
Dentang jam dinding terdengar. Suaranya dua kali menggetarkan gendang telinga. Laila masih duduk pada kursi dekat Barraq terbaring. Berulangkali matanya menilik wajah tampan itu. Entah mengapa ada gelisah yang mendadak menyelimuti hati Laila. Sekuat apapun Laila berusaha mengikisnya, namun tetap saja rasa gelisah itu menduduki hatinya.
"Mengapa aku se-gelisah ini? Apakah ada yang akan terjadi? Ah, semoga saja tidak..." ucap Laila.
Baru saja Laila berhasil sedikit mengikis gelisah nya, Berry justru menambahinya. Berry mengatakan bagaimana situasi di luar ruang perawatan VVIP Barraq.
"La, mengapa tiga penjaga di luar terlelap? Begitu pun dengan perawat yang biasa terjaga di ruangan.Tak seperti biasanya?"
"Benarkah?!" ucap Laila.
Penasaran sontak menyeruak. Rasanya menjalari seluruh tubuh. Demi mengobati rasa penasaran, akhirnya Laila menilik situasi di luar. Dan benar saja ketiga penjaga dan seorang perawat yang biasanya terjaga, kini tengah terlelap. Mendapati situasi tersebut, Laila kian gelisah.
"Ada apa ini?" batin Laila.
"Jangan terlalu khawatir. Aku akan mengawasi dari luar..." ucap Berry yang langsung diiyakan Laila.
Tak habis separuh dupa, pintu pun terbuka. Seorang laki-laki bertubuh tegap berdiri di sana. Wajahnya sebagian tertutup topi hitam yang dikenakannya. Kehadiran laki-laki tersebut tentu saja mengundang tanya bagi Laila. Tatapan Laila pun mengikuti setiap langkah laki-laki itu.
"Siapa laki-laki itu? Wajah dan perawakannya tak asing. Tapi siapa dia...? Dan apa kepentingannya?" ucap Laila.
Kemudian laki-laki itu mengeluarkan sebuah benda dari balik jaket hitamnya. Ia pun membuka penutup benda yang baru saja ia keluarkan dan memuntahkan sedikit isinya.
"Jarum suntik...?!" ucap Laila.
"Cairan apa itu? Berbahayakah?" ucap Laila.
Matanya tiada henti menilik setiap gerak-gerik laki-laki itu.
"Hei...Apakah ia bermaksud memasukkan cairan itu lewat infus? Apakah ia seorang dokter? Atau perawat? Tapi dari penampilannya, jelas ia bukan keduanya" ucap Laila lagi.
"Jika bukan keduanya, maka aku mencium hal yang tidak beres..."
Laila mengitari laki-laki yang masih berdiri menatap Barraq. Di tangannya telah siap jarum suntik berisi cairan yang belum diketahui kegunaannya. Laila mengendus bak singa menandai mangsanya.
"Bangun, Kak...! Bangun...! Ada yang berniat menjahati mu" ucap Laila.
Tangannya mengguncang lengan Barraq. Ia berusaha membangunkannya. Namun nihil. Usahanya tak membuahkan hasil sedikit pun.
Tak lama kemudian, laki-laki itu memulai aksinya. Tangannya bergerak cepat mengarah pada selang infus Barraq. Namun belum lagi sempurna beraksi, Laila bergerak cepat menggagalkan. Hanya sepersekian detik saja, jika tidak maka cairan itu masuk ke infus Barraq. Tangan Laila menghempas figura yang menggantung pada dinding. Figura itu telak mengenai wajah laki-laki itu.
Laki-laki itu pun langsung bereaksi. Jarum suntik yang siap disuntikkan langsung terlepas dari tangannya. Mata laki-laki itu bergantian menilik figura yang kini jatuh di lantai dengan tempat asal figura itu berada. Hatinya yakin bahwa ini adalah perbuatan hantu perempuan seperti yang dimaksud Ethan pagi tadi.
"Jangan pedulikan. Lanjutkan urusan mu, Daniel..." batin laki-laki itu yang tak lain adalah asisten pribadi Ethan.
