
Terdengar suara motor yang di starter dan di ikuti dengan suara salam dari halaman rumah . Tak lama kemudian terlihat ayah berjalan masuk ke dalam rumah menuju ke ruang keluarga di mana istri dan anak menantunya berkumpul menanti kedatangannya dengan hati penasaran mengharapkan penjelasan darinya.
Mereka bingung ketika tiba - tiba ayah pulang dengan dua orang laki-laki muda . Dan makin bingung lagi saat ayah menyuruh memanggil Zahra untuk menghidangkan minuman kepada tamunya , dengan alasan ada yang ingin melihat Zahra . Dari perkataan ayah mereka yakin kalau Zahra akan dijodohkan dengan salah satu dari tamu laki-laki itu .
Ayah berjalan menuju ke arah sofa yang diduduki oleh ibu, kemudian iapun mendudukkan tubuhnya disebelah ibu . Di edarkannya pandangannya ke arah istri dan anak menantunya yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya . Di hembusannya napasnya dengan berat sebelum dia memberi penjelasan kepada keluarganya itu .
" huff .. Namanya Adi Nugraha , dia bekerja sebagai seorang guru di sebuah SD negeri , anaknya sopan dan yang paling utama adalah agamanya bagus . Ayah yakin dia bisa menjadi suami yang baik buat Zahra ."
Ibu bergeser mendekati ayah , diraihnya telapak tangan ayah lalu digenggamnya sambil di belainya.
"Yah apa ini tidak terlalu terburu - buru , Zahra baru setahun yang lalu lulus SMU . Sifatnya juga masih kekanak-kanakan . Tinggal dia yang menjadi tanggung jawab kita . Apa tidak sebaiknya kita turuti saja kemauannya untuk melanjutkan pendidikannya daripada menikahkannya "
Ayah menatap mata ibu tajam menahan rasa jengkel karena ibu tidak memberinya dukungan untuk menikahkan Zahra dengan calon pilihannya . Di lepasnya genggaman tangan ibu dari jemari tangannya.
" Ibu pasti paham kenapa ayah tidak mengizinkan Zahra untuk melanjutkan pendidikannya . Buat apa sekolah tinggi kalau nanti akhirnya hanya sebagai seorang ibu rumah tangga saja."
Ibu meraih kembali telapak tangan ayah dan digenggamnya kembali jemari tangan ayah serta di belainya dengan harapan suaminya jangan sampai marah dengan ucapannya .
" Iya... ibu paham yah ..ibu paham apa yang menjadi kekhawatiran ayah , tetapi kan jika nanti Zahra bisa menjadi orang sukses kita juga nanti yang bangga yah"
Ayah mendengus kesal mendengar ucapan ibu .
" Kalau ibu paham dengan kekhawatiran ayah , kenapa ibu malah berharap Zahra jadi orang sukses . Terus kalau Zahra bekerja bagaimana dengan cucu - cucu ayah ? di titipkan ke penitipan anak ? Iya kalau di urus dengan baik kalau sebaliknya bagaimana bu"
__ADS_1
" Kan nanti ada ibu yah yang akan menjaga cucu - cucu ibu ."
" Alhamdulillah kalau kita di beri umur panjang kalau tidak bagaimana bu nasib cucu kita nanti."
"Astaghfirullah ayah nyumpahin ibu cepat mati , iya yah?" tega ayah ya .. Sama ibu ."
Ibu menatap ayah pias sambil cemberut melepas genggaman tangannya dari jemari tangan ayah. Ayah yang melihat ibu merajuk mulai gelagapan dan segera menarik telapak tangan ibu dan menepuk - nepuk punggung tangan ibu .
" Ehh..Bu.. bukan begitu maksud ayah Bu , mana mungkin ayah nyumpahin ibu , ayah kan cinta mati sama ibu. "
Sontak ucapan ayah membuat wajah ibu seketika merona dan menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya . Namun ibu memalingkan wajahnya dari ayah agar suaminya itu tidak melihat senyumannya dan masih berpura-pura merajuk agar ayah mau mendengarkan pendapatnya. Ibu berharap agar ayah mau memenuhi permintaan Zahra untuk melanjutkan pendidikannya. Terus terang ibu masih belum rela melepaskan si bungsu untuk berumah tangga.
