kecil yah.. apa salahnya jika dia melanjutkan pendidikannya terlebih dahulu. Dan dengan bertambahnya usia dan pergaulannya nanti aku yakin bisa mengubahnya menjadi wanita yang lebih dewasa seiring dengan bertambahnya waktu".
Amira menjeda ucapannya sambil membetulkan posisi duduknya lalu melanjutkan ucapannya lagi.
" Tidak semua perempuan yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi itu akan menjadikan mereka menjadi seorang pekerja . Banyak juga di antara mereka yang hanya menjadi seorang ibu rumah tangga . Sedangkan ilmu yang mereka dapatkan di bangku kuliah mereka terapkan dalam mendidik anak-anak mereka. Jadi tidak ada yang namanya pendidikan yang sia - sia itu . Setiap ilmu yang kita peroleh pasti akan bermanfaat bagi kita ."
Aku mengusap wajahku dengan kasar mendengar ucapan Amira , Bisa di pastikan bahwa dia tidak akan mau membantu ku untuk membujuk Zahra agar mau di jodohkan dengan lelaki pilihan ku .
" Lalu sekarang apa maumu bu"
" Biarkan Zahra melanjutkan pendidikannya yah , Jika ayah masih ingin perjodohan ini tetap terjadi maka ayah bisa mengajukan pertunangan terlebih dulu sebelum Zahra lulus kuliah . Namun jika mereka ingin pernikahan tetap dilaksanakan maka mereka harus mau menerima Zahra yang akan melanjutkan pendidikannya ."
__ADS_1
Setelah percakapan ku dengan Amira istriku malam itu , membuatku berpikir dengan keras bagaimana caranya perjodohan ini dapat terjadi meskipun aku tidak mendapatkan dukungan nya. Bisa saja aku mengabulkan permintaan Amira untuk menyekolahkan Zahra terlebih dahulu tapi apakah Adi mau untuk menunggu Zahra hingga lulus kuliah. Dan jika aku menyekolahkan Zahra ketika Zahra menikah kesannya seperti aku ingin calon mantu ku nanti membiayai sekolah anakku itu sangat melukai egoku .Aku sangat menginginkan seorang menantu yang hapal Al Qur'an . Jika aku membatalkan perjodohan ini belum tentu aku akan mendapatkan spek menantu yang aku inginkan ini lagi. Karena jarang ada orang yang hapal Al Qur'an 30 juz seperti dirinya.
Mungkin aku terlalu berpikir dengan keras sehingga membuat kepalaku menjadi pusing . Sakitku ini membuatku memiliki ide untuk melancarkan rencanaku untuk melanjutkan perjodohan ini. Dan aku yakin rencanaku ini pasti berhasil.