
Berisik dedaunan. Suaranya saling bersahutan seiring timbul tenggelamnya semilir angin. Sementara itu langit tampak cerah. Sebentuk bulan sabit begitu setia menghiasinya. Di dekatnya pun terlihat bintang yang bak menggoda dengan kerlingnya bagi siapa saja yang menatapnya.
Di dekat kolam seorang gadis duduk. Gadis berbaju merah itu, terlihat cantik, walau sebagian wajahnya tertutup rambut panjang yang hitam dengan sedikit gelombang itu. Mata gadis itu menatap lesu air kolam yang tampak berkilauan di basuh cahaya bulan. Yang sekali waktu tampak beriak karena digoda sang bayu.
Untuk beberapa saat gadis itu hanya menatap tanpa respon atas pesan yang alam kirimkan. Namun kemudian, terlihat jika sekali waktu tangannya mengusap lembut bulir bening yang mulai terjun bebas. Tentu saja hal tersebut sebagai penggambaran bagaimana kondisi hatinya ini. Gadis berbaju merah itu menangis. Isaknya kian mengguncang bahunya.
"Mengapa kalian sampai hati melakukan hal sekeji itu kepada ku?" ucap gadis itu penuh perasaan.
"Apa salah ku kepada kalian?!" ucap gadis itu lagi.
Kali ini nada suaranya telah berubah. Dari caranya bertutur, jelas ada amarah di sana. Tangisnya pun kian hebat sambil mengumbar kata-kata yang sarat dengan amarah.
Kemudian, tiba-tiba tangisnya terhenti. Wajahnya sedikit terangkat. Bulir bening yang semula terjun bebas kini telah susut. Matanya kini menatap jauh entah kemana. Begitu hampa. Begitu dingin.
Tak lama, terbit sebuah senyum dari sudut bibirnya. Senyum yang misterius. Dan bila siapa saja yang mendapatinya, tentu akan bergidik dan lari tunggang langgang.
"Nama ku, LAILA. Aku adalah putri seorang petinggi ternama dari sebuah lembaga pengamanan negara. Yang karena kecantikan dan kedudukan sosial ku, aku banyak digilai laki-laki dan juga dicemburui banyak perempuan.
Hidup ku begitu sempurna. Dan siapa sangka jika kesempurnaannya itu, menjadi malapetaka bagi ku. Aku mati. Cara ku pun begitu tragis, bahkan di luar nalar kemanusiaan.
Aku LAILA. Aku arwah penasaran yang menuntut keadilan*...." ucap Laila.
"Ah, berisik...!!" ucap seorang laki-laki.
Laki-laki itu duduk di sebuah kursi kayu taman, tak jauh dari tepi kolam dimana Laila berada. Dari posisi bagaimana ia duduk, jelas jika ia tengah teler. Terlebih kata yang terucap pun adalah khas nada orang yang tengah mengalami hilang kesadaran akibat pengaruh minuman keras.
Laila memalingkan wajahnya. Ia menatap laki-laki yang tengah duduk dan baru saja mengomentari rajukan singkatnya tadi.
"Apa dia berbicara dengan ku? Apa dia bisa melihat ku? Padahal aku tidak bermaksud menampakkan wujud ku kepadanya atau siapa pun saat ini" ucap Laila.
"Kenapa? Kau heran, aku masih bisa mengomentari omelan mu tadi? Tentu aku bisa, karena aku tidak mabuk. Aku tidak mabuk...!" ucap laki-laki dengan bernada khas orang teler.
"Sial...! Dia bisa melihat ku" ucap Laila.
"Heeei....jangan menggerutu. Memang kenapa jika aku bisa melihat mu? Apa kau bangsa dedemit yang tidak bisa dan tidak boleh melihat mu. Haha..."
"Ah, sial. Sudah banyak orang yang berusaha ku temui untuk dapat melihat ku, namun selalu gagal. Tapi... laki-laki mabuk ini, mengapa ia bisa melihat ku dengan mudahnya? Ow...apa karena ia tengah mabuk, sehingga ia bisa melihat ku?" ucap lirih Laila.
"Kenapa kau menangis? Apa kau sudah dihamili kekasih mu dan dia tak mau bertanggung jawab? Apa betul...?"
Laila diam seribu bahasa. Matanya menatap laki-laki itu. Ada kesedihan dan amarah tersimpan di sana.
"Dunia ini memang kejam, Nona. Dunia ini kejam...!!"
Begitu kata laki-laki itu sambil bangkit dari duduknya. Ia terhuyung. Tangannya bergerak ke sana-kemari. Kacau. Kemudian ia mencoba melangkah walau tak sempurna.
"Dunia ini kejam, Nona...." ucap laki-laki itu berulangkali di sela langkahnya yang terhuyung itu.
Laila yang melihat itu, tiba-tiba saja menjadi ringan. Ia mengikuti langkah tak sempurna laki-laki itu. Ia sendiri tak tahu mengapa ia melakukan itu. Yang pasti ada dorongan kuat yang menyerunya untuk mengikuti laki-laki tersebut.
