Ku Serahkan Kepada Mu

Ku Serahkan Kepada Mu
Mau Nikah Nggak?


__ADS_3

Adi PoV


Seperti hari-hari biasanya selepas dari mengajar aku tidak langsung pulang, tapi mampir dulu ke toko milik orang tuaku yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolahan tempatku mengajar.


Ku parkirkan sepeda motor ku di emperan toko milik orang tuaku itu lalu ku langkahkan kaki ku mendekati ayah yang sedang duduk di atas kursi panjang dari bambu yang diletakkan dipojok depan toko sambil mengipasi tubuhnya .


" Assalamualaikum yah ." Ucapku sambil menjulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya. Ku cium punggung tangan ayahku yang mulai keriput itu lalu ku dudukkan tubuhku di sebelah ayah ku .


" Di ..mau nikah nggak ?"


Pertanyaan ayah yang tiba - tiba itu membuatku sempat kaget dan terbengong - bengong melihat ayah. Hingga ayah menanyaiku lagi aku baru sadar bahwa ayah memang serius dengan pertanyaannya itu.


" Mau nggak ?"


" Ya mau lah yah.. siapa sih yang nggak mau nikah.. memangnya kenapa ayah tiba - tiba bertanya seperti itu?"


" Tadi pagi.. haji Rojak ke sini beli air galon , terus dia cerita kalau temannya lagi cari calon mantu yang hafal Al-Qur'an dan kebetulan haji Rojak ingat kalau kamu itu seorang hafidz Qur'an makanya dia ke sini mau nawarin ke kamu barangkali aja kamu mau."


Adi menghembuskan nafasnya dengan berat setelah mendengar ucapan ayahnya itu.


" huff.. Memangnya ayah sudah tahu tentang seluk beluk keluarganya kok ayah setuju saja dengan tawaran haji Rojak "


" Bukannya ayah setuju dengan tawaran haji Rojak tapi kalau kamu mau ayah akan mencari tahu tentang seluk beluk keluarganya dari haji Rojak "

__ADS_1


" Aku sih terserah ayah saja dari pada nanti sudah terlanjur cinta malah tidak di restui sama ayah" sulutku ayah yang mendengar ucapan ku hanya ngengir melihat ke arah ku.


Ingatanku seketika mulai kembali ke masa ketika aku masih kuliah dulu . Dulu waktu masih di bangku kuliah meskipun penampilanku tidak sekeren foto model tapi lumayan banyak teman lawan jenis yang suka kepada ku . Bukannya aku halu namun itu adalah kenyataannya. Mereka menyukaiku karena kepintaranku dan selain itu juga karena aku adalah ketua Senat di Universitas ku .


Dan sekilas ingatanku mulai penuh dengan bayangan gadis cantik berhijab yang telah merebut hatiku . Namanya Difa Aulia Laksmi kami berada di fakultas yang sama . Terus terang saat itu aku tidak ada keinginan untuk sekedar mencari pacar ataupun jodoh . Pikiran ku saat itu hanya ingin fokus kuliah agar dapat segera lulus kuliah dan mencari kerja yang bagus untuk dapat menunjukkan kepada keluarga mantan ku kalau aku bisa sukses.


Ya .. Sebelumnya aku memang sudah memiliki seorang kekasih . Kami di jodohkan dari kecil ketika kami masih belum mengenal apa itu cinta. Seiring dengan berjalannya waktu akhirnya benih - benih cinta itupun tumbuh di hati kami . Sampai suatu ketika toko ayahku habis dilalap si jago merah. Hal itu membuat usaha ayahku mejadi bangkrut. Dan sejak saat itulah pihak keluarga kekasihku membatalkan perjodohan kami


Aku yang baru saja mengalami putus cinta dan melihat keadaan ekonomi keluargaku yang mulai tidak stabil , mulai terpacu untuk belajar lebih giat untuk mendapatkan beasiswa dan juga mencari kerja untuk membantu perekonomian keluargaku . Sejak saat itu pula aku jadi malas untuk mencari kekasih .