Daniel pun berjongkok. Ia kembali mengambil jarum suntik tersebut. Niatnya semakin bulat, bahwa ia harus memasukkan racun ke dalam infus Barraq.
Dan lagi-lagi usaha Daniel gagal. Laila kembali mengambil alih situasi. Kali ini sebuah vas bunga melayang dan beradu pada lengan Daniel untuk kemudian jatuh ke lantai. Suara gaduh pun kembali terdengar.
KREEEK....!
Pintu ruang perawatan terbuka. Seorang laki-laki berdiri di sana. Langkahnya tidak sempurna. Begitu perlahan, tertatih dan terkadang terhuyung. Bak zombie di film-film. Sejatinya laki-laki itu adalah satu diantara team pengamanan yang ditempatkan Attar. Melihat itu Laila tersenyum, karena ia tahu ulah siapakah itu. Ya, siapa lagi jika bukan ulah Berry.
"Arrrg...."
Begitu suara yang keluar dari mulutnya. Sungguh suara yang sukses membuat merinding disko.
"Aku...lawan mu" ucap zombie.
Suaranya begitu berat dan terdengar benar-benar mengerikan. Melihat kedatangan sang zombie, Daniel mengernyitkan dahi. Sementara Laila memilih kembali duduk dekat Barraq.
Laila sedih. Sebuah upaya Pembunuhan kembali Barraq alami. Dan hal tersebut membuat Laila semakin geram di tengah sedihnya.
"Kau akan mendapat keadilan, Kak. Jika kau masih membutuhkan waktu untuk pulih, maka aku yang akan melakukannya di tujuh hari terakhir ku ini..." ucap Laila.
Sebelah tangannya mengusap lembut wajah tampan Barraq. Hatinya merasa terenyuh atas ketidakadilan Ethan atas hidup Barraq.
Sementara itu, Daniel ternyata sudah asyik meladeni jurus sang zombie. Jurus yang sedikit merepotkan karena terkesan aneh dan sepertinya baru saja tercipta di dunia persilatan.
BUK...!
BUK...!
DUAK...!
Beberapa pukulan silih berganti mengenai tubuh Daniel. Dan laki-laki tampan, asisten pribadi Ethan itu meringis kesakitan. Langkahnya surut. Tak mau mengambil resiko lagi, Daniel pun berusaha meloloskan diri. Jurus yang ia lancarkan pun begitu mematikan sebagai upaya untuk mencari celah agar bisa secepatnya meloloskan diri.
__ADS_1
Dan benar saja, kesempatan itu pun datang. Secepat kilat Daniel menuju pintu yang terbuka. Langkah Daniel begitu panjang dan cepat. Namun upaya itu kalah cepat dengan reaksi yang diberikan Laila.
Ketika Daniel hampir sampai ke ambang pintu, Kalila menghempas daun pintu hingga tertutup rapat dengan cepat.
BRAKK...!
Begitu suara yang ditimbulkannya. Daniel terjungkal. Tubuhnya membentur daun pintu.
"Akh...!!" teriak Daniel.
Bersamaan dengan itu, Attar, Maleq dan beberapa perawat datang. Attar langsung melumpuhkan Daniel dan meringkusnya. Daniel pun langsung dibawa petugas team pengamanan ke kantor pusat.
"Dia ingin membunuh tuan Barraq dengan racun itu..." ucap sang zombie mencoba menjelaskan situasi.
Tangannya menunjuk pada suntikan yang tergeletak. Maleq pun langsung berjongkok. Ia mengambil dan menilik isi suntikan tersebut.
"Kita akan mengujinya. Sus, bawa ke laboratorium. Kita harus tahu apa isi cairan tersebut" ucap Maleq.
"Baik, Dok..."
"Sepertinya Barraq tidak aman berada di sini. Kita harus memindahkannya..." ucap Maleq lagi.
"Benar, Om. Tapi kemana? Apakah tidak akan beresiko memindahkannya sekarang pada kondisi Barraq yang belum stabil?'