"Aaaah....kau mengikuti ku?" ucap laki-laki itu dengan mata hampir menutup khas orang yang dalam pengaruh minuman beralkohol.
Laila menghentikan langkahnya. Ia tersenyum tipis. Bahkan sangat tipis. Matanya menilik jauh ke dalam manik mata laki-laki itu.
"Ah, jangan bilang kalau aku harus menikahi mu? Aku tak sudi. Memang aku laki-laki apaan...?" ucap laki-laki itu sambil terus berjalan dengan terhuyung.
"Ah, sial. Kau sudah membuat jalan ku bergelombang. Bahkan pohon itupun berputar-putar. Sepertinya ia menari. Haha..." ucap laki-laki itu sambil mengacungkan botol minuman beralkohol yang sejak tadi ia bawa.
"Ow...ternyata aku masih di tempat clubbing. Lampu di atas kepala ku pun masih berkedip-kedip mengikuti irama musik" ucap laki-laki itu sambil menunjuk langit yang bertaburan bintang saat itu.
"Ajep...ajep...ajep...ajep. Asyiik....Haha...." ucap laki-laki itu sambil menghentakkan tubuh.
Bak ada musik yang menghentak, ia berjoget dengan serunya sambil menyuarakan irama musiknya.
"Ajep...ajep...ajep...ajep...ajep..." begitu tirunya.
*BRUKK....!
UWEEEIK*....!
Laki-laki itu tersungkur. Ia memuntahkan sebagian isi perutnya yang kebanyakan berupa cairan itu. Iyyuuuh....
"Ah, sial...!" ucapnya kemudian.
__ADS_1
Kemudian laki-laki itu berusaha bangkit. Susah payah ia berusaha berdiri, namun gagal. Melihat itu, Laila pun mengulurkan tangan. Ia mencoba menarik tubuh tegap laki-laki itu. Dan berhasil. Laki-laki itu sudah berdiri karena bantuannya.
"Terima kasih...." ucap laki-laki itu.
Sebelah tangannya menepuk bahu Laila. Dan hal tersebut justru semakin membuat Laila terkejut. Tangan yang semula memegang lengan laki-laki itu mendadak terlepas begitu saja. Tak ayal lagi laki-laki itu kembali terjatuh.
"Eh, jatuh lagi. Kurang ajar kau gadis. Mengapa kau jahat? Kau sama jahatnya dengan gadis yang ku cintai dan kini telah meninggalkan ku. Huhuhu....!" ucap laki-laki itu sambil menangis meraung.
"Kau sama jahatnya...!'" ucap laki-laki itu kacau. Jelas ia masih dipengaruhi minuman beralkohol.
"Mengapa aku bisa menyentuhnya?" ucap Laila.
Ia menatapi tangan yang baru saja menyentuh laki-laki itu bahkan memegangnya kuat.
"Aku bisa menyentuhnya, memegangnya. Hak yang selama ini selalu gagal aku lakukan. Dan mengapa ia pun bisa menyentuh ku. Ini sungguh aneh" ucap Lalila.
Laila terus menatapi tangannya bergantian dengan sosok laki-laki yang sejak tadi masih meraung-raung dalam tangisnya.
"Apakah ini pertanda yang Tuhan berikan?" ucap Laila.
"Kejam...πΆπ΅ Kau sungguh kejam....!" begitu laki-laki itu bersenadung bak penyanyi terkenal.
Faktanya : π€ͺ
"Heeei...gadis. Apa kau sama dengan gadis ku itu? Kalau begitu pergilah. Jangan ikuti aku..."
"Siapa yang mengikuti mu. Ge-Er...." ucap Laila.
"Tapi...boleh juga aku mengikutinya. Aku penasaran mengapa ia bisa melihat ku bahkan menyentuh ku?" ucap Laila.
Laila mulai mengikuti langkah laki-laki yang masih saja mengumpati gadis yang ia maksud. Perlahan namun pasti, Laila pun mengikuti hingga ke dalam taxi. Ia duduk tepat di sebelah laki-laki tersebut. Bahkan laki-laki itu pun menatapnya sejenak.
"Kau ikut juga...? Ish... whatever" ucapnya.
Sejenak ia pun mendapat tatapan aneh dari sopir.
"Astaga aku lupa jika dia sedang teler. Ku kira ia tengah berbicara dengan seseorang..." batin sopir yang jelas-jelas bisa di ketahui Laila.
Laila tersenyum mendapati ungkapan sopir tersebut.
"Ini...." ucap laki-laki itu sambil menyodorkan sebuah kartu nama.
Sopir taksi pun menerima sodoran itu. Sejenak ia menatap nama dan alamat yang tertera pada kartu.
"Oemar Barraq. Jalan X no 1" batin sopir itu.
"Baik, Tuan..." ucap sopir itu kemudian.
"Oemar Barraq...Sepertinya aku kenal nama itu? Tapi siapa, kapan dan dimana?" ucap Laila dalam alamnya.
"Boleh aku ikut...?" ucap seseorang yang langsung menyembulkan wajah seramnya tembus kaca jendela mobil.
