
Berry menatap Barraq. Tatapannya membersamai tatapan Laila yang sendu. Tatapan yang penuh dengan perasaan.
"Begitulah ceritanya, kak Berry..." ucap Laila.
Berry menggangguk. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Kini Berry mengerti mengapa Laila terkait dengan Baraaq. Unsur Balas budi. Kemudian Berry pun mengurutkan runutan peristiwa untuk memperjelas cerita Laila hingga sampai pada sebuah kesimpulan.
"Kau menemukan kecurangan tuan Ethan dan merasa harus memberitahukannya demi membalas budi? Begitu?"
"Em, lima puluh persen, ya. Tapi lima puluh persennya lagi lebih karena kemanusiaan. Keadilan harus ditegakkan, Bro. Bukankah sudah jelas tuan Ethan telah berlaku keji terhadap kak Barraq?" ucap Laila berapi-api.
"Ah, bilang saja jika kau sebenarnya kepincut dengan ketampanan tuan Barraq. Ya, toh...?"
"Ah, kak Berry tahu saja. Haha...! Sejak peristiwa itu di hati ku telah tertanam bahwa kak Barraq laki-laki yang baik. Terlepas dari segala kontroversi yang ada pada dirinya. Selain itu coba kakak fikir, gadis mana yang tidak kepincut dengan laki-laki sepertinya. Sudah tampan, baik, tajir pula"
"Wew...." celoteh Berry.
"Tapi bagi ku itu dulu, saat aku belum menjadi seperti sekarang" ucap Laila diakhiri dengan kekeh.
"Kau yakin, dia baik? Bukankah kau tidak tahu siapa dia?"
"Haha...kak Berry. Tentu aku tahu, karena aku sudah ingat. Lima puluh dua hari yang lalu anggap saja aku hantu amnesia"
"Haha...." tawa keduanya mengisi udara.
"Beruntung kau cepat mengingatnya. Jika tidak, maka kau akan menjadi hantu amnesia terus. Dan hal itu akan mempersulit untuk menemukan si pelaku"
Laila tersenyum. Hatinya beriak. Ada bahagia yang sekonyong-konyong menduduki hatinya. Menurut fikirnya, Situasinya saat ini bak sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Bagaimana tidak. Pertama, Laila berhasil menyampaikan apa yang semestinya ia sampaikan kepada Barraq. Yang kedua Laila berhasil menemukan pelaku yang telah menghilangkan nyawanya. Dan yang ketiga Laila menjadi tahu musuh yang sebenarnya, yaitu Ethan. Musuh bagi Barraq, dan juga musuh bagi Laila.
"Apa kau bahagia sekarang...?" ucap Berry.
"Ya. Paling tidak aku tidak akan menjadi arwah penasaran lagi, karena keinginanku sudah tercapai" ucap Laila.
"Good. Kau siap untuk pergi...?"
"Tentu saja. Tapi waktu ku masih tersisa delapan hari lagi, bukan?" ucap Laila.
Tangan Laila mengguncang lengan Berry. Kakinya menjejak-jejak lantai bergantian, bak bocah sedang merajuk. Sementara nada bicara Laila pun sedikit manja membuat Berry benar-benar merasa menjadi seorang kakak yang sesungguhnya. Pun demikian, sebenarnya dalam hati Laila terselip kegusaran. Terutama tentang bagaimana hari esok, saat ia benar-benar menghilang.
"Ya. Betul sekali. Apa yang akan kau lakukan di delapan hari ini terakhir ini?" ucap Berry.
Laila terdiam. Matanya menilik kedua tangannya yang mencengkram lengan Berry dan wajah Barraq bergantian. Mendadak ada sedih yang terlukis di ujung tatapannya. Fikirannya digelayuti ingatan terhadap ucapan Barraq waktu lalu. Dan kini hatinya terasa mengiyakan keinginan Barraq saat itu. Keinginan untuk mencari cara agar bisa tetap bersama. Tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terwujud. Rasanya sebuah kemustahilan. Laila menghela nafas. Ada bulir bening yang mulai mengerubuti matanya.
"Laila...." ucap Berry.
"Ah, ya. Kak Berry sering bergonta-ganti pakaian, apa hantu bisa melakukan itu?" ucap Laila tergagap karena baru terbangun dari lamunannya.
