
Laila duduk di tepi brankar. Tangannya membetulkan rambut hitamnya yang tergerai dan menutupi sebagian wajahnya. Laila menatap Arini yang tengah tersenyum. Rupanya Laila tengah mencari penguatan agar ia semakin siap menghadapi operasi pembedahan yang telah direncanakan. Tak jauh darinya berdiri Wijoyo. Laki-laki yang selalu terlihat gagah dan berkarisma. Tak ketinggalan Attar yang duduk pada sofa di sudut ruangan.
Mata laki-laki tampan itu tak pernah luput sedetikpun menatap Laila. Suatu waktu Attar mengumbar senyum. Terlebih saat mata indah Laila mengarah padanya.
"Aku tak dapat melepaskan mu, Laila. Aku sungguh mencintaimu. Tak kan ku biarkan siapa pun mengambil mu dari ku. Sekalipun Oemar Barraq El Khasif. Maaf, kawan. Dalam segala hal kita kawan, tapi dalam urusan cinta kita adalah lawan..." batin Attar.
Perwira yang selalu terlihat tampan dan baik itu, kini mulai berubah. Sifat egoisme nya mulai kentara. Dan itulah sifat dasar setiap manusia yang selama ini berusaha diperangi. Dan kali ini, Attar sudah mulai kalah dalam peperangan tersebut.
"You are ready miss laila..?" ucap seorang dokter.
Dia adalah ahli bedah seantero Eropa. Perawakannya tinggi, berkulit putih dan bermata biru. Dokter Pieter, namanya.
Laila mengangguk mantap. Senyumnya pun terurai menyambut kedatangan dokter Pieter.
"We have read your file and in Shaa Allah, we will help Miss Laila get well as before.."
"In Syaa Allah? Are you Muslim...?" ucap Arini.
"Yes, madam. I'am muslim..."
Arini terdiam. Matanya menatap lekat dokter Pieter. Begitu pun dengan Wijoyo dan Attar. Terlebih Laila. Hatinya sedikit lega. Bahwa dokter yang menanginya beragama sama dengan nya.
"Okay. Doctor Diana please prepare the patient. We'll see you in fifteen minutes in the operating room..." ucap dokter Pieter.
"Sure, doktor..." ucap dokter Diana sambil mengurai senyum.
Sesaat setelah merespon ucapan Pieter, Diana langsung membantu Laila bersiap-siap. Derit brankar mengisi udara saat itu. Suaranya mengiringi perjalanan Laila ke ruang operasi. Tak ketinggalan suara ketukan sepatu dari langkah yang berkejaran.
Tak sampai sepuluh menit, Laila sudah berada di depan sebuah pintu dari suatu ruangan.
"Sorry Mr. And Mrs Wijoyo. You can only drive up to here. For further, You can wait outside the room"
"Yes, doctor. Please help our lovely princess..."
"Of course. Help us too with your best wishes.." ucap Diana yang di sambut senyum dan anggukan penuh harap dari Wijoyo dan Arini.
"Do the best, doktor...!" ucap Attar.
Diana tersenyum. Bersama dokter dan perawat lainnya, ia mendorong brankar ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Always up beat, laila. We love you...!" ucap Attar menyemangati gadis yang ia cintai itu.
Laila tersenyum. Ibu jarinya terangkat ke atas. Tanda bahwa ia mengiyakan ucapan Attar barusan. Mata Laila berbinar penuh asa. Jelas arah tatapannya adalah Wijoyo dan Arini, ayah dan ibunya.
"You are ready, Miss Laila...?" ucap Diana.
Lagi-lagi Laila mengangguk. Bibirnya pun menyunggingkan senyuman. Dan perlahan namun pasti cahaya di ujung tatapan Laila pun memudar. Untuk kemudian menghilang. Laila tengah berada pada titik paling tenangnya. Ya, Laila berada di bawah pengaruh obat agar proses operasi berjalan lancar.
Saat proses operasi berlangsung....
"Laila bangun. Laila...."
Sebuah suara membangunkan Laila. Suaranya begitu jelas mengisi rongga telinga. Mendengar suara yang tiba-tiba itu, Laila pun terkesiap. Perlahan ia membuka mata.
