LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 10. Tak Dapat Masuk


__ADS_3

Laila berdiri di depan sebuah kalender. Terlihat ada sepuluh angka yang sudah ia lingkari warna merah. Artinya tinggal dua puluh hari lagi sebelum ia berubah menjadi hantu pembalas dendam. Hati Laila kian gusar terlebih saat ketiga orang yang menjadi tersangka sudah tak dapat ia endus lagi keberadaannya. Laila sendiri tidak tahu mengapa demikian.


Laila berlalu dari kamar Barraq yang luas itu. Ia kini duduk pada sebuah cabang pohon yang berada tepat di luar kamar Barraq. Laila memainkan kakinya. Berulang kali kakinya tampak berayun. Matanya menatap jendela besar yang tampak sedikit terbuka. Jendela dari kamar Barraq yang baru saja ia tinggalkan.


"Dimana flashdisk itu berada? Jika saja cepat ditemukan, maka kemungkinan hidup Barraq pun akan berubah jauh lebih baik..." ucap Laila sambil terus menatapi Barraq yang baru saja terlelap.


"Jika aku bercerita tentang isi flashdisk itu, tentu Barraq tidak akan percaya. Terlebih jika kenyataan akan menyudutkan saudara laki-lakinya itu. Hadeuh...setelah aku mengingat beberapa hal, aku justru semakin gusar. Apa yang harus aku lakukan?" ucap Laila lagi.


Kemudian secepat kilat Laila berlalu meninggalkan tempat yang menurutnya ternyaman itu. Laila menuju jendela dari sebuah ruangan yang berada di sisi lain rumah besar itu. Perhatian Laila langsung fokus pada pembicaraan orang-orang di dalamnya. Tepatnya Ethan, Nurdin dan seorang lagi.


Dan dari tempatnya berada, Laila leluasa menyaksikan bahkan mendengar setiap kata dari perbincangan ketiga orang itu. Wajah Ethan merah padam. Sepertinya ia tengah diamuk amarah. Tangannya pun baru saja mendarat tepat di wajah Nurdin. Bukan hanya sekali, tapi berulangkali. Karena berulang, maka darah pun mulai membasahi sudut bibir Nurdin.


Melihat itu, Laila terkesiap. Tangannya membekap mulutnya sendiri. Hal yang tak perlu ia lakukan karena suaranya pun tiada yang mendengar.


Nurdin mengaduh tertahan. Tangannya mengusap wajah yang baru saja dihadiahi lagi tamparan keras.


"Ampun, Tuan. Ampuni mamang..."


"Itu peringatan bagi orang yang lalai. Mestinya mamang selalu ingat tugas yang aku berikan. Apa mamang lupa dengan keluarga mamang? Apa yang bisa terjadi dengan mereka jika mamang lalai melakukan hal sepele itu?!"


"Ya, Tuan. Maafkan mamang. Mamang tidak akan mengulanginya lagi"


"Ow, jadi si muka dua ini mengancam mang Nurdin dengan menjadikan keluarganya sebagai jaminannya. Lalu apa tugas sepele yang dimaksud tuan muka dua itu?" ucap Laila penasaran.


"Dan sekarang, apa sudah di stock keperluan Barraq akan minuman kerasnya?"


"Sudah, Tuan..."


"Good. Tambahkan narkoba sebagai bahan pelampiasannya. Aku ingin Barraq benar-benar terpuruk dalam hidupnya. Kalau perlu ia mati sehingga ia tak memiliki kesempatan untuk mewarisi perusahan El Khasif dimana pun. Aku tidak ingin ada dua matahari di keluarga El Khasif...!"


"Aku harus memberitahu Barraq..."!ucap Laila penuh penekanan.


"Iya, Tuan. Semua akan mamang lakukan. Tapi untuk narkoba, mamang sungguh tidak tega. Tuan muda Barraq begitu baik" ucap Nurdin.


"Mang Nurdin...! Kau pilih siapa? Keluarga mu atau Barraq!" ucap Ethan penuh penekanan.


"Tuan...." ucap Nurdin lesu penuh kegamangan.


"Cukup..! Sekarang pergilah. Keluar dari ruang kerja ku..."

__ADS_1


Laila tertegun. Hatinya beriak melihat perlakuan Ethan. Terjawab sudah asal luka yang selama ini ada di wajah dan beberapa bagian tubuh Nurdin. Laila menggeram. Matanya memancarkan aura tak bersahabat. Mendadak angin pun berhembus kencang. Hembusannya sempat menerbangkan tirai jendela yang berwarna putih itu sehingga keberadaan seorang laki-laki lain di dalamnya terlihat jelas.


Laila menilik laki-laki itu. Perhatiannya benar-benar teralihkan. Terlebih saat laki-laki bertubuh kerempeng itu memulai katanya. Laila benar-benar tertegun.


"Tuan benar. Rumah ini ada aura hantunya. Tapi bukan hantu jahat kok, Tuan" ucap laki-laki itu.


"Berapa pun saya bayar. Tapi, cepat usir hantu itu pak Darius" ucap Ethan.


"Usir...? Seperti ini, Tuan..."


BRAKK....!!


Jendela itu langsung tertutup dalam sekali hentakan tangan laki-laki itu. Dan itu pun dilakukan dari kejauhan. Laila tertegun menyaksikan kesaktian Darius. Hatinya khawatir. Darius berniat jahat terhadapnya.


KREEEK....!!


Jendela pun kembali terbuka. Darius berdiri di sana. Jelas jika matanya menatap Laila yang tengah melayang.


"Apakah ia bisa melihat ku? Setinggi itukah ilmunya?" gumam Laila.


