LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 5. Setali Tiga Uang


__ADS_3

Sementara itu, mata Alex menyapu jalanan yang tampak temaram di basuh lampu jalan dan juga cahaya bulan. Sebenarnya bukanlah ia tak bergidik mendapati situasi tersebut, namun ia gengsi untuk mengakuinya.


Alex membuka kap mobil. Dan....


"Aaaaa...!!!!!" teriak Alex.


Wajah Alex mendadak pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Dan seketika itu juga ia langsung berlari. Menggedor pintu mobil. Dan langsung masuk bersama kedua orang lainnya. Alex benar-benar menampakkan rasa takutnya. Ia mencoba menyembunyikan dirinya diantara kedua rekannya itu. Polah Alex tentu saja membuat Karna dan Bryan saling memandang. Keduanya merasa heran dengan polah Alex tersebut.


"Heei...ada apa?!" ucap Bryan.


"Hantu...Ada di dalam kap mobil" ucap Alex.


Alex terus berusaha menyembunyikan wajahnya. Tubuh dan suaranya pun gemetar. Jelas ia tengah dalam situasi ketakutan.


"Hantu...?! Buaahaaaaa....!" ucap Karna dan Bryan diakhiri dengan tawa.


"Tak mungkin. Hantu tak suka di dalam kap mobil" ucap Bryan.


PLAK...!


PLAK...!


Alex memukul wajah kedua temannya itu. Hal tersebut membuat Karna dan Bryan terdiam seketika. Masing-masing tangan keduanya mengusap bekas pukulan Alex.


"Kalian tidak percaya Hah...?! Ada hantu berwajah seram di dalam kap mobil...!"


"Hantu seram....? Hiiii....!" ucap Karna yang memang sudah ketakutan sejak awal.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap Karna panik.


"Diam...Diam! Sstt...." ucap Bryan.


"Ada apa?" tanya Karna kembali kecut.


Semua terdiam. Suasana mendadak sunyi dan terasa mencekam.


"Aish....tidak ada apa-apa. Jangan bercanda loh..." ucap Karna menghela nafas keras.


Dengus nafasya hingga terdengar dua rekannya yang berada di kanan dan kirinya.


Bersamaan dengan itu sebelah tangannya menolak tubuh Bryan membuat tubuh laki-laki kekar itu terdorong ke pintu. Sebelah wajahnya saja menempel pas pada kaca jendelanya.


"Wait....Apa kalian tidak mencium bau busuk?" ucap Bryan.


Sontak semua mengendus bau yang dimaksud Bryan. Setelah puas mengendus, barulah ketiganya merasa mual. Baunya begitu menyengat dan sangat dekat.


Alex menutup mulutnya. Ia tak ingin isi perutnya keluar di mobil kesayangannya itu.


"Bro...Lex..." ucap Karna.


Tangannya memukul-mukul kedua temannya. Sementara manik matanya berpusat pada kaca jendela yang tertutup rapat.


Mendapati polah Karna, Bryan dan Alex pun sontak turut serta memusatkan perhatiannya pada jendela.


"Uwaaaa....!!!!"


Teriak ketiganya. Jelas ada sebuah kepala menyembul di kaca jendela. Kepala yang menerobos kaca jendela tanpa hambatan sedikitpun. Yang tak kalah menakutkan adalah wajah menyeramkan akibat luka-lukanya. Bahkan sebelah matanya saja tak simetris lagi.


"Keluar...! Keluar...!" perintah Alex.


Mendengar itu, Karna dan Bryan langsung keluar mobil mengikuti Alex. Ketiganya menjauhi mobil yang kini mulai bergoyang-goyang bak dalam permainan kuda poni di taman hiburan.


"Apa ku bilang. Ada hantu kan. Aduuh... Bagaimana ini...?" ucap Karna dengan gemetar.


"Kau ngompol ya...?!" ucap Alex yang langsung menjauhi Karna.


"Maaf kelepasan ini..." ucap Karna.


