
Suasana mendadak jadi gaduh. Suara hiruk pikuknya mengudara hingga membumbung ke angkasa. Bukan saja berasal dari team medis atau team pengamanan, namun dari paparazi yang haus akan berita. Terlebih yang terluka adalah putra kedua dari keluarga El Khasif. Sosok yang selalu menjadi pusat pemberitaan. Bukan karena hal positifnya, namun kebalikannya untuk beberapa tahun terakhir ini.
Beberapa paparazi sukses mengambil beberapa gambar, walau sudah ada team pengamanan. Laila berdiri tak jauh dari tempat kejadian. Wajah pasinya melukiskan Kecemasan. Terlebih saat melihat kondisi Barraq.
"Bro...." ucap Barraq saat seorang laki-laki menghampirinya.
Uluran tangan Barraq disambut oleh laki-laki bertubuh tegap dengan potongan rambut cepak itu. Dia tak lain adalah Attar. Sahabat Barraq yang tergabung dalam team pengamanan negara.
"Bagaimana....?" ucap Barraq lagi lirih.
"Semua sudah diamankan. Keempatnya akan dibawa langsung ke pusat"
"Empat..?"
"Ya. Tiga dalam mobil dan satu lagi adalah penembak mu. Ia sudah tak sadarkan diri saat diketemukan. Dan ia pun memegang barang bukti berupa senjata Laras panjang"
Barraq mengernyitkan dahi. Ia yakin itu adalah perbuatan Laila. Kemudian sontak mata Barraq menatap sosok Laila yang berdiri tak jauh darinya. Hantu cantik itu tampak mengangguk. Ia mengiyakan keterangan Attar.
"Aku akan mengawasi pengamanan mu dan juga kasus mu ini. Semua bukti pun aman. Ku pastikan semua petugas yang terlibat tak kan terbeli. Jadi kau tak perlu khawatir. Mari kita tegakkan keadilan..." ucap Attar.
"Thanks, Bro..."
"Tak perlu berterima kasih. Ini adalah kewajiban ku sebagai sahabat juga sebagai petugas keamanan negara"
Barraq tersenyum. Tangannya terangkat memberi hormat. Ada banyak harapan yang terlukis di setiap gurat wajah tampannya. Harapan akan keberlangsungan hidupnya yang jauh lebih baik. Walau sesungguhnya bukan suatu hal yang mudah untuk mencapainya. Hal tersebut mengingat adanya dua kekuatan super, yaitu Emran El Khasif dan Ethan El Khasif. Keduanya adalah ayah dan saudara laki-lakinya yang secara tersamar telah menjadi musuh dalam hidupnya.
Kemudian bersamaan dengan itu team medis pun membawa Barraq menuju El Khasif Hospital untuk ditangani lebih lanjut. Diiringi Laila yang telah duduk tepat di sebelah seorang perawat.
"Maafkan aku, Kak. Karena aku kau terluka. Semula aku berfikir dengan berdiri di depan kakak, aku akan menjadi tameng lontaran peluru. Tapi aku lupa jika aku hanya arwah. Maafkan aku" ucap Laila sedih.
"Tak perlu disesali. Hilang nyawa pun aku rela..." ucap Barraq di sela batuk tertahannya.
Team medis yang mendengar kata Barraq saling menatap. Ketiganya merasa heran dengan sikap dan ucapan itu. Kemudian perhatian ketiganya kembali terpusat pada Barraq saat kata-kata kembali meluncur dari bibir Barraq.
"Jangan pergi. Tetap di sini bersama ku..." ucap Barraq.
Matanya menatap Laila. Namun kesalahpahaman pun terjadi. Perawat yang duduk di salah Laila mulai rikuh. Wajahnya memerah. Ia mengira setiap kata itu miliknya. Kedua team medis lainnya pun saling bertatapan. Ia tak percaya dengan apa yang mereka dengar dan lihat saat ini.
"Ya, Tuhan. Tuan Barraq meminta ku bersamanya. Aish....mungkin aku salah dengar. Atau mungkin aku sedang bermimpi" batin perawat itu.
Tangannya mengusap-usap telinga untuk memastikan pendengarannya baik-baik saja. Dan ia pun mencubit lengannya juga untuk memastikan bahwa ia tidak tengah bermimpi.
__ADS_1
"Aw....!" ucap perawat itu.
"Jangan mimpi kamu, Mela. Tuan Barraq bisa saja tengah terkena syok, makanya bicaranya ngelantur" ucap dokter Dara.
"Iy-iya, dok..." ucap perawat yang bernama Mela itu.
"Bagaimana jika benar. Wah, bakalan mendapat durian runtuh nieh. Hihi..." batin Mela.
"Sial dikiranya aku mengalami syok. Dasar perawatnya saja yang ge* er*" batin Barraq.
"Karenanya berhentilah berceloteh. Beruntung tidak dianggap gila. Hehe..." ucap Laila.
"Akh..." keluh lirih Barraq.
Kelurahan itu tentu saja langsung disambut rasa khawatir Laila. Pun juga dengan team medis yang ada.
"Kakak baik-baik saja...?" ucap Laila.
