LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 3. Ketakutan...


__ADS_3

Malam mulai merayap. Gelapnya mulai mengganti siang. Burung-burung pun sudah beriring kembali pulang ke sarang, mengingat sang mentari pun kembali ke peraduannya.


Suasana benar-benar senyap, sebab orang-orang lebih memilih tinggal di rumah atau berada di tempat ibadah ketika batas pergantian waktu di mulai. Pun demikian, tak sama halnya dengan tempat di mana Barraq berada. Laki-laki tampan yang dianggap sebagai pecundang juga aib bagi keluarga itu tengah berada pada salah satu cafe di hotel ternama besutan El Khasif Group milik keluarganya. Cafe itu begitu ramai dengan tamu yang tengah menikmati jamuan santap malamnya. Begitu ramai. Hingar bingar suaranya jelas terasa kontra dengan keadaan di sekitarnya. Namun hal itu bukanlah suatu masalah bagi lingkungan sekitarnya, selain berada pada ketinggian juga karena ruangan cafe di desain sedemikian rupa agar kedap suara.


"Sttt..sttt, sini..." panggil seorang pegawai.


"Apaan..." ucap beberapa pegawai yang berada tak jauh dari si pemanggil.


Jadilah mereka berkerumun, bak semut mengerubuti gula.


"Lihat tuh, kasihan kan tuan muda Barraq" ucap seorang pegawai.


"Tuan muda Barraq? Kenapa kita harus mengasihaninya?"


"Betul. Semua begitu sempurna apa yang ada padanya. Uuuh.... tampannya. Mau donk jadi kekasihnya" ucap seorang lainnya.


"Jadi gundik nya pun aku rela..."


"Jangan mimpi terlalu tinggi. Nanti jatuh, sakitnya kerasa tenan"


"Wish...kerjo-kerjo. Pada bubar...bubar"


"Iya...ya. Tapi tunggu. Aku yo penasaran. Emang ada apa dengan tuan muda?"


"Em, apa kau tidak tahu? Tuan muda baru saja ditinggal calon istrinya..." bisik seorang pegawai.


"Wah, kasihan sekali. Ganteng-ganteng ditinggal mati isterinya"


"Hush....bukan mati, tapi pergi. Nona Maria membatalkan rencana pernikahan yang tinggal beberapa hari"


"Wah, jahat..."


"Selain itu, perusahaan yang menjadi tanggungjawab tuan muda Barraq pun bangkrut. Sekarang jadilah ia seperti itu..."


"Ck...Ck...Ck. Kasihan...."


"Dan sekarang tak banyak lagi orang yang mengenalnya sebagai salah satu pewaris El Khasif Group. Lebih tepatnya ia ada tapi tiada. Terlebih karena sikap dan sifatnya yang berubah beberapa tahun ini..."


"Wah, sedang ngobrolin tuan Barraq ya. Hati-hati loh, dinding saja punya telinga..."


"Hush...sembarangan"


"Benar sekali. Dinding pun punya telinga. Karena aku berada di dinding ini. Dasar penggosip. Mau ku beri pelajaran. Hah...!" ucap Laila yang hanya dapat di dengar sesama arwah saja.


"Marah-marah, nek...? Ish, cucok. Bener kata tetangga, kalo yei itu cantik saat marah..." ucap Berry teman Laila, sesama arwah.


"Fitnah itu..." ucap Laila sambil keluar dengan menembus dinding.


Sementara Berry mengikutinya.


"Ih, bener. Kok fitnah sih. Kalo eyke dibilang ganteng baru fitnah"


"Haha...Iya juga ya. Secara wajah mu menyeramkan gitu. Kok bisa wajah mu menyeramkan begitu?" ucap Laila.


Sementara Berry manyun. Makin ngeri saja melihat wajah seramnya.


"Ah, panjang ceritanya..."


"Panjang seperti gerbong kereta Babaranjang a?" (Babaranjang\=kereta pengangkut batubara)


"Haha....ya ga juga"


"Kalau begitu sok cerita. Kenapa Berry bisa mati dengan wajah menyeramkan begitu."


"Ok ok. Begini ceritanya... Dulu aku diseruduk kambing....'