"Lex, apa yang harus kita lakukan ini?" ucap Bryan.


"Kabur..."


"Mobil mu...?"


"Ah, persetan dengan mobil..."


"Ok. hitungan ke tiga kita lari..."


"Ok..." ucap Karna dan Bryan.


"Satu...Lariiii....!!"


Ketiganya lari kocar-kacir dengan Alex paling depan. Jatuh bangun Karna dalam larinya itu.


Melihat situasi itu, Berry tampak tertawa hebat. Seringai yang menyeramkan berubah menjadi kocak.


"Sudah puas menakuti Meraka?" ucap Laila.


"Haduh, Laila. Bagaimana aku puas mengerjai penjahat tengil seperti mereka itu..."


"Ah, karena ulah mu aku jadi kehilangan kesempatan untuk mengetahui siapa dalang sebenarnya..."


"Kehilangan bagaimana? Kau sudah mengenali mereka, jadi kau bisa dengan mudah menemukan mereka. Dan lagi mereka pasti kembali ke tempat ini. Mobilnya saja mangkrak di sini"


"Benar juga ya..."


"Dasar hantu baru. Semua harus diajari. Semua harus diingatkan..."


"Hehe...salah kau sendiri. Kok mau selalu mengingatkan ku. Weeek...."

__ADS_1


"Haha...iya juga. Habis kamu cantik sih"


"Hihi....kalau itu sudah sejak lahir"


"Dasar hantu cantik" ucap Berry.


Lengannya menolak tubuh gadis cantik itu. Hal tersebut tentu saja membuat gadis yang baru sebulan ini gentayangan tertawa seru.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sementara itu pada waktu yang sama, namun tempat berbeda. Tepatnya di El Khasif Hospital. Barraq mulai sadarkan diri. Barraq langsung dududk ditepi tempat tidur pada ruangan VVIP. Berulangkali ia mengerjakan mata sambil mengusap wajah.


Barraq pun menghela nafas. Sekali ini fikirannya kembali mengembara. Barraq berusaha menyulam kembali peristiwa yang baru saja ia alami.


"Astaga...." gumamnya.


Tangannya dengan cepat menarik Jatim infus yang menempel pada lengan kirinya. Barraq berdiri terhuyung sesaat untuk kemudianeraih jaket hitam yang tergeletak di sebuah sofa.


Barraq berencana meninggalkan ruang perawatan VVIP itu. Jika saja tidak hentikan seorang perawat, tentu langkahnya kian panjang.


"Tuan...Tuan muda mau kemana? Tuan masih sakit. Jangan tinggalkan ruangan dulu. Nanti tuan Emran marah, tuan muda"


"Apa tuan Emran datang tadi?"


"Ya, Tuan muda. Kurang lebih satu jam beliau menunggui tuan muda"


"Ow..." ucap lirih Barraq.


"Sekarang mana, tuan Emran...?" ucap Barraq.


Matanya menatap perawat cantik yang berdiri di hadapannya itu.


Deg.


.


.


.


"Duh... tampannya, Tuan Barraq ini. Lebih tampan dari tuan muda Ethan. Duh, seandainya...Hus, jangan berfikiran aneh-aneh Nadia" batin perawat yang bernama Nadia itu.


"Tuan Emran kemana..?" ucap Barraq berulang dan sukses membangkitkan Nadia dari lamunannya.


"Em, ya. Tadi tuan Emran pulang setelah mendapat telepon. Dan tuan berpesan kepada saya untuk menjaga tuan muda Barraq..."


"Baik. Nanti saya akan katakan pada tuan Emran jika kau sudah menjaga saya dengan baik..." ucap Barraq.


"Terima kasih, tuan muda..." ucap lirih Nadia.


Nadia masih terpesona pada ketampanan Barraq yang bak artis Korea itu. Nadia tidak sadar jika Barraq sudah berlalu dari hadapannya.


Kaki Barraq melangkah dengan panjang sambil memakai jaket kulit berwarna hitam yang sejak tadi ia tenteng. Sesaat lalu ia tersenyum mendapati polah perawat cantik yang masih saja termangu itu.


