
Pagi itu Hong Bai diantar ketua dan para tetua perguruan cahaya langit hingga pintu gerbang perguruan. sebelum meninggalkan perguruan Hong Bai membuat segel ilusi untuk melindungi perguruan cahaya langit. tidak ada seorangpun pun yang dapat melewati segel tersebut jika tidak diijinkan oleh ketua perguruan.
Setelah selesai membuat segel tersebut Hong Bai pun meninggalkan perguruan dengan memanfaatkan ilmu meringankan badannya yang sudah sempurna, dia meloncat bahkan kadang melayang seperti terbang hanya dalam satu jam ia sudah sampai di sebuah kota kecil bernama kota beng dai. Hong Bai pun berjalan santai memasuki kota tersebut.
kota ini cukup ramai dan rata rata penduduknya adalah pedagang, namun yang anehnya adalah disetiap sudut kota selalu terlihat pengemis berbaju kembang berwarna merah. karena penasaran Hong Bai bertanya pada seorang penjual kain.
" maaf paman, mengapa kota ini memiliki banyak pengemis "
Mendengar pernyataan Hong Bai, paman tua itu tampak pucat, dan berkata dengan berbisik" anak mudah, sepertinya kamu orang baru di kota ini, saya sarankan jangan bertanya atau berurusan dengan mereka jika Masi sayang nyawa mu "
Hong Bai Masi ingin bertanya namun paman itu memberi isyarat agar Hong Bai pergi. akhirnya hong Bai pun meninggalkan sang paman menuju sala satu rumah makan. tidak lama kemudian Hong Bai sudah bergelut dengan makanan sambil menikmati pemandangan gunung yang menjulang tinggi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian empat orang pengemis berbaju kembang memasuki rumah makan. mereka langsung berjalan menuju meja Hong bai. salah satu pengemis mengebrak meja hong Bai dengan tongkat bututnya, sehingga makan yang Hong Bai pesan terlempar berserakan. namun anehnya tidak ada satu makanan pun yang mengenai tubuh atau baju Hong Bai. melihat hal ini seorang kakek tua tertawa terbahak bahak dan berkata " sungguh tak tahu diri, anjing mencari penggebuk"
Mendengar perkataan kakek tersebut, seorang pengemis melangkah mendekati dan berkata " apa kepalamu mau pecah ".
" hehehehe, apakah kamu memiliki kemampuan untuk memecahkan kepalaku" gumam kakek itu.
karena marah orang tersebut langsung memukul Tongkatnya kearah kepala kakek itu. namun akibatnya sangat mengejutkan bukan kepala kakek itu yang pecah tapi Mala tongkat si pengemis yang patah menjadi dua bagian.
Melihat hal tersebut Waja keempat pengemis itu pucat dan tanpa berkata apa apa mereka meninggalkan rumah makan. Hong Bai bergerak menuju kakek tua itu dan memberi hormat sambil berkata. " terimakasih atas pertolongan kakek "
" hehehehe anak naga, bukan hanya kuat tapi juga rendah hati. tanpa pertolongan ku mereka tetap bukan lawan mu, silakan duduk anak muda"
__ADS_1
" terimakasih kakek, bolehkah saya mengetahui nama kakek " ujar Hong Bai sambil duduk.
" hehehehe anak muda, saya sudah lupa nama saya, orang sering memanggilku dengan pemabuk tua. sudah tiga hari pemabuk tua ini menunggu dermawan yang mau membayar tagihan minumku. sayangnya sampai sekarang belum ada"
Mendengar keluhan pemabuk tua, Hong Bai pun memanggil pelayan dan bertanya berapa jumlah tagihan tersebut. pelayan menjawab dua keping emas. Hong Bai terkejut, dua keping emas dapat ia gunakan sebagai uang makan selama satu bulan. walau demikian Hong Bai tetap membayar tagihan tersebut.
" hehehehe sungguh beruntung, bisa bertemu naga yang dermawan, anak mudah saya sudah mabuk tolong urus kekacauan ini" ujar kakek sambil memoyongkan mulutnya kearah luar rumah makan.
Tampak banyak pengemis berbaju kembang merah sudah mengepung rumah makan tersebut. tampak keempat pengemis yang mengacau tadi berbicara dengan dua orang pengemis yang lebih tua sambil menunjuk kearah pemabuk tua dan Hong Bai.
bersambung........
__ADS_1