"Wait..Hanya diseruduk kambing bisa mati mengenaskan begitu*?!" ucap Laila heran.


"*Ya. Setelah di seruduk kambing aku diseruduk truk, makanya aku metong"


"Ya, tuhan. Lalu wajah mu*?"


"*Aduh, Laila. Yei cantik tapi oon. Wajah ini sudah satu paket dengan tuh truk. Setelah di tubruk, eyke dilindas deh. Jadilah wajah ku menyeramkan seperti ini. Beruntung tidak hancur. Coba kalo hancur alamat eyke tidak punya muka"


"Hihihi....iya, juga*"


"*Dasar...! Cantik-cantik oon!"


"Dasar seram-seram tukang gosip..!"


"Haha...itu sudah bawaan, non"


"Dasar....!" ucap Laila sambil menolak tubuh Berry.


Tubuh Berry terdorong hingga menabrak seorang pramusaji yang tengah membawa nampan berisi sajian makanan.


"Wow...untung saja eyke makhluk halus, yang sangat halus. Coba kalo bukan, sudah habis muka eyke di pelototin orang-orang karena menabrak tuh pramusaji"

__ADS_1


"Haha....Maksudnya malu gituh"


"Hook oh...."


"Ah, berbelit-belit Lo...."


"Eit....mo dorong lagi? Enak saja. Sekarang eyke sudah waspada"


"Gaya loh..."


"Eh...eh, lihat noh cowok ganteng mu" ucap Berry yang kontan menunjuk ke arah Barraq berada.


Laila pun mengikuti arahan Berry. Laila menilik peristiwa yang tengah terjadi.


PRANK....!


Gelas beradu pada lantai sesaat setelah dilempar sembarang Barraq. Suasana mendadak sunyi. Semua perhatian berpusat pada laki-laki tampan itu.


"Kau berani menghinaku...!" ucap Barraq.


Matanya membulat sempurna mengandung aura tak bersahabat. Barraq tak peduli jika saat itu tengah menjadi pusat perhatian.


"Ma-maaf, Tuan..." ucap seorang pelayan.


Pelayan itu kecut. Terlebih saat lehernya tengah berada dalam cengkeraman tangan kekar Barraq.


"Katakan...! Ulangi lagi pergosipan mu tadi!!" ucap Barraq.


"Ampun, Tuan...saya tidak bermaksud menghina, Tuan..." ucap pelayan itu dengan suara terbata karena rongga nafasnya dicekat erat tangan Barraq.


"Dengar...! Sekali lagi ku dengar pergosipan tentang diri ku, apalagi dari mulut kotor mu itu, maka aku tidak segan-segan membunuh mu" ucap Barraq.


Suaranya sengaja di pelankan namun penuh penekanan beraura membunuh.


"Ya, Tuan. Maaf. Ampuni saya..." ucap pelayan itu lagi.


"Pergi...!" ucap Barraq sambil menolak tubuh pelayan itu hingga hampir tersungkur.


"Terima kasih, Tuan..." ucap pelayan itu sesaat setelah membetulkan posisi berdirinya.


"Hmmm...." ucap Barraq sambil mengibaskan tangannya.


Pelayan itu pun berlalu dengan wajah pasi. Namun belum sempurna ia meninggalkan ruangan, langkahnya dihentikan kembali oleh suara khas Barraq.


"Tunggu...!"


Kemudian pelayan pun kembali memutar tubuhnya dan menghampiri Barraq dengan nyali ciut.


"I-iya, Tuan..."


"Kami siapkan kamar yang biasa aku pakai. Lengkap dengan minuman dan lainnya..."


"Egh...."


Pelayan itu tanpa sadar mendongak. Ia terkesiap, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kamu tidsk dengar...!"


"I-iya, Tuan. Saya dengar..."


"Kalau dengar, kenapa belum pergi menyiapkannya....?!"


"Sekarang, Tuan...."


"Tahun depan...!"


"Ta-tahun depan, Tuan..?"


"Ya, sekarang...! Cepat...!"


"Baik, Tuan...!" ucap pelayan itu yang langsung ngacir bak dikejar dept collector.