"Layak kita coba. Sejauh ini Barraq menunjukkan indikasi yang kian membaik"
"Ow, syukurlah. Tapi kemana?"
Attar dan Maleq terdiam. Keduanya mencari tempat teraman untuk Barraq. Pada situasi ini akhirnya Laila dan Berry pun turut berfikir keras.
"Aha...! Rumah pantai" ucap Laila.
"Rumah pantai...?"
"Ya, Kak. Kakak ingat tidak?"
"Tidak..."
"Ish...dengarkan dahulu. Kak Barraq waktu lalu pernah berkata bahwa rumah pantai adalah tempat ia bersembunyi baginya. Tiada satu orang pun yang mengetahui keberadaannya" ucap Laila berapi-api.
"Ow, kalau begitu kita membawanya kesana. Tapi bagaimana kita memberitahu perwira tampan itu dan dokter Maleq?" ucap Berry.
"Laila...." ucap Barraq lirih.
Walau katanya terbata dan lirih, namun jelas jika Barraq menyebut sebuah nama, yaitu Laila. Bukan hanya sekali, namun dua sampai tiga kali Barraq mengulanginya. Dan hal tersebut tentu saja makin membuat Maleq dan Attar mengernyitkan dahi.
"Siapa, Laila itu?" ucap Attar.
Maleq menggeleng. Tanda jika ia pun tak mengetahui siapa gadis yang disebut Barraq.
"Barraq...Barraq" ucap Maleq.
Maleq menggugah lengan Barraq. Maleq berusaha membawa kembali kesadaran Barraq.
"Aahhh...." desah Barraq.
Begitu lembut. Nafasnya pun mulai teratur. Mata Barraq membuka perlahan. Senyum Barraq mengembang saat mendapati wajah Laila di sisi kanannya.
"Aku di sini, Kak..." ucap Laila.
"Syukurlah. Semula aku khawatir, aku sudah kehilangan mu" ucap Barraq.
Kata yang membuat senyum Laila mengembang, sekaligus membuat Maleq dan Attar diselimuti keheranan.
"Om, Attar...kenalkan. Dia Laila. Dia yang telah membongkar segala keculasan Ethan. Dan ia kehilangan nyawa pun karena upayanya untuk membawa bukti tersebut kepada ku..." jelas Barraq.
Jelas ini adalah sebuah ketergesaan. Karena penjelasan Barraq barusan benar-benar dianggap Maleq dan Attar sebagai hal yang diluar nalar. Maleq dan Attar hanya diam. Matanya sesekali menilik tempat yang ditunjuk Barraq. Tempat dimana Laila berada.
Maleq dan Attar berpandangan. Di ujung tatapannya jelas jika keduanya tengah dirundung opsi ketidakpercayaan.
"Laila...tak bisakah kau menunjukkan diri mu. Agar aku tidak dianggap tak waras?" ucap Barraq.
Mendengar permintaan yang bak perintah itu, Laila langsung menampakkan diri. Itupun setelah mendapat persetujuan Berry melalui anggukan kepala. Mata Maleq dan Attar membulat sempurna. Keduanya menatap Laila lekat. Seakan tak yakin dengan penglihatannya, Maleq mendekati Laila. Bahkan mengitarinya satu atau dua kali. Maleq menilik setiap inchi apa yang ada pada diri Laila.
"Hai...aku Laila" ucap Laila.
__ADS_1
Walau sedikit ragu namun acara perkenalan singkat itu terbilang sukses.
"Laila Ratri Hadiningrat...?"
"Ya, betul. Apa kak Attar mengenal saya?"
"Oh, tidak. Aku sempat membaca berkas mu di kantor"
"Jadi nona Laila kehilangan nyawa karena ingin menolong keponakan saya, Barraq?"
"Tidak. Itu hanya suatu kebetulan saja. Point nya adalah Laila ingin keadilan ditegakkan" ucap Laila.
"Terima kasih, nona Laila. Karena mu kesadaran Barraq kembali. Besar harapan kami, setelah ini kehidupan Barraq akan jauh lebih baik"
"Aamiin..." ucap semua hampir bersamaan.
