LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 19. Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Barraq berdiri di depan sebuah tebing. Tepatnya di jalan Akasia. Tempat dimana Laila kehilangan nyawa. Hati Barraq beriak saat melihat bangkai mobil yang hingga kini masih berada di dasar sungai. Hal tersebut karena sulitnya jalur evakuasi. Melihat kondisi mobil


Mata Barraq menilik sekitar. Menatap jalan berkelok yang tampak lengang. Hanya satu atau dua kendaraan yang melaluinya. Kemudian mata Barraq sekali lagi beredar. Kali ini matanya mengembara menatapi pohon-pohon yang sudah menjadi saksi bisu bagaimana nyawa Laila melayang. Juga aliran sungai yang dipenuhi bebatuan dan terlihat menonjol dari tempat Barraq berada. Barraq memejamkan matanya. Ia bak merasakan bagaimana situasi yang dihadapi Laila saat itu.


"Laila...." gumam Barraq.


"Ya, Kak..."


"Wish...astaga!" ucap Barraq.


Tubuhnya menjengkit karena terkejut.


"Hehe...." tawa Laila.


"Beruntunglah jantung ini buatan Tuhan. Coba kalau buatan manusia, pasti sudah copot" ucap Barraq.


Tangannya mengusap dada sebagai upaya mendamaikan degup jantung yang tengah berloncatan.


"Maaf ya....Hehe"


"Minta maaf kok sambil tertawa" ucap Barraq sambil membuang tatapannya.


"Kalau serius nanti kakak takut..."


"Mana ada takut..."


"Ow, begitu. Baiklah. Maafin Laila ya, Kak..." ucap Laila.


Bersamaan dengan kata itu, Laila menunjukkan ekspresi yang berbeda. Wajah pasinya berubah begitu serius. Laila pun mengulangi kalimat yang sebelumnya dengan nada dan ekspresi yang berbeda hingga menghadirkan sebuah keseraman.


"Maaf ya....Hehe" ucap Laila yang tetap diakhiri dengan tawa.


Barraq pun menjadi terkesiap. Sebelah tangannya menutup wajahnya. Barraq mengintai dari sela jarinya.


"Sungguh mengerikan...." ucap Barraq.


Tapi anehnya ucapan itu dibarengi dengan sedikit senyuman.


"Kakak becandain Laila ya...?" ucap Laila sambil mengguncang lengan Barraq beberapa kali.


Bibir Laila pun manyun dan siap dikucir.


"Haha....Kamu tahu. Hantu secantik kamu mau diseram-seramin juga tetep cantik" ucap Barraq.


"Tukang rayu...." ucap Berry.


"Sesekali boleh lah ya. Hehe...." ucap Barraq diakhiri dengan tawa yang renyah.


.


.


.


"Oya, kak. Apa yang akan kakak lakukan setelah mengetahui kelicikan Ethan?"


Barraq menghela nafas. Mimik wajahnya berubah. Katanya jadi minim. Ada kegamangan terlintas di wajahnya.


"Kak..." ucap Laila.


"Yaaa...Emm, aku akan membuat perhitungan dengan Ethan. Pertama karena sudah merusak hidup ku. Dan kedua karena sudah menghilangkan nyawa mu, baik secara langsung atau pun tak langsung"


"Kakak yakin?"


"Tentu. Saat ini pun aku tengah mengumpulkan bukti"


"Egh..." gumam Laila.

__ADS_1


Wajahnya mendongak tepat beberapa sentimeter dari wajah Barraq. Matanya menyiratkan bahwa ia butuh penjelasan lebih.


Melihat betapa dekatnya wajah Laila, sebelah tangan Barraq mengacak wajah Laila dengan gemas.


"Ya, cantik..." ucap Barraq sambil terus mengacak wajah cantik Laila.


Mendapat perlakukan itu, Laila meronta. Kedua tangannya berusaha menggapai lengan kekar Barraq. Namun gagal. Dan kini Laila bak menjadi bulan-bulanan. Laila berjalan setengah melonjak mengitari Barraq dengan tangan yang terus menggapai-gapai bak renang gaya bebas. Sungguh lucu dan menggemaskan. Barraq pun tertawa renyah. Begitu pula dengan Berry yang sejak awal sudah tertawa tiada henti.


"Ah, curang...." ucap Laila yang kemudian diam.


Laila merajuk.


"Aku kan cuma penasaran..." ucap Laila dengan nada sedikit merajuk.


"Ya, maaf. Aku bercanda. Jadi begini kemarin aku berhasil menemukan ketiga tersangka kita. Bryan, Alex dan Karna. Dan ketiganya akan bertemu dengan ku di sini..."