"Wah, temen yei serem. Lebih serem dari wajah eyke sepertinya dech..." ucap Berry.


"Hook oh..." ucap singkat Laila.


"Temen yei mesen kamar. Ternyata nakal juga..."


"Nakal gimana?"


"Waduh...Laila. Yei ini ga tahu apa pura-pura ga tahu?"


"Ga tahu loh Berry bin Abdul Wahhab..."


"Beuh... bawa-bawa nama bokap segala. Hehe...Laila, kalau laki-laki pesen kamar itu artinya satu paket dengan penunggu lainnya, yaitu cewek..."


"Oo...pengalaman ya? ucap Laila.

__ADS_1


Matanya kembali menatap Barraq yang mulai melangkah meninggalkan ruangan. Ia memasuki lift menuju Lantai teratas hotel tersebut.


"Hehe...pernah dulu"


"Dasar..."


Tangan Laila lagi-lagi mampir di lengan Berry. Dan tubuh laki-laki berwajah seram namun baik itu terhuyung. Pun demikian, ia justru terkekeh atas perlakuan Laila tersebut.


"Huh...Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa berbicara dan meminta pertolongannya...? Haruskah aku menemuinya dalam wujud ku sekarang? Atau...dalam wujud samaran...?" ucap Laila lirih.


"Buka pintunya. Ayo buka. Pelan-pelan saja..." ucap Berry saat berdiri di depan.


"Berry kita ini arwah. Mengapa perlu membuka pintu? Bukankah kita tinggal tembus saja pintu atau dindingnya? Haha...!'


"Haish....Aku lupa. Hadeuh...dasar pikun. Haha..." ucap Berry diakhiri dengan tawa.


Kepala Berry langsung menembus dinding. Ia sengaja melakukan itu, menurutnya untuk melihat situasi di dalam kamar VVIP tersebut. Berry memutar kepalanya hingga 360⁰. Matanya menilik setiap sudut kamar dengan cermat. Setelah dirasa cukup ia pun langsung menarik kembali kepalanya.


"Di dalam hanya ada....Haish"


Kata Berry terhenti saat tak mendapati lawan bicaranya.


"Aku lupa lagi jika gadis itu juga sama dengan ku. Haha..."


Berry langsung masuk ke dalam kamar. Tentu saja tidak dengan membuka pintu, tali menerobos begitu saja. Yah, namanya juga arwah. Arwah mah bebas. Hehe....


Sementara Laila sudah berdiri menatap laki-laki yang tengah duduk di hadapannya. Dia tak lain adalah Barraq yang tengah menenggak minuman beralkohol dari merk ternama. Laila menilik reaksi di wajah Barraq yang masih terlihat tenang padahal ia sudah muncul tiba-tiba di hadapannya.


"Aneh. Mengapa ia tak merespon kehadiran ku. Apa ia tak melihat ku? Tapi...saat di taman, ia bisa melihat ku" ucap Laila.


Kemudian Laila melangkah mendekati meja. Tangannya meraih sebuah botol dan menggulingkannya. Laila tengah berusaha menarik perhatian Barraq. Namun usaha pertama Laila gagal. Perhatian Barraq tak tergoyahkan sedikit pun. Ia lebih asyik menatap keluar jendela yang berukuran besar itu.


Laila pun mengulangi usahanya. Kali ini ia mengangkat gorden yang tergantung rapi di sisi jendela besar itu. Dan Barraq menatapnya. Jelas sekali bahwa manik mata Barraq berpusat pada gorden yang melambai itu. Laila tersenyum. Usahanya membuahkan hasil. Namun melihat reaksi Barraq yang biasa saja, menimbulkan pertanyaan dalam benak Laila.


"Mengapa tiada reaksi berlebih dari Barraq. Apakah ia tak memiliki rasa takut sedikit pun terhadap kejadian-kejadian horor seperti ini?" ucap Laila yang hanya diketahui di alamnya saja.


"Mungkin juga..." ucap Berry yang baru saja muncul di dekat Laila.


Namun di luar dugaan Laila dan Berry, sebenarnya Barraq tengah berusaha menguasai dirinya. Ia baru saja melihat wajah seram Berry saat itu.