"Wush... astaga. Seram sekali wajah mu?" ucap Laila.
"Ough...kau arwah penasaran itu ya. Cantik juga" ucapnya.
"Menumpang silahkan, mengganggu jangan. Dia teman ku" ucap Laila sambil menatap laki-laki yang baru saja diketahui namanya itu.
"Ough...sesama arwah dilarang sabotase. Aku hanya menumpang. Aku lelah, Beib..." ucap arwah laki-laki itu.
"Baiklah..." ucap Laila acuh.
"Uh, dasar arwah penasaran baru..." ucap arwah laki-laki itu lagi.
Taxi pun melaju dengan kecepatan sedang. Lajunya meninggalkan sisa hamburan daun yang beterbangan sesaat untuk kemudian kembali ke bumi tempat asalnya berpijak.
Laila menatap Barraq yang terlelap. Sesekali ia meracau sambil menggerakkan tangannya kesana-kemari.
"Tampan juga..." ucap Laila.
"*Jangan bilang jika kau jatuh hati padanya?"
"Jatuh hati? Haha...Bisa ae*" ucap Laila.
__ADS_1
Tangannya menolak tubuh arwah laki-laki itu hingga keluar mobil. Ia berguling-guling terbawa angin.
"Maaf...!!" ucap Laila.
*ZEPH....!
"Ah, sial...Tenaga mu kuat juga*" ucap arwah laki-laki itu yang tiba-tiba saja sudah kembali duduk dalam mobil.
"Maaf..." ucap Laila lagi.
"Ora popo...." ucap arwah laki-laki itu sambil mengibaskan tangannya.
"Maaf, Tuan. Kita sudah sampai pada alamat yang tuan maksud. Tuan....Tuan...!!" ucap sopir itu.
Teriakan terakhirnya sukses menyadarkan Barraq.
"Ah, ya....Ini' ucap Barraq sambil menyodorkan dua lembar uang seharga dua ratus ribu.
"Ini terlalu banyak, Tuan..."
"Bonus..." ucap Barraq sambil keluar dari mobil.
"Jangan ikuti aku gadis. Kau pun laki-laki berwajah seram" ucap Barraq sesaat sebelum turun.
Kalimat yang baru saja meluncur dari mulut Barraq, membuat sopir mengernyitkan dahi sekaligus membuat bulu kuduknya meremang.
"Ga-gadis. Laki-laki berwajah seram? iiiihhh...." ucap sopir itu yang langsung memacu mobilnya.
"Ah, kau masih mengikuti ku, gadis. Sial..." ucap Barraq yang melangkah dengan terhuyung menuju sebuah bangunan besar berpagar tinggi berwarna hitam.
"Nama ku Laila..."
"Ah, apa peduli ku" ucap ketus Barraq.
"Aku ingin meminta bantuan mu, tuan Barraq..."
"Hei... darimana kau tahu nama ku? Apakah kau penguntit ku?" ucap Barraq sambil menyandarkan tubuh pada dinding tepian pagar.
Sebelah tangannya mengeluarkan benda pipih dari balik jaket hitamnya.
"Ah, sial...!" ucap Barraq saat benda pipih itu hampir terlepas dari tangannya.
"Dimaaan....! Aku di luar. Cepat buka pintunya...!"
"Baik, Tuan..." ucap seseorang yang dipanggil Barraq dengan Diman.
Tak lama kemudian, pintu pagar nan besar itu pun bergerak dan bergeser. Seorang laki-laki paruh baya tergopoh mendatanginya.
"Tuan...Tuan mabuk lagi" ucap laki-laki itu yang sepertinya adalah Diman.
"Dimaaan..." ucap Barraq sambil meraih bahu laki-laki paruh baya itu.
Diman pun langsung memapah tubuh tuannya itu. Selangkah demi selangkah, hingga keduanya memasuki sebuah rumah megah tanpa menyadari jika Laila turut serta di belakang keduanya.
WUSH.....!!
Tiba-tiba saja angin menerpa tubuh Laila saat memasuki rumah besar tersebut.
BRRR...!!
Laila tertegun. Matanya sontak menilik seisi ruangan. Tapi nihil. Laila tidak menemukan apa pun.
"Mengapa ada hawa yang amat dingin di rumah ini?" ucap Laila.
"Dimaaan...jangan sampai gadis itu masuk ke kamar ku" ucap Barraq saat menaiki untaian anak tangga.
"Gadis...? Tidak ada siapa pun, Tuan" ucap Diman
"Good...Aku tidak ingin waktu istirahat ku tidak terganggu"
"Baik, Tuan..." ucap Diman.
Sekilas manik matanya menilik sekitar. Ia selalu penasaran dengan kata yang terlontar dari mulut tuannya itu.
__ADS_1
"Iiiihhh....tuan Barraq horor. Lah jelas-jelas tidak ada siapa-siapa kok bilang ada seorang gadis di sini. Pake melarangnya masuk lagi" ucap Diman sambil terus memapah tuannya itu menuju kamar pribadinya yang super besar.