Nadia berusaha mensejajari langkah panjang Barraq. Sebisa mungkin ia berusaha membujuk Barraq untuk tidak meninggalkan ruang perawatan.


"Tuan muda...! Ayolah. Saya mohon kembalilah. Setidaknya sambil hasil yang check up menyeluruh tuan keluar. Saya mohon, Tuan..." bujuk Nadia.


Kemudian Barraq pun menghentikan langkahnya. Dan hal itu tentu saja membuat lega sang perawat cantik.


"Fiuh...akhirnya" ucapnya.


Namun demikian, Barraq justru terdiam. Matanya menatap lurus. Ia termangu saat di hadapannya telah berdiri seorang gadis cantik berbaju putih. Rambutnya tergerai sebahu.


Deg.


.


.


.


Degup jantung Barraq berpacu. Matanya kian dalam menatap gadis cantik itu.


"Ah, tidak..." ucap Barraq.


Sebentar Barraq mengerjakan mata sambil menggelengkan kepala dengan cepat. Rupanya ia tengah berusaha menghilangkan fikiran gila yang baru aja terlintas saat menatap gadis itu.


"Mengapa kau mengikuti ku...?" ucap Barraq sambil terus menatap gadis itu.


"Jelas saya harus mengikuti, Tuan. Saya punya kewajiban menjaga tuan muda. Itu adalah perintah tuan Emran" ucap Nadia yang tengah salah faham atas pertanyaan Barraq barusan.


"Entahlah. Tapi aku hanya berkeingin menjenguk keadaan mu, kak" ucap gadis berbaju putih yang tak lain adalah Laila.


"Dan ada baiknya kakak mendengarkan perawat itu..." ucap Laila lagi.


"Apa kau akan selalu ada saat aku di ruang perawatan?"


"Tentu saya akan selalu menjaga, Tuan muda? ucap Nadia makin salah faham.


"Apa Kakak menghendakinya demikian?"


"Tidak...! Aku akan kembali ke ruang perawatan, asal kau tidak mendekati ku"


"Ken-kenapa, Tuan..." ucap Nadia kecut.


Ia khawatir dengan ucapan Barraq, ia akan segera diberhentikan dari El Khasif Hospital.


Kemudian Barraq pun memutar tubuhnya. Ia kembali melangkah menuju ruang perawatannya semula diikuti Nadia dan Laila.

__ADS_1


"Cukup...!" ucap Barraq.


"Pergilah...!" perintah Barraq kepada Laila.


"Kenapa tuan mengusir saya. Apa salah saya..." ucap Nadia yang terus salah faham.


"Ah, sial...!" ucap Barraq kesal.


Kakinya melangkah masuk ruangan untuk kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Kali ini Nadia tidak mengikuti langkah Barraq. Ia hanya berdiri di ambang pintu dengan tubuh gemetar.


"Panggilkan aku dokter Maleq dan tutup pintunya..." ucap Barraq.


"Ba-baik, Tuan..." ucap Nadia.


"Mengapa kakak tidak menghendaki saya di sini?"


"Keberadaan ku membuat ku pusing, La. Mual sekali..Karena itu aku minta kau segera pergi..." ucap Barraq.


"Jika memungkinkan aku pergi, aku akan pergi kak. Tapi aku tak bisa. Aku bak terpaut dengan mu. Hanya kakak yang bisa melihat ku. Dan karena itu juga, hanya kakak yang bisa menolong ku. Aku mohon kak..."


"Aku akan menolong mu, tapi untuk sementara ini menjauhlah dari ku..." ucap Barraq sambil memejamkan mata.


"Baiklah. Aku mengerti. Akan ada di luar saja" ucap Laila.


"Dan satu lagi. Sampaikan pada teman mu itu. Jangan tampakkan wajah seramnya itu. Gantilah dengan yang lebih tampan..." ucap Barraq.


