
Langkah Laila begitu bersemangat memasuki gedung perkantoran El Khasif Group yang sudah lama ia tinggalkan itu. Laila mendapat panggilan kerja kembali dari perusahaan terbesar itu. Walaupun berbeda dari tempat magang sebelumnya, namun Laila tetap berbahagia dan berbangga hati. Bagaimana tidak, situasi saat ini artinya ia dapat kembali satu atap dengan pemilik El Khasif Group, Oemar Barraq El Khasif.
"Selamat pagi, Laila..." ucap seorang laki-laki dari balik mejanya.
"Selamat pagi, Pak. Maaf saya terlambat..." ucap Laila.
"O...belum. Masih sepuluh menit lagi. Oya, saya Yoga...." ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangan.
Laila tersenyum. Tangannya menyambut uluran tangan Yoga.
"Pasti kau bingung bagaimana aku bisa mengenal mu?" ucap Yoga sambil melangkah lebih dekat ke hadapan Laila.
Sebelah tangannya pun berisyarat agar Laila mengikuti langkahnya. Laila pun mengikuti tanpa menjawab pertanyaan Yoga.
"Aku yang memeriksa berkas mu dan merekomendasikan kepada HRD. Karenanya aku hafal betul wajah mu, Hehe..."
"Bapak bisa saja. Well , terima kasih sudah memberi kesempatan kepada saya..."
"Nah, ini meja mu. Di sebelah meja saya..."
"Meja bapak? Bukannya meja bapak yang tadi?"
"Kalo pak Yoga bebas memilih meja dimana iya suka" celetuk seorang pegawai.
"Haha...." sambut lainnya dengan tawa.
Pagi itu pun diwarnai perkenalan dan celoteh canda dan tawa. Laila merasa lega, kehadirannya dapat diterima oleh pegawai dalam ruangan tersebut. Laila berfikir bahwa ini adalah suasana yang sangat ia perlukan untuk mendukung kinerjanya saat ini.
"Selamat bergabung, Laila...." ucap pegawai lainnya.
"Terima kasih. Mohon bimbingannya bapak..." ucap Laila dengan senyum khasnya.
"Laila, lima belas menit lagi kita meeting ya"
"Meeting....?"
"Ya. Tidak perlu cemas. Ini hanya meeting internal divisi kita saja"
Fiuh....
Laila lega. Kecemasan sesaat yang ia rasa tak berdasar. Laila pun kembali pada pekerjaan pertamanya, yaitu menyalin beberapa file yang ternyata akan digunakan saat meeting nanti. Dan satu keuntungan baginya, ia dapat mengetahui bahan meeting pada saat nanti.
__ADS_1
Laila mengumbar senyum setiap disapa setiap pegawai yang berpapasan dengannya. Sekaligus membalas sapaan tersebut dengan ramah.
Sepuluh menit berlalu. Laila sudah selesai dengan tugas pertamanya. Ia pun mulai bersiap untuk mengikuti meeting sesuai informasi yang diberikan Yoga.
Tiga menit menjelang meeting dimulai. Laila melangkah cepat mengekori langkah Yoga dan Dipta menuju ruang meeting. Tumpukan file yang ia bawa tak mengurangi rasa bahagia dan semangatnya di hari pertama ia bekerja.
"Selamat pagi....!" ucap Yoga sambil mengambil duduk di paling depan.
Ternyata Yoga adalah kepala divisi Humas dan Entertainment perusahaan El Khasif Group. Yoga pun berisyarat agar Dipta membagikan bahan meeting saat itu. Dengan sigap membantu Dipta. Walau ada celoteh mengomentari kesigapan Laila, gadis cantik itu hanya tersenyum menanggapinya.
"Sudah cantik, rajin lagi..." goda seorang pegawai.
"Sabar ya, Laila. Begini kalau gadis di sarang penyamun"
"Haha...." tawa semua.
Memanglah divisi Humas and Entertainment tersebut dihuni lebih banyak kaum Adam ketimbang kaum hawa. Dari dua puluh pegawai, 15 orang pegawai laki-laki dan selebihnya perempuan. Itu pun sudah termasuk Laila.
"El Khasif Group akan merayakan anniversary kelima puluh tahun, maka divisi HE dari masing-masing anak perusahaan mengajukan konsep untuk acara tersebut. Nah, tugas kita adalah menilik setiap konsep yang diajukan tersebut. Untuk kemudian kita pilih konsep yang terbaik untuk acara tersebut. Ada pertanyaan?" jelas Yoga.