" Bu sudah dong bu, malu itu dilihat anak - anak ." Bujuk ayah sambil memandang anak-anaknya berharap mendapatkan bantuan dari anak-anaknya itu
Mas Syarif yang melihat kelakuan kedua orang tuanya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan mbak Fara menyebikkan bibirnya karena gara - gara pertengkaran kedua orang tuanya itu rasa penasarannya terhadap sosok lelaki yang akan di jodohkan dengan adik kesayangannya itu jadi tak terjawab.
Ucap mbak Fara sambil mendekati ibunya dan duduk disebelah ibunya itu sambil merangkul pundak ibunya.
" Oh ya ayah , lelaki yang bernama Adi Nugraha yang mau ayah jodohkan dengan Zahra itu yang mana yah dari kedua orang tadi?"
Pertanyaan mbak Fara membuat ibu , mas Syarif , mas Arif dan mbak Lia mengalihkan pandangan mereka ke arah ayah.
" Ehm.. itu.. Yang bernama Adi itu yang .. Ehm ..yang memakai baju biru." ucap ayah sambil tergagap.
__ADS_1
" Astaghfirullah ayah , tega banget sih ayah sama Zahra masak Zahra di jodohkan dengan yang memakai baju biru sih yah " pekik mbak Fara.
Ibu yang tidak ikut mengintip dari balik partisi rupa tamu yang akan dijodohkan dengan anak bungsunya lantas bertanya.
"Kenapa memangnya Far , jelek ya.. Orang yang akan dijodohkan ayah dengan adikmu itu ."
" Gimana ya Bu .ya aku jelasinnya.. aku itu bukannya body shaming ya sama dia tapi .."
" Aduh ribet banget sih Far kamu itu . Kalau mau bilang jelek ya ..bilang aja jelek gitu nggak usah bertele-tele bikin ibu pusing aja dengerinnya ".
" Ih ibu ini nggak sabaran banget sih . Aku kan mau menjelaskan tanpa ada maksud body shaming gitu sama dia."
" ya udah sih Far cepetan jelasin , ibu sudah penasaran ini."
" Dia itu warna kulitnya sawo matang bu , nggak jelek sih bu .. ganteng itu kan relatif ya nggak sih. Kalau menurut ku sih hitam manis gitu. Cuman badannya sehat betul , takut aja kalau nanti si Zahra kejepit tubuhnya , bisa penyet dia ."
Ucap mbak Fara sambil cekikikan namun seketika terdiam begitu mendapat pelototan dari ibu.
" Ayah.. Memangnya nggak ada apa cowok lainnya kok tega - teganya ayah menjodohkan Zahra dengan lelaki itu ? Sudah nggak di izinkan untuk kuliah , kerja juga nggak boleh , malah disuruh nikah sama lelaki yang bentukannya kayak gitu".
" Astaghfirullah Bu .. Nggak boleh menghina orang itu , itu sama saja dengan ibu menghina Allah karena ibu sudah menghina ciptaanNya." ucap ayah
" Astaghfirullah hal adzim , ya Allah saya tidak bermaksud seperti itu ya Allah ampunilah hamba ya Allah..".
__ADS_1
" Makanya Bu sebelum ngomong itu dipikir dulu jangan asal ngomong aja . Seperti halnya dengan ayah , ayah mencari calon menantu juga tidak asal comot aja , tapi juga harus sesuai dengan syariat agama. Bukannya pernah di jelaskan bahwa mencari jodoh itu jangan hanya di lihat dari kekayaannya atau penampilannya saja , tapi lihatlah agamanya. Kekayaan itu bisa di cari begitu pula dengan penampilan yang bisa di rubah , tapi pengetahuan agama yang baik bisa membawa kemaslahatan dalam kehidupan nya kelak. Dan kebetulan sekali bu calon pilihan ayah ini ternyata hafidz Qur'an loh bu , memangnya ibu nggak mau nanti di akhirat kita dipakaikan mahkota".
Ucapan ayah seakan jadi penanda bahwa apa yang di inginkan itu tidak bisa di ganggu gugat oleh keluarganya .