
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit akhirnya Adi sampai juga dirumah. Di teras rumah ayah , ibu dan adiknya sedang duduk di kursi teras seperti sedang menunggu kedatangannya
" Assalamualaikum " Adi mengucapkan salam sambil berjalan mendekati orang tuanya untuk bersalaman.
"Wa'alaikumsalam " jawab mereka
bersamaan.
" Gimana ngedate nya kak sukses ?" tanya adik Adi.
" Gagal .. bukannya ngedate sama Zahra tapi mala ngedate sama bapaknya." jawab Adi yang disambut dengan tawa adiknya.
" Bagaimana sih kamu itu Adi , mau pergi ke rumah Haji Abdullah kok nggak bilang - bilang ayah dulu . Gimana pasti kamu tidak diizinkan untuk mengajak Zahra ke pernikahan Rian, betul kan dugaan ayah ?" tanya ayah.
" Iya dugaan ayah memang betul " jawab Adi sambil mendudukkan dirinya di kursi yang masih kosong dengan wajah lemas.
" Makanya sebelum bertindak itu dipikir dulu , sudah tahu ayahnya Zahra itu orangnya kolot . Dimarahi nggak kamu sama pak haji di ?" tanya ayah.
" Beliau tidak marah-marah kok yah" jawab Adi
__ADS_1
" Iya takutnya nggak marah tapi tiba-tiba beliau membatalkan rencana pernikahan kalian . Ah... Malu-maluin ayah saja kamu itu " ucap ayah.
" Loh yang ngasih ide kan ibu yah..." jawab Adi.
"Omongan ibu ..kamu dengar, seharusnya kamu yang lebih paham tentang ilmu agama itu bisa memilah mana usulan yang baik mana yang bukan. Makanya jangan keburu nafsu kamu itu." Jawab ayah yang mendapat lirikan tajam dari ibu.
" Adi sebenarnya tadi sudah bilang yah kalau Adi tidak berduaan saja dengan Zahra tapi juga akan mengajak Ani juga tapi tetap tidak diizinkan juga." jelas Adi.
" Pemikiran orang itu beda - beda Di... ada yang berfikir laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim bisa pergi bersama asal ada perempuan lain yang menemani. Tapi ada juga yang berfikir dari pada tanpa sengaja berbuat dosa seperti berpandangan yang membuat zina mata lebih baik dihindari saja . Makanya kita jangan menyamaratakan pemikiran seseorang. Kita harus bisa menghormati pendapat orang lain " jelas ayah.
" Sepertinya ayah harus secepatnya pergi ke rumah Zahra." ucap ayah.
" Ada keperluan apa memangnya yah ?" tanya ibu.
" kenapa dengan rencana pernikahan Adi dan Zahra yah? apa pak Haji Abdullah membatalkan rencana pernikahan mereka ?" tanya ibu bingung.
" Ih ..ibu itu pikirannya jelek banget sih. Masak anaknya di doain pernikahannya batal." ucap ayah.
"Siapa sih yah yang mendoakan agar pernikahan anaknya batal itu, ibu itu tadi cuma tanya habis ayah kalau ngomong nggak jelas bikin ibu bingung aja." kata ibu.
__ADS_1
" Terus tadi ayah bilang akan membicarakan lagi rencana pernikahan Adi dan Zahra itu maksudnya apa yah?" tanya Adi penasaran.
" Ayah mau berembuk dengan ayahnya Zahra untuk mempercepat tanggal pernikahan kalian . Karena kelihatannya anak ayah sudah nggak sabaran untuk segera menikah." kata ayah
" Ih ..ayah apaan sih enggak lah ".kilah Adi.
" Nggak nolak kan ha..ha...ha.." sanggah ayah.
" Eh... yah...yang menentukan tanggal itu kan pak dhe Kholik . Nanti beliau merasa tidak kita hargai kalau kita mengganti tanggalnya." ujar ibu.
" Ya nanti kita ajak juga untuk ikut berembuk mengenai perubahan tanggal itu. Insyaallah beliau bisa menerima kalau alasannya karena cucunya sudah nggak sabar, pingin cepat-cepat kawin ha..ha...ha.." jawab ayah.
" Nikah.. yah.. nikah..." ucap Adi sambil memutar bola matanya jengah mendengar ucapan ayahnya.
" Lalu kapan rencananya ayah pergi ke rumah Zahra." tanya ibu.
" Ya .. secepatnya lah . tapi sebelumnya, ayah ngomong dulu sama pak dhe Kholik, nanti kalau pak dhe setuju baru ayah akan menghubungi Haji Abdullah kalau kita mau kesana untuk berembuk kembali." ucap ayah.
" Siapa saja yang akan ayah ajak kesana nanti ?" tanya ibu.
__ADS_1
" Ya paling pak dhe Kholik, sama mas Hasan sama ini si Adi nggak usah banyak - banyak." jawab ayah.
" Ya sudah nanti kita pikirkan lagi, sudah malam ni ayo tidur , ibu sudah capek." ucap ibu sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh anak dan suaminya.