"Astaga...apa aku tidak salah lihat? Ada hantu di kamar ini. Ah, mungkin imajinasi ku saja. Tenangkan diri mu, Barraq. Tenangkan..." batin Barraq.


"Apa aku menampakkan wujud di hadapannya saja. Sepertinya ada sedikit pergerakan saat ia melihat ku" ucap Berry saat melihat wajah Barraq yang sedikit berubah.


"Di coba saja..." ucap Laila.


Bak mendapat perintah, Berry langsung melangkah mendekati Barraq yang sejak tadi hanya diam dalam fikirannya sendiri.


"Mengapa hantu seram itu mendekati ku? Apa Yanga akan ia lakukan? Aku...Aku tidak bisa tinggal diam lagi" batin Barraq.


Bersamaan dengan itu, Barraq mengambil botol dari atas meja dan melemparkannya ke arah Berry. Dan hal tersebut tentu saja bukan apa-apa bagi Berry. Sedikit pun Berry tak bergeming. Ia terus melangkah mendekati Barraq. Kini sedikit ditambah unsur drama agar makin menyeramkan.


Barraq mulai kecut. Ia mulai beringsut dari duduknya. Kian mendekat Berry, maka Barraq kian berusaha menjauhi. Bahkan saat melihat kegigihan Berry yang menddkatinya, Barraq mulai melonjak dan menjauh. Wajahnya pun mulai menandakan ketakutan.


"Pergi...Pergi...!!" ucap Barraq sambil melempari Berry dengan sembarang benda di sekitarnya.


Melihat ketakutan Barraq, Berry makin menjadi. Langkah Berry kian cepat sambil didramatisir hingga menimbulkan keseraman tingkat dewa.


Barraq kian ketakutan, Kini ia berlari menuju pintu keluar. Namun tentu saja Barraq tak berhasil membukanya, karena Laila mentahannya. Barraq berdiri menyandar pada daun pintu besar itu. Tubuhnya sedikit gemetar terlebih saat wajah Berry berjarak beberapa cm saja dari wajahnya.


"Teman ku ingin bicara dengan mu" ucap Berry dengan seringai yang menakutkan.


"Te-teman....?"


"Ya. Dan anda harus menemuinya, mendengarkan apa yang ia bicarakan dan membantunya seandainya ia meminta pertolongan mu"


"Tapi...."


"Tidak ada tapi. Jika kau tidak memenuhi ucapan ku ini. Atau bahkan kau lari, maka aku tak segan-segan akan menghantui mu seumur hidup mu..."


"Apa....?!" ucap Barraq.


Tangannya sukses meraih gagang pintu. Dan membukanya. Dengan tubuh gemetar Barraq berlari keluar kamar VVIP itu. Langakhnya benar-benar cepat, bak angin. Barraq tak peduli jika ada banyak pasang mata yang memperhatikannya. Masing-masing dari mereka memiliki pendapat yang berbeda. Ada yang menilai jika polah Barraq adalah sesuatu yang aneh. Ada juga yang berpendapat nyinyir. Bahkan ada juga yang bersikap masa bodo.


Barraq terus melangkah hingga ke lobby hotel dimana mobil sport berwarna silver menunggunya. Tergesa sekali Barraq masuk ke dalam mobil dan melakukan mobil mewahnya itu. Lajunya menyisakan deru dan daun-daun yang beterbangan sesaat untuk kemudian kembali ke bumi yang basah karena baru saja diguyur hujan.


Barraq memukul stir berulangkali. Ia berusaha menenangkan diri.


"Kakak, Mia kemana? Kenapa tergesa sekali..." ucap seseorang dari arah belakang.


CIIIT...!


Suara cicit mesin terdengar. Rasa terkejut Barraq telah membuatnya menghentikan laju kendaraannya dengan tiba-tiba. Maksud hati ingin menghentikan laju mobil dan keluar mobil, namun ternyata kendaraan tetap melaju hingga....


BRUKK...!!


Mobil mewah itu menabrak sebuah pohon di tepi jalan yang temaram itu.

__ADS_1


__ADS_2