"Pergi...! sebelum aku menghancurkan mu" ucap Darius.


Mendapati kepergian Laila, Darius tersenyum lebar penuh kemenangan. Senyum yang begitu misterius. Kini senyum itu telah berubah menjadi tawa yang begitu menyeramkan. Langit pun seakan mendukung, awan hitam tiba-tiba saja bergulung. Ajaibnya, pekatnya hanya menyelimuti sekitar rumah saja. Pada situasi ini, keadaan pun terasa mencekam.


Laila memilih mundur. Ia berlari menerobos pekatnya malam sejauh mungkin untuk sementara waktu. Setelah dirasa cukup, Laila menghentikan pelariannya. Laila berdiri. Matanya menatap jauh menembus gelapnya malam. Laila bergidik. Ada Kecemasan yang menyelimuti hatinya.


"Oh, ini yang ku takutkan. Si muka dua bermain halus. Ia benar-benar rakus. Tidak boleh ada dua matahari di keluarga El Khasif, Hah...maksudmu kau dan Barraq? Aku akan memberitahumu, kau bukan matahari nyata kau hanya pantulan matahari karena hati mu dipenuhi riak hitam...!" ucap Laila geram.


"Aku harus menemui Barraq..." ucap Laila lagi.


Laila kembali berkelebat. Bayangnya tak mampu ditemukan mata. Laila melesat menembus gelapnya malam. Tujuan hanya satu menemui Barraq dan menceritakan semua yang sudah ia dengar.


Namun Laila menjadi terkejut ketika kakinya hampir menapak pada bayangan rumah mewah itu, Laila terpental. Laila tak mampu memasukinya. Tubuh mungilnya menabrak pohon hingga berkerosak.


"Aaakh.....!!" teriak Laila.


Matanya menilik rumah mewah yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya kini. Laila merasa bingung dengan apa yang baru saja ia alami.


"Mengapa aku tak bisa memasuki rumah itu? Ada apa sebenarnya?" ucap Laila.

__ADS_1


Kemudian Laila kembali mencoba untuk masuk rumah. Kali ini dari sisi yang berbeda. Namun hasilnya nihil. Laila tetap gagal. Tubuhnya kembali terpental menjauhi rumah tersebut. Tak putus asa Laila pun kembali mencoba. Dan lagi-lagi ia kembali gagal. Tubuh Laila lagi dan lagi kembali terpental.


"Aaaakh...!!" ucap Laila.


Laila berteriak setiap kali tubuhnya terpental menjauhi rumah mewah tersebut. Laila terisak. Ia kian bingung bercampur putus asa. Laila tidak mengerti mengapa ia tidak bisa memasuki rumah itu. Laila benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana.


Sejurus kemudian, Laila memilih untuk sedikit menjauh dari rumah tersebut. Ia hanya duduk di sebuah batu besar dekat kolam. Kakinya memainkan air kolam hingga beriak. Fikirannya terus tertuju pada rumah mewah dimana Barraq berada. Bermacam spekulasi pun bermunculan tentang apa dan bagaimana mengatasi permasalah yang baru saja menyapanya.


"Apa semuanya ulah laki-laki berilmu bertubuh kerempeng tadi? Jika ya, maka aku benar-benar dalam bahaya. Ah, bagaimana caranya menemui Barraq dan menceritakan semuanya?Jangankan untuk bertemu dan bercerita, mendekati rumahnya saja aku tidak bisa. Hadeuh..." ucap Laila.


Laila termenung. Ia berusaha sekuat fikiran mencarai cara terbaik untuk menemui Barraq.


"Ahay....! Jika aku tidak bisa mendekati rumah itu, mengapa tidak yang di dalam rumah saja yang keluar. Artinya aku harus memanggil Barraq. Ya, ku rasa itu jalan terbaik"


Laila tersenyum sumringah. Sebuah caracsudah ia temukan dan patut ia coba. Laila pun langsung berkonsentrasi. Hati dan fikirannya benar-benar fokus pada apa yang ingin ia lakukan.


"Kak Barraq... lihatlah aku! Dengarlah aku...! Datanglah pada ku. Tolonglah, aku. Kak Barraq..." ucap Laila berulangkali.


Setiap kata ia ucapkan penuh konsentrasi dan penuh harap. Setiap kata yang di ucapkan bersamaan dengan hembusan angin lalu yang begitu lembut dan mendayu.


Sementara itu, Barraq yang tengah terlelap mendadak terkesiap. Ia terbangun. Matanya menilik sekitar. Dan ketika panggilan Laila kembali menelusup telinganya, Barraq menajamkan telinganya.


"Laila...." ucapnya.


Setengah berlari Barraq menuruni anak tangga menuju halaman. Memutar kemudi lalu melajukan mobil sport berwarna silver dengan cepat. Barraq menuju panggilannya.


"Kemana, Tuan..." ucap seorang asisten rumah tangga.


Pertanyaan yang tak digubris sama sekali oleh Barraq. Yuph....karena fikiran Barraq tengah berkonsentrasi terhadap panggilan Laila.


"Ah, paling juga mencari minuman keras sepeti biasanya" ucap asisten menjawab pertanyaannya sendiri.


Sesampainya di luar rumah, Barraq terdiam. Hatinya bertanya kemana ia harus pergi mencari Laila.


"Ah, sial... Peduli setan. Aku sudah di luar, lebih baik aku sekalian berjalan sebentar mengitari kota. Penat juga seharian ini aku di rumah" ucap Barraq melajukan kembali mobilnya.


"Kak..." ucap Laila.


"Astaga....!"

__ADS_1


__ADS_2