Kaki Laila surut. Hatinya beriak mendengar pernyataan Barraq. Bersamaan dengan itu terbayang kembali kejadian lima puluh hari yang lalu. Tepat di tempat itu. Laila menjadi gusar. Ia khawatir,


"Duh, tenanglah Laila..." ucap Laila.


Kemudian, tampak di kejauhan sebuah mobil berwarna hitam melaju. Suara deru mesinnya mengisi udara saat itu.


"Sepertinya itu mereka..." ucap Berry.


Sontak perhatian Laila dan Barraq tertuju pada mobil yang baru saja berhenti di tepi jalan. Terlebih saat tiga orang laki-laki berjaket warna hitam terlihat keluar mobil. Ketiganya melangkah menuju Barraq berada. Tak sedikitpun mimik wajahnya melukiskan apa saja kemungkinan yang telah direncanakan. Ketiganya begitu gontai melangkah.


"Tuan Barraq..." ucap Alex dengan suara khasnya yang parau.


"Ehm..." gumam Barraq.


Senyum Barraq sedikit terurai. Matanya menilik ketiga laki-laki tersebut. Sementara Laila mengawasi dari tempat yang tak jauh. Laila penasaran apa yang tengah direncanakan Barraq ataupun reaksi dan tindakan ketiga laki-laki itu.


"Tawaran tuan kami terima. Semua pertanyaan Tuan akan kami jawab. Silahkan..." ucap Alex.


Barraq tersenyum. Kemudian satu persatu pertanyaan itu pun meluncur. Mulai dari apa yang mereka lakukan pada limapuluh hari yang lalu di jalan Akasia tersebut, Seperti apa kronologi nya, sampai siapa yang memerintahkan untuk penghilangan nyawa Laila. Semua di jawab dengan jelas dan begitu gamblang.


"Nah, tuan Barraq. Sekarang anda tahu siapa dalang sebenarnya. Dan kami menagih janji mu. Mana upah kami?" ucap Alex.


"Di balik pohon itu. Silahkan ambil..." ucap Barraq dengan suara bergetar menahan amarah.


Sontak ketiganya mengarahkan perhatiannya pada tempat yang dimaksud Barraq. Senyum ketiganya pun mengembang. Dan langkah kakinya langsung berpacu menuju tempat tersebut.


Sementara itu melihat kondisi Barraq, Laila menghampiri. Tangannya mengusap perlahan lengan kekar Barraq. Wajah pasi Laila melukiskan sebuah penyesalan.


"Maafkan aku, kak..." ucap Laila.


"Bukan salahmu. Ethan lah yang bersalah. Ia telah gelap mata. Kejahatannya terhadap ku rupanya tak ingin terbongkar sehingga dia tega melakukan hal keji kepada mu. Sungguh aku sudah tak mengerti lagi seperti apa saudara laki-laki ku itu" ucap Barraq.


"Tuan Barraq...! Terima kasih...!" ucap Alex.


Tangannya mengangkat sebuah tas berukuran sedang yang baru di temukan Karna. Tawa ketiganya pun terdengar puas.


"Oya, tuan Barraq. Kau mendapat salam dari tuan Ethan, Kakak mu..." ucap Bryan.


Tangannya berisyarat. Entah apa. Namun bersamaan dengan itu suara letupan senjata pun nyaring mengusik telinga.


DOOR...!


DOOR...!


Kemudian pada detik berikutnya, dua butir peluru tengah melesat menghampiri Barraq. Melihat situasi itu, Laila terkesiap. Ia jadi rikuh. Apa yang harus ia lakukan di situasi tersebut. Terlebih kejadiannya begitu cepat. Tanpa ba-bi-bu akhirnya Laila pasang badan. Ia menjadi tameng Barraq.


BLAST....!!


Peluru menembus tubuh Laila. Lebih tepatnya melewati tubuh Laila. Laila lupa, bahwa ia kini hanyalah hantu yang tak kasat mata. Wal hasil, peluru itu tetap bersarang pada tubuh Barraq. Darah segar terpercik hingga membasahi pakaian yang dikenakan Barraq.


"Akh....!!" keluh Barraq.

__ADS_1


Tangannya mendekap dua luka dimana dua butir peluru bersarang. Tak lama kemudian tubuh Barraq pun jatuh. Tubuh kekarnya tak berdaya. Melihat itu, Laila histeris.


"Kak Barraq...!!!" teriak Laila.