Beberapa kali aku mendapatkan surat cinta dari teman maupun adik kelas tapi tidak pernah ku gubris. Aku bukannya sok jual mahal tapi aku masih trauma dengan yang namanya sebuah hubungan percintaan. Aku takut ketika aku sudah terlanjur sayang dengan seseorang, namun orang tuanya tidak merestui karena keadaan ekonomi keluargaku yang pas pasan. Ya.. trauma itu masih menghantuiku.


Saat pertama kali aku mengenal Difa aku bersikap biasa saja , sama seperti aku memperlakukan teman - teman wanitaku yang lainnya . Meskipun sebenarnya ada rasa lain di hatiku untuknya saat melihat senyuman manisnya namun segera ku tepis karena sekali lagi trauma itu masih saja mempengaruhiku .


Sikap baik yang ditunjukkan oleh kakak Difa dan keluarganya ketika aku mengantarnya pulang membuat kepercayaan diriku tumbuh . Aku yang selama ini selalu di bayangi oleh trauma mendalam akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan cinta pada Difa . Dan alhamdulilah dia menerima perasaan cintaku . Sejak saat itulah kami menjalin hubungan percintaan.


Suatu ketika Difa mengungkapkan kepada ku bahwa selepas lulus kuliah dia akan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri seperti kakak - kakaknya yang lain. Hal itu membuatku kalut karena aku tidak bisa melihatnya jauh dari ku , sehingga aku berniat mengikatnya dengan tali pertunangan .


Aku sudah mengungkapkan niatku kepada Difa dan juga keluarganya , dan mereka menerima niatku dengan tangan terbuka. Tinggal restu dari kedua orang tuaku yang belum aku dapatkan. Aku berniat mengungkapkannya dengan mengajak Difa menemui keluarga ku sekaligus memperkenalkannya pada keluarga ku.


Hari itu masih teringat jelas di ingatanku ketika aku datang ke rumah dengan mengajak Difa bersama ku . Ibu dan adikku nampak antusias menyambut kedatangan Difa di rumah kami . Aku sangat senang dengan keakraban yang terjadi di antara mereka. Kami berbincang di ruang tamu menunggu kedatangan ayah dari toko , seperti hari biasanya ayah akan pulang sebelum adzan dhuhur untuk beristirahat.


Saat ayah datang aku mengutarakan niatku. Ayah hanya diam saja waktu itu, lalu beliau mengajakku ke halaman rumah. Beliau mengambil sebongkah batu dan memberikannya kepada ku.

__ADS_1


" Makan"


Aku mengernyit tidak faham dengan maksud ayah , sampai ayah melanjutkan perkataannya .


" Mau di kasih makan apa anak istrimu nanti , mau kamu kasih makan batu ,wong masih sekolah saja sudah minta nikah".


" Astaghfirullah ayah.. Aku hanya mau tunangan dulu nanti menikahnya setelah Difa lulus S2 aku yakin saat itu aku sudah memiliki pekerjaan yang mapan yang bisa menghidupi keluarga ku."


" Memangnya Difa masih mau menerimamu setelah dia lulus S2 wong kamu hanyalah lulusan S1, nggak usah mikir nikah - nikahan kuliah saja yang bener kalau sudah kerja baru mikir nikah"


Sejak saat itu hubungan kami menjadi renggang. Difa yang berasumsi bahwa ayah tidak merestui hubungan kami secara perlahan namun pasti mulai menghindari ku. Aku pun sejak saat itu juga mulai malas mencari kekasih lagi .


" Gimana mau nggak .. di tanya dari tadi bukannya jawab malah bengong "


Aku yang sedang melamun tentang masa lalu ku jadi terkaget - kaget setelah mendapat tepukan dari ayah di bahuku.


"A.. Apa yah.."


" His kamu ini .. Mau nggak nikah"


" ya . Terserah ayah saja"


" Ya udah nanti ayah akan bicara sama haji Rojak "

__ADS_1


__ADS_2