Sebelah tangannya langsung menggenggam jemari Barraq. Sementara Barraq tengah memejamkan mata sesaat sambil mengatur nafas yang sedikit payah. Team medis pun langsung bereaksi. Mereka kembali memaksimalkan segala upaya penyelamatan seorang Oemar Barraq, pangeran kedua keluarga El Khasif. Mereka tidak ingin dipersalahkan karena gagal memberikan pertolongan.
Kendaraan team medis melaju dengan kecepatan tinggi di antara laju kendaraan lain yang memadati sepanjang jalan menuju El Khasif Hospital.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
TOK.
TOK.
TOK.
Seseorang telah mengetuk pintu besar berukir itu. Tak lama seorang laki-laki bertubuh kekar dan berwajah tampan masuk ke dalam ruangan. Dia adalah Daniel, asisten pribadi Ethan. Saat memasuki ruangan, Daniel sedikit tergesa. Sepertinya ada kabar penting yang ingin disampaikan.
"Tuan..." ucap Daniel.
"Ow, Daniel..." ucap Ethan tanpa memutar tubuh.
Rupanya kekhasan suara Daniel sudah ia ketahui betul. Ethan menghela nafas panjang sebelum memulai katanya lagi.
"Kabar apa yang kau bawa, Daniel..?" ucap Ethan kemudian.
"Maaf, Tuan. Sepertinya tuan Barraq selamat..." ucap Daniel.
__ADS_1
Ethan terkesiap. Ia langsung memutar tubuh. Tatapannya mengarah Daniel yang berdiri tegak.
"Apa katamu? Ulangi..." ucap Ethan.
"Tuan Barraq sepertinya selamat..." ucap Daniel mengulangi.
BUK...!
Sebuah pukulan mampir di tubuh Daniel. Ethan benar-benar diamuk kesal. Daniel menahan pukulan itu. Walau sakit mendera, ia enggan membalasnya. Karena itu adalah sebagian dari tugasnya. Begitu kira-kira pemikiran Daniel.
"Sudah ku katakan kau harus mengawasi. Jangan percaya seratus persen kepada Nurdin sebagai eksekutor atau pun ketiga begundal keparat itu...!"
Membulat sempurna mata Ethan. Ia berang. Rencananya gagal.
"Maaf, Tuan..." ucap Daniel.
"Dimana Nurdin...?"
"Nurdin tertangkap, Tuan...."
"Apa...?!!"
Sedetik kemudian, amarah Ethan pun kembali membuncah. Amarah itu dilampiaskan pada botol minuman yang ada di meja. Ethan melemparnya sembarang. Beradu suara benda pecah. Pecahannya terurai beberapa jauh dari tempat beradunya.
Nafas Ethan memburu. Banyak umpatan yang sudah terlontar saat itu. Ethan benar-benar diamuk amarah. Kemudian Ethan pun berusaha mendamaikan suasana hatinya. Ia berusaha kembali berdamai dengan amarah yang selalu menggeluti jiwanya.
"Pastikan Nurdin bungkam. Tak sepatah katapun tentang siapa yang memerintahkan penembakan itu. Kalau perlu kau bungkam ia selamanya. Toh aku sudah tidak membutuhkannya lagi" ucap Ethan.
"Baik, Tuan" ucap Daniel mantap.
"Dan untuk Barraq, aku ingin pengobatannya saat ini menjadi yang terakhir baginya. Aku tidak ingin hidupnya lebih lama lagi. Pastikan itu...!"
"Baik, Tuan. Saya akan mengirim team terbaik untuk melakukan itu. Jika perlu, nanti saya yang akan menanganinya langsung..."
"Jangan bodoh. Aku ingin pembunuhannya tak diketahui. Terjadi dengan senyap. Hati-hati Barraq bukan orang yang mudah untuk ditaklukkan. Terlebih kini ia dibantu oleh seorang hantu perempuan. Begitu menurut paranormal kita...."
"Baik, Tuan...." ucap Daniel untuk kemudian berlalu meninggalkan ruangan dimana Ethan masih terdiam.
Dahi Daniel mengernyit. Menurutnya suatu hal yang di luar nalar apa yang baru saja diucapkan tuannya itu saat menyebut tentang hantu. Apa iya di zaman modern ini, hantu sudah bermetamorfosis mampu menampakkan wujudnya saat siang hari? Sungguh di luar nalar. Begitu kira-kira batin Daniel menanggapi ucapan Ethan.
"Aku harus membuat rencana cadangan. Sekiranya Daniel gagal, aku masih bisa menghabisi nyawa Barraq. Hah...Barraq. Hidup mu sungguh amazing. Kau sukses bahkan hampir menyamai kesuksesan ku. Dan itu membuatku semakin gusar. Aku tidak ingin ada dua matahari di keluarga El Khasif. Karena itu aku harus melenyapkan mu...!" batin Ethan.
__ADS_1
Tangan Ethan mengepal hebat. Hal tersebut seiring riak di hatinya yang kian buncah. Rupanya tekad Ethan telah bulat. Ia sudah kehilangan kewarasannya. Kedengkian sudah menghapus rasa kasih sayang dan kentalnya hubungan darah keluarga.