Tak menunggu sampai Barraq menyelesaikan kata, Laila sudah menghilang. Begitu cepat, bak asap tertiup angin.


"Hah.... dasar hantu" ucap Barraq.


TOK.


TOK.


TOK.


Pintu kamar perawatan VVIP di ketuk. Karena tiada jawaban, akhirnya laki-laki yang tidak lain adalah dokter Maliq membuka pintu. Dokter Maliq berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum saat menatap Barraq yang tengah terbaring.


TAP.


TAP.


TAP.


Langkah mantap dokter Maleq terdengar. Hingga di samping tempat tidur dimana Barraq berada barulah langkah itu berhenti.


"Tuan muda...." sapanya.


Merasa disebut, Barraq pun membuka matanya. Perhatiannya langsung tertuju pada seulas wajah paruh baya milik dokter Maleq.


"Bagaimana kondisi, tuan muda? Ku dengar sudah mengomeli seorang perawat. Kalau demikian artinya sudah pulih" ucap dokter Maleq sambil tersenyum dan memasang kembali jarum infus pada lengan kiri Barraq.


"Hah..." dengus Barraq tanpa bereaksi lebih.


"Aku ingin perawatnya laki-laki" ucap Barraq dingin.


"Baik, Tuan muda..." ucap dokter Maleq.


"Good..."


"Bagaimana kejadian yang sebenarnya, Tuan? Berita di luar sana cukup simpang siur?"


"Simpang siur?"


"Ya. Ada kabar bahwa tuan tengah teler"


"Kabar sampah..." ucap Barraq


"Ada kabar juga bahwa tuan tengah membawa seorang perempuan cantik di mobil..."


"Lebih sampah lagi. Ayolah...Om tahu kan bagaimana Barraq. Barraq tak mungkin jatuh ke lubang yang sama..."


"Om, faham betul. Tapi kau harus lebih berhati-hati. Lidah orang-orang ada saja yang tidak bisa dikendalikan hingga berita salah pun menjadi benar"


"Terima kasih, Om. Om adalah satu-satunya keluarga yang mengerti Barraq"


"Teruslah manjakan keponakan mu itu, Maleq..." ucap seorang laki-laki yang tengah berdiri di ambang pintu.


Tak lama kemudian laki-laki itu melangkah dan berdiri di sisi Barraq.


"Teruslah kau membela Barraq, Maleq..."


"Kak...Aku tidak membelanya. Aku hanya mempercayainya"


"Huh...Entahlah aku harus bagaimana terhadap anak laki-laki ku yang satu ini. Selain tak bisa mengurus diri sendiri, juga tak bisa mengurus bisnis. Entah darah siapa yang mengalir dalam tubuhnya itu..."


"Pa...! Aku sudah dewasa. Tak perlu lah berbicara seperti itu. Dan masalah bisnis aku sudah membuktikan bahwa bukan aku penyebab kebangkrutannya?


"Tetap saja. Artinya kaubtidsk bisa mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Beruntung kakak mu bisa cepat memulihkan situasi perusahaan. Jika tidak, maka hilang reputasi El Khasif"


"Cukup, Pa...! Jika papa menangkapi setiap masalah ku seperti ini, maka aku akan rela untuk di coret dari daftar keluarga...!"


"Kurang ajar...! Anak tak tahu terima kasih...!!" ucap Emran penuh amarah.


Tangannya mengangkat ke udara. Jika saja dokter Maleq tidak menahannya, sudah tentu tangan kekar itu akan mampir di wajah Barraq.


"Cukup, Kak...! Ini rumah sakit. Ada banyak pegawai di sini. Telinga dan mulutnya bisa menjadi penyebar berita yang ampuh" ucap dokter Maleq yang tidak lain adalah adik kandung Emran El Khasif.

__ADS_1


"Kalian memang setali tiga uang...!" ucap Emran sambil berlalu.


Ada amarah yang menduduki hatinya. Amarah atas ketidakpuasannya terhadap Barraq, anak laki-laki keduanya.


__ADS_2