Semua mengangkat tangan kecuali Laila. Semua begitu semangat ingin berkontribusi. Bukan Laila tak semangat atau tidak mengerti, namun ia hanya menilik situasi yang ada sebagai pegawai baru. Laila masih mempelajari mendalam tentang kerja divisi Humas dan Entertainment.
"Baik. Tiga kandidat sudah kita dapatkan. Dan tak terasa sudah waktu makan siang. Kita rehat dahulu. Pukul satu nanti kita kembali ke ruangan ini untuk melabeli ketiga konsep yang sudah ada" ucap Dipta.
Kedua puluh pegawai itu satu-persatu meninggalkan ruang meeting. Begitu pun dengan Yoga dan Dipta. Namun sebelum keduanya berlalu, keduanya sempat mengajak Laila.
"Teman-teman membuat acara penyambutan untuk mu di kantin. Yuk...." ajak Dipta.
"Penyambutan? Untuk saya...?"
"Ya, siap-siap saja kau dikerjai..."
Deg.
Laila tertegun. Wajahnya mendadak cemas. Satu-persatu pertanyaan mulai bermunculan. Terutama tentang acara kerja-mengerjai di kantin.
"Duh...aku harus bagaimana?" batin Laila.
"Haha....." tawa Dipta.
"Aku bercanda, Laila. Ayok ke kantin..." ajak Dipta lagi.
__ADS_1
"Laila kira betulan..." ucap Laila nyengir kuda.
"Jangan khawatir. Kami tidak seperti itu..." ucap Yoga.
Laila pun mengikuti langkah kedua laki-laki itu menuju tempat yang dimaksud. Sesampainya di sebuah meja panjang yang sudah disusun sedemikian rupa, Laila dikejutkan dengan sambutan rekan sesama pegawai.
"Selamat bergabung, Laila..." ucap semua sambil mengangkat gelas.
Sebuah topi berbentuk lucu pun disematkan pada kepala Laila. Dan gadis itu hanya tersenyum mendapatinya. Walau hatinya tengah bersiap untuk kemungkinan lain yang akan menimpanya. Waspada, boleh donk. Hehe....
Sebuah microphone diberikan kepada Laila. Dengan sedikit ragu, Laila menerima microphone tersebut. Seruan tuk menyanyi pun menggema di sudut kantin perusahaan El Khasif Group tersebut hingga menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya.
"Nyanyi...nyanyi....!!" begitu seruan mereka.
"Waduh...!!" keluh Laila.
"Ayolah Laila. Menyanyilah...Waktu kita tak banyak. Saran kami, lagu yang bisa untuk bergoyang..."
"Yang bisa untuk bergoyang. Waduh....tidak salah lagi. Tuntutan mereka lagu yang mampu membuat jiwa dangduters mereka meronta. Tapi apa...?" batin Laila.
"Baiklah.... Bagaimana jika kopi dangdut?"
"Setuju....!!!" seru semua.
Musik pun merayu. Suara Laila pun mulai menggema menghiasi seisi ruangan. Dan benar saja, jiwa dangduters rekan pegawai Laila mulai berontak. Semua larut dalam hentakan irama dan merdunya suara Laila. Makanan yang terhidang di meja pun disantap dengan kalap untuk bisa melantai dengan iringan suara indah Laila.
Bukan satu lagu, namun dua lagu sudah Laila nyanyikan. Dan Laila pun menuai banyak pujian. Peluh mulai membanjiri tubuh Laila. Ia pun mengakhiri lagunya dan mengangkat tangan. Isyarat bahwa ia sudah tak sanggup lagi menyanyi.
"Wah, penyanyinya lelah. Haha....Terima kasih, Laila sudah menghibur kami. Dan sekali selamat kau lukis ujian terakhir kami..!"
"Selamat bergabung....!!" ucap semua.
"Astaga....! ucap Laila.
Ia duduk pada sebuah kursi. Beberapa saat ia bergelayut pada meja. Ia begitu lega atas sambutan tersebut.
"Moga tidak ada perpeloncoan lagi...." ucap Laila lesu.
Dan hal tersebut, tentu saja membuat rekan-rekannya tertawa. Sekaligus merasa gemas atas ucapan dan body language gadis cantik itu.
"Gemezz....nya" ucap seorang pegawai perempuan sambil mencubit pipi Laila.
__ADS_1