Mata Laila menatap Berry yang tengah menatap penasaran. Ya, Berry penasaran bagaimana Laila bisa dengan cepat menjungkirbalikkan suasana hatinya semudah membalikkan telapak tangan. Berry menggelengkan kepalanya. Dari ujung bibirnya terbitlah senyuman yang berujung sebuah kekaguman terhadap hantu yang disebutnya hantu baru itu.
"Ah, ditanya malah balik bertanya. Sebel...!" ucap Berry kemudian.
__ADS_1
"Haha.... Maaf-maaf. Yang ingin Laila lakukan, apa ya? Em, ya. Laila ingin menyaksikan akhir cerita El Khasif bersaudara. Terlebih Laila ingin melihat Kak Barraq bahagia. Itu saja. Sekarang kak Berry puas, pertanyaannya terjawab? Sekarang giliran Laila. Jawab pertanyaan Laila tadi"
"Jika aku bisa. Tentu Laila pun bisa"
"Ah, mengapa baru sekarang diberitahu? Kan Laila bisa ganti pakaian. Tidak putih ini terus. Bosan, kak..." gerutu Laila.
"Salah sendiri. Ga peka..." ucap Berry.
Jari telunjuk Berry menolak kepala Laila hingga berayun. Dan hal tersebut tentu saja membuat gadis itu kesal. Laila pun langsung meninggalkan ruangan diikuti Berry yang tertawa karena melihat kekesalan Laila.
"Kemana?"
"Mencari pakaian. Mall mungkin. Hehe...." ucap Laila sambil terus melangkah.
Namun baru beberapa saat meninggalkan ruangan, langkah Laila terhenti oleh suara yang amat mengganggu pendengarnya.
BIP.
BIP.
BIP.
Begitu suaranya. Suara yang sangat mengganggu. Suara yang terdengar begitu keras. Suara yang seakan telah lama menduduki rongga telinga dan kini mulai menerobos untuk menguasai isi kepalanya. Dan Laila menutup telinganya. Pun demikian, suara itu ternyata masih saja terdengar. Laila merasa pusing. Ia pun terduduk lesu.
"Suara apakah ini? Mengapa aku terus mendengarnya?" ucap Laila lirih.
"Laila..." ucap Berry cemas.
"Aku tidak mendengarnya, La. Suara apa?"
"Suara yang sama dengan yang ku dengar di ruang perawatan kak Barraq. Bip...bip...bip...bip. Aku pusing, Kak...."
"Tiada suara seperti itu, La. Kecuali di ruangan tadi" ucap Berry.
ZAP...!
"Akh...!"
Laila terkesiap saat tubuhnya sedikit terdorong. Ternyata seseorang telah melewatinya. Lebih tepatnya menembus tubuhnya. Laila pun penasaran. Ia memutar tubuh. Dan perhatiannya langsung tertuju pada sosok laki-laki yang mengenakan snelli berwarna putih.
Langkah laki-laki itu begitu tergesa. Namun yang membuat perhatian Laila tak lain adalah sepatu yang dikenakannya. Karena sepatu itu bukan kebanyakan yang sering dikenakan dokter atau pun perawat. Terlebih ia terkesan berusaha menghindari rekam jejak CCTV yang ada di beberapa titik pada koridor.
"Apakah kita perlu mengikutinya?Aku khawatir, Kak..." ucap Laila.
"Baiklah. Tapi ingat, hemat energi mu jika tidak ingin menghilang sebelum waktunya" ucap Berry.
"Ah, menyeramkan sekali sih kak..." ucap Laila.
Sementara itu dalam ruang perawatan VVIP. Setelah berhasil melewati team pengamanan, laki-laki yang mengambil peran sebagi dokter itu pun mendekati brankar dimana Barraq berada. Mata laki-laki itu menatap nanar ketidakberdayaan Barraq. Ujung bibirnya menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
"Apa kabar, Tuan Barraq? Kita bertemu lagi. Tapi maaf, kali ini kedatangan ku bukan untuk bermanis-manis. Maafkan aku. Jika ingin membalas dendam, balaslah kakak mu itu..." gumam laki-laki itu yang tak lain adalah orang suruhan Daniel, asisten pribadi Ethan.
Bersamaan dengan itu, ia mengambil sebuah bantal. Laki-laki itu menutup wajah Barraq dan menekannya kuat-kuat. Barraq yang masih dalam pengaruh obat tentu saja tidak mampu berbuat apapun. Tubuh kekar Barraq hanya bereaksi sesaat. Tubuhnya bergetar dan mengejat. Hal tersebut karena kurangnya asupan oksigen. Monitor electrocardiogram menjerit seakan memberitahukan kondisi tubuh yang tengah tak berdaya itu.