"Jangan buat Barraq malu, Om..." ucap Barraq sambil tersenyum.
"Hehe...."
Begitu tawa semua menanggapi ucapan Barraq.
"Oya, lusa sidang perdana untuk ketiga pelaku. Dakwaan nya adalah pembunuhan terhadap nona Laila dan pemerasan juga upaya Pembunuhan terhadap Barraq. Dan Nurdin..."
Kata Attar terhenti. Matanya menatap Barraq yang mulai memberi perhatian ekstra terhadap ucapan Attar karena menyangkut Nurdin, orang kepercayaannya.
"Nurdin...?" ucap Barraq.
"Nurdin adalah orang yang berupaya membunuh mu. Tiga butir peluru yang bersarang di tubuh mu berasal dari senjata yang ia pegang"
"Tidak mungkin...! Kalau pun ia bertanggung jawab atas pasokan minuman keras ku, aku percaya tapi membunuh ku, itu hal yg mustahil rasanya ia lakukan" ucap Barraq.
"Maaf, Kak. Tapi itu faktanya. Laila yang menangkap basah Nurdin" ucap Laila meyakinkan.
Barraq menghela nafas. Mata Barrq terpejam.. Ada perih di hatinya yang tengah ia tahan.
"Aku ingin bertemu Nurdin..." ucap Barraq kemudian dengan lesu.
"Bisa saja. Asal kondisi mu memungkinkan" ucap Maleq.
"Kapan sidang perdananya. tiga hari lagi..."
"La...?" ucap Barraq.
Matanya menatap Laila. Sementara sebelah tangannya memegang luka pada dadanya yang terasa sakit.
"Tenang saja. Laila baik-baik saja. Paling tidak hari itu adalah hari ke lima puluh enam. Dan Laila bahagia karena sudah memberi hukuman terhadap pelaku. Laila akan pergi dengan tenang" ucap Laila.
Barraq terdiam. Katanya mandul karena lidahnya kelu. Hanya matanya saja yang menatap lekat wajah Laila.
"Oya, untuk tempat bersembunyi sementara kak Barraq bagaimana jika di rumah pantai saja?"
"Bersembunyi...? Dari apa? Mengapa?" ucap Barraq gamang.
"Sudha dua kali ada upaya Pembunuhan terhadap mu, Barraq..." ucap Attar.
"Apa...?!"
"Ya. Semua tengah dalam penyelidikan. Semoga secepatnya pelaku mengaku. Apa ia melakukannya atas kemauan sendiri atau berdasar suruhan orang lain..."
"Aku benar-benar tidak mengerti mengapa mereka melakukan itu kepada ku? Apa salah ku?"
"Mungkin kau akan makin tak mengerti jika tahu pelaku yang barusan..."
"Siapa dia?"
"Daniel...."
"Daniel....?!!" ucap Barraq terkejut bukan kepalang.
Fikirannya langsung melambung pada siapa sebenarnya sosok laki-laki yang berupaya menghabisinya. Pilu di hatinya kian bertambah sudah. Tangannya terkepal hebat. Nafasnya punemburu. Jelas dalam dadanya tengah ada badai yang tengah berkecamuk hebat.
"Daniel...? Ow, astaga...! asisten pribadi tuan Ethan. Ya, pantas Laila tak asing dengan wajahnya saat bertemu tadi"
"Sudah, obrolannya kita lannitkan nanti saja. Sekarang kita akan amankan Barraq ke rumah yang menurut Laila aman itu..." ucap Maleq.
__ADS_1
"Bagaimana cara kita membawa keluar tuan Barraq. Jelas ada banyak orang-orang suruhan Ethan atau siapa pun di luar sana..." ucap Maleq.
Semua menatap Barraq. Laki-laki tampan itu benar-benar tengah diliputi rasa kecewa dan amarah yang luar biasa. Entah, apakah luka di hatinya akan sembuh jika sekalipun pelaku utamanya tertangkap atau justru akan kian terluka? Semua menjadi turut merasakan luka dan kecewa Barraq saat ini.