Namun bukannya menghampiri Barraq, Laila justru mengarah pada tempat lain. Ia dengan cepat sudah berada pada suatu tempat. Tempat dimana si empunya peluru melancarkan serangannya. Seorang laki-laki tengah duduk bersandar pada pohon besar. Nafasnya turun-naik begitu cepat. Peluh pun telah membasahi pakaiannya. Matanya terpejam dengan wajah pasi.


"Maafkan aku, Tuan.... Maafkan" ucap laki-laki itu berulang kali.


"Nurdin....!" ucap Laila.


Wajah pasinya terlihat terkejut saat mengenali siapa laki-laki itu. Laki-laki yang di tangannya tergenggam senapan berlaras panjang. Senjata yang telah digunakan untuk memuntahkan peluru. Tangan Laila mengibas, udara di sekitar pun berhembus kuat dan menghempaskan sepotong dahan mengarah kepada Nurdin.


Buk....!!


"Akh....!!" keluh Nurdin.


Keluhnya bertepatan dengan dahinya yang menitikkan darah akibat terkena lemparan dahan. Nurdin memegang dahi yang terus menitikkan darah. Matanya menilik sekitar. Ia mencari penyebab hingga dahinya terluka. Namun nihil. Nurdin tak menemukan apa pun yang dapat dipersalahkan.


Nurdin tidak tahu jika tak jauh darinya berdiri Laila dengan wajah yang tak bersahabat. Kemudian sekali lagi Laila mengibaskan tangannya. Dan seperti sebelumnya, angin kembali berhembus kencang. Lagi-lagi menghempaskan dahan-dahan kering yang berserakan. Dahan-dahan beterbangan menuju Nurdin. Melayang sesaat di hadapan Nurdin.


Melihat kejadian itu Nurdin terkesiap sekaligus ciut. Ia beringsut. Tubuhnya kian lekat pada pohon yang disandarinya. Nurdin benar-benar dirasuki rasa ketakutan yang luar biasa. Dan atas rasa itu, akhirnya celana pun menjadi basah. Nurdin ngompol.


"Dasar manusia tak tahu berterima kasih....!" ucap Laila.


Bersamaan dengan itu, dahan-dahan kering yang sudah bersiap itu pun langsung menghampiri tubuh dan wajah Nurdin. Satu persatu pukulan pun bertubi bersarang pada tubuh dan wajah Nurdin.


"Akh...!Akh...!Akh...!" keluh Nurdin berulangkali saat satu persatu dahan itu telak mengenainya.


Sementara itu, melihat Barraq bersimbah darah, Alex dan lainnya tertawa hebat. Tawa yang penuh dengan kepuasan.


BRREM...!!


BRREM...!!


Deru mesin kembali mengisi udara. Alex dan kedua rekan lainnya tengah melaju dalam mobil berwarna hitam itu. Tawa keduanya masih terdengar saat melewati Barraq yang terduduk lesu sambil mendekap luka di tubuhnya.


"Terima kasih, Tuan Barraq. Kami yakin dengan luka mu itu kau tidak akan bertahan lama. Ck...Ck...Ck, adik yang terbuang. Haha...." ucap Alex.


"Kalian...!" ucap Barraq kesal.


Tubuhnya hampir saja bangkit. Namun gagal. Hal tersebut karena tertahan oleh rasa sakit yang mendera.


"Berry...hentikan mereka" ucap Barraq lirih.


Bersamaan dengan itu, Berry pun beraksi.


WUSH....!!


Angin tiba-tiba saja berhembus kencang. Saking kencangnya hingga menumbangkan sebatang pohon di sisi kiri jalan. Dan...


BOMB....!!


Pohon tumbang tepat menghadang laju mobil. Hal tersebut tentu saja membuat Alex tak mampu menghindarinya. Wal hasil mobil pun menabrak pohon.


*BRAAKKKK....!!


NGIIINGNG*......!!


Mobil melenting sesat di udara untuk kemudian terjun ke bumi tanpa ampun. Suara krosaknya terdengar begitu dahsyat hingga siapa saja yang melihatnya pasti akan menahan nafas karena ngeri.


Barraq menghela nafas. Ia tak bermaksud menghentikan dengan cara yang demikian. Namun apa mau dikata segalanya berlangsung begitu cepat. Kemudian di sela rasa sakit yang mendera, Barraq mengeluarkan benda pipih dari balik jaketnya. Barraq menghubungi sebuah kontak yang tertera di sana.


"Jalan Akasia..." ucap Barraq ketika terhubung.


"Baik..." ucap seorang laki-laki di ujung telepon.


Bersamaan dengan itu Barraq terkulai lesu.

__ADS_1


"Kak....!!" ucap Laila histeris.


__ADS_2