"Kak Barraq....!" ucap Laila dengan suara soprannya.
Laila berdiri tegak. Matanya menatap nanar laki-laki itu. Ada aura tak menyenangkan yang mendadak muncul di sekitarnya. Laila benar-benar diamuk amarah. Wajah cantiknya kini telah berubah. Kemudian tangan Laila terangkat ke atas. Ia menghempaskan sebuah vas bunga ke laki-laki yang tengah membekap wajah Barraq. Vas telak mengenai wajah laki-laki itu bergantian dengan gelas berisi air mineral. Bukan sekali tetapi berulangkali.
DUAK....!!
DUAK....!!
DUAK...!!
Kemudian setelah puas beradu, vas dan gelas pun jatuh ke lantai. Kedua benda itu pecah berkeping-keping. Suasana pun menjadi gaduh. Berada di tengah situasi tersebut, laki-laki itu pun terkesiap. Tubuhnya surut dan melepaskan bekapannya. Alih-alih melepaskan, tangan laki-laki itu justru spontan memegang wajah yang baru saja dihantam beberapa benda itu. Tangannya bergetar saat ia merasakan darah segar menitik dari setiap luka yang ada.
Laki-laki itu mengaduh hebat. Matanya tajam menilik setiap sudut ruangan. Rupanya ia tengah mencari pelaku.
"Ayo keluar...! Jangan jadi pengecut...!" ucap laki-laki itu.
Laila langsung menghampiri Barraq. Ia menyingkirkan bantal yang menutupi wajah tampan laki-laki itu. Laila menilik kondisi Barraq. Memastikan bahwa Barraq baik-baik saja. Laila tak peduli lagi dengan suara bip bip yang semula begitu mengganggunya. Kini ia kembali fokus pada laki-laki, pangeran kedua keluarga El Khasif itu.
Sementara itu, mendengar gaduh dari dalam ruangan te**am pengamanan pun langsung menerobos pintu masuk. Dan langsung mendapati fakta yang ada.
Sadar usaha telah gagal, laki-laki itu pun memilih untuk segera melarikan diri. Laki-laki itu langsung menerobos dua orang team pengamanan. Dan sukses. Namun ketika hampir sampai di ambang pintu, Berry menghadang dengan kekuatan penuh.
WUS...!
Angin berhembus kencang. Hembusannya sukses membuat laki-laki itu tersungkur. Pun demikian, laki-laki itu langsung bangkit dan berniat melanjutkan upaya melarikan dirinya.
Melihat gelagat yang kurang baik, team pengamanan pun langsung berupaya meringkus laki-laki itu. Tak tinggal diam, laki-laki itupun memberikan perlawanan. Tak ayal lagi terjadilah adu jurus yang cukup seru.
BAK...!
BUK...!
DUAK...!
Seorang laki-laki tiba-tiba saja menghambur dan turut berjibaku mengolah jurus. Dia adalah Attar.
Sementara itu diwaktu yang sama pada tempat yang berbeda. Nurdin duduk berhadapan dengan seorang laki-laki berjas dan berdasi. Wajahnya begitu serius menilik wajah Nurdin yang penuh lebam.
"Tuan Ethan ingin kau melakukan satu hal lagi..." bisik laki-laki itu.
Mendengar ucapan laki-laki itu, Nurdin yang semula menunduk kini menatap laki-laki itu. Tatapan itu seakan memberi isyarat bahwa ia butuh penjelasan lebih.
"Tuan ingin kau mengakui bahwa hanya kau saja yang merencanakan pembunuhan itu. Jika kau melakukannya, maka kehidupan keluarga mu akan terjamin. Tapi jika tidak, tentu kau tahu apa yang akan terjadi terhadap keluargamu. Selain itu, ingatlah jasa Tuan. Berapa banyak uang yang ia berikan untuk pengobatan adik dan anak mu? Camkan itu..." ucap lirih laki-laki itu.
Tangan Nurdin yang berada di bawah meja terkepal. Hatinya beriak dipenuhi amarah.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Tak mungkin rasanya aku mengkhianati mas Barraq lagi. Kasus penembakan ini saja sudah membuatku gila. Tapi, bagaimana dengan keluargaku...?" batin Nurdin.
"Camkan itu..." ucap laki-laki itu.