Sedikit demi sedikit berkas cahaya menyeruak, menggoda mata indah Laila. Cahayanya sedikit menyilaukan. Dan membuat Laila harus melindungi matanya dengan kedua telapak tangannya.
Satu...dua...tiga. Laila kembali berusaha membuka mata sempurna. Seulas bayangan mulai nampak di ujung tatapannya yang kian sempurna. Bayangan itu berasal dari sosok seorang laki-laki. Wajahnya tanpa. Ia duduk melipat kaki di rerumputan. Dannlipatan itu ternyata menjadi alas kepala Laila.
Laki-laki itu tersenyum menatap Laila. Senyum yang penuh perasaan.
"Kita bertemu lagi, Laila..." ucapnya.
Laila menajamkan matanya. Ia pun segera mengurai senyum sumringah. Laila mengenali siapa sosok laki-laki itu.
"Tentu. Ini aku. Haha..." ucap Berry.
"Aku kangen, Kak. Kangen sekali...."
"Aku juga. Tidak ada arwah yang aku kangeni, selain diri mu..." ucap Berry sambil menarik dagu Laila dengan gemas.
Kemudian laki-laki tampan itu membetulkan posisi duduknya. Melipat kaki dan meletakkan kedua tangannya di kedua lututnya.
"Kak Berry, apa aku sudah mati sehingga aku bisa melihat kakak lagi?" ucap Laila yang duduk di sebelah Berry.
"Tidak. Kau tengah menjalani operasi..." ucap Berry.
"Operasi...?"
"Ya. Apa kau tidak ingat? Kau terluka di sebagian wajah seusai membantu Oemar Barraq El Khasif. Saat itu kau koma dan arwah mu gentayangan mencari keadilan. Sekaligus menemukan cinta..."
__ADS_1
"Kak Berry bisa ae..." ucap Laila sambil tersenyum menyimpan malu.
"Lah betul kan...?"
"Ya, betul. Tapi sayang saat aku terbangun dari koma, aku tidak mengingat apapun. Termasuk kak Berry dan kak Barraq. Apa aku bisa menemuinya sekarang kak? Apa dia ada di sini?" ucap Laila sendu.
"Kau tidak bisa menemuinya. Kita berada di dunia arwah. Walaupun Barraq ada di hadapan mu, tapi ia tak kan bisa melihat mu..." ucap Berry.
"Mengapa? Bukankah saat lalu bisa. Apa bedanya dengan saat ini...?"
"Saat lalu kau memiliki urusan yang belum selesai. Tapi saat ini sebaliknya. Segala urusan mu sudah selesai..."
"Belum. Urusan ku belum selesai, Kak. Aku masih belum menemukan kak Barraq. Merasakan kasih sayangnya seperti di sini..." ucap Laila. Ucapannya panjang sepanjang kereta Babaranjang.
"Ingatan alam bawah sadar mu terkubur. Dan untuk mendapatkan kembali kau memerlukan pemantik yang ampuh..." jelas Berry.
"Pemantik...?" ucap Laila.
"Sebuah moment yang membuat mu mengharuskan mengingat kembali"
"Bagaimana aku mendapatkan moment itu?" ucap Laila penasaran.
"Berusaha saja mengingat. Maka moment itu serta-merta akan hadir dengan sendirinya..."
"Berusaha mengingat...." gumam Laila.
Ujung tatapannya mengandung banyak tanya. Gadis itu terus mencerna setiap kata yang diuraikan Berry.
"Bisakah aku menemui kak Barraq...?" ucap Laila mengakhiri diamnya.
"Tentu saja. Ia berada di ujung taman rumah sakit ini..."
"Apakah ia sakit hingga ia berada di rumah sakit ini?"
Berry tersenyum. Sebelah tangannya mengusap pucuk kepala Laila.
"Kak....." ucap Laila bernada manja.
"La, yang mempercepat waktu operasi mu adalah Barraq. Ia yang menghubungi dokter Pieter. Keduanya bersahabat, La. Dan keberadaannya di sini dalam rangka menemani mu, walau secara diam-diam. Barraq tidak ingin Attar terpancing emosi lagi"
__ADS_1
"Kak Barraq...." ucap Laila.
Matanya menyasar ujung taman. Berharap bayang Barraq ada di sana.