
Karena mbak Fara terus menggoda Zahra , Zahra jadi lupa dengan rasa cemas dan tegang yang sempat dirasakannya. Hingga tiba - tiba pintu kamar Zahra dibuka dari luar.
" Ayo Ra... Adi sudah datang... mbak Sri sudah selesaikan riasannya...?" ucap ibu terburu - buru .
" Sudah selesai kok Bu.... riasannya.." jawab mbak Sri.
" Ayo Ra...kita bersiap ke bawah untuk acara ijab kabul..." ucap ibu sambil membantu Zahra berdiri.
Zahra berdiri dan kemudian digandeng oleh ibu dan mbak Fara disebelah kanan dan kirinya. Mereka berjalan menuruni anak tangga menuju ke tempat ijab Kabul yang sudah dipersiapkan.
Para tamu undangan tampak terpukau dengan kecantikan Zahra. Begitu juga dengan Adi yang tak berkedip melihat kedatangan Zahra. Zahra kemudian dituntun untuk duduk di kursi disebelah Adi.
Setelah kedatangan Zahra acara ijab Kabul pun dimulai . Om Agus suami dari Tante Ria mulai membuka acara yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Quran yang dibacakan oleh om Jamal. Om Jamal membacakan surat an Nisaa ayat 34 - 35.
Setelah pembacaan ayat suci Al-Quran acara kemudian dilanjutkan dengan khotbah nikah yang disampaikan oleh penghulu. Setelah itu tibalah saat yang ditunggu - tunggu yaitu acara ijab Kabul .
" Wah sepertinya pada tegang semua ini ... sebelum acara ijab Kabul dimulai tolong di lihat dulu mas Adi apa benar yang duduk disebelahnya itu memang calon istrinya... takutnya nanti keliru..ha ..ha ..ha .." canda pak penghulu untuk mengurangi ketegangan yang dirasakan oleh pengantin pria.
Adi yang memang tegang secara otomatis langsung mengarahkan pandangan ke arah Zahra begitu mendengar ucapan penghulu . Lalu menganggukkan kepalanya setelah melihat kearah Zahra sambil berkata.
" Iya betul pak "
" Mbak Zahra apakah betul yang duduk di sebelah mbak Zahra ini adalah calon suami mbak Zahra ?" tanya pak penghulu.
__ADS_1
Zahra hanya menjawab pertanyaan pak penghulu dengan anggukan kepala tanpa melihat kearah Adi
" Loh bukan... terus yang mana calon suaminya "
Ucapan pak penghulu itu membuat semua orang melihat kearah Zahra. Zahra masih saja duduk diam sambil menundukkan kepalanya tanpa terpengaruh ucapan pak penghulu.
" ha..ha ..ha .. maaf saya hanya bercanda saja biar tidak pada tegang waktu ijab Kabul nanti " ucap pak penghulu tanpa dosa.
Semua orang akhirnya bernafas lega setelah mendengar ucapan pak penghulu, terutama Adi. Ayah Zahra hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan pak penghulu yang sempat membuatnya spot jantung.
" ayo kita mulai saja acara ijab kabulnya" ucap pak penghulu.
Ayah Zahra dan Adi saling berjabat tangan.
" Ankahtuka....au" ucap Adi yang mendapat sambitan dikepalanya dari pamannya yang duduk disebelahnya sebagai saksi. Adi yang memang tegang tidak menyadari kalau ucapannya salah.
" ha ...ha..ha...Jangan dipukul pak haji kasihan...sepertinya mas Adi tegang sekali sampai keliru pengucapannya...kita ulangi lagi ya mas...mas Adi sudah siap atau minum dulu...?"
"Siap pak"ucap Adi.
" Baik kita ulangi lagi... jangan tegang ya mas monggo pak haji dimulai lagi.." ucap pak penghulu
"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti Zahra Khairunnisa alal mahri lima ratus ribu rupiah hallan "
__ADS_1
" Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, waliyyu taufiq "
" Bagaimana para saksi sah.." tanya penghulu
" SAH" jawab semua tamu undangan yang datang pada acara ijab Kabul itu
" Alhamdulillah " ucap pak penghulu yang dilanjutkan dengan pembacaan doa
Setelah itu Zahra dan Adi menandatangani surat nikah. Ketika penghulu membuka halaman taklik talak untuk ditandatangani oleh Adi , Adi dengan tegas menolaknya.
" Maaf pak penghulu...saya menolak untuk menandatangani taklik talak..karena saya benar - benar berniat untuk menikah Zahra untuk selamanya dan tidak berniat untuk menceraikannya."
" Iya memang mas Adi ...kami pun juga berdoa agar pernikahan mas Adi dan mbak Zahra bisa langgeng sampai maut memisahkan ...namun adanya taklik talak ini sebagai perjanjian pernikahan tidak lain ialah untuk melindungi hak-hak istri dari perlakuan sewenang-wenang suami terutama masalah talak. Sekaligus juga sebagai acuan bagi suami agar lebih bertanggung jawab dan lebih menghargai istrinya dalam kehidupan berumahtangga. Dan saya yakin mas Adi pasti bisa menghargai dan bertanggung jawab terhadap mbak Zahra. Namun ada baiknya mas Adi menandatangani taklik talak ini agar mbak Zahra bisa lebih yakin lagi dalam berumah tangga dengan mas Adi." ucap pak penghulu meyakinkan Adi untuk menandatangani taklik talak.
Adi mengarahkan pandangan kearah Zahra yang dibalas anggukan kepala oleh Zahra. Akhirnya dengan berat hati Adi menandatangani taklik talak itu.
Adi semula tidak mau menandatangani taklik talak itu karena dia berfikir dengan ditandatanganinya taklik talak maka Zahra bisa menggugat cerai dirinya. Adi takut Zahra akan menggugat cerai dirinya hanya karena hal yang sepele.
Tapi kemudian dia berpikir lagi dan bersedia untuk menandatangani taklik talak itu untuk memberikan rasa nyaman pada Zahra . Dan dia hanya bisa berdoa agar Zahra bisa berpikir jernih dalam mengambil keputusan.
Setelah penandatanganan taklik talak, Adi menyerahkan mahar pernikahan kepada Zahra. Setelah itu Zahra mencium punggung tangan suaminya. Kemudian Adi mencium ubun - ubun Zahra sambil berdoa.
" Allahumma ini as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
__ADS_1
Setelah selesai acara ijab Kabul, Zahra kemudian dibawa ke kamarnya untuk berganti baju untuk acara resepsi pernikahan.